Tiba-tiba terdengar suara Tuan Marcus berdehem dan terbatuk-batuk, dilanjutkan suara pintu terbuka.
"Peter, sssttt." Emily menghentikan aktivitas kekasih yang sedang mencumbuinya.
"Ayahku terbangun," bisiknya.
Peter pun ikut waspada. Ia berhenti mencumbui Emily dan mendengarkan dengan cermat pergerakan Tuan Marcus. Lelaki tua itu terus terbatuk-batuk dan berjalan melewati depan kamar Emily menuju dapur. Ia terus terbatuk-batuk sambil membuat minuman hangat.
Terdengar teriakan Tuan Marcus, "Emily! Emily! Di mana kamu meletakkan obat yang kau beli untuk Ayah?"
"Ayah memanggilku," bisik Emily pada Peter dengan bingung.
"Aku pergi dulu, Sayang. Besok kita lanjut permainan kita," bisik Peter. Ia mengecup bibir Emily berkali-kali lalu beringsut menjauhi dipan. Dengan hati-hati ia melompat keluar jendela, lalu berlari pulang ke rumahnya yang hanya berjarak lima puluh meter dari rumah Emily.
"Emily, di mana obat Ayah?" Tuan Marcus mengetuk pintunya.
"Sebentar Ayah," jawab Emily. Ia membenahi pakaiannya, lalu keluar dari kamar. Hati gadis itu sedikit was-was, takut Sang Ayah mengetahui perbuatannya dengan Peter, tapi ternyata lelaki itu diam saja. Dia hanya menanyakan obat batuk pada Emily. Setelah anak gadisnya itu mengambilkan obat, lelaki itu pun tak menanyakan apa-apa lagi.
Emily masuk kamar dan melanjutkan tidurnya. Ia masih terus teringat cumbuan Peter barusan. Gadis itu pun memejamkan mata dengan hati berbunga-bunga.
***
Seperti biasanya pagi menjelang siang ini Emily berjalan pulang dari kebun anggur mengantarkan bekal untuk ayahnya. Sebuah mobil berhenti. Seseorang menariknya masuk ke dalam kendaraan itu dan langsung menciuminya.
"Hentikan, Peter! Hentikan!" Elak Emily.
"Tapi aku rindu padamu, Emily," jawab Peter.
"Aku takut ada orang melihat kita," bisik Emily.
"Ini di dalam mobil."
"Di dalam mobil pun tetap bisa ketahuan, Peter."
"Tapi aku benar-benar rindu padamu, Emily." Peter memeluk kekasihnya dan siap mendaratkan ciuman lagi.
Emily menahan wajah Peter dengan tangannya. "Kita lakukan lagi kapan-kapan, Peter," katanya sambil bersiap keluar dari mobil kekasihnya.
"Tunggu dulu, Emily. Kamu belum dengar rencanaku." Peter kembali menarik pinggang Emily yang hampir beranjak keluar mobil.
"Apa rencanamu?" tanya Emily pada kekasihnya.
"Kita akan melakukan semuanya dengan bebas, tanpa diketahui siapapun," bisik Peter. "Kita akan melakukan petualangan berdua beberapa hari. Aku ingin mengajakmu ke Wainui Beach, Tolaga Bay, atau tempat indah manapun yang bisa kita lewati. Mau ke Hawke Bay atau bahkan Coromandel, aku siap. Kita akan menginap di motel, dan kita bisa melakukan apapun yang kita mau."
"Kamu serius?"
"Ya, aku serius."
"Tapi ... itu butuh biaya yang lumayan kan," kata Emily ragu.
"Hahaha, itu tidak masalah buatku, asal kita bisa bersenang-senang berdua," jawab Peter yakin.
"Tapi bagaimana caranya agar orang tua kita tidak tahu?"
"Kamu bilang saja mau ada acara dengan mantan teman-teman SMA dan butuh menginap beberapa hari. Berjalanlah sendiri sampai pinggir jalan raya. Aku akan menjemputmu dengan mobil setelah kamu jauh dari rumah," jawab Peter.
"Baik. Kapan kita akan pergi Peter?"
"Sabtu pagi bagaimana?"
"Baik," jawab Emily.
"Oke, kupegang janjimu."
"Baik, Peter. Aku pergi dulu, sebelum ada yang tahu aku di dalam mobilmu," jawab Emily. Selanjutnya ia keluar dari mobil dan berjalan cepat ke rumahnya sebelum ada orang yang melihat.
***
Hari yang dijanjikan tiba. Pagi itu Emily menunggu Peter di pinggir jalan. Tak beberapa lama kekasihnya itu menjemput dengan mobil. Emily telah melakukan rencana yang ia susun dengan Peter, yaitu membohongi orang tuanya. Sepasang kekasih itu melanjutkan perjalanan mereka.
Keduanya batal ke Wainui Beach. Pantai indah yang berjarak sekitar lima puluh menit dari tempat tinggal mereka itu dirasa terlalu dekat, mereka takut ada yang mengetahui kepergian sepasang kekasih itu.
"Kita ke Hawke Bay," kata Peter. "Di sana juga indah, dan sepi. Kita menginap di motel, lalu melanjutkan perjalanan ke manapun yang kamu mau."
"Aku setuju dengan rencanamu, Peter."
Butuh waktu sekitar tiga jam dari Gisborne menuju Hawke Bay. Mobil yang mereka kendarai melalui jalan lengang dan melewati padang rumput dengan bunga-bunga indah di sekitarnya. Tak berapa lama kemudian keduanya telah tiba di tempat yang dituju.
Emily dan Peter menikmati waktu berdua di Hawke Bay yang sepi. Mereka berlarian di antara pasir putih dan ombak biru yang bergulung tak terlalu besar. Peter memeluk tubuh kekasihnya dari belakang. Keduanya berdiri menikmati semilir angin yang berhembus dan pemandangan indah di sekitar teluk itu. Gelombang ombak dari Hawke Bay kadang menyapa dan menggelitik kaki mereka.
"Kamu bahagia Emily?" bisik Peter.
"Ya, aku bahagia. Kamu?"
"Aku juga," jawab Peter.
Sepasang kekasih itu mulai b******u lagi. Mereka berciuman di tengah ombak biru yang mengalir dengan percikan tak terlalu tajam. Keduanya hanyut dalam perasaan cinta yang membara.
"Kita lanjutkan nanti di motel, Emily," bisik Peter.
***
Saat yang mereka tunggu pun tiba. Senja telah datang. Emily dan Peter beranjak dari Hawke Bay menuju motel.
"Kamu tahu, ini saat yang kutunggu, Emily," bisik Peter.
"Aku mandi dulu," jawab Emily.
"Tak perlu mandi, aku suka aroma tubuhmu," jawab Peter.
Sepasang kekasih itu langsung b******u mesra melakukan apa yang tertahan selama ini. Emily telah memberikan semuanya pada Peter. Tak ada lagi rahasia di antara mereka berdua. Setiap inci tubuhnya telah terjamah oleh Sang Kekasih. Ia melakukan dengan suka rela. Hingga kemudian mereka kelelahan oleh hasrat mereka sendiri.
"It's finish," ucap Peter lega setelah melakukan apa yang ia inginkan pada Emily. "Thank you, Dear. I love you so much," bisiknya.
"I love you too, Peter," bisik Emily.
"Kamu menikmati semuanya, Sayang?"
"Ya. Kamu?"
"Pasti," jawab Peter. Lelaki itu pun membelai rambut Emily yang basah oleh peluh. "Oh, kasihan. Rambut indahmu ini jadi basah karena aku."
"Rambutmu juga, Sayang." Emily tertawa sambil mengusap keringat kekasihnya.
"Ini semua karena aku terlalu bersemangat. Aku tak mau menyia-nyiakan kecantikanmu, Emily."
Pipi Emily merona mendengar rayuan Peter. Ia pun mengambil pakaiannya dan mengusap peluh di tubuh Peter. Kekasihnya itu duduk di dipan dan berkata, "Mari kita basuh peluh dengan manis, Sayang. Kita lakukan berdua di kamar mandi."
Emily setuju ucapan kekasihnya. Ia pun menerima saat Peter menggendongnya ke kamar mandi. Di tempat itu mereka kembali mengulang apa yang baru saja dilakukan.
Beberapa hari telah mereka lalui dalam petualangan cinta mereka. Petualangan cinta yang dilakukan dengan nafsu membara dari dua anak muda tanpa sepengetahuan siapapun. Kini 'pesta' telah usai, saatnya dua remaja itu kembali ke rumah.
"Terimakasih atas semuanya, Emily," ucap Peter di mobil saat tiba di desa mereka.
"Sama-sama, Sayang," jawab Emily. "By the way, ada yang mau kutanyakan."
"Apa, Sayang?"
"Peter, aku telah memberikan semuanya padamu. Ini cinta pertamaku, dan aku baru melakukannya sekali bersamamu. Apa kau mau setia padaku?" tanya Emily.
"Pasti, Emily. Jangan khawatir," jawab Peter sambil menggenggam tangan lembut kekasihnya.
"Apakah kita akan menikah?"
"Pasti, Sayang."
"Kapan?"
"Tunggu saat yang tepat, Emily. Bersabarlah."
"Baik. Aku akan bersabar, asal kau tak mengingkari janjimu."
"Pasti aku tak mengingkari janji, Emily," jawab Peter. "Sekarang pulanglah. Orang tuamu sudah menunggu."
"Baik, Sayang. Aku pulang dulu." Emily turun dari mobil dan berjalan pulang. Mereka masih saja melakukan cinta rahasia, meski hubungan mereka sudah terlalu jauh. Di rumah, Emily kembali melanjutkan kebohongan pada orang tuanya.
"Perjalanan kami sangat seru, Ayah, Ibu. Aku semobil dengan Hannah dan Angela. Semula kami mau ke Waunui Beach, tapi sepertinya lebih seru ke Hawke Bay. Aku bersama Hanah dan Angela melakukan petualangan seru bertiga dari kota satu ke yang lainnya," begitu cerita bohong Emily pada orang tuanya.
***
Sejak apa yang dilakukannya dengan Peter, hati Emily semakin berbunga-bunga. Ia ingin melakukan lagi dengan kekasihnya itu dan berharap Peter segera mengikatnya dengan jalinan suci pernikahan. Namun, kekasihnya itu ternyata tak ada kabar sama sekali. Peter tak pernah lagi tampak di perkebunan anggur saat Emily mengantar bekal untuk ayahnya. Mata biru Peter tak lagi membuntutinya dari balik dedaunan anggur dan mengikuti Emily masuk Hutan Rahasia. Di hutan rahasia mereka berdua, Emily menunggu Peter, tapi kekasihnya itu tak pernah lagi datang. Kemana dia pergi?
Seperti biasa saat itu Emily makan malam bertiga dengan orang tuanya. Dengan bersemangat Tuan Marcus bercerita kalau baru saja dapat gaji dari Tuan Benigno yang lumayan besar.
"Sudah kubilang, dia tidak sejahat yang kamu kira. Nyatanya dia memberi bayaran yang besar untuk para buruhnya," ucap Tuan Marcus pada istrinya.
"Syukurlah kalau dia seperti itu. Memangnya hasil panen dia kali ini besar sekali ya?"
"Iya, kebunnya menghasilkan anggur unggulan yang sangat bagus dan banyak. Keuntungannya kali ini berkali-kali lipat. Bahkan ia mulai memberangkatkan anaknya ke Christchurch untuk kuliah."
Prang!
Sendok yang dipegang Emily langsung jatuh. Dia sangat terkejut. Peter berangkat ke Christchurch untuk kuliah? Berarti selama ini dia menghilang karena pergi ke Christchurch? Kenapa dia tidak berpamitan pada Emily? Lalu bagaimana hubungan cintanya dengan Emily? Di mana janji untuk menikahi itu? Apakah Peter sudah mengutarakan hubungannya dengan Emily pada orang tuanya?
"Ada apa, Emily?" tanya Nyonya Clare yang melihat ekspresi berbeda pada putrinya.
"Tidak ada apa-apa, Bu," jawab Emily. Ia menutupi perasaannya yang kacau karena ditinggal Peter tiba-tiba.
Seketika tenggorokannya terasa kelu. Roti yang ia kunyah seperti sulit tertelan. Hatinya begitu kacau mendengar berita kepergian Peter yang tiba-tiba.
***
"Benar kamu melakukan hubungan terlarang dengan anaknya Marcus, Peter?" tanya Tuan Benigno dua minggu yang lalu, setelah Peter pulang dari petualangannya bersama Emily.
"Tidak benar, Ayah," jawab Peter.
"Jack melihatmu b******u dengan Emily di hutan dekat kebun anggur. Mengaku saja lah!"
Peter terkejut mendengar perkataan ayahnya. Berarti benar, ternyata memang ada yang mengintip hubungannya dengan Emily di Hutan Rahasia, dan ternyata itu Si Jack, salah satu buruh kepercayaan di kebun anggurnya.
"Baik, Ayah. Kuakui, aku ada hubungan dengan Emily dan aku mencintainya," ucap Peter.
"Memalukan! Anak seorang Benigno melakukan hubungan dengan anak buruh yang miskin. Kau tak seharusnya melakukan itu, Peter. Anak seorang Benigno harusnya sekolah tinggi dan meneruskan bisnis keluarga kita. Kelak kau juga akan menikahi wanita cantik berpendidikan yang pantas menjadi keluarga kita. Putuskan Emily! Dan kau akan kukirim ke Christchurch untuk kuliah!" caci Tuan Benigno.
"Tapi Ayah ...."
"Tak ada yang bisa ditawar. Kamu harus melakukan apa yang Ayah mau."
Peter terdiam. Ia terpaksa melakukan apa yang diinginkan ayahnya.
***
Emily menangis pilu atas kepergian Peter yang tiba-tiba. Ia melampiaskan kemarahannya dengan memukul dan menendang pepohonan di Hutan Rahasia tempat ia biasa memadu kasih dengan Peter. Hatinya hancur, teringat saat ia melakukan hubungan-hubungan terlarangnya dengan Peter. Ia merasa sangat hina dan bodoh. Kenapa ia mau saja diperdaya oleh Peter?
Emily terduduk di rerumputan, menutup wajahnya dan terus menangis. Cuaca di musim panas itu tak secerah biasanya. Langit tampak mendung. Hujan pun mulai turun. Emily berlari pulang sendiri di tengah hujan. Hatinya sangat sedih. Air matanya berlinang di tengah rinai hujan yang jatuh membasahinya.
*Bersambung*