Orang Miskin Sulit Dapat Keadilan

1826 Words
"Apa?? Kamu hamil, Emily??" Nyonya Clare terkejut. Akhir-akhir ini Emily sakit. Ia mengeluh pusing dan mual-mual. Nyonya Clare mengajaknya memeriksakan diri di klinik terdekat. Perempuan itu sangat kaget waktu anaknya dinyatakan hamil tiga bulan. Hati wanita itu kacau. Sepanjang perjalanan pulang ia terdiam. Tiba di rumah, ia menceritakan semua pada suaminya. "Katakan, Emily! Siapa yang menghamilimu?! Apa salah satu buruh di kebun anggur?!" bentak Tuan Marcus. "Tidak, Ayah. Aku tak ada hubungan apapun dengan buruh di kebun anggur," jawab Emily. "Lalu siapa?!" bentak ayahnya. Emily takut untuk mengatakan yang sebenarnya. Jika ia mengucap nama Peter, pasti tak akan ada yang percaya. Lelaki itu tampak alim dan sempurna di mata semua orang. Lagipula pasti semua berpikir Peter tak mungkin mau dengan gadis miskin seperti dirinya. Namun, ia merasa harus mengungkap kebenaran. "Aku hamil dengan ... Aku ...." Emily menghentikan ucapannya. "Dengan siapa, Emily?!" desak Tuan Marcus. "Dengan Peter," jawab Emily lirih. "Katakan sekali lagi dengan jelas! Siapa?!" "Peter, Ayah." Kedua orang tua Emily terkejut. "Tak mungkin," ucap ibunya ragu. "Iya Ibu, yang menghamili aku memang Peter. Aku tak pernah melakukan hubungan apapun dengan orang selain Peter." Tangis Emily. Tuan Marcus terduduk dengan gusar. Diremasnya rambut di kepala yang mulai beruban. Dia benar-benar kecewa dengan ulah anaknya. "Kau tahu siapa Peter? Siapa Tuan Benigno? Dia orang yang derajatnya di atas kita. Mereka tak mungkin mengakui perbuatan itu. Anak yang ada dalam kandunganmu tak akan memiliki ayah, Emily. Dan aku tak tahu harus menghidupi anak itu dengan apa. Kita sangat miskin, Emily," ucap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku." Tangis Emily di hadapan ayahnya. Tuan Marcus hanya bisa terdiam sambil menopang dagu dengan kecewa. Nyonya Clare terdiam sambil menatap daun-daun maple warna orange yang berguguran. Musim telah berganti menggantikan musim panas cerah yang pernah dilewati Emily dengan kekasihnya. Musim ini sesuai dengan cinta di hati Emily yang berguguran. Ia terpaksa mengandung buah cintanya dengan Peter tanpa pengakuan dari lelaki yang pernah mengisi hari-harinya itu. Hatinya sangat hancur. Ia tak tahu bagaimana nasib anak dalam kandungannya kelak. "Kita bicara dengan Tuan Benigno," kata ayah Emily. "Kau yakin?" ucap Nyonya Clare. "Kita harus mengungkap kebenaran, Clare," jawab Tuan Marcus. *** Pernyataan keluarga Emily sudah tentu hanya jadi bahan tertawaan Tuan Benigno. "Pintar sekali anakmu mengarang cerita," ucap Tuan Benigno sinis pada Tuan Marcus. "Jangan harap hutang kalian akan berkurang hanya karena anakmu mengaku-aku hamil dengan anakku." Lelaki itu beralih bicara pada Emily, "Bagaimanapun juga kalian tidak akan bisa masuk keluarga Benigno, apa lagi dengan cara kotor seperti ini. Jangan fitnah anakku karena perbuatanmu sendiri yang tak bisa menjaga kehormatan, Emily." "Tapi anak yang ada dalam kandungan ini memang anak Peter, saya tak pernah melakukan hubungan apapun dengan orang lain," tangis Emily. Tuan Benigno tersenyum sinis. "Kamu pintar, Emily. Seharusnya dengan air matamu itu kamu pergi ke Auckland dan ikut casting film. Aktingmu sangat bagus, siapa tahu kamu bisa jadi artis opera sabun," sindir lelaki sombong itu. "Marcus." Tatapan Tuan Benigno beralih ke ayah Emily. "Anakmu itu terlalu genit, ia sengaja berdandan untuk menggoda para buruh saat mengantar bekal padamu. Bahkan ada yang pernah mengintip ia b******a dengan Jack di hutan dekat kebun anggur." "Itu bohong! Itu fitnah!" Air mata Emily berderai mendengar ucapan Benigno. "Yang ada dalam kandungan ini benar-benar anak Peter, Tuan Benigno. Kumohon ... percayalah padaku." "Kalian percaya dengan ucapan anak ini?" Sambil menunjuk Emily, Tuan Benigno bertanya sinis pada kedua orang tuanya. "Anakku itu berpendidikan, dia tak akan berselera dengan perempuan seperti ini." Emily hampir saja menampar Tuan Benigno karena tak tahan dengan sakit hati yang ia rasakan, tapi Tuan Marcus berhasil mencegahnya. "Sudahlah Emily, hentikan fitnahmu pada anakku. Anakku itu kuliah di Christchurch, kapan ia sempat melakukannya denganmu?" ucap Tuan Benigno lagi dengan sinis. "Sebelum dia pergi ke Christchurch, Tuan Benigno. Dia selalu merayuku, berusaha membuatku percaya bahwa dia akan bertanggung jawab dengan apa yang dia perbuat. Tapi ternyata dia meninggalkanku begitu saja," ucap Emily dengan suara serak karena tangisan. Tuan Benigno tersenyum sinis. "Kamu ada bukti?" "Bukti apa?" tanya Emily. "Bukti bahwa anak yang ada dalam kandungan itu memang anak Peter, seperti surat hasil tes DNA misalnya," jawab Tuan Benigno licik. "Tuan Benigno, kami ini orang miskin, mana mungkin kami punya uang untuk melakukan tes seperti itu. Untuk makan sehari-hari saja kami sulit," ucap Nyonya Clare. "Kalau kalian tidak punya bukti, sudah cukup hentikan fitnah kalian pada anakku. Atau kalian ingin kutuntut secara hukum?" tantang Tuan Benigno. Emily dan kedua orang tuanya berpandang-pandangan. Kenapa bisa jadi begini? Mereka yang menuntut keadilan, kenapa malah mereka yang akan dituntut secara hukum? "Tuan Benigno, maafkan kami," tiba-tiba Tuan Marcus berkata. "Mungkin memang anakku yang salah. Maafkan kami. Saya akan menasehatinya di rumah. Kami minta maaf, dan pamit pulang." "Ayah, tapi ...." Emily berusaha protes, tapi dicegah ibunya. "Akhirnya kalian mengakui kesalahan kalian kan? Sudah, lebih baik kalian segera pulang, atau kutuntut kalian secara hukum karena menfitnah anakku. O iya, perlu kalian ingat, hutang Marcus padaku sangat banyak. Masih untung dia kuberi gaji perbulan untuk pekerjaannya. Kalau tidak, dari mana kalian mau makan?" ucap Tuan Benigno dengan sombong. "Baik, Tuan. Terimakasih. Maafkan kelancangan suami dan anak saya," ucap Nyonya Clare, kemudian ia menggandeng tangan Emily untuk pulang. *** "Ini semua tidak adil, Bu. Aku memang mengandung anak Peter, bukan anak dari siapapun. Aku tak melakukan fitnahan Tuan Benigno. Aku tak pernah menggoda buruh di kebun anggur, dan aku tak pernah melakukan apapun dengan Tuan Jack seperti yang dituduhkan. Itu benar-benar hinaan buat aku, Bu." Di rumah Emily terus menangis untuk meyakinkan orang tuanya. "Aku percaya padamu, Emily." Nyonya Clare terus memeluk putrinya. "Emily, apa lebih baik kamu kunikahkan dengan salah satu buruh di kebun anggur saja? Ada beberapa lelaki yang belum menikah. Jack juga baru saja berpisah dengan istrinya," ucap ayahnya. "Tidak, Ayah!" Emily bersikeras. "Menikah dengan orang selain Peter karena kehamilan ini sama saja membenarkan tuduhan Tuan Benigno kalau ini bukan anak Peter. Apalagi dengan Jack, aku tidak mau! Dia terlalu tua untukku dan aku tak suka dengan kebiasaannya gonta ganti perempuan." "Tapi anak dalam kandunganmu tak memiliki ayah, dan aku tak punya uang untuk menghidupinya," kata ayahnya. "Kalau menikah dengan buruh di kebun anggur apa menyelelesaikan masalah? Mereka juga tak punya uang, kan? Sudah, biarkan anak ini lahir tanpa ayah. Nanti aku yang akan bekerja untuk menghidupinya," ucap Emily. Musim demi musim berlalu. Musim gugur yang penuh hamparan daun berwarna merah, kuning dan orange telah usai. Salju di New Zealand mulai turun di bulan Juni. Kandungan di perut Emily mulai membesar. Mungkin bayi ini akan lahir sekitar akhir musim dingin di bulan Agustus nanti. Dugaan Emily benar. Di akhir musim dingin, ketika salju mulai mencair, bayi itu lahir. Seorang bayi perempuan cantik, dengan kulit seputih salju dan bibir semerah cherry. Ia memiliki sorot mata seperti milik Peter. Tak salah lagi, dia memang anak Peter. Emily memberi nama bayi mungil itu Audrey. Sebuah nama yang berarti kekuatan dan kemuliaan. Bayi itu memang lahir penuh hinaan dari keluarga ayahnya sendiri, tapi Emily berharap dengan nama itu Sang Bayi akan tumbuh dengan kekuatan dan kemuliaan hingga kelak bisa membalas semua penghinaan ini. *** Sementara itu .... Di Marlborough, New Zealand Selatan, musim semi telah datang beberapa hari kemudian. Salju mulai mencair, bunga-bunga mulai bermekaran. Udara yang semula dingin telah berganti dengan kesejukan. Di sebuah kebun anggur yang luas sedang berlangsung upacara pernikahan mewah. Sudah hal yang biasa bagi pemilik kebun anggur di sana membuat garden party di kebunnya untuk merayakan pernikahan keluarga dan pesta-pesta lainnya. Pernikahan yang sedang berlangsung itu adalah pernikahan keluarga konglomerat bernama Logan Knight. Davide Knight dan Charlote Smith menikah, mereka adalah pewaris dari Logan Company dan Carlos Company, dua perusahaan besar di Welington yang menguasai komoditi anggur. "Kita bersulang Tuan Carlos, penyatuan anak kita pertanda penyatuan perusahaan kita, sukses untuk kerja sama ini," ucap Tuan Logan pada Tuan Carlos. Dua orang lelaki berambut putih bersulang dengan gembira dalam pesta ini. Sepasang pengantin melangkah melalui rumput-rumput yang ada di kebun anggur menuju altar. Para tamu undangan menyambut sepasang pengantin dengan gembira. Davide Knight, mempelai laki-laki, adalah seorang lelaki bertubuh tinggi dan atletis dengan mata biru yang meneduhkan. Ia memiliki senyum menawan yang bisa memikat siapa saja. Dia lelaki yang terkenal ramah dan disukai teman-temannya. Charlote Smith, sang mempelai perempuan adalah putri kedua dari pengusaha Carlos Smith. Ia berperawakan mungil dengan kulit kecoklatan. Ia memiliki dagu runcing, hidung mancung, dan wajah yang manis. Rambutnya hitam sebahu. Konon tingkahnya tak seinocent wajah yang ia miliki. Di usianya yang ke dua puluh tiga ia telah tidur dengan banyak lelaki. Ia bersungut waktu ayahnya merencanakan pernikahan ini. "Aku tidak mau menikah, Ayah. Pernikahan akan membatasi kebebasanku," ucap Charlote waktu itu. "Tapi kau harus memiliki tujuan hidup yang pasti, Charlote. Percayalah, menikah dengan Davide Knight akan menjadi kebahagiaanmu. Dia putra tunggal dari Logan Knight, pemilik perusahaan wine terkenal yang namanya telah mendunia. Sedang kau putri keduaku, perusahaan ini tak akan sepenuhnya jadi milikmu karena kau harus berbagi dengan Gustav, kakak laki-lakimu. Jika kau menikah dengan Davide Knight maka hak waris akan jatuh padamu dan anak-anakmu kelak, itu sangat menguntungkan. Lagipula pernikahan ini akan berdampak positif untuk kemajuan bisnis keluarga kita juga, percayalah kau akan bahagia dengannya." Charlote diam saja. Dia mulai berpikir, selama ini dia memang suka berpetualang, terutama berpetualang dengan cinta. Semua telah ia lakukan. Hanya satu yang belum ia lakukan, "menikah". Dia berpikir siapa tahu menikah akan jadi petualangan yang seru untuknya. Wanita itu pun menyetujui usul ayahnya. Di hadapan keluarga Knight, ia tampil jadi gadis manis berwajah inocent yang anggun dan berkelas. Selama beberapa minggu ia pergi dengan Davide Knight menyiapkan pernikahannya. Tak seorang pun yang tahu bagaimana Charlote sesungguhnya. Beberapa hari sebelum pernikahan, ia bahkan tidur dengan seorang lelaki yang baru dikencaninya beberapa hari sebelum menentukan hari pernikahan dengan Davide. "s**t! Berarti ini malam terakhir untuk kita? Karena beberapa hari lagi kamu menikah dengan Davide Knight?" tanya lelaki itu dengan gusar, saat itu ia sedang berpelukan di dalam selimut bersama Charlote. "Hahaha, iya. Memang kenapa?" jawab Charlote enteng seraya bangkit dari dipan dan menuang wine dalam gelas. "Aku ... pasti akan kehilanganmu, Charlote," ucap lelaki itu. "Hahaha, t***l!" Wanita itu tertawa berderai. Diteguknya wine dengan santai lalu ia berkata, "Kamu juga sering tidur dengan banyak perempuan selain aku kan? Percayalah, kamu tetap akan bahagia tanpa aku." Charlote meletakkan gelas wine di atas nakas. Ia kembali meringkuk di dalam selimut bersama Alex, lelaki yang di hadapannya. Perempuan itu berkata sambil cekikikan, "Lagi pula pernikahan buatku juga hanya permainan, aku tak mau kehilangan kebebasanku karena menikah. Kau tak akan kehilanganku hanya karena aku menikah. Kita masih bisa melakukannya diam-diam." "Benar begitu, Charlote?" ucap Alex. "Hahaha, tentu saja," jawab Charlote sambil menutup selimut dan melanjutkan percintaannya dengan Alex. *** Pesta pernikahan di kebun anggur Logan Company terus berlangsung. Para tamu undangan menyambut sepasang pengantin dengan antusias. Sepasang mempelai terus berjalan dan berdiri di altar. Davide Knight, sang pangeran dari Logan Company yang tampan dan ramah, saat ini telah mengikat janji suci pernikahan dengan Charlote Smith, serigala berbulu domba yang bersembunyi dengan sorot mata polos dan wajah yang inocent. *Bersambung*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD