Unggahan i********: Ryan

1715 Words
Tubuh Ryan mendingin. Rasanya kaki seperti tak menginjak bumi. Awalnya dia pikir, tak ada hal yang lebih menakutkan dari melihat Manda mati di depan matanya. Ternyata, ada banyak variabel di dunia ini yang mampu membuat kita begitu ketakutan. Salah satunya, ketika orang yang kita cintai merelakan diri kita tak bersama dengannya. "Makanya kalau kamu memang suka sama Airin dan itu bisa bikin kalian bahagia, aku juga bakalan ikutan senang." Ryan langsung berlutut di depan Manda dan menggenggam kedua tangannya setelah berbicara seperti itu. Manda terkejut, tetapi Ryan tidak melepaskan tangannya meski sudah berusaha dia tarik. "Yan, kamu ngapain?" tanya Manda bingung. "Nggak, aku nggak pernah suka sama Airin. Percaya sama aku." Ryan memohon. "Yan, lepasin, Yan!" "Nggak bakalan! Aku udah pernah kehilangan kamu, jadi, kali ini nggak bakalan aku lepasin lagi!" Manda semakin bingung. Kehilangan dirinya? Kapan? Ryan menangis di pangkuan Manda dan dia tak tahu harus melakukan apa. Mungkin maksud Ryan adalah orang yang mirip dengan Manda. Dulu juga Ryan menangis karena hal itu. Perempuan itu benar-benar sangat berarti untuk Ryan sampai bisa membuatnya menangis sesenggukan seperti ini. "Aku nggak ke mana-mana, kok. Aku selalu di sini," bisik Manda di telinga Ryan. Ternyata, cara itu cukup ampuh karena sedetik kemudian Ryan berhenti menangis dan mengangkat kepala untuk melihat Manda. Semacam mencari pembenaran atas kata-kata yang diucapkan oleh gadis itu. Suasana akhirnya kembali tenang. Saat ini mereka duduk bersebelahan, tetapi masih saling diam. "Orang itu semirip apa sama aku, Yan?" tanya Manda setelah diam yang cukup lama. "Hmm ...." Ryan tampak berpikir. Seketika kenangan tentang calon istrinya muncul kembali di dalam benaknya. "Kalian sama-sama cantik dan baik. Bedanya kamu jago berantem, kalau dia orangnya penakut." Ryan tak sadar betapa lebar senyumannya ketika bercerita. Manda takjub melihat mata Ryan yang berbinar. Hanya dengan memikirkan orang itu saja sudah bisa membuat Ryan bahagia seperti ini. "Aku deket sama dia nggak lama, nggak sampai sebulan." "Itu sebabnya kamu ngerasa kehilangan banget? Karena nggak sempat ngabisin banyak waktu sama dia?" tanya Manda. "Iya, bener. Dan di sini aku jumpa kamu. Rasanya kayak dikasih kesempatan buat mulai dari awal lagi, buat ngelakuin hal sebaik-baiknya, memperlakukan kamu juga sebaik-baiknya. Tapi, aku malah bikin kamu nangis hari ini, dan aku ngerasa bersalah banget karena udah nyia-nyiain kesempatan ini," jelas Ryan. "Meskipun aku sama dia orang yang berbeda?" tanya Manda. Ryan menatap Manda di sebelahnya. Secara fisik sama sekali tidak ada yang berbeda. Namun, dia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya bahwa Manda adalah calon istrinya di semesta lain. Gadis itu pasti tidak akan percaya dan mengiranya gila. "Berbeda atau nggak, perasaan aku tetap sama." Manda menarik pandangan karena malu. Seumur hidup, baru kali ini ada seorang pemuda yang menyatakan perasaan padanya. Jangan dihitung pemuda iseng pada masa SMP yang sedang mencari jati diri. Mereka tidak benar-benar suka padanya, hanya coba-coba saja. "Aku janji nggak bakalan bikin kamu nangis lagi." Manda tersenyum. Mama benar, Ryan memang tulus. Apa yang Ryan lakukan pada Airin itu sama seperti yang dia lakukan dulu. Memang tidak ada yang spesial, hanya berniat membantu saja. Namun, bukankah Ryan harus mengukuhkan hal itu pada Airin? Airin bisa saja salah tanggap dengan apa yang sudah Ryan lakukan untuknya. Akan tetapi, Manda tak bisa memaksa Ryan untuk melakukan hal itu. Meski dia tahu bahwa Ryan menyukainya, tetapi mereka tidak punya hubungan apa-apa, 'kan? "Cari makan, yuk, Kak. Laper, nih!" ajak Ryan tiba-tiba. Manda seketika tergelak, membuat Ryan terkejut sekaligus keheranan. "Panggil Manda aja, Yan." Ryan sadar, melihat Manda tertawa seperti ini adalah kebahagiaan terbesar buat dirinya. Senyumnya perlahan ikut merekah. Dia sudah jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada gadis di hadapannya. Walaupun sifat dan sikap keduanya berbeda, tetap saja mampu membuat hati Ryan hangat saat menatapnya. Manda, kamu tau, nggak, aku cinta banget sama kamu? Tapi, kalau aku akuin itu sekarang, kamu pasti ngerasa aneh, 'kan? Aku cuma butuh kamu. Ryan tidak lagi memerlukan yang lain. ... Angin malam menerpa ringan kulit Ryan yang tidak ditutupi jaket. Dia memberikan satu-satunya jaket yang dia punya untuk dipakai oleh Manda. Syukurnya, dia punya dua helm sehingga mereka berdua bisa memakainya. Meski sedikit kedinginan, tetapi senyum di wajahnya tetap merekah. Apalagi ketika perlahan kedua lengan Manda memeluk pinggangnya. Dia tidak meminta, Manda yang berinisiatif sendiri melakukannya. "Kamu suka makan apa?" tanya Ryan dengan suara sedikit keras agar Manda yang berada di boncengan dapat mendengarnya. Ryan ingat pernah menanyakan hal yang mirip pada Manda dulu. Dia juga masih ingat bahwa gadis itu menjawab, "Pizza." Apakah kali ini juga akan sama? "Sebenarnya aku diajak makan apa aja suka. Tapi, di dekat sini ada restoran cepat saji enak," jawab Manda dengan suara tak kalah keras. Restoran cepat saji? "Pizza?" tebak Ryan. "Betul!" sahut Manda. Ryan terperangah dengan kebetulan ini. Atau, ini semua memang sudah takdir? "Kamu mau makan pizza?" "Boleh … biar pulangnya nggak kemalaman juga. Nanti Papa marah." "Oke!" Ryan pun mengendarai motor sesuai arahan Manda. Restoran itu memang tidak terlalu jauh dari rumah Manda, mungkin hanya berjarak sekitar dua kilometer saja. Parkirannya tidak terlalu ramai, sepertinya di dalam tidak terlalu banyak orang makan di tempat. Keduanya turun dari motor dan Manda sedikit kesulitan membuka helmnya. Ryan membantu melepaskannya, membuat pipi Manda memanas tanpa diduga. Untungnya, Ryan tidak memperhatikan karena sibuk dengan helm tersebut. "Jaketnya mau dibuka atau tetap dipakai?" Tangan Ryan sudah bergerak untuk membukakan ritsleting, tetapi Manda menolak. "Aku buka sendiri aja." "Oh, ya udah. Ayok!" Ryan berjalan lebih dulu memasuki restoran. Manda membuang napas, lalu memegangi kedua pipinya. Masih panas. Jika Ryan membukakan jaketnya juga, mungkin pipinya akan meletup seperti berondong jagung. Setelah membuka jaket dan meletakkannya asal di atas motor, Manda pun memasuki restoran juga. Ternyata Ryan sudah memilih beberapa menu. Dia memesan sebuah pizza berukuran medium, roti bawang putih, dan dua piring spaghetti. Dua gelas kola diantar lebih dahulu dan kesegaran segera menyapa tenggorokan saat menenggaknya. "Jadi, kamu, kok, nangis tadi?" tanya Ryan yang masih penasaran dengan alasan Manda menangis. Manda hampir tersedak, tetapi masih mampu mengendalikan diri. Dia berdeham sambil meletakkan minuman. "Kesal karena kamu berantem demi perempuan lain," jawab Manda sambil menunduk. Faktanya dia malu berbicara seperti ini, tetapi Ryan pasti akan terus menuntut jawaban jika dia tak kunjung jujur. "Cemburu?" tanya Ryan tak percaya. Apa Manda serius bahwa dia cemburu? "Pake nanya lagi!" jawab Manda sambil memalingkan wajah. Ke mana saja asal jangan bertatapan dengan Ryan. "Sebenarnya, sih, aku nggak suka liat kamu berantem-berantem kayak gitu. Jangan sampai jadi kayak aku. Jangan cari musuh." "Iya-iya, aku ngerti, kok." Ryan kemudian teringat akan sesuatu. "Oh, iya, yang kamu pukulin itu jadinya gimana?" Kini Manda menerawang ingatannya terdahulu. Kejadian itu sudah dua tahun berlalu, tetapi dia masih ingat segala detail—benar-benar tidak dapat melupakannya. "Aku pernah besuk dia sekali di rumah sakit, terus dia kayak ketakutan gitu. Aku bilang, kalau dia sampai ngomong ke orang-orang tentang dia sama Airin, dia bakalan aku pukulin sampai nggak bisa keluar lagi dari rumah sakit." Ryan terkejut mendengar penuturan tersebut. "Buset! Kamu ngancam dia?" Manda mengangguk. "Ya udah, gitu dia sembuh, datang ke sekolah cuma buat ngurus pindah ke sekolah lain." Ryan benar-benar terperangah dibuat Manda. Dia bisa melakukan apa pun kalau sudah menginginkannya. "Cuma kamu yang nggak benci sama aku," kata Manda memuji Ryan. "Semua orang langsung menjauh dari aku sejak kejadian itu. Nggak ada yang mau kenal apalagi dekat. Cuma kamu, Yan." Kini, giliran Ryan yang tersipu malu. Apalagi saat melihat Manda menopang wajah dengan kedua tangannya sambil tersenyum. Cantik sekali! "Eh, coba tahan di posisi itu," kata Ryan. Dia mengambil ponsel dan berniat memfoto Manda. "Jangan, Yan!" "Udah, jangan gerak, gitu aja! Satu foto aja, kok." Ryan memaksa. Entah kenapa Manda mau saja menurut. "Senyum, dong!" Manda tersenyum dan Ryan mengambil foto Manda untuk pertama kalinya di semesta ini. Dan tanpa gadis itu ketahui, foto tersebut tidak hanya mendekam dalam memori ponsel Ryan. ... Besoknya, sekolah digegerkan oleh gosip baru. Bagaimana tidak? Baru saja kemarin Ryan menghajar seseorang yang mengganggu Airin. Otomatis semua berpikir bahwa Ryan melakukan itu karena sifat b***k cintanya pada Airin. Namun, pagi ini semua heboh saat melihat unggahan di akun i********: Ryan. Hampir semua orang di sekolah langsung membuka i********: mereka saat mendengar gosip tersebut—mencoba mengecek kebenaran. "Lah, iya, beneran. Gue kira hoaks!" "Kok, bisa, sih? Bukannya dia sukanya sama Airin, ya?" "Jadi, yang kemarin itu dia berantem kenapa, coba?" "Orang ganteng, mah, bebas, ya, mau sama siapa aja." Dan bermacam-macam lagi obrolan para siswa pagi ini. Bel masuk saja belum berbunyi, tetapi satu sekolah sudah bising seperti dengungan tawon gara-gara satu unggahan di i********: Ryan. Manda memasuki sekolah dengan keacuhan seperti biasa. Dia menghampiri loker dan mengganti beberapa buku dari ransel ke dalam sana. Dia juga memeriksa pekerjaan rumah, memastikan bahwa semua soal sudah dikerjakan sebelum dikumpul ke ruang guru. Langkahnya kini mengarah ke kelas. Alisnya bertaut mendengar keriuhan di sana-sini, seperti sedang ada sesuatu terjadi. Namun, sekali pun dia tidak mengangkat kepala dan terus berjalan saja. Tak lama setelah mendudukkan diri, Manda mendengar seseorang meneriakkan namanya. "Kak Manda … Kak Manda!" teriak Lisa sambil berlari-lari menghampiri Manda di kelasnya. Akhirnya Manda menyadari sesuatu, yaitu orang-orang sedang memperhatikannya. Namun, kenapa? Fokusnya teralihkan pada Lisa yang kini sudah duduk di sebelahnya. "Ada apa, Lis? Kok, lari-lari?" "Ciyeee … yang udah jadian!" goda Lisa seraya mencolek-colek lengan Manda. Manda mengernyit, tidak mengerti apa maksud Lisa. "Ih, malah pura-pura b**o lagi. Kakak jadian sama Ryan, 'kan?" "Hah?" Manda berteriak kaget. "Nggak, kok!" Lisa mendecih kesal. "Bohong dosa, tauuu …!" "Nggak bohong, loh, beneran!" "Nggak percaya! Coba lihat Instagramnya Ryan. Pokoknya aku nggak percaya sama Kakak!" Manda heran melihat kelakuan Lisa. Dia pun mengambil ponsel dari ransel dan membuka i********:. Sejak semalam Manda memang tidak ada membuka aplikasi media sosial itu karena mengebut mengerjakan tugas yang tertunda sebab Ryan datang. Jadi, tidak tahu kalau ada sebuah berita yang membuat heboh. Begitu membuka i********:, foto teratas yang muncul di kronologi Manda membuat mulutnya menganga lebar. Sebuah foto yang menampilkan wajah Manda sedang menopang dagu. Manda mengucek mata dan memastikan bahwa foto itu bukan diunggah dari akun miliknya. Lagi pula sudah beberapa hari ini dia tidak mengunggah apa pun. Berarti, foto itu memang benar-benar diunggah oleh Ryan? Demi apa! "Fo-foto ini …." gumam Manda. Itu adalah foto yang diambil Ryan saat makan bersama semalam! Foto itu kemudian diikuti keterangan "Makan yang banyak ya biar makin cantik❤️" "Ciyeee …!" goda Lisa lagi, membuat Manda rasanya ingin pingsan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD