Manda menangis.
Dia tidak sadar bahwa dirinya menangis.
Pipinya sudah basah saat Ryan mengangkat kepalan tangan di udara dan menatap ke arahnya. Ryan terkejut melihatnya menangis. Dia menunduk lalu membalik badan dan kembali berjalan menerobos kerumunan.
Ryan yang lengah karena Manda, dipukul balik oleh lawannya sampai jatuh ke lantai. Namun, hanya sampai di situ, lawannya tidak berani untuk memukul lagi. Dia juga sudah tidak berniat lagi sebab ingin mengejar Manda. Baru saja ingin pergi, tangannya ditahan oleh seseorang.
"Yan, kamu mau ke mana? Biar aku obati dulu luka-luka kamu," kata Airin. Dia merasa bersalah karena Ryan harus berkelahi lagi karena dirinya.
"Nggak, Rin, nggak usah, gue nggak apa-apa. Yang penting lonya udah aman," balas Ryan.
Airin melepaskan pegangan saat mendengar respon Ryan. Sepertinya Airin salah paham. Ryan pun langsung pergi begitu tangannya sudah bebas. Dia menyuruh orang-orang untuk minggir dan mereka langsung memberi jalan untuknya. Takut kalau tidak menurut, giliran mereka yang diberi bogem mentah olehnya.
Ryan mencari-cari Manda ke sana kemari dan akhirnya ketemu di dekat loker. Gadis itu sedang mengambil beberapa barang untuk dimasukkan ke dalam ransel. Dia menghampiri Manda tepat saat gadis itu menutup pintu loker. Sang gadis menghapus jejak air mata di pipi dan menarik ingus sebelum bicara pada Ryan.
"Ada apa?" tanya Manda dengan nada ketus.
"Kamu kenapa nangis?" Ryan bertanya balik—khawatir.
"Jangan salah paham, aku bukan nangisin kamu."
"Terus kenapa? Bilang sama aku. Kamu diganggu orang?" tanya Ryan pelan-pelan.
"Kalau aku diganggu orang, emang kenapa? Mau kamu pukulin juga kayak tadi?" Suara Manda mulai meninggi.
"Kalau kamu maunya gitu, aku turutin," jawab Ryan.
"Ya udah, kalau gitu pukulin aja diri kamu sendiri!" teriak Manda yang kemudian kembali menangis.
Ryan diam. Dia terdampar di sini bukan untuk melihat Manda menangis. Apa sebenarnya yang sudah dia lakukan? Kenapa dia tidak lurus-lurus saja dan tidak membuat masalah sehingga Manda menjadi kesal seperti ini?
"Maaf ...." ucap Ryan pelan.
"Aku nggak mau ngomong sama kamu lagi. Mulai sekarang, please jangan dekat-dekat aku lagi. Aku nggak peduli kamu mukulin orang karena suka sama Airin kek, apa kek, bukan urusan aku!"
Ryan terkejut mendengar ucapan Manda. Dia tak tahu kenapa gadis itu semarah ini. Dia bahkan tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Namun, Ryan hanya bisa memandangi Manda yang pergi menjauhinya.
Ryan merasa frustrasi. Dia tidak mau kehilangan Manda lagi.
Dia tidak siap.
...
Ryan telah melakukan kebodohan besar dalam hidupnya. Pertama, dia tidak bisa menyelamatkan Manda saat gadis itu benar-benar membutuhkan pertolongannya. Kedua, dia membuat Manda menangis saat menolong gadis lain yang sama sekali bukan merupakan alasannya untuk terdampar di tempat asing ini.
Tidak mudah bagi Ryan beradaptasi di semesta ini. Meski dia masih memiliki keluarga dan sahabat yang sama, tetapi segala hal yang ada di sini terasa berbeda. Tak jarang orang tuanya melihatnya dengan khawatir karena dirinya sering melupakan hal-hal yang dianggap penting. Seperti di mana biasanya mereka menggantung kunci rumah. Saat pertama tiba di semesta ini, dia tidak memiliki kunci untuk masuk ke rumahnya. Untungnya, orang tuanya tidak meributkan hal itu. Akan tetapi, tentu tidak berhenti di situ. Rasa cintanya pada Mandalah yang membuatnya mengarungi itu semua meski sangat sulit.
Belum lagi inteligensinya yang menurun drastis. Ryan adalah siswa cemerlang di sekolahnya terdahulu. Dia mampu menguasai semua mata pelajaran dengan baik. Sedangkan di sini, dia bahkan tidak bisa menyelesaikan soal Fisika yang cukup mudah. Dia sudah berusaha mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengingat cara penyelesaian soal tersebut, tetapi selalu gagal. Dia pun merasakan frustrasi dalam menjalani kehidupannya sendiri, bukan hanya karena Manda.
Kini, semuanya akan sia-sia jika Manda memilih untuk berhenti bicara padanya. Jadi, apa gunanya Ryan menjalani ini semua tanpa adanya Manda dalam hidupnya? Percuma saja, bukan? Dia benar-benar tak mau menua dan mati di semesta ini tanpa ada Manda di sampingnya. Cukup di semesta asalnya saja, jangan di sini juga.
Ryan berpikir keras, apa yang harus dia lakukan? Dia sudah berusaha mengirimi Manda banyak pesan. Semua centang dua itu tak kunjung berubah menjadi biru. Dia sangat gelisah. Dia juga sudah berusaha menelepon gadis itu, tetapi tampaknya Manda enggan mengangkatnya.
Dia harus pergi ke rumah Manda. Apa pun hasilnya, dia harus tetap berusaha.
…
Manda duduk di kursi belajar dan menatap keluar jendela. Syukurnya saat dia pulang, mama papa belum ada yang sampai di rumah. Dia melewatkan makan malam dengan alasan capek dan ingin tidur saja. Mama pun tidak memaksa.
Ponselnya sedari tadi terus bergetar. Manda tak tahu, entah berapa banyak pesan w******p dan telepon yang masuk—satu pun tak dia gubris. Tidak perlu dilihat pun dia sudah tahu kalau itu semua dari Ryan.
Manda membenamkan wajah di kedua lutut. Bermacam perasaan campur aduk dalam hatinya. Apakah dia cemburu karena Ryan begitu memperhatikan Airin sehingga rela terluka karenanya? Apakah instingnya salah menilai bahwa Ryan suka padanya?
"Bodoh …." lirih Manda, mengumpat dirinya sendiri. "Udah tau dari awal dia itu sukanya sama Airin, masih aja ngeyel. Mana mungkin dia lebih suka sama kamu ketimbang Airin."
Ketidakpercayaan diri menyerang Manda secara tiba-tiba. Dia mengangkat wajah dan menatap pantulan diri di cermin.
"Sadar diri. Kamu, tuh, nggak pantas dibandingkan sama Airin. Semua orang benci sama kamu. Kenapa kamu bisa berpikir cowok kayak Ryan bisa suka sama kamu?"
Manda terisak sedikit, tetapi sekuat tenaga menahan tangis agar tidak tumpah. Dia tidak ingin mama dan papa mendengar atau melihatnya menangis. Dia tak mau membuat keduanya khawatir.
Sudahlah, daripada memikirkan hal ini, lebih baik Manda kembali belajar. Ujian kelulusan sudah menghitung pekan. Dia tidak boleh terlena dan malah tenggelam dalam masalah yang tidak penting. Dia pun menurunkan kaki dan membuka buku di hadapannya. Soal Matematika nomor 173 menunggu untuk dikerjakan. Meski awalnya agak terganggu, akhirnya dia bisa fokus dan berhasil menyelesaikan soal tersebut. Namun, tak lama setelah itu mama memanggilnya.
"Manda, di luar ada Ryan, tuh," kata Mama memberi tahu.
Manda cuma diam tidak menanggapi. Penanya terus bergerak dan matanya mulai membaca soal yang lain.
"Dari tadi Mama udah ngerasa ada yang aneh karena kamu nggak mau makan. Dan sekarang pas Ryan datang kamu juga diam aja. Ada masalah, ya, sama Ryan?" tanya mama.
Manda masih diam saja. Dia hanya menatap mama sekilas lalu menggeleng.
"Manda ... kalau Ryan datang ke sini, berarti dia berusaha banget untuk nyelesaiin masalah sama kamu. Masa iya, kamu nggak mau temuin dia," pujuk Mama. "Mama pernah bilang mau ngeliat Ryan, 'kan? Setelah Mama liat, kayaknya Ryan itu suka banget sama kamu. Dari cara dia natap kamu, ngomong sama kamu, itu beda dengan ke orang lain."
Manda berhenti menulis, lalu melihat mama yang tersenyum.
"Ryan itu tulus, percaya sama Mama. Yuk, kamu jumpai dia, biar masalahnya selesai."
Manda akhirnya menurut. Dia meletakkan pena di atas buku yang masih terbuka dan mengikuti mama turun untuk menjumpai Ryan. Mereka duduk di kursi taman belakang rumah dan mama meninggalkan mereka berdua supaya bisa mengobrol dengan nyaman.
"Kalau mau minum bilang aja, ya, nanti mama buatkan," pesan mama pada Manda yang hanya dibalas dengan anggukan.
Sempat hening selama beberapa menit. Manda bahkan tidak mau menatap langsung ke mata Ryan. Dia hanya menunduk. Untungnya cuaca malam ini sangat cerah. Beberapa rasi bintang bahkan bisa terlihat dengan jelas. Sungguh penampakan yang sudah langka di masa ini.
"Aku nggak tau kenapa kamu marah banget hari ini. Tapi, aku berantem tadi karena anak itu kurang ajar sama Airin. Bukan karena apa-apa, kok. Aku nggak punya perasaan apa-apa sama Airin," jelas Ryan.
Manda menghela napas. "Kan, aku udah bilang itu bukan urusan aku."
"Tapi, kamu sampai nangis gitu, bikin aku jadi nggak enak. Pasti ada sesuatu, 'kan?" tanya Ryan.
"Aku cuma keingat waktu dulu ...."
Manda menggantung ucapannya. Ryan jadi penasaran, tetapi dia bersyukur karena Manda sudah mau bersuara.
"Aku juga pernah mukulin orang kayak gitu ...." Suasana hati Manda menjadi semakin buruk. Sebenarnya ini yang ingin dilupakan olehnya, tetapi tak pernah bisa. "Aku nggak tau kamu dengar gosip itu juga atau nggak. Aku dulu pernah mukulin siswa lain sampai babak belur, masuk rumah sakit. Dan alasannya sama ...."
Ryan menunggu kelanjutan kalimat Manda.
"... karena siswa itu kurang ajar sama Airin."
Ryan terperanjat. Jadi, Manda menghajar siswa itu bukan karena sok jagoan, tetapi karena melindungi orang lain!
Banyak spekulasi bermunculan di kepala Ryan. Selama ini dia tidak pernah melihat Manda dekat dengan Airin. Dia selalu dirundung karena kejadian itu, tetapi dia diam saja dan tak mau menjelaskan yang sebenarnya ke orang lain. Ada apa?
"Aku bakalan cerita, tapi kamu harus janji untuk nggak bilang ke siapa-siapa soal ini."
Ryan meyakinkan Manda kalau dia tidak akan membocorkannya ke siapa pun.
"Itu kejadiannya awal-awal masuk sekolah banget. Aku belum sempat temenan sama siapa-siapa. Dari dulu Airin emang udah jadi idola, dari masa MOS aja udah banyak yang suka sama dia. Dan udah biasa kalau ada senior yang ngejar-ngejar dia, tapi Airinnya nggak mau. Aku pas lagi ke kamar mandi waktu dengar ada suara orang minta tolong. Pas aku liat ternyata Airin lagi di .... " Manda tiba-tiba diam.
"Kayaknya bagian yang itu nggak usah aku ceritain, itu aibnya Airin. Intinya, aku langsung nerjang si senior ini dan emang nggak sadar banget udah mukulin dia sampai babak belur. Pertama karena aku niat mau nolong, kedua karena aku juga perempuan dan nggak suka banget liat perlakuan dia ke perempuan lain. Kejadian itu langsung geger di sekolah, tapi nggak langsung diproses karena anaknya masih di rumah sakit. Tapi, aku sama Airin udah nyeritain kejadian yang sebenarnya ke kepala sekolah dan mereka ngerti kenapa aku kayak gitu.
Aku sampai mohon-mohon ke pihak sekolah supaya nggak ada satu pun siswa yang tau masalah itu. Karena aku nggak mau Airin jadi trauma. Aku juga bilang ke Airin untuk nggak temenan sama aku supaya orang lain nggak berprasangka ke dia. Biar aku aja yang nanggung semuanya. Awalnya Airin nggak mau, tapi setelah aku paksa akhirnya dia setuju. Setidaknya aku mau jaga image-nya Airin sampai kami tamat sekolah.
"Airin tau aku sering di-bully setelah itu dan dia nyaranin supaya kami jujur aja biar orang-orang nggak ganggu aku lagi, tapi aku nggak mau. Yang dibuat orang-orang ke aku itu nggak ada apa-apanya kalau dibandingin dengan prasangka orang-orang kalau tau apa yang terjadi sama Airin. Lama-lama aku nggak gubris Airin lagi dan dia pun nggak pernah hubungi aku lagi. Dan ngeliat Airin sekarang yang kayak nggak pernah ada kejadian apa pun bikin aku jadi lega. Aku juga ikutan senang kalau liat dia senang. Makanya kalau kamu memang suka sama Airin dan itu bisa bikin kalian bahagia, aku juga bakalan ikutan senang."