"Kakak kelaasss ...."
Manda mengalihkan pandangan dari buku bacaan untuk melihat adik kelas yang belakangan ini terus mengintilnya setiap hari seperti anak kucing yang minta dikasih makan.
"Bantuin ngerjain pe-er, dong, please ...."
Manda cuma geleng-geleng dan kembali membaca.
"Lah, dicuekin."
Manda masih acuh. "Sini!" Dia mulai memberi perhatian ketika ada dua adik kelas lagi yang duduk menghadapnya. Lalu, orang yang mengganggunya sejak tadi cuma menyengir saat ditatap.
"Kita ada pe-er Fisika, nih, tapi nggak ngerti ngerjainnya. Bantuin, dong ...."
Manda memperhatikan Ryan, Chandra, dan Farrel satu per satu. Cuma Ryan yang berani menatap Manda secara langsung, sedangkan Chandra dan Farrel hanya menunduk.
"Ada apa di bawah meja?" tanya Manda.
Sontak Chandra dan Farrel langsung mengangkat kepala.
"Ng-nggak ada apa-apa, Kak!" jawab mereka serentak.
Manda tertawa, membuat Chandra dan Farrel merasa amaze. Ternyata, tawa Manda terdengar sangat renyah. Jika dicelupkan ke teh manis maka akan lumer. Persis seperti situasi saat ini yang mendadak cair. Padahal sebelumnya, Chandra dan Farrel sama sekali tidak setuju (baca : takut) untuk minta diajarkan oleh Manda.
"Makanya kalian jangan temenan sama Ryan. Ketularan, kan, begonya!" Manda tertawa lagi.
Kali ini Chandra dan Farrel juga ikut tertawa. Giliran Ryan yang cemberut. Siang itu, mendadak Manda menjadi guru private untuk ketiga adik kelasnya.
...
Manda duduk di dekat jendela dan menikmati angin sepoi-sepoi yang membelai rambut dan wajahnya. Pekerjaan rumah para adik kelas sudah pada selesai. Mereka lanjut bermain basket di lapangan bawah, tetapi Ryan tidak ikut. Dia lebih suka mengobrol dengan Manda.
"Udah cantik, pinter, kurang apa coba?" puji Ryan.
"Basi banget, ih!" ledek Manda tanpa melihat Ryan. Dia sedang memperhatikan Chandra dan Farrel yang ternyata sangat jago bermain basket. "Kamu, kok, nggak ikutan, Yan? Nggak bisa main basket, ya?" tanya Manda.
"Bisa, dong!"
"Ah, boong!"
"Ngapain aku main basket di bawah kalo kamu nggak nonton buat nyemangatin?" tanya Ryan.
"Manja banget, main basket aja harus ada yang nyemangatin."
Ryan bangkit dari duduk untuk menghampiri Manda. Langkahnya pun berhasil mengintimidasi gadis itu.
"Jangan deket-deket!"
Telat! Ryan sudah ada di depan Manda.
"Ih, nekat ...."
Manda melayangkan kepalan tangan pada Ryan, tetapi berhasil ditangkap oleh pemuda itu. Saat ini, dia sedang menggenggam tangan Manda. Gadis itu melakukan kesalahan besar karena justru memberikan umpan kepada Ryan.
Jantung Manda mendadak berdebar dua kali lipat dari biasanya karena ditatap langsung oleh Ryan.
"Yan, mundur, nggak?" ancam Manda.
"Nggak." Ryan malah menantang. "Nggak bakalan aku apa-apain, kalau kamu khawatirin soal itu. Perasaan aku tulus sama kamu, bukan karena ada hal lain. Bukan karena mau manfaatin kamu atau ngelakuin hal-hal yang nggak pantas ke kamu. Dan sejak pertama kita kenal, kamu selalu jaga jarak, 'kan? Aku nggak ada maksud jahat ke kamu. Percaya sama aku."
Fix, sebentar lagi jantung Manda akan copot setelah mendengar pengakuan dari Ryan. Ryan memang tidak to the point mengatakan, 'Aku suka kamu' atau 'Mau nggak kamu jadi pacar aku'. Namun, diperlakukan seperti ini saja sudah membuat Manda rasanya melayang entah ke mana.
Namun, tak lama setelah itu Ryan menarik diri dan mundur. Jantung Manda masih belum normal juga meskipun jarak mereka sudah agak jauh sekarang.
"Aku mau main ke rumah Farrel habis ini. Sampai jumpa besok, ya!"
Setelah itu, Ryan melambai-lambaikan tangan pada Manda lalu pergi. Dia bahkan tidak menunggu respon apa pun dari Manda. Gadis itu membuang napas dengan keras setelah Ryan pergi. Sepertinya, sejak tadi dia menahan napas saking gugupnya. Mau bicara takut salah tingkah sehingga dia diam saja.
Manda kembali melihat keluar dan Ryan sudah sampai di bawah menghampiri teman-temannya. Dia tidak tahu kenapa, tetapi sepertinya Ryan berada sangat dekat dengan hatinya. Kenyamanan yang dia rasakan seperti sudah kenal lama, padahal belum ada sebulan.
Manda juga sudah tidak pernah lagi mendengar gosip mengenai Ryan yang mengejar-ngejar Airin. Padahal, kemarin pemuda itu sempat berkelahi dengan Niko yang juga cinta mati pada Airin. Namun, sehabis itu, Ryan seperti lupa pada Airin dan malah mendekati Manda. Itu yang membuatnya tidak yakin pada Ryan.
Terkadang, Manda sering berpikir kalau dia hanya dijadikan pelarian oleh Ryan saja karena mendapatkan Airin sangatlah susah. Gadis paling cantik di sekolah pula, jelas akan pilah-pilih untuk dijadikan pacar. Hal itu yang membuat Ryan sampai berkata seperti tadi untuk meyakinkan Manda. Namun, tetap saja seperti masih ada yang mengganjal dan Manda bingung apa itu sebenarnya.
Tak lama setelah Ryan dan kawan-kawan pulang, Manda tak sengaja melihat sesuatu di halaman belakang sekolah. Dia mencoba mendekat dan terdengar suara teriakan yang diredam.
"Ada apa, nih?" tanya Manda saat tiba di lokasi.
Ada beberapa siswi yang menoleh dan melihat Manda. Salah satu di antaranya tertawa sarkas.
"Kalau lo nggak mau ikutan di-bully, mending cabut aja!"
"Udah biasa gue di-bully," balas Manda acuh.
Dia semakin mendekat ke para siswi dan mulai terlihat ada seorang adik kelas yang sedang berlutut dengan rambut yang dijambak. Pipinya sudah basah terkena air mata. Pundak Manda ditahan agar dia berhenti melangkah.
"Nggak usah ikut campur!"
Manda mendesah, kemudian menyindir, "Ini siswa sekolahan apa manusia barbar, ya?"
"Eh, jaga mulut lo, ya! Kalau lo nggak bisa diam, gue sobek mulut lo!" ancam siswi yang menjambak si Adik Kelas.
Manda menyeringai. "Oke, coba sini. Gue mau liat," tantangnya.
Siswi itu melepas jambakan dengan sedikit menoyor kepala si Adik Kelas. Dia menghampiri Manda dan mulai melayangkan tangan ke arah gadis itu. Namun, sebelum sampai ke wajah Manda, tangannya sudah dipelintir oleh Manda.
"ADUH … DUH … ADUUHHH …!" teriaknya kesakitan.
"Eh, berani lo ya sama kita!" ancam siswi lain yang kemudian bernasib sama seperti yang sebelumnya.
Sekarang, kedua tangan mereka dipelintir oleh Manda. Dua siswi lain yang cuma melihat, tampak ketakutan.
"Eh, kabur, yuk, kabur!" ajaknya.
Manda melepaskan tangan keduanya dan mereka pun langsung ikut kabur. Dia menghampiri si Adik Kelas dan menanyakan keadaannya.
"Kamu nggak apa-apa?"
Si Adik Kelas malah menangis semakin kencang lalu memeluk Manda. "Makasih, Kaaak …. makasih!"
Manda menepuk-nepuk pelan pundak si Adik Kelas agar tenang. Dia tidak jadi langsung pulang karena ingin mengantar gadis itu lebih dulu. Kasihan juga jika harus disuruh pulang sendiri dalam kondisi seperti itu.
"Nama kamu siapa?" tanya Manda.
"Lisa, Kak," jawabnya sambil masih mewek sedikit-sedikit.
Manda tersenyum. Sadar bahwa tidak semua orang bisa kuat dan tegar menghadapi rundungan seperti dirinya.
…
Manda melongo.
Heran.
Bingung.
"Ryan, ini apaaa …!" Manda meneriaki Ryan sampai hampir b***k.
Semua yang ada di ruangan terlihat ketakutan karena mengira Manda marah. Manda memijit pelipis. Kelakuan bocah satu ini semakin lama membuatnya semakin puyeng.
"Lo kira gue guru les?"
Tampaknya Manda benar-benar marah karena berbicara dengan sapaan lo-gue. Juga, karena Ryan cuma bisa menyengir, membuat ubun-ubun Manda menjadi panas. Rasanya sudah ingin meledak saja.
"Guru Fisika kita kelewatan banget! Masa ngasih pe-er, tapi materinya belum diajarin." Ryan membela diri.
"Ya, tapi nggak lo bawa juga semua temen lo ke sini!" bentak Manda sewot.
Ruangan belajar mendadak ramai dengan kehadiran hampir seluruh teman sekelas Ryan. Farrel dan Chandra pun jangan ditanya, sudah pasti ikutan juga.
"Farrel sama Chandra yang ngasih testimoni ke mereka. Katanya belajar sama kamu lebih gampang paham," jelas Ryan.
Manda memandangi teman-teman Ryan. Sama seperti Farrel dan Chandra sebelumnya, mereka juga tampak takut dengannya. Siapa, sih, yang tak tahu rumor tentangnya yang memukuli salah satu siswa sampai babak belur? Juga, kemarin dia baru saja melintir dua tangan siswa lagi. Tidak menunggu sampai bel masuk saja, gosip itu sudah menyebar ke hampir seluruh penjuru sekolah.
"Kak Mandaaa …!"
Great! Belum kelar satu masalah, sudah muncul masalah baru. Lisa berjalan sambil melompat-lompat kegirangan menghampiri Manda. Tak ambil pusing dengan ramainya orang, dia langsung duduk di depan Manda.
"Kak, tau, nggak? Yang semalam nge-bully aku tadi pagi minta maaf. Kalau kemarin Kakak nggak ada, pasti hari ini mereka masih songong!" Lisa memberi tahu.
Siswa lain bisa mendengar omongan Lisa dengan jelas. Oh, jadi yang kemarin itu karena Manda menolong Lisa yang sedang dirundung?
"Wah, bagus, dong, kalau gitu! Jadi, kamu udah aman, 'kan?" tanya Manda senang.
Ryan yang sedari tadi memperhatikan Lisa bicara, secara tak sadar sudah membuat gadis itu tersipu-sipu malu. Manda paham akan hal itu dan memalingkan wajah Ryan dari Lisa.
"Apaan?" tanya Ryan heran.
"Tapi, Kak, kok, ini anak-anak kelas satu pada ngumpul di sini?" tanya Lisa heran.
"Biasa, minta diajarin pelajaran yang mereka nggak ngerti," jawab Manda.
"Oh, yaaa …?" respon Lisa sambil memukul meja dengan kedua tangan.
Manda sampai terperanjat saking terkejutnya.
"Ternyata Kakak penyelamat para adik kelas, ya? Kakak memang keren!" puji Lisa dengan mengacungkan jempol.
Manda mulai memijit pelipis lagi. Bocah-bocah ini apa tidak sadar kalau Manda harus belajar untuk ujian kelulusan?
"Kak, kalau gitu ajarin aku juga, dong ...." Lisa memohon.
"KELUAR SEMUANYAAA …!" Manda berteriak lantang, membuat para adik kelas berhamburan keluar.
...
Faktanya, Manda tidak tega membiarkan adik-adik kelasnya tak paham dengan pelajaran Fisika itu. Kini, rumahnya menjadi ruang kursus dadakan dengan hampir tiga puluh orang berkumpul di ruang tengah. Mama Manda cuma bisa tertawa saat tahu Ryan membawa gerombolan temannya untuk diajarkan oleh Manda. Juga, yang membuat aneh karena ada Lisa yang ikutan menyempil, padahal dia tidak sekelas dengan Ryan.
Farrel dan Chandra benar. Apa yang diajarkan oleh Manda lebih gampang masuk ke otak mereka. Juga, Manda sadar dengan mengajari adik-adik kelas, bisa membantunya untuk mengulang pelajaran kelas satu yang sudah pasti akan muncul di ujian kelulusan.
Selain mengajar secara beramai-ramai, Manda juga meluangkan waktu bagi yang mau bertanya secara pribadi. Sangat di luar dugaan mereka, ternyata Manda orang yang sangat asyik. Ramah, baik, dan pengertian. Bagi yang belum paham juga diajarkan ulang perlahan-lahan oleh Manda sampai mereka mengerti.
"Kalau gitu, kita buat aja belajar bareng kayak gini sepekan dua sampai tiga kali. Gimana?" saran Manda.
"SETUJUUU …!"
Suara Ryan terdengar yang paling kencang. Dia juga pulang lebih lama ketimbang yang lain. Alasannya mau bantu mencuci piring, walaupun sebenarnya memang iya. Namun, alasan utamanya adalah agar bisa lebih lama bersama Manda.
Mereka sedang mencuci piring bersama di dapur saat Ryan membuka obrolan. "Tadi kenapa kamu malingin wajah aku dari Lisa?"
Pipi Manda mulai memanas, tetapi dia berusaha sok cool. "Nggak ada alasan khusus kok," jawabnya dusta.
"Kamu cemburu, ya?" goda Ryan.
"Dihhh … nggaklah, apaan!" Manda mengelak.
"Ya, kalau gitu lain kali biarin aku ngeliatin Lisa. Dia, kan, yang paling cantik di angkatan aku. Makanya kemarin dia kena bully. Terus, Lisa cerita sama aku kalo kamu nyelamatin dia," jelas Ryan.
"Kamu udah cerita-cerita sama Lisa?" tanya Manda menyelidik.
"Udah, dong! Udah tukeran nomor w******p juga."
Manda membanting satu set sendok ke bak cuci piring, membuat Ryan terkejut.
"Bilas, nih, semua!" perintah Manda.
Setelah itu dia melepas sarung tangan karet dan melemparnya begitu saja sebelum pergi. Ryan jadi heran. Namun, setelah itu dia tersenyum-senyum. Dia pun langsung menghampiri Manda di kursi taman setelah kelar mencuci piring.
"Bilang cemburu aja susah banget, sih," goda Ryan lagi.
"Kalau aku bilang nggak, ya nggak," jawab Manda pelan, sudah kehabisan tenaga meladeni Ryan.
"Tenang aja, kamu itu cuma satu-satunya, kok," pujuk Ryan.
Berbagai cara Ryan lakukan supaya mood Manda membaik. Dia yakin sekali kalau Manda tidak suka melihatnya terlalu akrab dengan Lisa. Jadi, Ryan berjanji ke diri sendiri untuk menjaga jarak dengan gadis itu.
Namun, yang terjadi keesokan hari justru sebaliknya. Memang bukan tentang Lisa, tetapi soal Airin.
"Eh, si Ryan anak kelas satu yang ganteng itu berantem lagi."
Manda tak sengaja mendengar beberapa siswa berbisik-bisik di ruang belajar.
"Oh, ya? Sama siapa?"
"Kurang tau. Tapi, katanya sih karena Airin juga."
"Karena ngerebutin Airin mungkin ya."
Manda menutup buku dan pergi dari ruang belajar untuk mengecek kebenarannya. Kemungkinan mereka berkelahi di atap sekolah, sama seperti saat Ryan berkelahi dengan Niko. Dia mulai berlari karena jarak dari ruang belajar ke tangga terdekat yang menuju atap lumayan jauh.
Manda tak sendiri, ada beberapa siswa lain juga berlari menaiki tangga menuju atap. Perasaannya mulai tidak enak. Dia mencoba menerobos orang-orang yang berkerumun di ujung tangga. Dia hampir tidak bisa lewat dan mulai meneriaki orang-orang untuk menyingkir. Saat menemukan celah, segera dia menyelipkan tubuhnya yang mungil.
Saat sampai di atap, ternyata yang diceritakan memang benar. Manda yang masih berusaha mengatur napas harus melihat Ryan memukuli siswa lain dengan tampang yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Yang dilihatnya sekarang benar-benar bukan Ryan yang dia kenal—seperti orang lain.
Tanpa sadar, sebulir air mata turun membasahi pipinya.