Media Penyembuh

1510 Words
Harusnya malam ini Manda mengerjakan tugas yang akan dikumpul tiga hari lagi. Ya, Manda memang cukup rajin. Dia tidak suka mengerjakan tugas dalam waktu mepet atau sistem kebut semalam. Lagi pula, dia akan punya lebih banyak waktu untuk bersantai jika semua tugas sudah selesai. Namun, tidak dengan malam ini. Manda hanya mengetuk-ngetuk pena ke atas buku tanpa ada niat untuk menulis sesuatu di sana. Pikirannya menerawang ke peristiwa tadi siang. Setengah hatinya merasa senang karena siswa setampan dan sepopuler Ryan mengobrol dengan santai padanya. Mereka sempat membicarakan beberapa hal sebelum akhirnya berpisah di halte busway. Manda akui dia cukup canggung berada di dekat laki-laki. Dia tidak punya banyak teman laki-laki saat SMP, sedangkan di SMA dia tidak punya teman sama sekali. Maka dari itu, tidak mudah beradaptasi dalam situasi ini. Namun, dia benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi pada Ryan. Sejujurnya dia ingin langsung bertanya, tapi entah kenapa rasanya tidak etis. Bukankah hal itu terlalu privasi? Melihat waktu pada jam dinding, pasti mama Manda sudah pulang kerja. Dia meninggalkan buku pelajaran dan berjalan ke luar kamar, berharap bisa menemukan mamanya di suatu tempat di rumah ini. Ternyata, sang mama sedang berada di ruang baca. Sepertinya memang baru saja sampai di rumah karena masih memakai setelah jas kerja. "Ma ..." "Hmm?" Manda menghampiri mama dan bersandar di lengannya. Mama Manda masih fokus membaca laporan pasien di tangan, tetapi tetap merespon Manda. "Kenapa?" "Ma, Manda boleh pinjam buku Mama, nggak?" "Buku yang mana, Nda?" "Itu, yang ngebahas tentang membaca ekspresi wajah, mata, tubuh ...." Mama Manda mengalihkan pandangan ke putrinya. "Tumben kamu mau belajar gituan? Biasanya, kan, kalau ada apa-apa langsung nanya ke Mama." "Mama, kan, sibuk, Manda nggak mau ganggu. Lagian beberapa ilmu yang Mama kasih berhasil Manda terapin." "Ke siapa?" tanya mama Manda penasaran. "Ada, anak di sekolah," jawab Manda singkat. Dia menyembunyikan wajah merona di lengan mamanya. Akan tetapi, mama Manda tidak bisa ditipu. "Kamu suka sama dia?" "Eng-enggak, sih. Atau belum?" Mama Manda tersenyum. Akhirnya, sejak kejadian yang dulu Manda sudah membuka diri untuk punya teman lagi. "Kalau temen kamu sempat, suruh main ke rumah, ya." "Kok, gitu, Ma?" "Karena kamu ngotot pengen baca dia, berarti ada sesuatu, 'kan? Siapa tau Mama bisa bantu." Manda mengangguk setuju. Dia kemudian melayangkan pertanyaan lainnya, berharap mama bisa menjawab rasa ingin tahunya. "Aneh, nggak, sih, Ma, kalau ada remaja seusia Manda yang ngalamin kondisi mental yang parah?" "Separah apa?" Manda membenarkan posisi duduk dan sekarang menghadap mamanya. "Dia bilang Manda mirip sama seseorang. Nah, awalnya, kan, Manda kira cuma modus, Ma. Tapi, pas dia liat Manda, kayaknya dia itu ngeliat seseorang yang dia rindu banget. Terus, tadi siang dia sampai nangis pas Manda ngobrol sama dia." Manda tidak menyertakan bagian memeluk Ryan. Entar dikira mama Manda, anaknya kegenitan pula. "Hmm ...." Mama Manda tampak berpikir. "Terus, setelah itu dia jadi makin suram atau justru lega?" "Kayaknya, sih, jadi lega, Ma. Selesai nangis dia senyum liat Manda." "Menurut kamu, apa hubungan temen kamu sama orang yang katanya mirip kamu itu?" Manda mencoba menerka-nerka. "Manda nggak yakin, sih, Ma. Tapi, mungkin itu pacarnya dulu. Cuma masa, sih, cinta monyet bisa bikin dia sampai gitu? Yang pasti, sih, orang yang berharga buat dia." "Di kasus ini, kalau dia merasa nyaman saat di dekat kamu, kamu bisa jadi media untuk nyembuhin dia. Mau coba?" "Duh, Ma, kalau gagal gimana? Manda, kan, amatir, nggak profesional kayak Mama." "Kalau nggak dicoba, kan, nggak tau, Nda. Makanya kalau sempat, kamu bawa dia main ke sini. Kan, nanti bisa Mama liat kondisinya gimana." "Oh, iya juga, ya, Ma." Manda memikirkan saran dari mamanya untuk membantu menyembuhkan Ryan. Meskipun Manda tidak terlalu yakin kalau Ryan semenderita itu. Namun, dilihat dari caranya menangis tadi, persis seperti menangisi orang yang sudah pergi dan tidak mungkin kembali lagi. Sangat pedih melihatnya. Dia pun mulai membaca-baca buku yang dipinjamkan oleh mama. Meski tidak paham seluruhnya, ada beberapa cara yang mungkin bisa dipelajari. Dia membaca dengan tekun dan teliti, sesekali mencatat poin-poin penting. Untuk sesaat, Manda menumpukan dagu pada kedua tangan. Dia sempat berpikir untuk mengikuti jejak sang mama menjadi seorang psikolog. Namun, kejadian dua tahun yang lalu membuatnya mengurungkan niat. Apa mungkin orang yang sering dirundung mampu membantu orang lain? Entahlah, dia hanya ingin cepat tamat sekolah saja untuk saat ini. Pukul sepuluh malam, Manda meregangkan tubuh setelah membaca seperempat dari buku tebal di hadapannya. Dia menguap dan melemaskan otot leher. Kemudian teringat bahwa dia belum memainkan ponsel sejak tadi. Dia pun mengambil ponsel dan mengeceknya, lalu melihat notifikasi medsos yang kemarin. Dia memutuskan untuk mengikuti balik Ryan setelah kejadian tadi siang. Tak lama setelah itu, notifikasi lain masuk—direct message dari Ryan. Ryan Lama banget, ya, follback-nya. Udah lumutan, nih, nunggunya. Manda menahan tawa. Apakah Ryan menyalakan notifikasi sehingga dia langsung tahu jika ada seseorang mengikutinya balik? Manda Kirain, kan, cuma kepencet. Manda balas hanya sekadar, tetapi Ryan kembali membalas. Ryan Bagi nomor WA dong. Fix, Manda sudah tertawa sekarang. Pemuda itu sangat berterus terang! Manda pun mengetik nomor w******p miliknya dan yakin Ryan tidak akan membalas lagi. Salah besar! Manda terkejut saat melihat Ryan melakukan panggilan video. Manda sempat terpukau dengan foto profil yang dipakai oleh pemuda itu. Bukankah dia terlalu rupawan seperti seorang keturunan bangsawan? Duh, angkat nggak, ya? Ragu-ragu, Manda menggulir tombol warna hijau dan wajah Ryan segera muncul setelah itu. "Hai ...." sapa Ryan sambil tersenyum. "H-hai ...." Manda menyapa balik. "Cuma mau liat wajah kamu aja sebelum tidur. Maaf, ya, udah ganggu. Malam, Kak!" Ryan melambai-lambaikan tangan sebelum memutuskan panggilan video. Manda tak bisa tak tersenyum melihat kelakuan Ryan. Sangat menggemaskan adik kelas yang satu ini! Manda mematikan ponsel dan bersiap untuk tidur. Dia akan mengerjakan tugasnya besok malam saja. Sementara di rumah Ryan, dia masih memandangi ponsel yang menampilkan wajah Manda meski cuma sebentar. Bahkan di semesta ini, Manda tetap cantik. Namun, wajahnya lebih polos karena usianya yang lebih muda. Ryan bangkit dari ranjang dan berjalan menuju jendela. Dia memandang bulan sabit di langit malam yang sedang bersinar cerah. Sejak hari pertama dia terdampar di sini hingga sekarang, Ryan tak henti-hentinya bersyukur. Tidak sampai sebulan dia dekat dengan Manda sebelum akhirnya gadis itu dibunuh. Kini, dia punya kesempatan untuk memulai lagi dengan Manda dari awal. Dia cuma ingin menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya dengan Manda. Sebab, dia tidak tahu sampai kapan akan berada di semesta ini. Bisa saja besok pagi saat bangun, Ryan sudah kembali ke semestanya sendiri. Juga, menerima kenyataan bahwa Manda sudah tidak ada di sampingnya lagi. Memikirkan hal ini saja sudah membuat hatinya sangat sedih. Tak tahu lagi bagaimana rasanya jika harus dijalani. ... Keesokan harinya, seperti biasa Manda makan sendirian di kantin. Meskipun sering dirundung di sini, Manda tidak pernah kabur. Dia acuh saja seraya menyantap makanan. Tiba-tiba saja, suara siswa di kantin riuh, tetapi Manda tidak paham ada apa. Saat melihat ke belakang, ada Ryan yang sedang menangkap s**u kotak yang sepertinya dilempar ke arah Manda—persis kejadian kemarin. "Yan ...." ucap Manda agak terkejut. "Siapa, sih, yang suka banget buang-buang s**u kayak gini? Ini buat diminum, loh, bukan buat dilemparin ke orang," pekik Ryan dengan suara yang dia yakini terdengar ke seluruh penjuru kantin. "Hai, Kak!" Ryan menyapa Manda lalu duduk di depannya. Dia kemudian meminum s**u yang ditangkap tepat sebelum menghantam kepala Manda. "Kamu ngapain?" tanya Manda heran. "Ngelindungin kamu, dong," jawab Ryan santai sambil senyum. "Yuk, makan!" Para penghuni kantin langsung bergosip tentang kejadian barusan. Jelas mengherankan melihat Ryan si Siswa Idola dengan korban rundungan nomor satu di sekolah. Namun, Ryan tidak mempedulikan orang-orang di sekitar. Dia tersenyum dan menyuruh Manda untuk kembali makan. Manda pun menurut dan ikut tersenyum. "Kakak suka bakso, nggak?" tanya Ryan yang ditanggapi asal oleh Manda. "Bakso di sekolah, mah, nggak enak." "Kalau gitu cari yang di luar sekolah. Ada tau, tempat makan bakso yang enak?" "Kamu pengen makan bakso?" tanya Manda tidak peka. Ryan mengembuskan napas frustrasi. Lalu, dia tertawa renyah. Sepertinya belum pernah ada laki-laki yang mengajak Manda untuk makan di luar. Dia kemudian terdiam. Kenapa dia bisa seluwes itu mengajak seorang gadis? Ini bukan seperti dirinya. Chandra menyenggol lengan Farrel dan pemuda itu paham apa maksudnya. Pemandangan langka yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya. Ryan dan Manda duduk makan satu meja adalah hal paling aneh yang bisa terjadi di sekolah ini. Apakah Ryan serius ingin berteman dengan bahan rundungan satu sekolah? Nyalinya cukup besar juga. "Lo baik-baik aja, 'kan, Yan?" tanya Farrel cemas setelah mereka bertiga kembali ke kelas untuk pelajaran selanjutnya. "Iya, nih, sejak kebentur kemarin lo jadi berubah," sambung Chandra tak kalah cemas. Ryan mengernyit dan bertanya dengan nada malas, "Apa, sih, maksud lo berdua?" "Yan, lo itu harusnya makan bareng sama Airin sekarang ini. Bukannya sama Manda," jelas Farrel. Ryan menopang dagu sambil berpikir. "Dulu gue rasa suka sama Airin. Tapi, pas deket sama Manda, gue ngerasa nyaman," jelas Ryan. "Lo suka sama Manda?" tanya Chandra. "Dengerin, ya, lo berdua. Level perasaan paling rendah pada diri manusia adalah rasa suka. Di atasnya ada rasa sayang, atasnya lagi ada rasa cinta. Tapi, lo tau apa yang paling tinggi dari itu semua?" Chandra dan Farrel sama-sama menggeleng. "Rasa nyaman."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD