Percikan s**u pada rambut Manda menetes perlahan saat gadis itu menikmati makanannya—sama sekali tak merasa terganggu dengan kejadian yang dialaminya barusan. Suasana kantin masih riuh. Terdengar ucapan-ucapan mengejek disusul tawa menggema di dinding-dinding. Meski seperti dengung lebah, sang gadis tetap acuh saja. Dia seperti memiliki dunianya sendiri di sana.
Namun, berbeda dengan respon Ryan.
Sumpah demi apa pun kalau Ryan tahu siapa yang melempar Manda, habislah itu orang! Tangannya mengepal, pun kakinya sudah ingin sekali menerjang siapa pun yang mencoba menghalanginya. Akan tetapi, dia sadar posisinya sekarang. Dia tidak bisa bertindak sembarangan karena yang ada, Manda akan semakin menjauh darinya.
Ryan mencoba menenangkan diri. Tangannya berangsur rileks, buku-buku jari yang memutih telah kembali berwarna. Detakan jantungnya pun kembali pada irama awal. Dia mengambil minuman dan menyesapnya—berusaha acuh seperti yang dilakukan Manda. Untungnya, Chandra dan Farrel terlalu fokus pada obrolan sehingga tidak menyadari sesuatu terjadi pada teman mereka. Ryan harus tetap tenang untuk saat ini sampai dia bisa membaca situasi. Meski begitu, sesuatu berdenyut-denyut dalam dirinya.
Perih sekali rasanya—sudah dua kali Ryan gagal melindungi Manda. Pertama saat Manda dibunuh dan yang kedua adalah kejadian hari ini. Dengan perasaan sesal bercampur kesal, kali ini dia masih harus memutuskan untuk tetap duduk di tempatnya. Makanannya tidak tersentuh, selera makannya hilang entah ke mana.
Ryan mengekori kedua temannya kembali ke kelas. Masih ada waktu istirahat tersisa yang kemudian mereka gunakan untuk kembali bertukar cerita. Di sini, Ryan memilih untuk diam dan mendengarkan karena masih belum mengetahui banyak hal di semesta ini. Akan tetapi, saat obrolan tentang Manda mencuat, dia merasa harus ikut berkomentar dan sok tahu kali ini.
"Sejak gosip itu, Manda jadi sering di-bully di sekolah. Tapi, gue heran dia, kok, tetap betah di sini. Kalau gue jadi dia, gue udah minta pindah sekolah," kata Farrel.
"Dia bertahan karena dia nggak salah," timpal Ryan.
"Maksud lo?" tanya Chandra penasaran.
"Kalau pindah, berarti dia mengaku salah. Dia tetap sekolah di sini karena tau dia nggak salah, jadi, kenapa harus pergi?" jelas Ryan.
"Tapi, lo liat sendiri, 'kan, gimana perlakuan siswa yang lain ke dia?" Farrel mengingatkan.
"Perundungan terjadi bukan karena seseorang itu salah, tapi karena manusia suka mengikuti tren. Para junior umumnya mengikuti apa yang dilakukan oleh senior mereka. Yang tau pasti tentang kejadian ini hanya para senior. Tapi, perbuatan mereka berhasil membuat yang lain ikut-ikutan. Sebab, ada perasaan bangga bisa melakukan hal yang dilakukan oleh para senior. Mereka jadi merasa hebat."
Chandra dan Farrel melongo mendengar penjelasan Ryan. Ryan pun menyadari bahwa dirinya berbicara seperti seorang pengacara yang sedang membela klien di depan hakim. Dia harus berhenti. Dia harus tetap bertingkah seperti anak SMA pada umumnya agar tak disangka aneh—lebih parahnya disangka gila.
"Bahasa lo serius banget, Yan," ucap Farrel setengah sadar. "Tapi, gue akui itu benar adanya."
Otak Ryan berpikir cepat. Bagaimana dia harus bersikap sekarang? Tetaplah jadi anak SMA. Apa kenakalan yang biasa dilakukan anak SMA? Ya, tidak ikut pelajaran—benar sekali! Dia pun berpura-pura menguap dan meregangkan tubuh, kemudian menggaruk tengkuk agar terlihat seperti seorang pemalas.
"Gue nggak masuk kelas, mau tidur siang."
Ryan bangkit dari duduk lalu berjalan ke luar kelas. Baik Chandra maupun Farrel tak ada yang mampu menghentikannya. Mereka membiarkan saja Ryan cabut pelajaran untuk kesekian kalinya. Ryan mengembuskan napas dari mulut, merasa lega sekaligus agak panik. Hampir saja dia menjadi manusia sok dewasa di antara para remaja. Dia pun mempercepat langkah sebelum bel masuk kelas berbunyi.
Mengingat rute menuju atap, Ryan berjalan tanpa mengindahkan tatapan siswi-siswi yang terpesona olehnya. Jangankan di sini, di semesta asalnya saja dia tidak suka meladeni anak perempuan. Mungkin sikapnya malah terlihat keren, tetapi dia memang sama sekali tidak tertarik.
Setelah sampai, Ryan menemukan sebuah bangku panjang tempatnya terbangun di semesta ini. Dia kembali berbaring di sana dan menatap langit. Cerah sekali. Angin pun bertiup sepoi menenangkan. Seandainya dia bisa menikmati suasana ini bersama Manda, pasti akan sempurna. Namun, tentu tidak akan mudah karena kesan pertama Manda padanya pastilah sudah buruk.
"Hai, Yan!"
Hampir saja Ryan terpejam saat mendengar namanya dipanggil. Sayangnya, itu bukan sebuah suara yang dia harapkan. Meski begitu, dia tahu siapa pemilik suara ini. Dia pun bangkit ke posisi duduk dan menyapa balik, "Hai, Rin."
"Kak Airin." Airin membenarkan.
Eh, iya b**o banget. Airin, kan, senior gue! "Oh, iya. Maaf, Kak." Ryan menggaruk-garuk kepala dengan canggung.
Airin tertawa sambil duduk di sebelah Ryan. "Becanda, Yan. Panggil Airin aja."
Ryan cuma menyengir.
"Lagi mikirin apa?" tanya Airin.
"Nggak ada, cuma nyuri tidur siang aja."
"Nggak bisa bohong kamu sama aku, Yan. Tiap kamu ke sini pasti karena ada yang kamu pikirin."
Di mana-mana memang Airin selalu tahu tentang Ryan. Namun, masalahnya di semesta ini Ryan tidak bisa blak-blakan bercerita pada Airin yang notabene adalah seniornya.
"Nggak ada apa-apa, cuma agak pusing aja." Ryan kembali berbohong.
"Mau aku temenin?" tawar Airin.
"Nggak usah, Rin. Nanti kalau ketauan guru, kamu bakalan dihukum juga. Aku nggak apa-apa, kok, beneran." Ryan meyakinkan.
"Hmm … ya udah, deh. Kalau kamu butuh temen ngobrol, chat aku aja, ya."
Airin meninggalkan Ryan dengan senyuman yang bisa membuat pemuda mana pun meleleh dan klepek-klepek. Namun, yang ada di pikiran Ryan hanya ada Manda. Bagaimana cara mendekati Manda tanpa kena tendangan di s**********n? Dia merasa seram sendiri membayangkannya.
Ryan harus melakukan sesuatu. Tidak tahu apa, tetapi yang pasti Manda tidak boleh dirundung lagi seperti itu. Sampai kapan pun dia tidak terima jika Manda diperlakukan dengan semena-mena. Pasti ada alasan kenapa Ryan tercampak ke semesta ini—mungkin untuk menolong Manda. Dia berjanji pada diri sendiri untuk melindungi Manda apa pun caranya.
...
Manda menghampiri loker untuk mengambil beberapa buku yang akan dipelajari di rumah. Tidak ada yang aneh sampai loker miliknya terbuka dan banyak sekali sampah jatuh dari dalam sana. Ada suara tawa cekikikan dari lorong dan saat Manda mau melihat ke sana, dia bisa mendengar orang-orang itu sudah pada berlari menjauh. Dia cuma mendesah dan mengelus d**a. Sudah menjadi makanan sehari-hari diperlakukan seperti ini. Namun, kenapa mereka tidak pernah bosan dan malah semakin menjadi-jadi?
Manda mengutip sampah-sampah yang berserakan, lalu tiba-tiba saja ada yang membantunya. Manda mendongak dan melihat ternyata Ryan si Anak m***m. Saat Ryan melihat Manda, tangannya segera mengambil ancang-ancang untuk menangkis kalau-kalau gadis itu memukulnya. Namun, ternyata Manda diam saja dan kembali mengutip sampah. Setelah semuanya dibuang ke tong sampah, sang gadis kembali lagi ke loker untuk mengambil buku yang dia butuhkan.
"Kok, diam aja dikerjain kayak gitu, Kak?" tanya Ryan.
Manda sempat terdiam. Namun, tak lama kemudian memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, menutup loker, lalu menghadap Ryan.
"Jangan deket-deket, mundur sana, gih!" perintah Manda.
Ryan langsung bergerak cepat mundur beberapa langkah. Takut juga jika tiba-tiba kaki Manda melayang ke arah yang tidak diinginkan.
"Jangan ngikutin gue!"
Manda berbalik dan mulai berjalan. Namun, bukannya menurut, Ryan malah mengekor. Manda tahu Ryan mengikutinya, tetapi dia biarkan saja. Mungkin, pemuda itu juga ingin keluar dari sekolah. Jadi, tidak usah gede rasa. Sepertinya karena saking kesalnya dikerjai, gadis itu menyelonong saja tanpa melihat kanan-kiri. Benar-benar tidak menyadari ada suara klakson mobil dan hampir saja tertabrak jika Ryan tidak menariknya dari jalan.
Manda terkejut bukan main, jantungnya berdebar tak karuan. Belum lagi saat melihat dirinya sekarang sedang berada di dalam pelukan Ryan!
"Nggak apa-apa, Kak?"
Mata Manda membelalak sebelum menolak tubuh Ryan dengan kuat dan tangannya mengepal di udara.
"Ampun, Kak, ampun!" Ryan berteriak sambil melindungi kepala dengan kedua tangan.
Manda segera sadar dan menurunkan tangan. Ya ampun, hampir saja jatuh korban lagi!
"Maaf, refleks!" kata Manda jutek. "Makasih, ya, udah nolongin."
Ryan tersenyum semringah. Ternyata, benar ini bukan mimpi. Kalaupun mimpi, ini adalah mimpi paling nyata yang pernah Ryan alami.
"Aku mau minta maaf soal kemarin, Kak. Soalnya Kakak mirip banget sama seseorang," ucap Ryan setelah emosi Manda mereda.
"Mantan lo?" tanya Manda sarkas. Basi, nih, bocah. Gombalannya sangat pasaran.
Ryan diam, lalu air mukanya berubah drastis. Dia menunduk dan berusaha keras menahan tangis agar tidak keluar. Saat mengangkat kepala dan melihat Manda, dia mencoba untuk tersenyum. "Bukan, Kak. Maaf kalau udah ganggu Kakak."
Ryan berniat meninggalkan Manda, tetapi sesuatu menahan tangannya.
"Ryan, 'kan?" tanya Manda.
Ryan berbalik menghadap Manda lagi. Mereka sempat bertatapan sebelum Manda mendekap Ryan. Dia memeluk pinggang Ryan dan menunggu bagaimana responnya.
Di luar dugaan, Ryan menangis.
Manda sempat terkejut, tetapi tidak melepaskan pelukan pada Ryan. Ryan membalas pelukan Manda dan menangis sekencang-kencangnya. Gadis itu membiarkan tangan Ryan yang mulai mendekap dirinya juga. Dia membiarkan pemuda itu menangis sepuasnya. Kalau dugaan Manda benar, pasti gadis yang mirip dengannya benar-benar berarti buat Ryan. Tak sia-sia ilmu yang dipelajari Manda dari mamanya yang merupakan lulusan psikologi. Sejak kemarin, Manda juga tidak benar-benar menganggap Ryan m***m. Dia seperti melihat tatapan orang yang rindu, sedikit rasa penyesalan, dan mungkin rasa cinta?
Bahkan sekarang pun, Manda merasa Ryan seperti melepaskan beban di hatinya. Perasaan kehilangan yang akhirnya terobati. Tak apa Manda memberikan pelukan untuk orang yang sudah menyelamatkannya. Terbukti bahwa orang yang suka menolong itu tak selamanya tak punya masalah. Namun, dia adalah orang yang juga merasakan kesakitan dan kesulitan yang sama dan berusaha agar orang lain tidak merasakan separah yang dia rasakan.
Dan entah kenapa, Manda menemkan hal itu di Ryan.