Ryan si Anak SMA

1997 Words
Chandra menutup mulut rapat-rapat, menahan diri agar tidak berteriak. Asli sinting ini anak! gumamnya dalam hati. Ryan sudah tersenyum-senyum senang sampai akhirnya telinganya kembali berdenging. "DASAR m***m, TURUNIN GUEEE …!" Gadis yang digendong Ryan memukulinya kuat-kuat sampai Ryan kaget. Begitu Ryan melepas pelukan dan kaki si gadis menyentuh tanah, dia langsung mendapat tendangan maut tepat di tulang kering kaki kanannya. "ADUHHH …!" Ryan berteriak kesakitan. "Duh, Kaaak ... maaf, ya, Kak, temen saya khilaf. Maaf ... maaf." Chandra memohon-mohon maaf ke gadis yang diperlakukan seenak jidat oleh Ryan. Wajah Ryan memerah karena menahan sakit. Belum sempat berkata apa-apa lagi, Chandra menarik lengan Ryan lagi untuk pergi ke kelas. Kalau saja guru yang mengajar masuk lebih dulu daripada mereka, alamat kena hukuman sampai pulang sekolah. Sesampainya di kelas, Ryan masih berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ryan yakin sekali seratus persen bahwa gadis yang barusan adalah Manda. Atau mungkin itu gadis yang wajahnya mirip dengan Manda? Ryan ingin bertanya pada Chandra, tetapi disuruh diam olehnya. Chandra bahkan sampai mengancam kalau Ryan tetap tidak bisa diam, dia akan mengurung Ryan di dalam gudang. Ryan pun menurut, tetapi kepalanya pusing memikirkan kejadian ini. Hal terakhir yang Ryan ingat adalah diserempet mobil saat berjalan di bawah guyuran hujan. Kalau tidak salah, setelah itu dia pingsan. Nah, saat bangun kenapa bisa berada di sekolah dan pakai seragam? Temannya masih sama, yaitu Chandra. Namun, di mana Farrel dan Airin? Mereka, kan, satu kelas saat SMA dulu. Ryan memperhatikan seisi kelas, semua wajah tampak asing. Tidak ada satu pun yang Ryan kenal, asli hanya Chandra seorang. Tunggu! Apa Ryan terlempar ke masa lalu dan kembali ke masa SMA? Namun, kenapa Ryan tidak kenal siapa-siapa? Guru yang sedang mengajar juga seingatnya tidak pernah mengajar di SMA Ryan dulu. Saat bel istirahat berbunyi, Chandra menghadap Ryan dan mengernyit melihat kerutan di dahi Ryan. "Kenapa lo?" Ryan tidak menjawab, masih diam saja. Mendadak Chandra jadi khawatir. "Apa gegar otak, ya? Soalnya tadi ngehantam dindingnya lumayan keras." "Dinding? Dinding apaan?" tanya Ryan makin heran. "Lo nggak ingat tadi pagi abis berantem sama kakak kelas?" "Hah? Masa?" "Nah, kan, apa jangan-jangan amnesia? Eh, tapi kalau amnesia pasti lo lupa sama gue juga." "Ndra, coba lo ceritain dari awal. Gue nggak ngerti maksud lo." "Jadi, tadi pagi lo berantem sama kakak kelas. Lo menang, tapi dia sempat ngehantam kepala lo ke dinding. Terus, abis berantem gue tawarin ke UKS, tapi lo nggak mau. Lo bilang mau istirahat bentar aja di atap. Dan pas bangun lo jadi aneh gini, Yan. Waduh, serem gue," jelas Chandra. "Kenapa gue berantem sama kakak kelas?" "Karena Airin." Ryan ingat dulu saat SMA pernah berkelahi juga karena Airin. Berarti, dia benar-benar kembali ke masa lalu? "Kakak kelas itu bikin Airin nangis?" tanya Ryan. "Bukan," sanggah Chandra, "kalian berdua rebutan Airin." Ryan mendadak berdiri dari kursinya. Gue, ngerebutin Airin sama orang lain? Lah, suka sama dia aja gue kagak pernah! "Yan, lo kenapa, Yan? Jangan bikin gue takut, dong. Yok, ke UKS, kita cek keadaan lo!" ajak Chandra. Mendengar kata UKS membuat Ryan kembali duduk. "Ndra, kayaknya emang ada beberapa hal yang gue lupa. Jadi, lo tolong bantu gue buat ngingat, ya. Udah berapa lama gue pacaran sama Airin?" "Nggak, lo belum pacaran sama Airin." Sebelum lanjut berbicara, Chandra melihat kondisi sekitar. Siswa yang lain sedang berada di luar kelas, hanya ada beberapa yang duduk berjauhan dari mereka. "Lo ini terkenal sebagai Girls' Heart Destroyer. Banyak banget siswi yang naksir lo, padahal kita baru masuk sekolah ini satu semester. Terus, lo sekarang lagi ngincar Airin, kakak kelas kita di kelas tiga. Kalau bisa dapatin Airin, baru lo mau serius pacaran." Airin kakak kelas mereka? Kok, bisa? Waktu SMA, kan, mereka sekelas. "Gue berantemnya sama siapa?" "Kak Niko, yang di kelas tiga juga. Gila, Yan, lo berantem sama dia. Tapi, syukurnya lo yang menang. Jadi, dia nggak bisa ganggu lo lagi buat deketin Airin." Ryan mencoba mencerna semua yang diucapkan oleh Chandra. Namun, tidak ada satu pun yang bisa dia pahami. Lalu, Ryan kembali mengingat kejadian pagi tadi. "Nah, yang gue gendong tadi pagi siapa?" tanya Ryan penasaran. "Lah, kan, lo tadi nyebut namanya, masa nanya lagi?" Mata Ryan membulat. "Manda?" "Kak Manda lebih tepatnya. Dia juga udah kelas tiga. Aneh liat lo, Yan. Suka banget berurusan sama senior." Kepala Ryan semakin pusing. Dia kemudian merasakan ada yang bergetar di saku celana. Merogohnya, lalu mengambil sesuatu dari sana. Smartphone? Zaman Ryan SMA dulu, ponsel cuma bisa dipakai untuk menelepon dan mengirim SMS. Paling canggih adalah membuka Google dan mengirim surel. Berarti, ini bukan di masa lalu? Ryan memandang sekitar dan menangkap kalender yang digantung di dinding. Dia berdiri dan menghampiri kalender tersebut pelan-pelan. Matanya semakin membulat saat melihat tahun yang tertera di sana. 2021. Ponsel di tangan Ryan terlepas dan jatuh ke lantai, membuat Chandra terkejut. Gue bukan balik ke masa lalu. Gue tetap di masa sekarang, tapi di tempat yang berbeda. Gue di mana? ... Ryan melihat ke luar dari jendela laboratorium yang ada di lantai dua. Siswa kelas tiga sedang pelajaran olahraga, kebetulan itu kelasnya Manda. Mata Ryan tidak lepas memperhatikan Manda. Perasaannya tidak bisa digambarkan. Dia sangat senang. Lebih dari senang, jauh dari itu. Rasanya melihat Manda masih hidup dan sehat seperti sekarang adalah sesuatu yang berharga. Tidak ada hal lain yang bisa membuat Ryan lebih bersyukur dari itu. Ryan mengambil ponsel dan membuka salah satu medsosnya. Dia mencari nama Manda dan menemukan akunnya. Ternyata, Ryan belum mengikutinya. Dia melihat foto-foto Manda. Senyum Ryan mengembang di bibirnya. Dikarenakan kejadian pagi tadi, Ryan tidak bisa dengan mudah mendekati Manda lagi. Hal yang Ryan dengar dari Chandra, Manda adalah pemegang sabuk hitam Taekwondo. Sudah syukur bukan kepalanya Ryan yang dipelintir oleh Manda. Namun, melihat gadis itu dari jauh seperti ini saja sudah membuat Ryan senang. Rasanya laksana mimpi. Akan tetapi, sentuhannya di pinggang Manda terasa nyata sekali. Ryan rindu memeluk Manda. Saat Ryan kembali melihat ke luar, matanya tak sengaja bertatapan dengan Manda yang juga kebetulan sekali melihat ke arah laboratorium tempat Ryan berada. Tatapan mata pemuda itu tak bisa diartikan. Seperti orang kehilangan atau orang yang sedang rindu? "Ryan ...." gumam Manda tanpa suara. … "Manda pulang ...." Manda sampai di rumah dengan wajah kusut. Dari dalam tidak ada yang menyahut, berarti mama dan papanya masih pada bekerja. Dia menaiki tangga ke lantai dua lalu masuk ke kamar. Tasnya dia lempar saja sembarangan. Tubuhnya dibanting ke atas kasur, kemudian kepalanya dibenamkan ke bantal. Sampai kapan hidupnya seperti ini terus? Manda kemudian mengubah posisi berbaringnya menjadi telentang. Dia mengecek ponsel, melihat ada notifikasi baru apa yang masuk. Dahinya mengernyit, ada pengikut baru di akun i********:-nya. Dia mengecek akun si pengikut baru dan semakin heran saat tahu itu adalah Ryan. Tumben bener ini bocah. Manda kemudian ingat kejadian pagi tadi. Dia baru saja kembali dari ruang guru untuk mengumpulkan tugas saat tiba-tiba salah satu junior menghampiri dan tanpa basa-basi memeluk dan mengangkatnya ke udara. Jelas saja dia terkejut diperlakukan seperti itu. Sebab, jangankan begitu, yang mau menyapanya saja tidak ada. Dua tahun lebih dia bersekolah di situ, tetapi tidak ada yang mau berteman dengannya. Sekarang, si Ryan ini malah mengikuti Manda di i********: yang notabene pengikutnya cuma teman-teman SMP dan beberapa tetangganya. Kerasukan setan apa, ya, si Ryan ini? Manda melihat foto-foto Ryan. Dia memang benar-benar anak gaul. Temannya keren-keren, tongkrongannya juga tempat-tempat hits. Baru masuk sekolah saja dia sudah mengoleksi penggemar, beda 180 derajat dengan Manda. Pengikut Ryan di i********: hampir menyentuh angka sepuluh ribu, sebentar lagi anak ini akan menjadi selebgram. Manda ragu mau menekan tombol follow back atau tidak. Dalam pikirannya, mungkin dia mirip dengan seseorang yang Ryan kenal. Sebab, sepertinya sangat tidak mungkin tiba-tiba Ryan mendekatinya. Apalagi dia juga tahu soal Ryan yang rebutan dengan Suho untuk mendekati Airin. Sangat tidak mungkin, kan, fokusnya dari Airin si Queen Bee beralih ke Manda yang bukan siapa-siapa? Akhirnya Manda memilih untuk keluar dari aplikasi i********: tanpa mem-follback Ryan. Biarkan saja, paling entar juga di-unfoll. ... "Hai, Yan!" sapa Farrel keesokan harinya. "Rel!" seru Ryan dengan mata berbinar. "Rindu, Yan? Kan, cuma kemarin doang gue nggak masuk." Oh, ternyata kemarin Farrel tidak ada karena tidak masuk sekolah. Itu artinya mereka bertiga tetap satu kelas di semesta ini. "Temen lo, nih, otaknya lagi gesrek," kata Chandra saat duduk di sebelah Ryan. "Hah, maksudnya?" tanya Farrel heran. "Kemarin kepalanya kebentur dinding keras banget pas berantem sama Niko. Abis itu dia lupa segalanya, kecuali beberapa orang. Pulang sekolah aja gue yang anterin sampai rumah. Katanya dia lupa rumahnya di mana," jelas Chandra. "Ya ampun, Yan. Nggak apa-apa lo? Nggak periksa ke dokter?" tanya Farrel khawatir. "Cuma lupa dikit aja gue, Rel. Kalo fisik, mah, sehat-sehat aja," jawab Ryan. "Ada yang lebih aneh, Rel," sambung Chandra. Farrel mendengarkan dengan saksama. "Selain kita berdua, dia juga ingat sama Airin ...." "Ya, jelas kalo itu!" potong Farrel. "Bentar, Rel, dengerin dulu gue ngomong!" sela Chandra sewot. "Eh, iya-iya." Farrel kembali diam sambil mendengarkan. "Dia juga ingat sama Manda. Bahkan semalam dia ngegendong Manda." "WHAT!" Farrel berteriak kaget. "Serius?" "Emang kenapa, kok, kayaknya heran banget gue ingat sama Manda," timpal Ryan. "Ya, jelas anehlah, Yan. Lo nyebut nama doi aja kagak pernah. Eehhh … ini main gendong-gendong aja. Nggak kena hajar lo?" tanya Farrel. "Kena tendang dia, di kaki," kata Chandra sambil tertawa. "Anjir, sakit banget itu pasti!" Farrel juga ikut tertawa. Ryan penasaran. Padahal Manda itu cantik, sangat tidak mungkin tak ada yang mengejarnya seperti pemuda-pemuda yang berebut mengejar Airin. "Sebenarnya Manda ini kenapa, sih?" tanya Ryan pada akhirnya. "Beneran nggak ingat, Yan?" tanya Farrel. Sepertinya benar kata Chandra bahwa Ryan melupakan banyak hal. Ryan menggeleng. Benar-benar tidak ingat atau lebih tepatnya tidak tahu apa-apa. "Kalau bagian doi jago Taekwondo lo tau, ‘kan?" tanya Farrel. "Tau, Chandra yang ngasih tau," jawab Ryan. "Nah, ada gosip dari senior-senior kita. Ya, kita juga nggak tau ini bener apa nggak. Dulu pas Manda masih kelas satu, dia pernah mukulin satu orang siswa sampai babak belur. Sampai masuk rumah sakit dan harus izin nggak masuk sekolah selama hampir sebulan. Lo bayangin separah apa itu. Nah, setelah si korban baikan, kasus ini pun dibahas di sekolah. Anehnya, malah si korban yang milih cabut dari sekolah ini, bukannya Manda yang dikeluarin," jelas Farrel. "Yang dipukulin cewek atau cowok?" tanya Ryan. "Cowok. Kalau dari cerita yang beredar, kemungkinan Manda ngebela diri makanya dia cuma diskors, nggak sampe dikeluarin. Tapi, sejak saat itu orang-orang jadi takut deket-deket sama dia. Takut salah dikit langsung dihajar. Apalagi itu kejadiannya dia baru sebulan masuk sekolah sini." Bukannya paham, Ryan malah semakin bingung dengan penjelasan Farrel. Dia melihat Farrel dan Chandra yang tidak jauh berbeda dengan yang dulu. Namun, kenapa Manda sangat berbeda? Setahunya, calon istrinya itu sama kecoa saja takut, sangat tidak mungkin pernah memukuli orang sampai masuk rumah sakit. "Eh, iya, kata Chandra lo menang, ya, pas berantem sama Niko? Terus gimana, progress ngedeketin Airin?" tanya Farrel mengalihkan topik pembicaraan. Ryan malah tidak berminat membahas soal ini. "Nggak minat lagi gue ngejar Airin," balas Ryan sekadarnya. "Sinting! Udah capek-capek berantem malah nggak jadi," komen Chandra sambil geleng-geleng melihat kelakuan sahabatnya. Saat istirahat, Ryan ikut ke kantin bersama Chandra dan Farrel. Pelan-pelan, dia sudah mulai beradaptasi dengan situasi ini. Dia sempat mengira kejadian kemarin hanya mimpi dan saat bangun mungkin sudah kembali. Namun, ternyata tidak. Dia masih berada di semesta ini. Syukurnya, orang tuanya masih tetap sama sehingga dirinya tidak merasa kikuk. "Eh, liat, tuh!" seru Farrel, dagunya menunjuk ke arah Manda yang sedang duduk sambil membawa makanan. Ryan melihat Manda lalu tersenyum. Kalaupun ini mimpi, masa bodo! Yang penting bisa melihat Manda terus seperti ini. Namun, tiba-tiba dia terkejut saat sebuah s**u kotak melayang ke arah bagian belakang kepala Manda. Kelepak! Ryan mencoba mencari siapa yang tega memperlakukan Manda seperti itu, tetapi hanya lempar batu sembunyi tangan. Dia kembali melihat Manda yang cuma diam saja. Padahal rambutnya sudah basah terkena cipratan s**u, tetapi tetap melanjutkan makannya dalam diam. Suasana kantin telah riuh oleh kejadian barusan, tetapi gadis itu tetap tenang. Hati Ryan sangat sakit melihat kejadian itu di depan matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD