Perjalanan Pertama ke Semesta Lain

1708 Words
Suasana di kantor polisi tampak lebih sibuk dari biasanya. Beberapa petugas berlalu-lalang, ada yang sibuk menjawab telepon, sebagian membuat keributan karena ada seorang tangkapan yang melawan dan tidak menurut, dan banyak kesibukan lain yang sama sekali tidak diperhatikan oleh Ryan dengan saksama. Dia hanya fokus ke dunianya sendiri. Duduk di depan seorang detektif dengan gelisah. Tak lama setelah menemukan ponsel Manda di saku jas, Ryan segera berangkat ke kantor polisi untuk melaporkan hal tersebut. Siapa tahu saja ada petunjuk yang bisa memperjelas kasus kematian Manda. "Nggak ada yang aneh di HP Manda. Dari bercak darah di beberapa bagian, berarti Manda ngirim lokasi ke lo pas dia lagi sekarat," jelas Samuel, kepala penyidik yang menangani kasus Manda. Semua orang percaya bahwa Manda tidak bunuh diri. Maka, besar kemungkinan gadis itu dibunuh. Ryan sudah mengalami stres, tidak berminat melakukan apa pun sejak pulang dari rumah Manda. Tidak mandi, bahkan mengganti baju; langsung menjumpai temannya, Samuel, yang sering menangani kasus dengannya. Samuel mengambil ponsel dari saku jas dan melihat ada telepon masuk. "Halo. Udah ketemu? Oke-oke." Samuel menutup telepon dan menatap Ryan. "Yan, pembunuhnya udah ketemu." Tubuh Ryan seketika menegang. Berarti benar, Manda dibunuh. Memikirkannya saja sudah membuat emosi dalam dirinya membuncah tak bisa dibendung. Bagaimana mungkin ada seseorang yang ingin membunuh gadis baik seperti Manda? Dunia benar-benar sudah kacau dan gila! Ryan terus mundar-mandir di ruangan, merasa tak sabar ingin melihat orang yang sudah tega merebut nyawa calon istrinya. Samuel berusaha menenangkan, tetapi percuma. Pria itu sudah bukan seperti dirinya lagi. Dia terlihat putus asa dan ingin menghancurkan pembunuh Manda. Samuel berjaga-jaga agar hal itu tidak terjadi. Sebab, Ryan bisa dikenakan hukuman jika bertindak di luar kendali. Meski begitu, Samuel tetap membiarkan Ryan berdua saja di ruangan interogasi dengan si Pembunuh ketika tiba di kantor polisi. Wajah si pembunuh sangat tengil. Asli, sama sekali tidak terlihat menyesal sudah melakukan kejahatan berat. Kata Samuel, dia ditangkap di bandara saat akan kabur ke luar negeri. Namun, polisi dan detektif sempat mencegatnya sebelum masuk ke ruang tunggu keberangkatan. "Kenapa lo bunuh Manda?" tanya Ryan pada si Pembunuh. "Lah, lo siapanya?" "Gue calon suaminya," jawab Ryan yang masih berusaha untuk tenang. Si Pembunuh tertawa sarkas. "Ada juga ternyata laki-laki yang mau sama dia? Heran gue." "Maksud lo apa?" Suara Ryan mulai meninggi. "Tukang ngadu kayak gitu bahkan nggak pantas punya temen. Gue masuk penjara gara-gara dia. Makanya setelah keluar dari penjara gue langsung balas dendam." Ryan tidak paham, memangnya Manda mengadu soal apa? "Dia nggak sengaja liat gue grepe-grepe cewek di kampus dulu pas kuliah. Padahal si cewek biasa aja. Eh … karena Manda ngadu ke polisi jadinya si cewek nuntut gue. Kan, kurang ajar! Lo tau berapa lama gue dipenjara, hah? Sepuluh tahun!" Kenapa dia yang marah setelah melakukan tindakan tercela? Apa dia tidak sadar bahwa perbuatannya itu patut diganjar hukuman? Lalu, kenapa Manda yang harus menjadi korban atas hal yang dirinya sendiri menjadi penyebabnya? "Tapi, gue nyesel juga, sih, bunuh dia," aku si Pembunuh. Akhirnya pembunuh ini ngerasa nyesal juga, kata Ryan dalam hati. "Nyesal karena sebelum gue bunuh, harusnya gue apa-apain dulu." Hilang sudah semua kesabaran Ryan. "b*****t lo!" Ryan langsung menerjang si Pembunuh dan memukulinya beberapa kali. Samuel dan beberapa polisi langsung masuk ke ruang interogasi untuk melerai Ryan dari si Pembunuh. Saat dibawa oleh polisi, si Pembunuh tertawa mengejek ke Ryan, membuat Ryan semakin panas. Ryan berteriak sekencang-kencangnya sampai menangis. Hatinya sudah hancur sehancur-hancurnya, tidak tahu sampai kapan akan bisa sembuh. ... Ryan termenung. Sepertinya di dunia ini hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang. Meski kini dia ditemani oleh dua sahabatnya, tetap tak ada yang bisa keluar dari mulutnya. Dia diam seribu bahasa. Meratapi musibah yang menimpa dirinya. Ryan rela menukar apa pun yang ada di dunia demi Manda bisa duduk di hadapannya saat ini! Namun, itu semua hanyalah tinggal andai-andai. Helaan napas panjang meluncur dari hidungnya. Merasa pasrah pada keadaan dan apa saja yang akan dialaminya kelak. Entah mengapa dia merasa, tak lama lagi dia akan butuh bantuan profesional dalam menangani kejiwaannya. Seorang psikiater misalnya? "Yan, makan dikiiit aja, ya, please ..." pujuk Farrel sambil meletakkan sendok ke tangan Ryan. Ryan yang dilihat oleh Chandra dan Farrel sekarang, sudah bukan seperti Ryan yang biasa mereka kenal. Baju lecek, wajah sembab, mata bengkak, dan rambut berantakan. Sangat kacau! Keduanya sangat khawatir, tetapi mereka sudah berusaha sekuat tenaga untuk menghibur Ryan sejak awal. "Lo belum ada makan dari kemarin," pujuk Farrel lagi. Ryan meletakkan sendok dan malah mengambil kaleng bir. "Ehhh … jangan!" cegah Chandra. "Gila, lo belum ada makan apa pun malah mau minum bir." "Minta, Ndra." "Nggak, nggak boleh." "Ndra ...." "Gue bilang nggak, ya, nggak!" Ryan menatap Chandra dengan tatapan yang membuatnya merinding. Sumpah, seram sekali! Tampaknya Ryan seperti ingin membunuh orang. Akhirnya, Chandra mengalah dan memberikan kaleng bir itu pada Ryan. Bir tersebut segera habis dalam sekali minum, membuat Chandra dan Farrel meringis melihatnya. "Udah, satu aja, ya, birnya. Abis itu makan, ya." Farrel masih berusaha membujuk. Dengan terpaksa, Farrel harus menyuapi Ryan. Tidak mengapa, asalkan dia mau makan walaupun hanya tiga suap. Saat pulang, Ryan juga tidak mau diantar. Katanya mau berjalan sendiri saja, padahal sepertinya akan turun hujan. "Udah malam banget, Yan. Biar gue antar, ya," tawar Chandra. "Nggak usah, Ndra. Gue sendiri aja." Ryan begitu keras kepala, tetapi Chandra dan Farrel juga sudah berusaha sebaik mungkin. Mereka hanya bisa melihat Ryan berjalan sendirian meninggalkan mereka berdua. Tak lama Ryan berjalan, hujan pun mulai turun. Lumayan deras, tetapi Ryan tidak peduli, dia terus berjalan. Dia mengambil ponsel Manda dari saku jas. Melihat-lihat isinya, chat-nya dengan Manda. Membuka galeri, melihat foto-foto Manda. Ryan menangis lagi. Dia sangat rindu pada Manda. Padahal seharusnya, hari ini mereka melangsungkan pernikahan, tetapi Ryan malah kehilangan calon istrinya. Dia terduduk sebentar di sebuah bangku di pinggir jalan. Mengacuhkan orang-orang yang berlarian mencari tempat berteduh di halte terdekat. Beberapa orang yang melewatinya menatapnya keheranan, tetapi Ryan tidak memedulikannya. Hatinya lelah, sangat. Jadi, tolong tinggalkan saja dia sendiri dan jangan mengganggunya. Dia hanya ingin menangis diiringi tetesan hujan ini. “Lo harus move on, Yan. Manda pasti sedih liat lo terus begini.” Kata-kata Airin mendadak kembali ke benaknya. Bukan hanya dia, hampir semua orang juga mengucapkan hal yang kurang lebih sama. Dari mana mereka bisa tahu apa yang dirasakan oleh orang yang sudah tiada? Terlebih, apakah orang mati masih memiliki perasaan? Ryan tertawa hambar. Tidak ada yang benar-benar mengerti perasaannya—siapa pun. Ryan bukan orang yang suka menaruh hati sembarangan. 35 tahun dia hidup, baru kali ini benar-benar merasakan cinta. Apa mereka kira akan semudah itu membuang perasaan yang dia siapkan khusus untuk Manda? Kenapa mereka tidak bisa membiarkannya berduka lebih lama? Toh, dia masih sadar akan tanggung jawab pada orang tuanya. Besok pun dia sudah bisa kembali bekerja, tidak akan ada masalah karena dia seorang profesional. Namun, tak bisakah mereka membiarkannya mengingat Manda sampai akhir hayatnya? Setelah mengembuskan napas panjang, Ryan kembali menyusuri jalan. Dia bahkan tak tahu ke mana langkah membawanya. Dia hanya terus berjalan tanpa tujuan, bahkan mungkin jauh dari rumahnya. Dia sampai tidak menyadari adanya mobil yang sedang berjalan ke arahnya. Jalanan sangat gelap dan dia telat melihat lampu mobil yang menyorot matanya. Dia cuma sempat menyingkir sedikit, tetapi lengannya tersenggol bagian samping mobil yang melaju kencang itu. Samar-samar, Ryan melihat wajah orang yang menabraknya. Dia terkaget. Itu adalah orang yang juga menabraknya saat di depan rumah Manda, sewaktu dia menemukan ponsel Manda di saku jasnya. Siapa itu? Ryan tidak bisa berpikir lagi ketika terhuyung dan jatuh di atas aspal. Kepalanya sangat pusing dan pandangannya mulai mengabur. Namun, Ryan berani bersumpah, dia bisa mendengar suara Manda memanggil namanya. "Yan ...." Ryan berusaha untuk menengok, tetapi yang terlihat hanya sekelebat orang yang memakai baju putih dan berlutut di dekatnya. "Yan ...." Ryan sangat yakin bahwa itu adalah Manda. Namun, dia tidak bisa melihat dengan jelas, juga tidak bisa berbicara. Dan setelah itu, semuanya menjadi gelap. ... "Yan ..." "Yan ..." "RYAN!" Ryan kaget lalu terbangun. Telinganya berdenging karena diteriaki dengan keras—hampir tuli rasanya. "Apa, sih, berisik!" protes Ryan sambil mengucek mata. "Eh, Anak Setan! Lo mau diskors gara-gara jam segini belum masuk kelas?" Hah? Masuk kelas? Kelas apa? "Kelas apaan?" tanya Ryan heran. Ternyata yang berbicara padanya sedari tadi adalah Chandra. Yang membuat Ryan makin heran, kenapa Chandra memakai seragam sekolah? Sudah tua juga, apa dia sedang melakukan cosplay? Ketika Ryan melihat dirinya sendiri, ternyata dia juga memakai seragam sekolah seperti Chandra. Loh, apa-apaan ini? Ryan memperhatikan sekitar, sekarang dia dan Chandra sedang berada di atas atap—sepertinya atap sekolah. Ryan lalu berdiri, terbengong, bingung kenapa dia bisa ada di sini. Seingatnya, dulu atap sekolah SMA dan pemandangannya tidak seperti ini. Di mana ini? Angin musim panas bertiup, membelai keringat Ryan yang mulai mengering. Dia kemudian teringat bahwa atap sekolah SMA-nya tidak bisa dinaiki seperti ini karena seluruhnya adalah genteng. Dia masih ingat karena seorang siswa di angkatannya pernah terjatuh dari atap ketika akan kabur dari sekolah. Sedangkan sekolah ini beratap rata. Bukan hanya berdiri, bermain bola dalam tim kesebelasan pun bisa. Jelas, ini bukan sekolahnya dulu. Ryan kembali memandang wajah Chandra. Bukan hanya seragam sekolah itu, tetapi perawakan sahabatnya juga terlihat lebih muda. "Ndra, gu-gue di mana, Ndra?" tanya Ryan tergagap. "Dih, kenapa lo? Masih ngimpi? Ya, di sekolah, emang di mana lagi? Udah, ayo, cepetan kita masuk kelas sebelum guru datang!" Chandra menarik lengan Ryan yang masih keheranan. Mereka menuruni tangga tergesa-gesa dan berlarian menuju kelas. Ryan masih mencoba mencerna apa yang terjadi. Apakah ini mimpi? Kenapa nyata sekali? Dia merasakan nyeri di tulang pipi kiri. Saat menyentuhnya, dia sempat meringis. Kita tidak bisa merasakan sakit di dalam mimpi, ‘kan? Kelas mereka sudah tampak di depan mata. Namun, tiba-tiba Ryan melihat sesuatu dan melepas pegangan dari Chandra. Dia berhenti sejenak, sesuatu dalam hatinya terasa menghangat. Persetan ini mimpi apa bukan. Dia akan menikmati ini semua sampai terbangun nantinya. Chandra yang sudah berlari agak jauh di depan, langsung berhenti saat dia sadar sudah tidak menarik lengan Ryan lagi. Dia merasa kesal dan kembali menghampiri Ryan. "Malah berhenti ini bocah—" Omongan Chandra terpotong saat Ryan berjalan menyeberangi lapangan dan menghampiri seseorang. Tanpa ba-bi-bu, Ryan menggendong seorang gadis dan mengangkatnya ke udara, membuat mulut Chandra menganga tidak percaya. Dan apa yang diucapkan Ryan berikutnya, membuat Chandra nyaris berteriak. "Manda, Sayang ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD