LM - BAB 2

2473 Words
Vania kaget saat bangun matahari sudah sangat terang. Ia langsung bangkit dari tempat tidur mengambil bajunya dari koper dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Tak pernah sebelumnya ia seperti itu, Vania sangat tak enak hati. Pasalnya ia tidak tinggal di rumahnya tapi di rumah orang. Lebih tepatnya ia tinggal di rumah Adrian yang katanya sudah menjadi suaminya. Vania bukan bermaksud bermalas-malasan hanya saja pikirannya tadi malam sedikit kacau membuatnya tak bisa tidur dan akhirnya bisa tidur dini hari membuatnya terlambat bangun. Vania mandi dengan cepat dan langsung keluar dari kamar menuju sumber suara belakang. Adrian sedang menemani kedua anaknya yang berenang, saat berjalan ke kolam berenang Vania sempat melihat bahwa sarapan sudah tersedia disana bahkan sudah habis setengah tanda bahwa sudah ada yang sarapan membuat Vania semakin tidak enak hati. “Maaf Mas aku telat bangun tadi malam nggak bisa tidur.” Kata Vania tak enak hati melihat wajah dingin Adrian, bukankah selama ini memang wajah Adrian seperti itu? “Baru pertama disini aja udah malas-malasan! Mama Rianty mana pernah kayak gitu!” Ejek Zahra tak suka melihat Vania. “Bunda ayoo ikut berenang.” Ajak Aska yang berada di dalam gendongan Adrian yang berada di dalam kolam renang. “Pergi sarapanlah, kami sudah sarapan.” Kata Adrian menengahi. Vania jelas melihat wajah tak suka Zahra, bahkan gadis kecil berumur hampir dua belas tahun itu mencebikkan bibirnya. Vania menghela nafasnya dan berjalan ke dapur melihat Mbok Ina yang sibuk mencuci piring. “Maaf ya Mbok, Vania nggak bisa bantuin buat sarapan.” Kata Vania tak enak hati. Mbok Ina tersenyum simpul. “Ya gapapa atuh Bu, kan Ibu istrinya Pak Adrian sekaligus nyonya di rumah ini ya jadi gapapa.” “Jangan panggil Vania Ibu Mbok, panggil Vania saja.” “Mbok ya nggak enak manggil nama, orang Ibu majikannya Mbok toh.” Vania menggelengkan kepalanya. “Tapi Mbok itu lebih tua dari Vania, tetap aja nggak sopan Mbok. Panggil Vania aja.” Pinta Vania dengan memelas. “Mbok takut di marahin sama Pak Adrian.” Vania menggelengkan kepalanya lagi. “Gapapa, kan Mbok tetap manggil Mas Adrian Bapak. Kalau Vania nggak udah Mbok, nanti Vania yang bilang sama Mas Adrian.” Mbok Ina tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. “Yauwes Vania ayo sarapan. Mbok udah buatin sarapannya di atas meja, yang lainnya udah sarapan.” Vania menghela nafasnya. “Vania jadi nggak enak hati Mbok karena bangun telat. Baru hari pertama disini udah kayak gini, nggak tahu kenapa tadi malam nggak bisa tidur Mbok.” “Yauwes ndakpapa. Pak Adrian nggak terlalu riweuh soal begituan, kamu sarapan dulu gih.” “Mbok udah sarapan?” Tanya Vania. “Belum, sarapannya nanti setelah semuanya beres.” “Makan bareng Vania yuk, Vania nggak suka makan sendirian udah biasa makan bareng-bareng sama Ibu Ayah dan adik-adik.” “Vania duluan saja Mbok nanti nyusul.” Vania mengerucutkan bibirnya, ia pergi ke meja makan mengambil sarapan untuknya lalu pergi ke dapur dan duduk di lantai. “Loh Vania kenapa disini makannya?” “Disana nggak enak Mbok sendirian, mending disini ada temennya. Mbok Ina nggak mau nemenin sih.” Mbok Ina menggelengkan kepalanya. “Jangan disini, nanti Pak Adrian marah.” “Enggak kok, Mbok tenang aja. Mbok lanjutin aja nyuci piringnya.” Vania cuek saja dan melanjutkan aksi sarapannya itu. Mana mungkin Adrian marah pikirnya, wong Adrian saja tak peduli padanyakan?   ***** “Zahra, Aska.” Teriak Riana memanggil cucu-cucunya. Vania yang baru saja menyiram bunga di belakang. Setelah sarapan Vania tertarik ke belakang dan ingin menyiram bunga-bunga tersebut. Walaupun Pak Leman tukang kebun yang disampai Adrian jelas menolak tetap saja Vania memaksa, habisnya ia tidak tahu harus apa. Mau bergabung dengan Adrian dengan kedua anaknya ia masih sungkan. “Ehh Mama datang.” Kata Vania dengan sedikit basah. Riana datang dengan Adriana adik dari Adrian. Ia harus memanggil Adriana adik padahal umurnya jelas lebih tua di atas Vania. Tapi karena ia menikah dengan Adrian makanya Adriana harus memanggil Vania dengan sebutan Mbak. “Mbak Vania habis ngapain?” Tanya Adriana bingung. “Habis nyiram tanaman di belakang, jadinya basah.” “Emang tukang kebun nggak datang Mbak?” “Ada kok di belakang, lagi kepengen aja.” Riana tersenyum simpul, ia tahu kalau Vania juga orang yang rajin. “Adrian sama cucu-cucu Mama dimana?” Tanya Riana yang tidak melihat anak serta cucunya. “Di atas Ma, habis berenang kayaknya lagi nonton.” “Kenapa kamu nggak ikut?” Tanya Riana bingung, Vania hanya tersenyum simpul enggan menjawab. “Mama bawa apa?” Tanya Vania mengalihkan, ia melihat Riana membawa bungkusan. “Ini kue kesukaan Zahra sama Aska.” Vania mengambil ahli dan memanggil Mbok Ina. “Vania minta tolong buatin ke piring ya Mbok supaya di kasih sama anak-anak.” Mbok Ina menerimanya lalu membawa kebelakang, Riana bisa menilai kesopanan Vania pada Mbok Ina. Menyuruh saja meminta tolong tidak memerintah. “Mama sama Adriana duduk dulu, atau langsung ke atas juga boleh. Vania mau ganti baju dulu ya.” Keduanya kompak menganggukkan kepalanya. Vania berjalan menuju kamarnya membuat anak-Ibu itu mengernyit bingung hingga mengikuti Vania. Ketika Vania membuka pintu jelas Riana kaget melihat barang Vania yang berada disana. Akhirnya ia tahu kalau Vania tidur di bawah dan anaknya berada di atas. Mereka tidur terpisah membuat Riana marah seketika. “Adrian!!!!” Teriak Riana dengan keras membuat Vania jelas kaget melihat Mama mertuanya yang berteriak. “Mama kenapa teriak gitu manggil Mas Adrian?” Tanya Vania bingung. “Kalian tidurnya pisah ya?” Tanya Adriana membuat Vania bungkam, ia tidak tahu harus menjawab apa akhirnya ia tahu kenapa Mama mertuanya berteriak. “Adriannnnn!!!” Teriak Riana lagi. Adrian turun dari atas beserta dengan kedua anaknya. “Apa sih Mama teriak-teriak.” Kata Adrian kesal. “Oma!!!” Teriak Zahra dan Aska bersamaan melihat Omanya. “Sini kamu! Apa maksud kamu nyuruh istri kamu tidur di bawah! Apa maksudnya kalian tidur terpisah! Kalian sudah menjadi suami istri Adrian!” Adrian diam ia tidak bisa menjawab apa-apa karena pada faktanya ia yang menyuruh istri barunya tidur di bawah. “Sekarang Mama nggak mau tahu kamu ajak istri kamu tidur di atas! Kalian tidur satu kamar!” Putus Riana dengan tegas. Adrian menghela nafasnya dan masuk ke dalam kamar Vania mengambil koper Vania dan membawanya ke atas. “Kamu juga Vania, seharusnya kamu jangan mau kalau Adrian menyuruh kamu begini. Sekarang ikutin suami kamu!” Kata Riana. “Maaf Ma.” Cicit Vania, ia langsung mengambil tasnya satu lagi dan mengikuti Adrian yang sudah lebih dulu. “Mama jangan marah-marah, lihat Zahra sama Aska kaget lihat Mama.” Peringatin Adriana. Riana menghela nafasnya dan melihat kedua cucunya. “Peluk Oma sini, maaf kalau Oma udah marah-marah ya.” Aska dan Zahra segera memeluk Riana. “Kamu bantuin Mbakmu, Masmu suruh nemuin Mama di bawah.” Kata Riana pada anak perempuannya. Adriana menganggukkan kepalanya dan menyusul Vania. Adrian sangat kesal, mau tidak mau ia harus menerima Vania tidur di kamarnya bukan? Ia hanya bisa pasrah, kalau sudah Mamanya yang berkata Adrian bisa apa. Adrian meletakkan koper tersebut di lantai dan langsung menatap Vania. “Letakkan saja semua barang-barangmu dilantai, terserah mau dimana asalkan jangan di lemari. Lemari sudah penuh dengan barang-barang saya dan Rianty, jangan pernah sentuh barang-barang yang ada di kamar ini. Karena semua barang yang ada dikamar ini milik Rianty, besok lemari untukmu akan datang. Besok saja susun barangmu ke lemari. Mengerti?” Vania hanya menundukkan kepalanya sambil menganggukkan kepalanya. Ia tak berani menatap Adrian karena pria itu terlihat sangat marah. “Mas, Mbak.” Panggil Adriana dari luar sambil mengetuk pintu. Adrian segera keluar dan menemui adik perempuannya. “Kenapa?” Tanya Adrian to the point. “Mas di suruh Mama turun temuin Mama.” Adrian menghela nafasnya lalu segera turun ke bawah. Adriana masuk ke dalam kamar melihat Kakak iparnya. “Mbak,” Panggil Adriana. “Aku ganti baju dulu ya.” Vania segera mengambil bajunya dari koper dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama setelah itu Vania segera keluar dari kamar mandi dan melihat Adriana sedang Menyusun barang-barangnya dan sudah membuka lemari milik Adrian. “Kamu mau ngapain?” Tanya Vania. “Mama bilang bantuin Mbak Vania beres-beres.” “Jangan dimasukkan.” Kata Vania dengan cepat sambil menahan Adriana membuat Adriana kaget. “Kenapa Mbak?” Vania bungkam, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal bingung ingin menjelaskannya bagaimana. “Mas Adrian nggak bolehin Mbak nyusun bajunya di dalam karena masih ada pakaian Mbak Rianty?” Vania menganggukkan kepalanya pelan membuat Adriana menghela nafasnya. “Aku akan bilang ke Mama.” Adriana hendak keluar namun langsung di tahan Vania. “Jangan bilangin sama Mama aku mohon. Nanti Mama bakalan marahin Mas Adrian lagi, aku gapapa kok beneren deh, biarin aja ya. Aku ngerti kalau Mas Adrian belum bisa terima semuanya, Mas Adrian butuh waktu. Lagian tadi Mas Adrian bilang mau beliin aku lemari, besok lemarinya datang kok.” “Mau sampai kapan Mbak? Mau sampai kapan Mas Adrian larut dalam masa lalu?” “Mas Adrian butuh waktu, udah ya gapapa kok. Kalau kamu emang mau bantu aku tolong jangan bilang ke Mama. Bantuin aku lipat aja ya kita letak di sofa, besok lemarinya datang aku enak nyusunnya.” Adriana menganggukkan kepalanya dan membawa barang-barang Vania dekat sofa. “Mbak Vania harus sabar ya ngadepin Mas Adrian. Sebenernya Mas Adrian itu orang yang baik dan hangat, tapi semenjak Mbak Rianty meninggal Mas Adrian berubah jadi pendiam. Tapi Mas Adrian orang yang baik kok.” Vania hanya bisa tersenyum simpul, apa yang bisa dikatakannya? Adriana melihat Vania, Kakak iparnya yang baru. Adriana tahu kalau Vania orang yang baik terlepas dari alasannya menikah dengan Kakaknya. Adriana bisa melihat kalau Vania tidak hidup dengan neko-neko, ia yakin kedua keponakannya juga akan terurus dengan Vania walaupun umur Vania masih lebih muda darinya. “Kalau ada apa-apa Mbak Vania jangan sungkan ya cerita sama aku. Mbak gausah khawatir, kalau Mbak minta aku buat rahasiain dari Mama atau Mas Adrian pasti aku akan rahasiain. Pokoknya Mbak Vania jangan ngerasa sendiri, ada aku yang selalu dukung Mbak.” Vania tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Vania bersyukur mempunyai Mama mertua dan adik ipar yang baik. Kedua perempuan tersebut sangat berada di pihaknya, bisa menerimanya dengan baik. Padahal sudah ada pikiran dari Vania kalau Mama mertuanya dan adik iparnya itu tidak bisa menerimanya ternyata ia salah. “Makasih Adriana.” Ucap Vania tulus.   ***** “Mama nggak suka ya sama keputusan kamu itu. Mama nggak pernah ngajarin kamu kayak gitu, kamu kayak gitu seperti pria yang tidak bertanggung jawab. Padahal Mama sama Papa selalu didik kamu jadi pria yang bertanggungjawab.” Kata Riana menasehati anak sulungnya. “Mama tahu kalau Adrian ngelakuin ini karena Mama yang selalu desak Adrian untuk nikah. Sekarang Adrian udah nurutin kemauan Mamakan.” “Tapi bukan begini keinginan Mama. Mama mau kamu juga buka hati, Mama tahu Rianty wanita yang baik. Mama tahu kamu sangat mencintai Rianty, tapi sekarang Rianty udah nggak ada. Mau sampai kapan kamu terus memikirkan dia? Apa kamu pikir Rianty bakalan senang lihat kamu kayak gini terus?” “Jadi maksud Mama, Adrian harus ngelupain Rianty gitu? Gabisa Ma! Adrian cinta sama Rianty. Rianty juga udah kasih anak buat Adrian, apa lagi Rianty pergi karena Adrian. Rianty berjuang mempertaruhkan nyawanya demi anak Adrian Ma, bagaimana bisa Adrian melupakan Rianty.” “Mama nggak ada nyuruh kamu untuk melupakan Rianty. Kalau kamu mau simpan kenangan kamu sama Rianty silahkan. Anak-anak kamu juga tahu Mama mereka Rianty jelas Mama nggak akan pernah pungkiri itu. Mama juga sayang sama menantu Mama itu, tapi sekarang Rianty udah nggak ada. Kehidupan kamu terus berlanjut, kamu butuh pendamping untuk kamu bisa membesarkan anak kamu sama Rianty.” “Adrian bisa sendiri Ma.” “Nggak bisa Adrian. Sampai kapanpun kamu nggak akan bisa jadi Ayah sekaligus menjadi Ibu buat anak-anak kamu. Mereka perlu sosok Ibu yang real untuk mereka, coba pertimbangkan bagaimana pertumbuhan mereka. Kamu juga punya jadwal dan pekerjaan yang begitu banyak, kamu juga butuh pendamping dan Vania sudah mau menjadi istri kamu seharusnya kamu bersyukur. Vania wanita yang baik Nak, nggak seharusnya kamu bersikap seperti itu pada Vania. Bukalah hati kamu untuk Vania, coba terima dia kamu lihat dia sebagai wanita. Belajar mencintai Vania, Mama yakin kamu pasti bisa mencintai Vania nanti.” Adrian menghela naafsnya. “Udahlah Ma, biarkan Adrian menjalaninya seperti sekarang. Jujur sulit bagi Adrian sekarang menerima Vania sepenuhnya. Malah Adrian merasa bersalah sudah mengkhianati Rianty menikah dengan perempuan lain.” “Kamu tidak menyakiti Rianty, kamu tidak menghianti Rianty. Jelas Mama tahu itu, begitu juga dengan Rianty jelas tahu.  Kehidupan kamu berlanjut Adrian, mau gimanapun kamu perlu sosok pendamping untuk hidup kamu. Jadi Mama harap buka hati untuk Vania, kamu harus bisa menerima Vania. Lihat ketulusan Vania, Mama yakin Vania orang yang tepat untuk kamu.” Adrian hanya diam enggan menjawab. “Kamu mengerti maksud Mamakan Adrian?” “Iya Ma.” Jawab Adrian singkat. Riana memeluk anak sulungnya itu, ia hanya menginginkan kebahagiaan anaknya itu saja. Jujur permintaan Riana, Mamanya itu sangat berat baginya. Ia sudah coba selama ini untuk membuka hati pada wanita lain tetap saja tidak bisa. Masih ada Rianty yang masih ada di dalam hati dan pikirannya tidak ada yang lain. “Sampai kapan kamu liburnya? Pergilah berbulan madu dengan Vania sekalian kalian pendekatan, kaliankan belum ada tahap saling mengenal diri.” “Adrian nggak bisa Ma, besok Adrian juga udah masuk kerja. Adrian belum ajuin cuti, lagian kerjaan lagi banyak-banyaknya belum bisa ditinggal.” “Mama tahu jatah cuti kamu masih ada, jadi kamu bisa ajuin cuti Adrian.” “Iya tapi nggak sekarang Ma, kerjaan lagi banyak banget dan lagi riweuh emang nggak bisa ditinggal. Nanti kalau keadaan udah lebih baik, kerjaan lagi nggak banyak Adrian ajuin cuti.” “Yasudah kalau begitu, gimana sama anak-anak kamu dengan Vania? Mereka bisa terima Vania?” Adrian menggelengkan kepalanya. “Aska senang punya Bunda baru, tapi kalau Zahra enggak. Jelas menolak.” Riana mengusap punggung anak sulungnya itu. “Kamu harus bantu Vania juga yakinin Zahra kalau Vania Bunda yang baik. Jelas Zahra tidak bisa terima karena dia sangat tahu betul Rianty, jangan mempersulit Vania juga ya.” “Iya Ma.” Jawab Adrian, walaupun sebenenrya ia tidak tahu dan tidak yakin melihat anaknya itu. Jelas Zahra sangat sulit menerima. Saat Rianty meninggal saja anaknya itu sangat histeris dan tak terima. Anak sulungnya itu sangat kehilangan sekali Mamanya, Adrian saja sampai harus berjuang menyelamatkan anaknya itu. Kalau sekarang ada sosok baru yang mengganti soosk Mamanya, jelas Zahra tak terima. Karena baginya Rianty adalah segalanya dan tak ada yang boleh menggantikan Rianty. Lalu apa biasa ia meyakinkan Zahra akan Vania? Entahlah Adrian juga tidak tahu bagaimana kedepannya nanti. Jelas ia tahu bagaimana nasib pernikahannya kali ini, apakah bisa bertahan atau tidak. Walaupun ia mengatakan bahwa tidak akan bermain-main dengan pernikahan, tetapi di awal dirinyalah yang sudah bermain-main bukan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD