Bagi Rizal, keluarga adalah sesuatu yang semu. Bagaimana rasanya memiliki keluarga dia tidak tahu. Ingatan tentang orang tuanya yang harmonis tidak ada sama sekali. Hanya bapak yang suka memukul, ibu yang selingkuh dan dirinya yang terus menangis. Lebaran baginya sama saja dengan hari biasa, tidak ada yang harus dia sungkem tangan untuk minta maaf. Ada bunda di panti asuhan. Tapi tidak terlalu dekat. Dia lepas dari panti sejak lulus SMP. Diterima di SMA negeri di Bandar Lampung dengan beasiswa. Lanjut kuliah di UNILA dengan beasiswa juga. Untuk kebutuhan sehari-hari dia bekerja, menghidupi diri sendiri. Dalam kesendirian, tanpa teman karena terlalu sibuk bekerja. Tidak ada keluarga, apalagi pacar. Kesamaan nasib dengan Hana membuat mereka dipertemukan dalam satu lebaran yang berkesan.

