Tak terasa ujian kenaikan kelas sudah selesai, artinya Agatha bisa santai sebentar sebelum memasuki semester baru dengan suasana baru nanti. Seperti sekarang ia sedang berada di taman yang dekat dengan rumahnya dengan kamera yang sedari tadi ia bawa di dalam tasnya.
Pagi ini ia ingin memotret dengan tema keindahan alam, tetapi ia kehabisan ide untuk mengambil suasana yang seperti apa. Meskipun ada beberapa foto juga di dalam laptopnya tetapi ia ingin mencoba mengambil yang baru dan taman ini menjadi tujuannya, keindahan alam berarti taman juga kan. Begitu pikirnya.
Agatha duduk di salah satu kursi taman, menyimpan tas di sampingnya setelah mengeluarkan sebuah kamera. Taman ini cukup ramai dan banyak anak kecil yang asik bermain. Sepertinya ia salah memilih tempat tetapi ia tetap mencoba mengambil suasana taman ini menggunakan kameranya. Biar ia tak merasa sia-sia saja datang ke sini.
Ada beberapa foto yang ia ambil, termasuk anak-anak yang sedang bermainan ayunan yang berada tak jauh darinya saat ini. Agatha tersenyum melihat hasil bidikannya.
“Ta!!” teriakan seseorang membuat Agatha mengalihkan perhatian dari kamera di tangannya. Terlihat Rania sedang berjalan menghampiri Agatha bersama dengan kekasihnya, Elvan.
“Lo sama siapa?” tanya Rania setelah berada di dekat Agatha.
“Sendirian,” balas Agatha.
Rania mengangguk, “Tadi gue kira salah orang, tahunya bener itu lo.”
“Lo abis dari mana?” tanya Agatha.
“Lari pagi sama El.”
“Sampai sini?”
“Gak tahu tu Elvan yang ngajak,” ucap Rania menoleh ke arah Elvan yang terkekeh.
“Deket kok sampe sini,” ucap Elvan.
“Deket menurut kamu,” balas Rania tak terima.
Dekat dari mana tadi mereka mulai lari dari rumah Rania dan sampai di taman ini, memang sih rumahnya masih dekat dengan Agatha hanya beda komplek saja tetapi kan taman ini lebih dekat dengan rumah Agatha jadi wajar kalau Rania kelelahan sampai berlari sejauh ini.
“Lo masih pagi udah di taman, kirain olahraga,” ucap Rania pada Agatha.
“Olahraga ini,” Agatha menunjukkan kameranya.
“Lo suka motret?” tanya Elvan.
Agatha mengangguk, “Suka doang, bukan jago.”
“Adek gue juga, kapan-kapan gue kenalin kalian deh siapa tahu bisa berbagi ilmu soalnya dia bener-bener lupa waktu kalau udah sama kameranya,” ucap Elvan menjelaskan.
“Wah ... bagus dong gue jadi ada teman kalau gak tahu, atur waktu aja deh, Kak.”
“Siap nanti gue kasih tahu lo lewat Rania ya.”
“Kalau gitu kita pulang dulu, lengket banget badan gue. Lo mau bareng Ta?” tanya Rania.
“Gak deh, gue masih mau di sini.”
“Kalau gitu gue sama Elvan duluan ya.”
“Oke, hati-hati.”
Setelah Rania dan Elvan pergi, Agatha kembali berkutat dengan kameranya dan sesekali mengambil objek foto lagi meskipun hasilnya nanti bukan untuk diikutsertakan dalam perlombaan, paling tidak koleksi foto hasil jepretan dirinya sendiri bertambah.
Setelah dari taman akhirnya Agatha kembali ke rumah dengan beberapa hasil jepretannya, ia puas melihat hasil jepretannya pagi ini.
Ada banyak yang dia ambil dan semua suasana saat di taman tadi. Ada anak-anak yang sedang bermain ayunan dan bermain sepeda, ibu yang sedang menyuapi anaknya yang tengah bermain bola, ada kedua remaja yang tengah saling dorong yang tadi tak sengaja ia bidik, dan ada juga sepasang suami istri yang sedang menikmati sarapan pagi mereka.
Agatha menyimpan kameranya di atas meja, kemudian memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum nanti mungkin mencari foto mana yang akan ia ikutkan dalam perlombaan.
**
"Kamu udah yakin lanjut ke Jepang?" tanya Laila -Ibu Zidan.
Pagi ini mereka baru saja selesai sarapan dan berkumpul di halaman rumah. Ada Zidan, Arsyah dan kedua orang tua mereka. Sementara Elvan memang sudah sedari tadi keluar rumah, pergi lari pagi.
"Iya bu, lagian Zidan udah dapet beasiswa di sana kan. Jadi tinggal masuk aja tanpa seleksi lainnya."
"Kalau sudah keputusan kamu dan mantap, Ayah dukung saja. Toh kamu yang jalani itu, pilihan kamu juga jadi sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan berdo'a biar semuanya di kasih kelancaran," ucap Bayu, ayah Zidan.
"Tapi luar negeri loh, Yah. Jauh, ya masa ditinggal sama Zidan ke sana." Laila masih ragu melepas anak pertamanya apalagi sampai ke negeri orang.
"Zidan sudah dewasa, laki-laki juga, Bu."
"Iya, Ibu tahu tapi..."
"Sudah, kan ada El sama Ars di sini," ucap Bayu memotong perkataan sang istri. Berusaha untuk menenangkan istrinya, bukan berarti tega membiarkan anaknya pergi jauh. Orang tua mana yang tidak khawatir tetapi jika memang ada kesempatan untuk pergi apalagi menuntut ilmu sudah seharusnya sebagai orang tua mendukung anak mereka.
"Kamu nanti jangan jauh-jauh ya, Ars," ucap Laila pada anak bungsunya, Arsyah.
Mendengar hal tersebut Bayu menggelengkan kepalanya, istrinya ini memang begitu memanjakan anak-anak mereka. Padahal semua anaknya laki-laki tetapi selalu saja di larang untuk pergi jauh dari rumah.
Baru pertama kalinya, Zidan yang memilih untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri, itu pun harus ada obrolan yang panjang sampai akhirnya Laila setuju dengan keputusan anak sulungnya itu. Tetapi imbasnya pada adik-adik Zidan yang pastinya akan sulit jika ingin kuliah di luar kota atau negeri, kecuali harus melewati obrolan panjang juga seperti kakaknya.
"Iya, Bu," balas Ars singkat, memilih untuk setuju saja.
"Kamu kan suka motret, gimana sama lomba yang kemarin Ayah bilang?" tanya Bayu pada anak bungsunya.
"Udah, Yah. Kemarin ambil foto tinggal kirim aja," balas Ars.
"Bagus, Ayah dukung hobi kamu tapi kalau urusan ambil jurusan lebih baik yang lain, jadikan fotografi hanya sebagai hobi saja meski nanti bisa saja jadi penghasilan tetapi tetap kamu harus punya gelar sarjana yang lain," ucap Bayu pada Arsyah.
Ars hanya mengangguk, memang benar ia menjadikan fotografi sebagai hobi karena untuk melanjutkan pendidikannya nanti ia ingin mengambil jurusan yang lain untuk sekarang dia belum tahu akan mengambil jurusan apa. Setelah itu mereka melanjutkan obrolan yang lainnya, sampai akhirnya Elvan bergabung bersama dengan mereka.
**
"Mana hasil jepretan yang mau kamu ikutin lomba?" tanya Bian saat masuk ke dalam kamar adiknya, Agatha.
"Ada tapi aku masih bingung, Kak," ucap Agatha.
"Bingung kenapa?"
"Ya ada tiga foto, bingung aja milihnya."
"Coba mana."
Agatha menyalakan laptopnya kemudian mencari file dari koleksi fotonya dan menujukkan beberapa foto kepada Bian. Bian juga sama seperti Agatha, menyukai fotografi hanya saja ia tak begitu menekuninya seperti Agatha.
"Menurut kakak yang ini bagus, kelihatan banget pemandangannya terus nunjukin keindahan alam yang objeknya hamparan pesawahan. Ya sederhana sih, tapi kelihatan alam banget."
"Berasa komentator foto, perasaan gak ada bedanya yang alam dan alam pake banget," ucap Agatha membuat Bian berdecak sebal, padahkan ia sudah mendalami peran sebagai juri foto keindahan alam semesta ini.
"Yeuu ... Gimana sih! Katanya suruh pilih, ya gue komen baik gini tapi malah begitu Sungguh terlalu...!" ucap Bian mendramatisir.
Agatha terkikik, "Iya maaf, oke deh Tata ambil yang ini juga."
"Nah! Gitu dong, kan kalau menang gue juga kecipratan hadiahnya."
"No!! Gak mau bagi bagi titik!"
"Kualat lo sama kakak sendiri."
"Bodo!"
"Dahlah, gue merajuk ni."
"Ya udah sana!" usir Agatha.
"Emang keterlaluan, sini lo gue kutuk jadi monyet!!" Bian mulai menarik Agatha dan menggelitiki adiknya, membuat Agatha tertawa sampai mengeluarkan air mata.
"Kak Bian!!!" pekik Agatha dan setelah itu mereka sama-sama tertawa dengan ulah mereka sendiri.