“Gimana semalem? Sukses belajar bahasa inggris?” tanya Rania pada Agatha yang baru saja duduk di kursinya.
Hari ini adalah hari pertama mereka mengikuti ujian kenaikan kelas dan pelajaran yang akan mereka hadapai di hari pertama adalah bahasa inggris dan juga matematika, benar-benar menguras otak kan.
Agatha menatap Rania yang tengah membaca buku pelajarannya bersampul pink setelah sahabatnya itu memberikan pertanyaan yang menusuk, ya menusuk karena Rania harusnya tahu kalau Agatha semalam ketiduran setelah mereka bertiga melakukan panggilan video untuk belajar bersama.
“Sukses sampe kebawa mimpi,” balas Agatha dengan nada kesal membuat Rania hanya bisa tersenyum kecil. “Karin mana? Tumben gak nempel sama lo?” tanya Agatha kemudian.
“Tadi katanya mau ke toilet, grogi kali mau ulangan bahasa inggris.”
Agatha mengangguk lalu mengeluarkan buku catatannya dan mulai membaca materi meski rasanya sangat terlambat untuk menghapal tetapi apa salahnya di coba mungkin nanti akan ada dalam soal ujian materi yang dia baca pagi ini.
“Ta ... Tata!” suara Karin membuat konsentrasi Agatha buyar begitu saja, gadis itu mendengus kesal menatap Karin yang saat ini berdiri di dekat kursinya.
“Apa sih, rin. Ganggu aja lo, kan gue lagi belajar biar pinter,” gerutu Agatha menutup buku catatannya.
Sudah ada Karin artinya dia tak akan bisa konsentrasi untuk membaca karena sahabatnya yang satu ini selalu saja membuat Agatha nantinya naik darah dengan hal apapun yang ia lakukan, seperti mengajak Agatha mengobrol atau melihat media sosial artis korea dan memang Agatha mudah di rayu selalu tergodaa dengan apa yang di lakukan Karin. Apalagi oppa korea yang tak bisa di abaikan, runtuh sudah pertahanan dirinya.
“Aduh ta, lo udah pinter kali. Kasian otak lo di pake mikir mulu, mending lihat ni apa yang gue dapet,” ucap Karin.
“Apa? Jangan sampe hal yang gak guna ya.”
“Ini berguna bagi kelangsungan hobi lo.”
Mendengar kata hobi membuat Agatha langsung menyuruh Karin untuk mendekat, akhirnya mereka duduk bersebelahan dan Karin menunjukkan sesuatu di handphonenya kepada Agatha.
“Ni lihat, ada lomba fotografi. Temanya keindahan alam, kesempatan lo ta buat ikutan lomba ini.”
“Wahh ... emang lo sahabat terbaik, Rin. Mana gue lihat, kirim ke gue dong itu atau tag gue di medsosnya buruan.”
“Yeuhh ... giliran begini aja lo bilang sahabat terbaik, Karin gitu lho!”
“Iya-iya Karin emang terbaik, buruan kirim ke gue.”
“Iya sabar elah,” ucap Karin karena Agatha begitu bersemangat.
Karin segera mengirim postingan tersebut ke akun milik Agatha. Perlombaan fotografi adalah kesempatan untuk Agatha dalam mendalami hobinya selama ini. Selain hobi menyanyi di kamar mandi yang kemudian menjadi sebuah keberuntungan karena selalu terpilih menjadi perwakilan sekolahnya, Agatha juga hobi mengambil gambar dengan kameranya namun hobi tersebut hanya iseng saja, meski begitu tak jarang gambar yang di dapat malah begitu bagus.
“Makasih ya rin,” ucap Agatha.
“Yoi tapi jajanin gue batagor di kantin ya ta,” Karin cengegesan.
**
Kali ini selesai dari sekolah Agatha langsung pulang ke rumah, tak ada janji dengan Zidan bahkan sudah lama sekali mereka tak bertemu. Jangankan untuk bertemu sekedar menyapa di akun media sosial atau pun chat saja sudah jarang terjadi.
Itu karena Zidan benar-benar sibuk dengan urusan persiapan masuk universitasnya nanti dan Agatha tahu akan hal itu karena Zidan sempat bilang kalau beberapa waktu ini laki-laki itu akan fokus pada persiapan tersebut.
Agatha tahu semua itu penting tetapi apa iya Zidan sama sekali tak ada waktu untuk memegang handphonenya sebentar saja. Terakhir kali mereka bertukar kabar itupun Agatha yang lebih dulu mengirim pesan, Agatha bilang pada Zidan kalau dia sedang pusing belajar dan Zidan membalas untuk tetap semangat setelah itu tak ada lagi balasan dari Zidan saat Agatha membalas pesan semangat dari Zidan tersebut.
Agatha kira Zidan akan meneleponnya tetapi sampai larut malam pun tak ada balasan atau telepon dari Zidan, akhirnya Agatha memilih untuk tidur, lebih menyedihkannya lagi di paginya masih tak ada balasan dari Zidan padahal pesannya sudah ia baca. Sesibuk itu kah Zidan.
Agatha merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ujian hari pertama sudah membuat otakknya berasap itu karena pelajaran yang harus ia hadapi adalah bahasa inggris dan matematika, dua mata pelajaran yang benar-benar sulit menurut Agatha. Tetapi untungnya ia bisa mengerjakan semuanya tanpa ada jawaban yang di kosongkan meski tak tahu juga hasilnya nanti seperti apa.
Ingat dengan apa yang tadi di katakan oleh Karin, Agatha segera membuka akun media sosialnya dan melihat kiriman dari Karin. Postingan dari salah satu akun komunitas fotografi yang mengadakan lomba dengan tema keindahan alam.
Agatha kemudian menyalakan laptopnya yang berada di atas meja belajar, membuka file hasil fotonya yang tersimpan di laptop mungkin saja ada foto yang pas untuk di ikutsertakan pada lomba tersebut.
“Yah, gak ada. Harus ambil dulu kalau kaya gini,” gumamnya sambil melihat beberapa foto yang dulu sempat ia ambil dengan kameranya.
“Ini alam sih tapi gak banget.”
“Kalau ini, ah gak masuk kriteria.”
“Kapan gue ambil gambar coba, lagi ujian gini.”
“Apa minta bantuan Kak Bian ya? eh tapi masa hasil orang lain.”
“Kalau gitu hari minggu aja deh.”
Agatha terus menerus berbicara sendiri kemudian menutup filenya dan memilih untuk berganti pakaian lebih dulu. Urusan foto dengan tema keindahan alam mungkin nanti saja karena masih banyak waktu untuk perlombaan tersebut.
**
Zidan baru saja pulang dari toko roti, meskipun sedang menghadapi ujian dan juga persiapan untuk ke Univeritas, tanggung jawabnya untuk menjaga toko roti ini tak boleh di abaikan.
Tugasnya hanya mengawasi saja namun sesekali juga membantu untuk membuat roti atau pun melayani pelanggaan jika toko sedang ramai. Di sela-sela kesibukannya di toko Zidan tak lupa untuk membaca sebentar materi pelajarannya.
“Besok lo yang di toko ya,” ucap Zidan saat melewati ruang tengah di mana ada Elvan yang sedang makan sambil menonton tv.
“Iya, kan emang jadwalnya begitu.”
“Tapi lo kadang kasih ke Ars, terus malah pergi sama temen lo.”
“Ya itu sekali doang, pake di bahas mulu,” protes Elvan.
“Biar lo inget aja,” balas Zidan terkekeh. Setelah itu Zidan berjalan ke kamarnya meninggalkan Elvan yang masih dengan tatapan protes karena selalu saja di sindir tentang ia yang sering kali menyerahkan tugasnya pada adik bungsu mereka, Arsyah.
Zidan masuk ke dalam kamarnya lalu menutup kembali pintu dan menguncinya, hal itu untuk menghindari adiknya khusunya Elvan yang sering kali mengganggu dia.
Zidan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kemudian memainkan handphone miliknya, membuka postingan di media sosial berharap seseorang yang dia tunggu memberikan kabar meski lewat postingan semata.
Tetapi hasilnya nilih, tak ada satu pun postingan dari orang tersebut bahkan postingan terakhir sudah begitu lama, dua bulan lalu dan hanya foto sebuah bunga sakura saja tanpa caption apapun.
Zidan mengembuskan napas pelan, rasanya dia ingin cepat pergi ke sana. Ke tempat di mana seseorang yang selama ini Zidan kejar berada, namun jalannya masih panjang meski kesempatan sudah berada di depan mata.
Itu sebabnya Zidan terus belajar dengan keras agar mimpinya untuk pergi ke negara Jepang bisa di realisasikan.
Ya Jepang, tujuan dia saat ini untuk mencari ilmu sekaligus mencari seseorang di masa lalu.