Semakin lama Agatha memang dekat dengan Zidan namun semuanya hanya sebatas pertemanan saja, ketertarikan Zidan pada Agatha tak berarti Zidan memiliki perasaan lebih pada Agatha dan hal itu yang membuat hubungannya dengan Agatha hanya berada di tempat yang sama, teman selalu begitu.
Satu bulan, dua bulan sampai waktu tak terasa cepat berlalu sudah satu tahun lamanya mereka dekat bahkan sering sekali menghabiskan waktu bersama meski kerap kali sosok Rian yang masih memantau apapun yang di lakukan Agatha terutama bersama dengan Zidan, seperti yang sudah Rian katakan kalau dirinya ingin Agatha fokus pada sekolah namun meski Agarha dekat dengan Zidan hal itu tak membuat fokusnya teralihkan dan Agatha bisa membuktikannya dengan nilai yang di dapatkan selama ini.
Perasaan Agatha pada Zidan masih tetap sama meski sudah satu tahun ia harus memendam perasaannya sendirian, sampai sekarang Agatha merasa hubungannya dengan Zidan tak ada perubahan, bukan dia ingin memaksa menjalin hubungan lebih dengan Zidan yang di namakan dengan pacaran namun Agatha hanya ingin tahu bagaimana perasaan Zidan yang sebenarnya, karena untuk menjadi pacar pun jika itu hanya sebuah keterpaksaan karena mereka dekat saja sama sekali tak berarti.
Zidan sendiri sampai sekarang tetap sama dengan perasaannya hanya sebatas tertarik saja pada Agatha, sosok gadis seperti Agatha yang menurutnya begitu ramah, mudah bergaul dan manis membuat Zidan merasa nyaman berada di dekat Agatha, hanya sebatas nyaman.
Bukan perasaan jatuh hati pada Agatha karena tak bisa di pungkiri ada hati lain yang menurutnya harus di kejar, ya Zidan jatuh cinta pada perempuan lain bukan pada Agatha.
Jika saja Agatha tahu mungkin ia akan menganggap dirinya bodoh karena memendam perasaan dan jatuh hati pada Zidan selama satu tahun ini.
**
Agatha baru saja keluar dari perpustakaan, sudah seminggu ini ia sering berada di sana meminjam buku dan juga belajar bersama dengan Karin dan Rania untuk persiapan mereka ujian kenaikan kelas. Namun kali ini Agatha hanya sendirian saja, karena si kembar sudah lebih dulu kembali ke kelas sementara Agatha memilih untuk lebih lama apalagi tak ada guru di kelasnya.
Agatha membawa dua buku pelajaran yang tadi dia pinjam, berjalan melewati beberapa kelas sampai akhirnya berada di kelas, masuk ke dalam kelas yang suasananya tampak ramai dan ini sudah biasa terjadi saat jam pelajaran tak ada guru, kadang Agatha lebih memilih untuk berada di luar kelas apalagi untuk belajar dan mengulang materi yang sudah pernah di ajarkan oleh gurunya.
“Udah ke kantin?” tanya Agatha setelah duduk di kursinya.
“Belum, nungguin lo lah. Lama amat di perpus jangan-jangan ketemu sama gebetan,” balas Karin terkekeh.
“Gebetan dari hongkong.”
“Ya kali aja, lo kan udah di gantung setahun sama Kak Zidan gak menutup kemungkinan lo jadi berpaling dari dia.”
“Udah deh, lo selalu aja bahas soal itu.”
“Sorry, abisnya gue heran aja kok lo bisa sih memendam perasaan sampe setahun kaya gini. Udah tahu dia gak bertindak sama sekali, perhatian iya tapi merubah status lo sama dia, mana buktinya.” Karin mengatakan itu hanya ingin Agatha sadar bahwa gadis itu jangan selalu terfokus pada satu orang saja, jatuh cinta sendirian yang membuatnya malah merasa sakit hati.
Karin ingin Agatha melihat ke sekelilingnya, bahwa akan ada seseorang yang mencintai Agatha dengan tulus bukan malah membuat dia berjuang sendirian, Zidan bukanlah pilihan yang tepat untuk Agatha melabuhkan hati.
“Rania mana?” tanya Agatha mengalihkan obrolan mereka, Agatha sudah bosan selalu saja berakhir dengan membahas tentang Zidan.
Agatha memang jatuh hati pada Zidan namun dia juga memiliki rasa sabar dan mungkin saja sabarnya sudah selesai. Ya mungkin.
“Tadi keluar, kayanya di panggil sama guru. Dia kan mau ikut lomba fisika, wakil sekolahan.”
“Lomba? Kenaikan kelas gini masih ada lomba?”
“Buat persiapan nanti, gatau gue soalnya dari sekarang banget guru fisika milih siswa buat lomba nanti.”
Agatha mengangguk paham, Rania memang termasuk siswa berprestasi di sekolahnnya. Dari awal Rania selalu terpilih menjadi perwakilan dalam perlombaan khususnya mata pelajaran fisika karena memang itu keahlian Rania, si cewek fisika begitu panggilannya dari siswa lain.
Selain Rania yang jago fisika, kembarannya yang tak lain adalah Karin juga memiliki kemampuan non akademik, Karin adalah salah satu atlet renang yang selalu menjadi perwakilan sekolahnnya.
Seolah tak ingin kalah dengan kedua sahabatnya yang memiliki prestasi di sekolah, Agatha juga termasuk kedalam siswa berprestasi dalam bidang non akademik sama seperti Karin, bedanya Agatha merupakan anggota paduan suara yang terkadang di pilih menjadi perwakilan paduan suara dalam lomba menyanyi solo wanita, tak ada yang menyangka suara Agatha begitu merdu. Ini adalah bakat terpendam yang di milki oleh Agatha.
**
Sudah satu minggu ini Zidan tak pernah bertemu dengan Agatha, mereka sama-sama di sibukkan dengan persiapan ujian. Jika Agatha ujian kenaikan kelas, Zidan sedang fokus pada ujian akhir sekolah dan juga persiapan masuk Universitas.
Seperti kali ini Zidan tengah berada di dalam kamar dengan setumpuk bukunya, ada beberapa buku materi khususnya dalam bahasa jepang, selama ini Zidan memang tengah belajar bahasa asing tersebut karena Zidan ingin melanjutkan kuliahnya ke Negeri Sakura.
Satu jam berlalu tetapi Zidan masih asik di meja belajar, pintu kamar terbuka dan Elvan masuk ke dalam kamar Zidan.
Elvan menatap Zidan sambil menggelengkan kepala, Zidan yang terlalu keras dalam pelajaran mulai muncul kembali ini karena ujian semakin dekat bahkan di tambah dengan Zidan yang akan masuk ke universitas, sudah biasa terjadi jika Zidan berada di kamar hampir seharian dengan materi pelajarannya mungkin hanya istirahat saja ia akan berhenti.
“Kak, udahan dulu deh. Gak bosen apa dari tadi lihatin buku terus,” ucap Elvan duduk di tepi tempat tidur Zidan sambil melihat kakaknya yang masih fokus pada buku di hadapannya.
Zidan menoleh sebentar kemudian kembali pada bacaannya, “Tanggung ini bentar lagi,” balasnya tanpa mengalihkan tatapan dari bukunya.
“Perasan gue juga mau ulangan gak gini amat, Ars juga malah lebih santai dari gue sama lo.”
“Ya tiap orang kan beda-beda. Lo juga kenapa gak belajar malah ke kamar gue.”
“Udah tadi, ini gue ke kamar mau cek aja lo masih hidup apa nggak.”
“Sialaan lo! Udah sana ganggu aja!” usir Zidan.
Elvan beranjak dari tempat tidur, padahal tadi dia hendak merebahkan tubuhnya di sana sambil mengawasi Zidan yang masih asyik dengan materi pelajaran tapi kakaknya itu malah mengusir dia seperti ini.
Elvan menutup pintu kamar Zidan cukup keras membuat Zidan menatap ke arah pintu yang sudah tertutup dengan mata mendelik.
Ganggu aja terus,batinnya.
**
Elvan tertawa pelan setelah berlari dari kamar Zidan, puas membuat kakaknya kesal dan menganggu konsentrasi kakaknya, lagipula semua orang memang sedang ujian di sekolah tapi kenapa Zidan seolah paling sibuk dengan pelajarannya sendiri.
Masa-masa ujian seperti ini lebih baik mengistirahatkan otak setelah sekian lama di pakai untuk tugas dan materi di sekolah, bukan malah makin di tambah. Atau kapasitas otak Elvan memang berbeda dengan Zidan, luar biasa sekali kakaknya yang masih bisa menyerap materi seperti itu.
“Kenapa lo?” suara Ars, adiknya membuat tawa Elvan terhenti.
Ars sudah melihat kakaknya yang sedang tertawa sedari tadi dan sudah bisa di tebak apa yang Elvan lakukan sampai ia tertawa seperti itu, apalagi kalau bukan mengganggu Zidan si manusia serius dan rajin dalam belajar.
Sudah tak asing lagi bagi dia jika Zidan terus belajar apalagi di masa ujian seperti ini dan sudah tak heran juga jika Elvan selalu menggangu Zidan di masa ujian seperti ini. Baginya lebih baik menghabiskan waktu sendiri dari pada ikut Elvan mengganggu Zidan.
“Suruh kakak lo udahan belajarnya tu,” ucap Elvan kemudian duduk di samping Ars yang tengah menonton tv.
“Kakak lo juga,” cibir Ars.
“Heran gue sama kak Zidan, kita istirahatin otak dulu eh dia malah terus aja lahap itu materi pelajaran. Otaknya dibuat dari apa’an sih,” ucap Elvan sedikit menggerutu.
“Harusnya lo contoh kak Zidan, bukannya malah ganggu mulu.”
“Lo juga kali.”
Ars hanya mengangkat bahunya acuh, kemudian mereka berdua lebih memilih menonton tv dari pada memikirkan tentang kakaknya. Kalau lelah juga Zidan pasti bergabung dengan mereka.