RUTINITAS PAGI DAN SEBUAH KEHANGATAN
Subuh masih menyelimuti kota ketika alarm di ponsel Robi berbunyi, memecah kesunyian kamarnya. Dengan gerakan yang masih diliputi kantuk, ia mematikan alarm itu. Di sampingnya, sang istri, Dewi, masih terlelap dengan wajah yang damai. Sedikit menjauh, di boks bayinya, putri mereka yang berusia dua tahun, Nayla, juga tidur pulas dengan erat memeluk boneka beruangnya.
Robi pun bangkit dengan hati-hati, memulai rutinitas paginya. Namun, betapa terkejutnya ia menemukan Dewi sudah berdiri di dapur. Perempuan berusia 26 tahun itu mengenakan daster pendek berwarna lavender yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Rambut panjangnya yang hitam terurai menambah pesonanya di kala pagi buta.
"Pagi, Pah," sapa Dewi dengan suara serak nan manis, sambil menyalakan kompor.
"Pagi juga, Mah," jawab Robi yang kemudian mendekat dari belakang. Ia melingkarkan tangan di pinggang ramping istrinya dan menempelkan dagu di pundaknya. "Kok sudah bangun? Masih pagi sekali."
"Dengar suara Papah mandi, jadi ikut terbangun," jawab Dewi sambil menolehkan senyum kecil. "Lagipula, Bunda mau siapin sarapan dan bekal untuk Papah."
Rasa sayang dan nafsu bercampur dalam diri Robi. Tangannya yang semula hanya melingkar, mulai bergerak naik dan mencengkram erat p******a montok istrinya melalui kain daster tipis itu. Ia bisa merasakan bentuknya yang bulat sempurna.
"Ahh, Papah... pagi-pagi gini udah main ngremas p******a Bunda aja," protes Dewi, namun tubuhnya tidak menolak. Malah, ia sedikit melengkungkan punggung, mendorong payudaranya lebih dalam ke genggaman suaminya.
"Gapapa dong, kan udah sah," bisik Robi di dekat telinga istrinya, sambil terus memijat lembut. "Mau ngapain juga bebas mah. Punya sendiri."
Di balik penampilannya yang kalem dan lemah lembut, Dewi diketahui memiliki nafsu seksual yang tinggi. Sejak malam pengantin mereka, Robi menyadari betapa antusias dan aktifnya istrinya dalam bercinta. Dalam seminggu, mereka bisa berhubungan hingga enam kali. Kehangatan tubuh Dewi, erangannya yang dipendam, dan caranya mencengkeram punggung Robi saat mencapai klimaks adalah hal-hal yang membuat sang suami selalu ketagihan.
"Papah... nanti... nanti malem saja, ya?" desis Dewi lemah, sambil membalikkan badan dan kini berhadapan dengan Robi. Tangannya meraih erat kerah baju suaminya. "Nayla masih tidur. Kalau dia bangun dan lihat kita... malu, ah."
Robi mendekatkan wajahnya, hampir menyentuh hidung sang istri. "Tapi Bunda kan juga suka," godanya sambil menggesek-gesekkan badannya, membuat Dewi merasakan hasratnya yang membara. "Kemarin siapa yang minta 'lagi' sampai tiga kali?"
Dewi memukul pundak Robi pelan, wajahnya memerah. "Dasar Papah jahat! Itu kan karena... karena..." Ia tak bisa melanjutkan, malu mengakui kenikmatannya sendiri.
Akhirnya, Robi melepaskannya dengan enggan. "Baiklah, Bunda menang. Tapi ingat, ini hutang ya. Aku tagih nanti malam."
Dia hanya tersenyum malu dan kembali berbalik menyelesaikan sarapan. Robi duduk, memandang istrinya sambil membayangkan beratnya harus meninggalkannya. Inilah masalah terbesarnya. Sebagai seorang designer yang sering ditugaskan ke lapangan, ia harus sering bepergian, meninggalkan Dewi dan Nayla. Ia tahu, dengan nafsu biologis Dewi yang tinggi, kepergiannya adalah sebuah siksaan baginya. Meski percaya pada sang istri, sebagai suami, tetap ada kecemburuan dan kekhawatiran. Dewi cantik, seksi, dan masih sangat muda. Godaan di luar pasti banyak.
Setelah sarapan, Robi bersiap berangkat. Ia mencium Nayla yang masih tidur dan memeluk Dewi erat di depan pintu.
"Jaga diri baik-baik, ya, Mah. Aku telepon nanti sore."
"Iya, Pah. Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siang," balas Dewi sambil merapikan krah baju suaminya.
"Jangan lupa juga... hutang malammu," bisik Robi lagi, membuat Dewi tersiput dan mendorongnya keluar rumah dengan malu. Robi tertawa ringan, membawa kenangan tentang sang istri sebagai bekal untuk hari yang panjang.