“A-apa! Suami?”
Indri tergagap. Ia memang sudah diceritakan perihal negeri dan latar belakang Arjuna, tetapi pernikahan? Itu bukan hal yang sederhana. Setahunya, sebuah pernikahan itu adalah penyatuan dua insan dengan berbagai macam ritual yang sah menurut agama juga negara. Sedang, keeksisan laki-laki yang tengah menunggunya di luar sana saja belum jelas, apakah benar ia manusia yang bermutasi seperti ceritanya, atau sebangsa jin? Belum lagi keberadaan negeri tersebut yang baginya tak jelas, apakah mungkin di era modern seperti sekarang ada sebuah negeri yang tampak seperti dunia dalam film kolosal yang pernah ditontonnya saat kecil?
Tak ada yang jelas di sini. Bagaimana mungkin semudah itu Indri membiarkan Arjuna meminangnya? Dia seorang gadis, untuk menikahinya jelas butuh restu orang tua, sekarang saja ia tidak tahu sedang berada di bumi belahan mana.
Suami? Akan tetapi, siapa yang dapat menolak pesona laki-laki itu. Indri belum pernah melihat pria setampan dan segagah dirinya. Matanya menyorotkan kharisma tak terbantah membuatnya jatuh cinta tiba-tiba tanpa sebab.
Kalau saja semua ini dunia nyata, gadis itu jelas tak akan menolak pinangan laki-laki tersebut. Namun, sejak semalam. Dirinya bak dalam negeri dongeng. Ia khawatir sebetulnya ia belum lagi bangun dari tidur lelapnya, ini bisa jadi hanyalah mimpi. Anehnya, jika ini mimpi bahkan ia dapat merasakan sentuhan, rasa letih, kesedihan, juga jatuh cinta.
“Dia bukan suami sa—“
Belum sempat gadis itu menyelesaikan perkataannya, ia sudah didorong masuk ke kamar mandi. Setelah membasuh tubuh, Indri merasa lebih segar, ia lalu dipakaikan kain batik bercorak bunga dengan paduan warna hitam, oranye, dan hijau. Setelah itu ia memakai kebaya berwarna senada, rambutnya dikepang, dan diberi hiasan.
Setelah menyelesaikan kesemuanya, keduanya keluar menuju depan gerai. Arjuna masih menunggu di sana. Dengan malu-malu Indri berjalan pelan medekatinya. Seraya berjalan, ia memperhatikan pakaiannya yang sejak dua hari lalu dipakai, gadis itu memang sengaja tak membawa banyak baju agar mengurangi beban bawaan. Pakaian itu sangat kotor, penuh lumpur, dan di beberapa tempat terdapat sobekan.
Mendengar langkah mendekat, Arjuna berbalik. Ia memandangi gadis yang sejak semalam tampak menyedihkan kini berubah mempesona. “Cantik, kau pantas memakai pakaian ini,” ujarnya memuji.
Indri merasa jengah dengan tatapannya, ia segera mengalihkan pandangan. “Ayo, Mas Juna!”
“Tunggu, kau pasti lelah berjalan terus. Aku membeli sesuatu, sebentar aku ambil dulu.” Laki-laki itu menahan langkah Indri, mau tak mau gadis itu menunggunya di depan gerai yang ramai pengunjung. Tak lama, Arjuna kembali dengan memegang tali kekang seekor kuda.
Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan berkuda. Indri tak henti-henti mengamati pakaian dan perhiasan barunya, ia sangat terkagum-kagum dengan kehalusan bahan dan ornamen pada ikat pinggang juga jepit pada rambutnya, unik. Kuda itu berjalan menurun, Indri yang tak pernah naik kuda jelas oleng. Ia hampir saja terjatuh, untung seperti biasa Arjuna dengan sigap menahan tubuhnya.
“Apakah kamu memang selalu jatuh?” tanya dia seraya membenarkan letak duduk gadis itu. Tangannya yang kekar dipeganginya sambil menahan malu.
“Maaf, Mas Juna. Kata Bunda, sedari kecil memang aku sudah sering jatuh. Bahkan meja sedang diam aja sering tertumbur apalagi kalo lagi bergerak, dan kuda ini jalannya tidak stabil menurutku.”
“Mungkin yang tidak stabil itu dirimu, Ndri. Kuda, ya, begini.” Laki-laki itu tersenyum. Keduanya bertatapan membuat jantung gadis itu langsung berdegup kencang, ia merasa akan terkena serangan jantung jika terus memandang wajah laki-laki itu. Terutama mata lalu bibir, hei! Kenapa mandangin bibirnya? Gadis itu menggeleng kuat, berusaha mengeluarkan pikiran aneh dalam kepalanya.
Setelah bangunan dan toko-toko mulai jarang, mereka kembali bertemu dengan hutan. Karena Indri mengeluh sakit pinggang sebab tidak terbiasa dengan posisi duduk menyamping, apalagi memakai kain yang cukup membatasi gerakan, keduanya kini memutuskan kembali berjalan kaki.
Mereka berjalan menyusuri setapak seraya mengomentari beberapa hal kecil seperti anggrek hutan yang hidup menempel di atas batang pohon, tupai yang melompat hingga membuat gadis itu terkejut, dan hal remeh lainnya.
Tidak berapa lama kemudian, keduanya bertemu dengan iring-iringan serdadu kerajaan yang membawa kereta tahanan. Indri dan Arjuna pun menepi memberi jalan.
Di dalam kereta tawanan, rupanya ada Zaki di sana. Ia melihat ke arah dua sejoli itu penuh rasa tidak percaya. “Itu Indri?” lirihnya. Namun, ketika ia mencoba untuk berteriak memanggil, seorang penjaga memintanya untuk kembali duduk dengan mengacungkan tombak padanya. Ia pun kembali duduk, sebetulnya sedikit tak yakin sebab pakaian gadis itu tidak seperti biasanya. Akan tetapi, raut wajah itu tak asing. Itu memang Indri, atau halusinasi saja?
Setelah iring-iringan lewat, pandangan Indri yang terhalang tubuh kekar di depannya tak dapat melihat bahwa ada Zaki di sana. Arjuna sengaja menyembunyikan gadis itu.
Setelah iring-iringan menjauh, Indri melihat dua gadis kecil yang berdiri di seberang mereka. Ia mendekati keduanya guna menyapa tanpa sepengetahuan Arjuna yang masih memperhatikan kereta tawanan. Kedua gadis kecil itu sangat lucu dan menggemaskan.
“Eh, adik, mainnya jauh amat, nanti diculik, loh.” Gadis itu menegur sembari menepuk bahu gadis-gadis kecil itu. Mereka berdua memegang jemarinya, lalu setengah menarik. Seperti hendak mengajak pergi entah ke mana. Arjuna yang baru tersadar, segera menampik tangan kedua anak itu. Lalu mereka pun hilang bagai asap.
“Hati-hati, harummu itu membuat banyak lelembut mendekat.”
“Lelembut? Hantu maksudmu? Tapi, mereka hanya anak kecil,” ucap Indri iba.
“Ya, tapi tuannya bisa jadi memiliki ketamakan semua lelembut terhadap dirimu,” ungkap Arjuna membuat gadis di sebelahnya terbelalak.
“Apa!?”
“Menjadikanmu santapan akan membuat mereka lebih kuat. Semacam hidangan penambah tenaga.” Laki-laki itu berkata tanpa ekspresi ia memperhatikan sekeliling, sedang Indri bergidik ngeri. Ia membayangkan tubuhnya terpotong-potong lalu disajikan bagai kambing guling yang disiram saus dan kecap di atas pembakaran dengan sesekali diolesi mentega.
“Iuhhhh,” gadis itu jelas merasa jijik dengan pemikirannya sendiri.
Arjuna sudah berjalan pelan, dengan segera ia berlari kecil mendekati laki-laki itu, seraya melirik kanan-kiri dengan takut.
“Tenang, kau akan aman bersamaku. Gangguan semacam tadi hanya akan terjadi jika aku lengah menjagamu.”
“Sungguh? Mas Juna, bukan sebangsa mereka yang juga akan menyantapku di suatu tempat nanti?”
“Oh, aku akan. Tetapi, dengan cara yang lain. Sebab aku rasa dagingmu tak akan enak jika tak direbus dulu,” canda laki-laki itu.
“Apa!” Indri terkejut.
“Kau tidak hanya akan berguna sebagai makanan saja. Bagiku kau lebih bermanfaat sebagai pendamping. Untuk apa dimakan? Setelah itu habis begitu saja. Kau paham?”
“Tidak,” jawab Indri jujur.
Arjuna tertawa lalu menyentuh pucuk kepalanya. “Pantas ayahku begitu mencintai Dewi Amarawati, bahkan titisannya pun dapat membuat jantung ini bergetar.” Laki-laki itu tersenyum penuh arti, ia lalu berjalan kembali seraya menarik jemari gadis itu.
“Jalannya jangan cepat-cepat, Mas Juna. Lututku masih sakit akibat jatuh semalaman.”
Laki-laki itu memandangnya. “Bagaimana kalau kita berkuda lagi?” tanyanya sambil duduk dengan satu kaki sebagai tumpuan. Membuat tangga dari tubuhnya agar gadis itu dengan mudah naik ke punggung kuda.
“Naiklah,” pintanya.
“Beneran, nih? Aku berat loh.”
“Aku tau. Lagian di sini tidak ada undakan seperti di pasar tadi.”
“Ih, ngeledek lagi. Jalan aja, deh,” tolak Indri, ia tidak enak bila harus menginjakkan kaki di bahu laki-laki itu.
“Katanya lututnya sakit.”
“Kasian sama, Mas Juna. Masa aku injek.”
“Kalau begitu begini saja.” Laki-laki itu memegang pinggang Indri, lalu mengangkatnya dengan mudah naik ke punggung kuda. Indri menatap laki-laki itu, merasa dirinya seringan bulu. Laki-laki itu tersenyum, lalu menaiki kuda itu dengan mudah duduk di belakangnya.
“Pegangan,” katanya lembut. “Aku akan mempercepat laju kuda, memeluk mungkin lebih baik, aku tak ingin kau terjatuh saat kuda ini berlari kencang nanti.”
“Apa!?”
Laki-laki itu tak membiarkan Indri bereaksi, ia menyentak tali kekang kuda, hewan itu langsung melesat cepat. Membuat gadis itu dengan cepat memeluknya. Ternyata benar, tak hanya milik Indri saja, jantung Arjuna pun kini tengah berdegup kencang. Posisinya yang menempelkan telinga ke d**a laki-laki itu mendengar dengan jelas. Jika berdegup, berarti ia juga manusia.
Matahari hampir berada di atas kepala. Namun, ketinggian tempat keduanya berdiri saat ini membuat udara tetap lembab dan dingin.
“Kita sudah sampai.” Arjuna berkata pada gadis yang tengah bergidik kedinginan itu.
“Sudah? Mana kerajaanmu?” tanya Indri penasaran. Seraya mengusap-usap lengan atasnya agar sedikit memberi efek hangat.
Arjuna menyampirkan kemeja atasannya, ke bahunya. Indri menatapnya dengan pandangan penuh rasa terima kasih. Laki-laki itu tersenyum lalu meluruskan jari telunjuknya ke arah yang tertutup kabut tebal.
Kabut itu seketika bergeser atas perintahnya, perlahan-lahan siluet bangunan besar dan megah terlihat. Mereka ternyata sedang berdiri di depan gerbang tinggi yang sangat megah. Pintu gerbang yang dilapisi emas, dengan uliran berbentuk naga dan harimau. Keduanya mendekat, seorang penjaga langsung memberi hormat ketika Arjuna berada di depannya.
Pintu gerbang terbuka, mereka pun memasukinya. Indri melongo. Istana itu lebih megah daripada istana kepresidenan, sangat indah. Gadis itu sampai bingung harus dengan kata apa menceritakan keindahannya. Di depan mereka terbentang taman yang sangat luas, labirin dari tanaman Laurel Pucuk Merah yang berbaris rapi membentuk alur menuju pintu gerbang yang lain. Di beberapa bagian ditanami berbagai jenis bunga berwarna-warni, sayang Indri meninggalkan kamera di tas akibat kejadian kemarin. Kalau tidak, ingin rasanya ia mengabadikan keindahan yang kini menyilaukan matanya.
Seraya berjalan melalui labirin, di sebelah kanan taman terdapat danau yang berasal dari air terjun bertingkat. Suara gemericik air menambah indah suasana, Tanaman bunga di sekitarnya pun terhias titik air di ujung kelopak maupun daunnya. Indri menarik napas, menikmati udara segar yang tak mudah didapatkan di kota besar tempatnya tinggal.
Setelah beberapa menit, mereka sampai di depan gerbang kedua. Arjuna berbalik dan membentangkan lengannya.
“Selamat datang di istana Negeri Sukma Hilang, wahai gadis yang terpilih.”
= = = = = = = = = = = = = = = =