[ 19 ] Pasar di Tengah Hutan, Part 2

1736 Words
Setelah malam yang melelahkan berlalu. Pagi baru telah datang, semburat keunguan telah mewarnai langit yang tadinya hitam kelam. Mereka yang bermalam di Ranu Kumbolo memulai harinya dengan memuji asma-Nya. Sinta yang hampir tak tidur semalaman, keluar dari tenda ketika langit belum lagi terang. Ia segera mendatangi Tanto yang berada di tenda sebelah. “Mas, Mas Tanto!” panggil gadis itu. Dari luar tenda. Butuh beberapa menit bagi laki-laki itu untuk sadar dari lelapnya. Ia membuka lambat ritsleting tenda lalu keluar dengan wajah yang masih tampak mengantuk,.  Dengan mata yang masih setengah terpejam, ia mencari-cari sepatu dan memakainya tanpa memperhatikan betapa gadis yang memanggilnya sudah begitu tak sabar.  “Udah pagi, Mas. Ayo!” Sinta tak lagi dapat menunggunya dengan sabar.  Setelah kedua tali sepatunya terpasang, segera menarik laki-laki itu untuk berdiri. Tanto berdiri dengan enggan. Ia masih terlalu lelah sekarang. “Mas, kita naik lagi ke atas atau bagaimana? Mana tim penolongnya? Katanya, pagi ini kita mulai mencari mereka?” gadis dengan rambut sebahu itu mencecarnya dengan banyak pertanyaan. “Sinta,” tegur Tanto, ia bersusah payah mengenyahkan kantuknya. “Aduh, Mas. Semaleman aku gak bisa tidur.  Aku khawatir sekali dengan mereka. Mana dengar kisah tentang Negeri Sukma Hilang lah, belum ditambah cerita mistis lain yang buat aku—“ “SINTA!” tegur Tanto lagi, kali ini dengan nada keras. Ia mengerti kegalauan gadis itu, tetapi tak ada yang bisa dilakukan jika panik begitu. Sinta terkesiap. Matanya memandang Tanto yang kini menatap dirinya keras. Kakinya lemas, tak sanggup menahan sedih dan lelahnya saat ini. Ia mulai menangis, sesenggukan. Tanto memang tak dapat berbuat apa-apa, untuk meminta pertolongan selanjutnya mereka masih harus turun ke Ranu Pani untuk melapor.  Laki-laki itu menepuk-nepuk punggung Sinta, mencoba menenangkan. Ia juga merasakan kekhawatiran yang sama, meski baru mengenal rombongan Mapala UPKI beberapa hari saja. Satu dengan yang lain memiliki keunikannya sendiri membuat laki-laki itu mudah karab dengan mereka semua. “Bersabarlah, sekarang kita bersiap untuk ke Ranu Pani. Kita cari bantuan medis di sana. Saat ini beri waktu, beberapa dari mereka akan mencari keberadaan kawan-kawan di sekitar Kalimati. Berdoalah, mereka tidak akan apa-apa.” “Jam berapa mereka mulai naik, Mas?” tanya Sinta di antara tangisnya. “Mungkin sekitar satu jam lagi. Mereka juga harus mengisi perut dulu. Begitu juga kita.” Tanto berkata menenangkan. Sinta mengangguk, ia menyadari tak ada gunanya memaksakan diri. Pencarian orang hilang apalagi di gunung tentu saja memerlukan proses. Ia menghapus air matanya seraya memperhatikan lima orang pendaki yang tengah bersiap untuk naik.   Di tempat lain dengan waktu yang sama, malam juga sudah berakhir. Langit mulai membiru dengan cerah. Indri terbangun dan mendapati dirinya tertidur berbantalkan lengannya sendiri. Bukan karena bahu pegalatau pergelangannya yang kesemutan penyebab ia bangun, tetapi karena rasa lapar.  Kehebohan yang terjadi semalam, membuatnya hanya makan sedikit. Sekarang ia menyesalinya. Namun, di tengah hutan begini mau cari makan ke mana? Kruk kruk kruk Gadis itu menatap perutnya yang tengah mengeluarkan bunyi, lalu menatap sekitar. Arjuna yang berjalan masuk dari luar, tersenyum mendengar bunyi yang menggema dalam gua itu. “Kamu lapar?” tanyanya. Indri tersenyum dengan lesu, sambil memegang perut. Anggukan kecil ia berikan dan jawaban yang menurutnya memalukan, “Iya.” “Ini ada buah-buahan. Makanlah dulu. Bersabarlah sebentar lagi kita akan sampai kota, di sana kita akan mengisi perut dengan nasi.” Gadis itu mengangguk lagi seraya mengambil buah yang dibawanya, berry merah.  “Kota?“ tanya Indri sedikit heran. Dalam kepalanya kota Jakarta terbayang. Tentu saja bukan kota yang seperti itu, ‘kan? “Iya, kota. Negeriku, Sukma Hilang. Kau tidak lupa, ‘kan?” “Ah iya, kupikir semalam aku bermimpi, tapi terbangun pagi ini, di sini. Menyadarkanku kejadian semalam nyata adanya.” Indri mendesah, kini wajah masing-masing temannya membayang. Bagaimana kondisi mereka sekarang?   Tak lama kemudian, keduanya memulai perjalanan. Mereka kembali menyusuri hutan. Indri berjalan sambil berpikir keras. Bagaimana mungkin, ada kota di tengah hutan. Semenit kemudian, pohon-pohon besar semakin jarang, suasana semakin terang, dan dari kejauhan dirinya melihat sebuah bangunan yang mirip dengan Piramida Suku Aztec. Bangunan yang berada di atas ketinggian itu memang kecil. Namun, suasana sakralnya sangat terasa. Gadis itu dikejutkan dengan kedatangan seekor burung jalak, yang tiba-tiba menghampiri Arjuna. Burung tersebut memandang laki-laki itu penuh arti, lalu kembali terbang. “Itu burung piaraan, Mas Juna?” tanya Indri heran, burung itu tampak menurut saja berada di atas lengan laki-laki itu. “Bukan. Ia penjaga pintu masuk kota,” jawab pria yang badannya kekar itu. Jawabannya yang berdasarkan logika jelas tak dapat gadis itu sulit menerima pernyataannya, tetapi dirinya mencoba mencernanya. “Kau sudah lihat bangunan di sana?” tanya laki-laki itu. “Itu kotanya?” “Bukan, itu pintu masuknya.” “Ohh.” Kota di tengah hutan, dan gunung seperti ini, apakah mungkin? Indri tak berhenti berpikir. Sayangnya rasa lapar membuat dirinya tak dapat berpikir jernih.  Apalagi mereka harus menaiki undakan tangga yang sangat Panjang. “Ayo,” ajak laki-laki itu. Ia meraih jemariku. Indri yang tengah kelaparan dan lelah, hanya dapat pasrah ditarik olehnya.   Setelah beberapa waktu. Akhirnya anak tangga terakhir berhasil ditapaki.  Dengan terengah-engah, Indri memegangi kedua lutut yang rasanya mau copot. Masih berusaha mengatur napas yang tak beraturan, sesak karena udara pagi yang dingin, ditambah lelah, dan rasa lapar. Indri menatap Arjuna dan menyadari dirinya tidak menemukan sedikit pun tanda kelelahan pada laki-laki itu. “Lihatlah. Itu pintu masuknya, Cemoro Kembar.” Arjuna menunjuk sekitar empat meter di depan mereka. Indri melihat dua pohon cemara besar yang berdampingan, secara kasat mata memang terlihat seperti sebuah pintu, dan dari balik pohon tersebut gadis itu seperti mendengar banyak suara-suara. Suara apa? Atau Siapa? Mengapa tampak ramai seperti pasar? Masa iya sungguh-sungguh ada pasar disana? “Ayo,” ajak laki-laki di sisinya. Ia tampak bersemangat dan kembali menarik tangan gadis itu.   Tak ada kesulitan melewati pintu itu, tak perlu menggunakan anak kuci. Tak pula memasukkan beberapa digit kode pin, apalagi mengucapkan mantra seraya mengetuk. Ketika melewati kedua pohon tersebut anehnya keduanya seperti memasuki sebuah pintu ajaib, mirip pintu ke mana saja milik Doraemon. Dari pemandangan hutan dan candi, mereka kini memasuki kota kecil yang terdapat pasar di dalamnya. Di sisi kiri dan kanan, terlihat beberapa toko sederhana yang menjual berbagai macam bahan makanan, ada sayuran, buah, juga gerai yang menjual ayam serta daging. Arjuna dan Indri terus memasuki pasar semakin dalam. Sampai tibalah mereka di sebuah rumah minum sederhana. Dari luar keduanya sudah dapat mencium harumnya masakan, perut Indri kembali berbunyi.             Laki-laki yang semakin tampak tampan pagi itu, menatap dirinya prihatin. Ia pun segera mengajak dirinya untuk mampir ke dalam kedai. Akan tetapi, gadis itu menahan lengannya. “Tunggu, Mas Juna.” “Kenapa, bukannya kamu lapar?” tanyanya bingung.             “Iya, tapi aku gak bawa uang yang cukup untuk kita berdua.” Ia mengeluarkan dua lembar uang lima ribuan, sisa ongkos lusa kemarin dari rumah menuju kampus. Laki-laki itu tersenyum. “Tenang aja. Di sini, uang seperti itu tidak laku.” Arjuna pun kembali menarik gadis itu masuk.   Keduanya kini telah duduk di sebuah bale-bale bambu. Indri menatap sekitar dengan sungkan. Beberapa pasang mata memperhatikan dirinya, atau tepatnya pakaian yang dipakai gadis itu. “Ayo, silakan pesan saja makanan yang kamu mau,” ucap laki-laki itu seraya memanggil pelayan kedai. “Ini, Mas Juna, yang bayar, ‘kan?’ “Iya, tenang aja.” Gadis itu pun memesan makanan, begitu juga dengan Arjuna. “Boleh minta white coffe, Bu?” tanya gadis itu. Ia memang membutuhkan kafein untuk menangkan pikirannya. Si ibu jelas bingung. “Wet kofi? Opo iku, Nduk,” tanya wanita itu.             Arjuna langsung berbisik kepada gadis di sisinya. “Di sini tidak di jual minuman seperti itu, Ndri.”             Indri berbalik, sempat terkejut karena telinganya menyentuh bibir laki-laki itu. Sempat meremang bulu kuduknya. Namun, rasa lapar dan haus jelas mengalahkan malu. “Oya! Masa, sih? Bukannya minuman itu sudah umum, ya? Kalo gitu saya pesan teh anget aja, Bu.”   Setelah makanan  dan minuman yang tersedia, ludes. Rasa lelah pun menguap, gadis itu kini merasa seperti gawai yang telah dicas, lebih segar. Hanya satu kekurangannya, dia belum mandi. Dari balik tas kulitnya, Arjuna mengeluarkan sekeping uang perak. “Terima kasih, ya, Mas Juna. Udah nraktir aku. Entar kalo udah kembali ke kota, aku akan balik nraktir, deh.” “Kenapa harus kembali, Dri?” “Aku harus kembali, Mas Juna. Orang tuaku pasti sudah sangat khawatir. Oya, kira-kira berapa lama lagi kita akan sampai di rumahmu.”             “Sebentar lagi, dari sini sudah tidak terlalu jauh.”    Sekeluarnya dari kedai, Indri mengendus-endus ke arah baju yang sudah dipakai nya selama dua hari itu, ia sedikit merasa tak percaya diri. Memang gadis itu tak memiliki bau badan menyengat, hanya saja ... masa di depan cowok ganteng gue bau asem gini, malu-maluin aja, deh. “Kenapa malu?” tanya Arjuna. Membuat gadis itu yakin seribu persen, laki-laki itu dapat membaca pikiran. “Eh, enggak. Jangan dekat-dekat, ya, Mas Juna. Aku udah gak mandi dua hari, nih. Belum di tambah bolak-balik jatuh semalam, belum pernah aku seberantakan gini. Bikin gak pede.” Laki-laki itu mengangguk paham. Mereka pun kembali berjalan menyusuri pasar. Di beberapa gerai mereka melihat beberapa pedagang menjual kain batik yang sangat indah. Di gerai lainnya terdapat beberapa perhiasan dari batuan dengan emban emas dan perak dengan bentuk yang sangat unik. Indri pun sesekali melongok, mampir, dan melihat-lihat. Ia mengikuti nalurinya sebagai wanita yang suka belanja.              “Wah! Ini kain batik tulis, ya, Bu?” tanya gadis itu pada sebuah gerai paling besar. “Iya, nduk. Mau beli?” Sang penjual mulai memeperlihatkan koleksi lainnya. Indri menggeleng, ia teringat kalau tidak memiliki uang. “Maaf, hanya lihat-lihat dulu.” Arjuna pun maju dan menanyakan harga kain tersebut, lalu ia mengeluarkan kepingan emas kali ini. Selain itu ia juga membelikan tali pinggang, gelang, dan hiasan rambut. Selesai memborong, ia berbisik kepada si ibu penjual. Wanita itu pun tersenyum dan mengangguk. “Ayo mari, Nduk.” Ia mengajakku Indri untuk memasuki gerainya lagi. Tanpa persetujuannya, ia pun menarik tangan dan keduanya menghilang ke dalam gerai. Wanita itu mengajak Indri ke rumahnya yang berada di belakang gerai. “Kalo mau mandi silahkan, Nduk. Nanti kalo sudah selesai saya bantu pakaikan kain dan perhiasaanya,” ujarnya seraya membereskan semua barang belanjaan Arjuna. “Terima kasih, Bu. Jadi merepotkan.” “Ya, gak apa-apa. Habis sepertinya suamimu sangat sayang sama kamu.” “A-apa! Suami?”   = = = = = = = = = = = = =
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD