Indri dan Arjuna berjalan pelan menyusuri hutan. Pepohonan semakin rapat, tetapi aku tak melihat Arjuna kesulitan dalam melihat arah. Padahal mereka berjalan tanpa membawa senter, gadis itu saja berulang kali terantuk batu atau akar yang menonjol. Namun, berulang kali juga, ia dengan sigap menangkapk tubuhnya sebelum terjerembab. “Apa ia punya mata di belakang kepalanya?” bisik Indri kepada dirinya sendiri.
“Aku bisa merasakan gerakanmu Ndri. Itu sebabnya aku bisa menangkapmu tepat waktu,” ujar laki-laki itu tanpa menoleh. Gadis itu terkejut, merasa aneh sebab suara bisiknya dapat terdengar oleh laki-laki itu.
“Eh. Iya, Mas Juna. Denger, ya. Terima kasih, gak usah repot-repot. Saya bisa—” Belum selesai Indri berkata, batu lain kembali membuatnya limbung. Ia mengacungkan tangan meminta pertolongan. Akan tetapi, Arjuna membiarkannya terjatuh. Gadis itu bingung.
Bruk!
Indri terjatuh dengan sukses, Arjuna pun berjongkok di depannya yang tampak mengenaskan. Sebab jatuh dengan tidak estetik.
“Kamu gak apa-apa?” tanya laki-laki itu bersimpati.
“Katanya bisa ngerasain gerakanku, kok, gak ditolong, sih, Mas?!” protesku pada dirinya yang tersenyum seperti mengejeknya.
“Katanya tadi aku gak usah repot-repot membantumu, kamu bisa melakukan sendiri.” Senyumnya semakin lebar dengan seringai keisengan yang tak disangka bisa muncul di wajah tampannya. Perasaan tadi aku belum berkata seperti itu. Pikirku dalam hati, laki-laki itu seperti dapat membaca pikirannya.
“Ohh, jadi sengaja!?” sembur Indri menutupi rasa malunya. Sambil mengomel tanpa suara ia mencoba bangkit. Laki-laki itu mengulurkan tangannya. Indri merasa senang dan mencoba meraihnya. Namun, ia menampiknya.
“Kyaa!!! Kenapa, sih, Mas, ini!”
“Janji dulu,” ucapnya.
“Janji apa? Indri yang gagal berdiri akhirnya duduk bersila seraya memijit lututnya, ada rasa nyeri di sana.
“Janji kau tak akan pergi meninggalkanku,” ucapnya lagi dengan mata memandang dengan sorot serius.
“Dih, aku gak tau jalan, masa iya mau pergi sendiri. Tapi, kita sebenernya mau kemana, sih?” ujar Indri tanpa berpikir panjang. Dalam hutan selebat ini tak mungkin ia nekat berjalan sendirian. Tadi saja ia sudah tersesat, untung laki-laki itu menemukannya. Sungguhkah aku boleh merasa beruntung.
“Aku hendak mendatangi Ayahku di Lawu,” jelass laki-laki itu akhirnya.
“Hah! Gunug Lawu maksudnya? Itu, kan ....” Pandangan Indri menerawang, berpikir sendiri apakah tadi ia tidak salah dengar.
“Iya, Gunung Lawu,” jawabnya pendek.
“Tapi, kita, kan , sekarang di Semeru?” Gadis itu bingung, mencoba mengingat peta dan menghitung jarak kedua gunung tersebut. Bukankah jauh?
“Oh, ya? Apakah kamu yakin? Pagi nanti kita sudah akan sampai di sana. Sekarang sepertinya kita istirahat dulu di gua depan sana.” Laki-laki itu menunjuk ke arah gua yang tadi sepertinya tidak ada.
Masih dalam keadaan bingung, karena memikirkan jarak Gunung Lawu yang setahu gadis itu lokasinya ada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tepatnya di antara Kabupaten Magetan Jawa Timur, dan Karang Anyar Jawa Tengah. Ia laju kembali berpikir. Jadi, sebetulnya sudah berapa jauh aku berlari dan berjalan, rasanya tidak mungkin aku sudah sejauh itu, apalagi jarak antara Lawu dan Semeru sangatlah jauh. Kalau tidak salah sekitar 226km. Mungkinkah ini?
Sesampainya di dalam gua, Arjuna segera mencari kayu. Ia membuat perapian kecil. Sedang aku duduk sambil menatap gerak-geriknya, kembali berpikir, siapakah Arjuna? Seseorang yang memakai pakaian seperti orang zaman dulu. Apakah aku sudah terlempar ke dimensi lain?
Arjuna berusaha membuat suasana gua itu layak menjadi tempat istirahat bagi keduanya. Ia tersenyum-senyum menikmati mendengarkan pemikiran gadis yang tengah menatapnya penuh tanda tanya. Setelah selesai membuat api unggun kecil, udara kini menjadi lebih hangat. Derak api adalah satu-satunya suara di situ sekarang.
“Tak usah terlalu banyak dipikirkan,” ujarnya pada Indri yang masih termangu menatapnya penuh selidik.
Aneh, orang ini seperti dapat mengetahui pikiranku. Indri kembali berkata dalam hati. “Boleh aku bertanya, Mas?” akhirnya gadis itu tak tahan berpikir dalam diam, sebab tetap berdiam diri menurutnya tak akan memecahkan masalahnya saat ini.
“Tanyakan saja.”
“Siapakah dirimu? Mengapa Mas Juna bisa ada di tempat yang tepat, saat tidak ada orang lain di sana?” tanya Indri dengan menatap mata laki-laki itu.
Arjuna pun duduk bersila di sisi gadis itu. Ia menarik kakinya, dan mencoba membuka ritsleting celana lapangan yang ada di bagian lutut. Indri otomatis menariknya. Tak mau kalah, ia kembali menarik kakinya.
“Aku mau melihat lukamu.” Laki-laki itu balas menatapnya, meyakinkan Indri dengan matanya yang memabukkan. “Aku pria baik-baik, aku belum pernah dekat dengan perempuan kecuali dengan dirimu, jadi percayalah, aku tidak akan memperlakukan dirimu dengan tidak baik.”
Mendengar kata-katanya, Indri pun menyodorkan kakinya lalu mengangguk. “Pertanyaanku tadi, apakah memiliki jawaban?” tanya gadis itu lagi. Ia sungguh penasaran dengan sosok di depannya.
“Kalo aku cerita, apakah kau bisa mempercayainya?” tanya laki-laki itu.
“Banyak kejadian malam ini, yang sudah di luar nalar dan logikaku, Mas. Jika ingin menambahkan, sepertinya aku tidak punya sisa rasa terkejut lagi,” jawab gadis itu yakin. Ia menatap mata Indri, tatapan penuh pengertian, membuatku terlena akan kharismanya yang tak bisa dilihat pada laki-laki lain yang pernah gadis temui sebelumnya.
“Aku, pangeran dari Negeri Sukma Hilang, negeri kami terbentang dari Jawa Tengah hingga Pulau Bali. Pusat kota dan kerajaan kami berada di Gunung Lawu.”
Indri menarik napas panjang. Setengah yakin laki-laki di depannya kini mungkin sedang mencandainya. Sebab ia sedikit kesulitan mencerna penjelasannya.
“Pangeran? Oke. Itu menjelaskan pakaianmu yang jelas bukan berasal dari zaman modern. Lanjutkan.”
“Rakyat negeri kami, awalnya manusia normal. Namun, berawal dari permasalahan politik raja kami, yaitu Ayahku. Ia memutuskan untuk moksa dan menyembunyikan kerajaan beserta rakyat yang mau mengikutinya. Lalu dengan kekuatannya membuat kami semua menjadi makhluk tak kasat mata, abadi, tak menua maupun mati. Namun—”
“Apakah kalian semacam hantu atau jin?”
“Bukan, kami manusia yang bermutasi. Dimensi waktu dan jarak tak berarti bagi kami, hanya satu kekurangan. Kami tak dapat lagi beranak pinak atau memiliki keturunan, kecuali berhubungan dengan manusia normal.”
“Maksudmu aku akan dijadikan tumbal?”
“Bukan, bukan! Tolong jangan berasumsi terlalu jauh, Ndri.”
“Oke, oke. Baiklah lanjutkan.”
“Karena istri-istri ayahku tidak ikut moksa, mereka semua telah meninggal. Begitu pula anak-anak beliau yang lain. Lalu, ayahku mendapat wangsit untuk menikah dengan manusia, dan menjadikannya ratu di negeri kami dan aku adalah anaknya.”
“Lalu ....”
“Saat ini, aku sedang mencari manusia yang akan kujadikan calon ratu negeriku.”
“Apakah maksudmu orang itu, aku?”
“Ya.”
“Ahhh, tidak, tidak. Mas Juna bisa cari wanita lain, ‘kan? Aku gak cocok jadi ratu. Aku ini ceroboh, tomboi, tidak bisa menari, tutur kataku tidak ramah, dan sebagainya.”
“Bukan mauku memilihmu. Orang yang terpilihlah yang akan datang ke tanahku. Karena hanya titisan Demi Amarawati lah yang dapat dijadikan ratu, bukan sembarang orang.”
“Amarawati?”
“Ratu pertama raja Majapahit terakhir, ayahku. Kau adalah titisannya dan hanya titisannya yang dapat melihat kami, makhluk halus lain dan negeri kami.”
“Mas Juna suka bercanda.” Indri menatapnya tak percaya, jika yang dikatakan laki-laki itu bohong. Sungguh ia adalah pembohong yang pintar sejarah. Namun jika yang dikatakan semuanya benar ... gadis itu meringis, bingung memilih, antara percaya atau tidak.
= = = = = = = = = = = = = = = =