“GILANG! TIKA!” panggil Ragil dengan suara keras.
Akan tetapi, suasana begitu hening. Jangankan dapat melihat keberadaan teman-temannya, suara desau angin saja tak terdengar. Bahkan suara jangkrik, kodok, maupun nyamuk tak satu pun terdengar. Terlalu sunyi.
Ia tahu kini ia tersesat, Ragil tidak tahu ke mana arah Gilang dan Tika berlari tadi. Kini jalan yang ia tempuh melandai. Sempat beberapa kali dirinya terpeleset jalan yang licin sehabis hujan.
Pohon-pohon berbatang besar semakin rapat saja, dan di bawah salah satu pohon ia melihat sosok perempuan berdiri, wajahnya sangat ia kenali.
“Sinta? Ngapain dia sendirian di sini.” Ragil berkata lirih pada diri sendiri. Ia berjalan mendekati perempuan itu, wajahnya memang Sinta, tetapi ia memakai kebaya berwarna kuning. Ini Aneh.
“Sinta?” panggil Ragil lagi setelah jarak mereka hanya tinggal satu meter saja.
“Mas. Lama sekali, sih, aku sudah menunggu dari tadi,” ucap gadis itu dengan nada manja menggoda.
Sinta tak seperti ini. Pikir Ragil sedikit terheran. Semakin dirinya mendekat harum bunga sedap malam membuat benaknya jauh dari akal sehat.
“Nunggu? Loh, tadi bukannya lo jalan sama Mas Tanto buat turun ke Rakum?” tanya laki-laki itu lagi, ia masih tak dapat menyembunyikan keheranannya. Ditambah terlalu bingung dengan gaya bicara Sinta yang terlalu formal. Apalagi pakaiannya, perempuan itu tampak seperti orang asing di mata Ragil.
“Ta, lo pake baju siapa? Gaya lo kayak putri zaman Majapahit aja, sih?”
Sinta tak menggubris pertanyaannya. “Ayo Mas, kita pergi,” ajak gadis itu lagi.
“Biasanya lo panggil gue Kakak, kok, sekarang jadi, Mas?” Jantung pria itu berdenyut saat gadis itu menggandeng lengannya dan menyentuh sesuatu yang kenyal.
Sinta tersenyum genit. Masih tak memedulikan pertanyaannya. “Ayo ikut aja, Mas.”
“Kemana?” tanya laki-laki itu sedikit curiga, alarm tanda bahaya seperti berdering di kepalanya. Namun perempuan itu begitu menggoda. Dengan memakai kebaya tubuh sintalnya terekspos sempurna.
Sinta menyentuh lengannya dan bergelayut manja di sana, Ragil merasakan empuknya sesuatu yang menempel di kulit lenagannya. Belum lagi bibir perempuan itu terus menerus tersenyum terbersit dalam hati ingin menciumnya, tetapi Ragil merasakan keanehan dalam tatapannya ... ada yang salah dengan mata itu. Namun, entah apa.
Semakin lama ia menatap mata bulat itu, semakin membuatnya terkesima. Seperti tersihir, laki-laki itu pun meraih jemarinya yang terulur, lalu menggengamnya erat, terasa hangat di cuaca dingin yang menusuk ini. Mereka berjalan beriringan jauh menuju kepekatan hutan.
***
“Mas, kok, tau namaku?” tanya Indri heran. Ia dan sang pangeran masih terdiam di sisi tebing.
Laki-laki itu pun tersenyum. “Aku mendengar mereka memanggilmu begitu,” jawabnya.
“Oh. Rupanya dari tadi, Mas, ini. Sudah ada di dekat kami, ya?”
Ia pun kembali tersenyum penuh misteri.
“Namanya siapa, Mas? Sekalian kenalan, masa Mas aja yang sudah tahu namaku.”
“Arjuna. Arjuna Birawa,” jawab laki-laki itu berwibawa.
“Arjuna, kenapa rasanya nama ini begitu familiar, ya? Oke, kalo gitu aku panggil, Mas Juna, ya?” Gadis itu pun melengos pergi setelah berkata. Arjuna pun bingung dengan panggilan yang dirasa aneh itu.
“Eh. Juna? Arjuna bukan Juna, Dri,” protes laki-laki itu segera. Ia merasa panggilan tersebut terkesan terlalu imut.
“Sama aja kali, Mas. Biar gak kepanjangan manggilnya, daripada aku panggil Mas Juju, pilih mana?” ucap Indri cuek, ia berbalik dan berjalan. “Jadi kita mau ke ma—“
Tiba-tiba, Arjuna menarik lengannya. Mereka kini saling berhadapan. Jarak wajah keduanya kembali berdekatan. Jantung gadis itu serta merta berdegup sangat kencang. Mungkin jika ia membuka mulut saat itu, maka suara detakannya akan terdengar oleh laki-laki itu. Indri mencoba mendorong tubuhnya menjauh, tetapi dekapannya semakin kuat. Gadis itu sedikit takut. Apakah dia marah gara-gara dipanggil Juna? tanya gadis itu dalam hati.
Laki-laki itu seperti dapat memahami isi hatinya, ia berkata lembut, “Kamu ini, mau masuk jurang lagi, ya?”
Indri menengok ke belakang, sekali lagi melihat ke dalam jurang. Kabut membuat dirinya tak abai pada sekitar. Gadis itu memejamkan mata dan menelan ludah. Lalu menggeleng seraya berkata.
“Bawa aku keluar dari sini, Mas Juna.”
Laki-laki itu tersenyum, hatinya bahagia akhirnya mendapat izin dari gadis yang akan menjadi pengantinnya itu. Sebab syarat ia dapat memasuki negerinya, adalah ia mau ikut atas kemauannya sendiri. Tanpa paksaan sehingga tak akan ada penyesalan.
Dari kejauhan, Sabdo Palon tersenyum senang. “Pergilah ke negeri itu wahai gadis yang terpilih, bukakan pintu negeri itu untukku,” ujarnya dengan bangga. “Berterima kasihlah denganku nanti Arjuna, tanpa bantuanku kau akan melewatkan malam ini tanpa bertemu dengannya.”
Manusia kerdil berikat kepala yang tengah berada di sisi laki-laki itu terdiam dan memandangnya. Baru kali ini ia melihat junjungannya tersenyum.
Tak lama, manusia kerdil lain yang berambut sebahu mendatangi keduanya. “Tuan,” panggilnya setelah dirinya sudah cukup dekat.
“Ada apa?” Sabdo Palon memandang bawahannya.
“Peliharaan kita telah kenyang, dan Putri Jene telah membawa salah satu pria teman sang gadis terpilih. Dua lainnya sepertinya tak akan selamat karena faktor alam yang mendukung.”
“Hmm, bagus. Berapa sisanya? Aku rasa tak akan ada lagi yang akan mengganggu rencanaku ssetelah Arjuna bertemu gadisnya.”
“Ada dua orang yang selamat dan sudah turun ke Ranu Kumbolo untuk mencari pertolongan, kami mengabaikan mereka sebab Dewa Jaga tiba-tiba muncul dan mengaburkan pandangan kami. Sedang yang satu lagi ....” Sang manusia kerdil ragu-ragu, sebab kabar terakhir ini mungkin berdampak buruk bagi rencana tuannya.
“Kenapa yang satu lagi?” tanyanya penasaran.
“Laki-laki yang tampaknya sangat dekat dengan sang gadis itu ditangkap prajurit. Mereka membawanya ke negeri itu melalui pintu gerbang Ranu Tompe. Hamba sedikit khawatir jika keduanya kembali bertemu maka pintu gerbang menuju Kerajaan Negeri Sukma Hilang tidak akan terbuka.”
“Belum tentu. Aku rasa ditangkapnya laki-laki itu akan memberi keuntungan bagi kita suatu hari nanti. Sekarang kita biarkan cinta yang akan bersemi di hati kedua sejoli yang baru saja bertemu itu. Ikuti mereka, tapi berhati-hatilah jangan sampai Arjuna menyadari keberadaan kalian.”
“Baik, Tuanku.”
= = = = = = = = = = = = = = = =