Indri menatap sekeliling, ia dan sang pangeran masih berada di hutan cemara. Hanya saja gadis itu sungguh tak tahu tepatnya sedang berada dibelahan mana. Pelariannya demi menghindari kejaran para manusia kerdil membuatnya lari tak tentu arah.
Ia baru menyadari, nyawanya baru saja terselamatkan oleh seorang pangeran dari negeri antah berantah. Masih dalam kondisi terduduk lemah, dengan napas kasar dan tak beraturan yang keluar dari mulutnya. Gadis itu memandang tebing curam yang berjarak satu meter di sebelah kanannya.
Tempat terindah yang hampir saja menjadi kuburannya. Sebuah tebing yang memperlihatkan panorama keindahan malam Gunung Semeru terbentang. Sinar rembulan berusaha membiaskan cahaya di antara lebatnya pepohonan. Ia pikir warna keperakan yang mirip abu-abu itu ambigu tak akan sedap dipandang. Nyatanya tidak.
Malam itu pesona Semeru terasa berbeda, langit dan hutan terasa bersinergi memamerkan nuansa yang tak dapat gadis itu ungkapkan dengan kata-kata. Terutama kehadiran laki-laki di sisinya yang seperti mimpi. Ia kembali menatap orang yang telah menyelamatkannya itu. Termangu melihat penampilannya yang tak biasa.
Laki-laki itu memakai sepatunya, oh tidak ... sepertinya itu adalah sandal, bukan jenis sandal yang biasa dipakai para travelers, tetapi lebih menyerupai alas kaki yang digunakan orang-orang di zaman dahulu. Ia memakai Baju Pesa’an adat Jawa Timur, dengan celana, dan baju hitam, serta Odheng sebagai pengikat kepala. Membuat Indri berpikir keras, apakah dia penduduk di sekitar sini?
Untuk ukuran orang kampung, dirinya terlalu tampan. Iris matanya berwarna cokelat terang, tampak teduh dan menghanyutkan. Garis hidung yang tinggi, berpadu serasi dengan bentuk bibir sempurna. Tampan, sangat tampan.
Belum lagi, di cuaca sedingin ini. Laki-laki itu justru mempertontonkan sisi tubuhnya yang ‘kotak-kotak’. Kulit cokelatnya tampak berkilat sebab sisa air hujan ditambah keringat yang membanjiri wajah dan tubuhnya, berkilauan terkena sinar bulan purnama. Wajah dan tubuhnya mulus sempurna bak marmer. Seperti bukan manusia, tak bercela bak patung yang diukir Sang Maha Kuasa tanpa codet sedikit pun. Luar biasa tampan, mengalahkan ketampanan Bintang Hollywood.
Entah sudah berapa kali kata sempurna dan tampan berulang kali di sebut dalam pikiran gadis itu. Namun, tak habis-habis menggambarkan diri laki-laki-laki di hadapannya. Perpaduan kesempurnaan tubuh dan wajahnya sungguh luar biasa, hampir tak bisa terkatakan oleh kata-kata.
“Subhanallah ….”sebut Indri akhirnya.
Laki-laki itu tersenyum menatapnya. Ia juga sedang menilainya dari ujung kaki hingga pucuk rambutnya yang mencuat di sana-sini. Kepangan gadis itu sudah terlepas sebelah, entah di mana kini karet rambutnya terjatuh. Dahi, pelipis, pipi, dan hidung Indri belepotan tanah liat, keringat, dan air mata. Wajah manisnya masih tampak dengan bibir yang hampir pucat kelelahan. Hanya saja kondisi terlalu mengenaskan, apalagi sepatunya kini telah hilang sebelah.
Ada rasa penasaran dalam diri Indri, sebab semakin ia menatap laki-laki dihadapannya, semakin ia merasa seperti mengenal dirinya, hal ini seperti deja vu atau mimpi yang tengah jadi nyata. Sosok itu membiarkan gadis itu menelanjangi wajah dan tubuhnya. Selagi ia pun menatap perempuan itu dengan rasa penasaran yang sama.
Ini gadis titisan Dewi Amarawati? Sungguh di luar dugaan. Pikir Arjuna dalam hati. Ia berulang kali memutar otak bagaimana caranya bertemu dengan cara yang normal. Anehnya, Sang Maha Kuasa mempertemukan mereka dengan cara yang jauh dari kata romantis, bahkan hampir menjelang kehilangan nyawa bagi gadis itu. Apalagi jika mengingat ketika perempuan ini yang akan menjadi pendamping sekaligus ibu dari anaknya kelak.
Merasa sedang diperhatikan Indri memberanikan diri menatap matanya. Ia yang sedari tadi telah terpesona pada mata dan senyumnya, berusaha menenangkan hatinya yang kini seperti mentega terkena panas, meleleh.
“Capek?” tanyanya laki-laki itu, bahkan suaranya pun mirip dengan pangeran dalam mimpinya.
Nyatakah ini? Tanya Indri dalam hati.
“Eh, iya, Mas. Terima kasih, ya. Udah nyelamatin saya, kalo gak ada Mas-nya, tadi aku pasti udah ...,” jawab Indri seraya menelan ludah, lidahnya kelu saat memikirkan kata mati.
“Ya, makanya. Sejak tadi aku mau memperingatkanmu supaya tidak melewati jalan ini, malah kamu lari terus,” jelasnya.
Indri kembali teringat kejadian beberapa waktu sebelumnya, ia tersenyum malu karena telah salah sangka. “Maaf, Mas. Tadi saya pikir Anda hantu atau semacamnya, gitu.”
“Kenapa jalan sendirian ke sini, mana teman-teman yang lain?” tanyanya lagi.
“Saya tadi terpisah dari mereka, Mas. Soalnya tadi gak memperhatikan arah lari ke mana. Tapi, ... Mas, kok, tau aku bersama teman-teman.” Gadis itu merasa ada yang aneh, sepertinya laki-laki ini telah mengenalnya. Mungkinkah?
Arjuna hanya tersenyum. Ia memahami pemikiran gadis itu, tetapi ia tak mau mengungkapkan semuanya sekarang.
“Ehm, Mas. Bisa minta tolong antar saya kembali ke basecamp?” pinta Indri, ia berharap teman-temannya kini berkumpul di dalam tenda menunggu dirinya.
“Aku tidak bisa mengantar kamu sekarang, aku harus berkunjung ke beberapa tempat terlebih dahulu.”
“Aduh bagaimana, ya? Saya harus kembali bersama mereka, tapi terlalu takut buat jalan sendirian, mana mulai berkabut lagi. Kalo nyasar gimana?”
“Kalau kamu mau, ikut aku saja. Mungkin, selama dalam perjalanan kita bisa bertemu dengan teman-temanmu.”
“Gitu, ya. Oke, deh. Daripada jalan sendirian. Btw, emang Mas-nya mau ke mana?”
Arjuna tidak menjawab, ia malah mengulurkan tangannya. “Kalau begitu, ikutlah denganku, Indri.”
***
Di tempat lain. Zaki masih berjalan di tengah hutan. Mencoba mencari jejak kawan-kawannya yang menghilang. Setelah beberapa waktu terus berjalan, sampailah ia di persimpangan. Matanya menemukan jejak langkah kaki di sebelah kanan dan semak yang tersibak kasar. Jelas sepertinya ada seseorang atau sesuatu yang menabraknya. Dengan nekat ia mencoba menelusuri jalur tersebut, mengabaikan plang yang memperingati pendaki agar tidak memasuki area tersebut.
Semakin lama berjalan, pepohonan semakin rapat, saking lebatnya sinar purnama tak dapat menembusnya. Suasana begitu gelap, hanya sinar senter kecil yang tersisa.
Krosak! Zaki tak sengaja menginjak ranting pohon yang banyak terdapat di sana.
“Siapa itu?” tanya sebuah suara.
“Indri? Gilang? Tika? Ragil.” Zaki menyebutkan nama-nama itu. Berharap suara itu adalah salah satu atau pernah melihat mereka.
“Siapa kau?” tanya suara lain yang kini sosoknya tepat berada di depannya.
Zaki menjatuhkan senternya karena terkejut, sebab orang yang menegurnya menggunakan kuda. Akan tetapi, derap kedatangannya tak terdengar sama sekali. Tiba-tiba saja laki-laki itu sudah ada di sana.
“Maaf. Saya mencari kawan-kawan saya, apa ... Mas, melihat mere—” kata-kata Zaki terhenti. Laki-laki itu bersiul dan lagi-lagi dengan tanpa suara beberapa rekannya datang, mereka mengelilingi Zaki.
“Bawa dia!” perintah laki-laki itu. Setelah kemudian pria berkuda itu berbalik, mengabaikan. Rekan-rekannya semakin mendekat, mengacungkan senjata seperti tombak dan parang, lalu mencoba memitingnya.
“Tunggu, saya lagi cari teman-teman saya. Kenapa diperlakukan begini? Siapa kalian?” tanya Zaki bingung.
“Kau telah melanggar batas, lebih baik ikut saja.”
“Batas? Ah, maaf. Saya tadi lihat plang-nya, tapi teman-teman saya sepertinya ke arah sini, mungkin Anda sekalian ada yang pernah melihat mereka?”
“Ayo! Jalan!” Mereka tak ada yang memedulikan kata-kata Zaki. Dengan tangan terikat, ia digiring menuju suatu tempat.
Saat berjalan menuju tempat yang di tuju, Zaki memperhatikan bayangan bulan yang terpantul keperakan di atas danau.
“Danau? Ini Ranu Kumbolo?” tanyanya pada pria di dekatnya.
“Bukan, kau berada di Ranu Tompe.”
“Ranu Tompe!?” Zaki terkejut bukan kepalang, ia tak menyangka seberuntung itu menemukan danau perawan Gunung Semeru. Ia mau tak mau mengikuti langkah orang-orang yang mirip prajurit zaman Majapahit itu. Sembari bertanya-tanya dalam hati,
Ke mana mereka akan membawaku?
= = = = = = = = = = = = = =