Harum aroma Nasi goreng membuat perhatian Anye teralihkan secara otomatis. Dia menoleh ke arah Renata yang tersenyum lebar membawa dua piring nasi goreng dengan gaya ala-ala chef handal.
"Taraaaaa.. Nasi Goreng special buat temen baru gue yang cantik," ujarnya dengan suara yang tidak bisa dibilang pelan.
Anye hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Lalu menerima salah satu piring dan berucap terimakasih. Pandangannya sekilas menatap ke arah pohon di seberang, mencari tahu apakah lelaki itu masih di sana atau tidak.
Dan ternyata masih. Walaupun agak tidak terlihat karena tertutup dedaunan, tapi sepatu lelaki itu yang menggantung jelas terlihat.
Anye menoleh ke arah Renata yang sudah sibuk melahap nasi gorengnya. Menimbang-nimbang haruskah dia bertanya atau tidak. Sekali lagi dia menoleh ke arah lelaki itu lalu kembali kepada Renata.
"Re.." panggilnya.
Renata hanya menggumam sebagai jawaban.
"Januari...kok ada di atas pohon?" tanya Anye pada akhirnya.
Renata menoleh dengan dahi mengernyit, lalu pandangannya di larikan ke arah pohon di seberang.
"Oh.." katanya, lalu menyuap sesendok nasi lagi ke dalam mulutnya.
"Udah biasa dia," lanjutnya setelah menelan nasi goreng di mulutnya.
Anye terdiam, merasa bahwa Renata belum selesai berbicara.
"Dia kalau jam istirahat, kalau engga nge-dekem di dalam kelas, ya nangkring di atas pohon gitu. Biasanya sih, baca buku dia di sana," jelas Renata sesuai dugaan Anye.
Kini, giliran Anye yang mengernyit. Lalu kembali menoleh ke arah pohon. Tanpa bertanya apapun lagi, dia mulai menyendok nasi gorengnya yang sudah hangat ke dalam mulut sambil sesekali menoleh ke arah pohon tempat Januari membaca buku--kata Renata.
Sejujurnya, Anye bukanlah sosok yang akan peduli dengan urusan orang lain. Tapi entah kenapa, sikap Aneh Januari begitu mengusiknya. Membuatnya ingin tahu seperti apa lelaki itu. Apakah keadaannya yang seorang anak pemulung membuatnya 'memisahkan' diri dari anak-anak yang lain?
Atau memang dia sering mendapat banyak bully-an sehingga dia menjadi sendiri dan tidak punya teman?
Kembali Anye menoleh ke arah Renata yang saat ini sedang menyesap es teh manisnya. Sebelum bertanya, Anye menyuapkan nasi goreng terakhirnya dan meminum teh hangat di hadapannya.
"Re.." panggilnya.
Kali ini Renata langsung menoleh, "Kenapa?"
Anye terdiam sebentar, lalu menoleh ke arah pohon dan kembali menghadap Renata.
"Itu..Januari pernah di bully gitu engga sih?" tanyanya hati-hati.
Renata tidak langsung menjawab, dia justru menyipitkan mata dengan senyum menggoda ke arah Anye.
"Kok dari tadi nanya-nanya Ari mulu sih? Naksir ya lo?" tebaknya sambil tersenyum geli.
"Ih engga kok," elak Anye cepat.
"Aku penasaran aja sih, dia kayak yang aneh unik gitu," lanjutnya.
Renata berdehem lalu menegakan tubuhnya, "Setau gue sih, engga ada yang berani sampe nge-bully Ari. Dulu waktu kelas satu sih pernah deh ada yang bully dia, Kakak kelas kalau engga salah. Tapi kabarnya dia ngelawan dan malah Kakak kelasnya yang kalah sama dia. Semenjak itu, anak-anak cuma berani ngomongin dia di belakang doang."
Anye terdiam. Ternyata, Januari memang tidak akan selemah dirinya yang hanya bisa diam saja saat dipojokkan oleh orang lain. Entahlah, mungkin karena perbedaan gender jadi Januari bisa melawan tapi tidak dengannya. Atau itu hanya sebagai pembenaran bagi diri Anye sendiri karena merasa dirinya tidak akan bisa melawan perlakuan buruk orang lain?
Anye menoleh lagi ke arah pohon, tapi ternyata Januari sudah tidak ada di sana. Padahal beberapa saat yang lalu pria itu masih terlihat ujung sepatunya, kini sudah tidak terlihat lagi disana, cepat juga.
Tidak lama setelahnya, terdengar bunyi bel masuk yang membuat Anye tahu kenapa Januari tiba-tiba hilang dari pohon. Sudah saatnya kembali ke kelas ternyata.
||•••||
"Jadi, bisa kita pastikan minggu depan prakarya sudah bisa di kumpulkan?" tanya Bu Sabda, guru seni.
Koor setuju dari para murid menjawab pertanyaannya. Lalu semua murid mulai sibuk mengemas barang bawaan mereka karena bel pulang sekolah sudah terdengar 5 menit yang lalu.
Anye menatap layar ponselnya, ada pesan yang mengatakan bahwa Vitta tidak bisa menjemputnya karena ada tugas kampus. Hal itu membuat Anye tanpa sadar menghela nafasnya cukup keras, ini hari pertama dan dia belum berani pulang sendiri. Selama ini dia selalu diantar jemput sopir, tapi karena dia tidak mau terlalu mencolok di sekolah barunya maka dia meminta Papanya untuk membiarkan dia di antar jemput Vitta. Tentu saja tidak setiap hari, contohnya hari ini dia harus bisa pulang sendiri dengan taksi atau kendaraan umum. Atau jalan kaki? Baru hari pertama tapi Vitta sudah mangkir dari tugasnya.
Ide nekad untuk jalan kaki itu tiba-tiba muncul di kepala cantik Anye. Karena menurutnya dia hanya perlu melewati jalan samping sekolah untuk bisa tembus ke arah komplek perumahannya, praktis dan mungkin tidak akan menghabiskan terlalu banyak waktu.
"Dijemput, Nye?" tanya Renata yang sudah memakai tas selempangnya.
Anye terdiam sebentar lalu tersenyum, "Engga, pulang naik..bus?" jawabnya agak ragu. Jelas dia berbohong karena dia sudah membulatkan tekad untuk jalan kaki saja.
"Serius naik Bus? Mau bareng gue aja engga?" tawar Renata.
Dengan cepat Anye menggeleng dan tersenyum. Menolak dengan halus ajakan dari Renata.
Renata mengerti lalu pamit untuk pulang lebih dulu. Sedangkan Anye memasukan kotak pensil lalu mengenakan tas ranselnya dan berniat keluar saat ada seseorang yang mendahului langkahnya.
Anye sempat terperanjat tapi kemudian menghela nafas lega saat dilihatnya orang yang mendahuluinya tadi adalah Januari. Ternyata Januari juga selalu jadi orang terakhir yang keluar dari kelas, sama seperti dirinya di sekolah dulu. Anye mengangkat bahu acuh lalu berjalan keluar kelas. Di sepanjang koridor masih terlihat ramai karena banyak anak yang berebutan untuk pulang atau yang masih duduk-duduk di pinggir lapangan.
Anye mengedarkan pandangannya, mencari Januari yang dia yakini langkahnya tak jauh darinya tadi. Tapi sekarang Anye sudah tidak melihat keberadaan lelaki itu. Dia bisa ngilang kali ya, pikir Anye ngaco. Pasalnya tadi juga saat di atas pohon Januari bisa dengan cepat menghilang.
Tanpa mau ambil pusing, Anye melanjutkan langkahnya ke arah gerbang masuk. Ada beberapa siswa-siswi yang mungkin menunggu jemputan atau ojek online. Anye berbelok ke arah jalanan sempit yang ada di samping pagar sekolah, jalan itu yang akan menghubungkan ke arah jalanan dekat komplek rumah Anye. Dia pernah melewatinya bersama Vitta kemarin saat survei sekolah.
Jalanan tampak sepi walaupun hari masih terik di jam setengah tiga ini. Anye tidak berniat melirik kemanapun, yang dia mau hanya cepat keluar dari gang kecil ini dan sampai di jalanan raya. Tapi niatnya tidak berjalan mulus saat mata Anye tidak sengaja menangkap pemandangan beberapa anak lelaki yang mengenakan seragam mirip dengan seragamnya sedang bergerombol dan sebagian memegang rokok di tangannya.
Anye mendadak merasa sesak, dia mempunyai firasat yang buruk tentang orang-orang itu. Dengan langkah yang di buat dua kali lipat lebih cepat, Anye berjalan dengan kepala menunduk. Berharap bisa dengan mulus melewati gerombolan di hadapannya itu.
Sayangnya, seseorang dengan lancang menahan lengannya yang membuat Anye refleks menangkis kasar siapapun yang lancang menyentuhnya. Dan yang tidak Anye duga adalah apa yang dia dapatkan setelahnya. Karena seorang lain langsung mendorongnya begitu saja hingga terduduk di aspal dan membuat pantatnya terserang nyeri.
Anye mengaduh. Telapak tangannya lecet dan sedikit mengeluarkan darah. Belum sempat dia bangun, seseorang menahan kepalanya dengan kasar hingga Anye kesulitan sekedar untuk mendongak.
"Lancang banget lo nampik tangan gue!" hardik orang yang sedang menekan kepalanya.
"Anak baru kayaknya, Ki. Tadi pagi gue sempet liat dia di ruang kepsek," kata anak lain yang entah Anye tidak tahu siapa.
"Lepas. Sakit," keluh Anye sambil berusaha menyingkirkan tangan yang ada di atas kepalanya.
"Mau gue lepasin? Serahin dulu semua duit yang lo punya," Kata Oki, yang tadi menekan kepalanya.
"Aku engga punya uang," jawab Anye sedikit bergetar. Dia masih merasa ketakutan dengan perlakuan semacam ini, membuatnya teringat buli an dari teman-temannya dulu.
"Bokis banget lo! Tampang kayak lo tuh tampang orang tajir. Siniin duit lo, baru gue lepas," sergahnya memaksa.
Anye sudah ingin menangis rasanya. Perih di tangannya dan juga pusing di kepalanya membuatnya sangat ingin menangis. Dengan gemetar Anye merogoh saku seragamnya dan mengambil uang yang tersisa di sana lalu memberikan ke arah lelaki yang masih menekan kepalanya.
"Cuma ceban? Lo becanda sama gue?" tanyanya murka, lalu semakin menekan kepala Anye hingga Anye menjerit tertahan menahan sakit dan pusing yang terasa bersamaan.
"Geledah tas nya!" perintah Oki kepada teman-temannya yang lain.
Teman-temannya menurut dan melangkah ke arah Anye jatuh. tapi belum sempat berhasil mengambil tas sesuai perintah Oki, mereka dikaget kan dengan tubuh Oki yang terdorong ke belakang dan terjatuh.
Lalu mereka melihat seseorang yang sangat mereka kenal sudah menarik tubuh Anye hingga berdiri dan menyembunyikannya di belakang tubuh.
"Ari.." gumam salah satunya dengan wajah memucat.
Lalu tanpa di perintah mereka mundur dan menarik Oki yang masih terduduk menjauhi tempat itu.
Anye sedikit terkesiap saat tadi ada yang menarik tubuhnya tiba-tiba. Sempat bingung kenapa tubuh Oki melayang dan terjatuh, tapi begitu dia mendongakkan kepala dia tahu bahwa Januari tadi menendang Oki hingga terpental.
Ya, Januari. Lelaki itu tiba-tiba datang dan langsung menendang Oki lalu menarik Anye ke belakang tubuhnya dengan gestur melindungi. Dan sekarang saat anak-anak itu kabur entah kemana, Januari berbalik ke arah Anye dan menatap gadis itu dalam diam.
"Ja-Januari.." panggil Anye tergagap.
Januari tidak menjawab, dia hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Terimakasih," cicit Anye.
Dan tanpa menjawab, Januari berlalu begitu saja setelah mengucapkan satu kalimat.
"Jangan pulang lewat sini."
|||••••|||