Candy menunggu hampir sejam lamanya di sofa. Dia sengaja mengeraskan volume televisinya hanya untuk meredam suara gila Kei. Meskipun demikian, dia masih sebal membayangkan mereka berdua seranjang.
Kei baru keluar kamar setelah mandi. Dia bertelanjang d**a dan hanya melingkarkan selembar handuk di pinggangnya. Dia menghampiri Candy sambil menyindir, "Buat apa pulang kemari?"
Candy menoleh ke arahnya, "Maksudnya apa ya Kei? Ini apartemen kita."
"Milikku, bukan kau, Apartemenmi ada di tempat lain, bukan disini, ini milikku, paham?"
"Kok sinis begitu?" Candy berdiri dan menuding kamar mereka, "harusnya aku yang kesel, kamar itu dimasuki perempuan lain. Kau ke hotel saja kalau sama perempuam lain! Itu kan peraturan kita?"
"Sudaj sana pergi, aku usir, sekarang ini apartemenku dan tunanganku."
"Hah? tunangan apa? bercanda, ya? sejak kapan tunangan? Pacar saja tidak punya? Kenapa tiba-tiba gini? marah ya? Karena masalah dosen itu? Kei yang benar saja? Cepat bilang kalau ini cuma bercanda!"
"Kenapa? Bukannya kau selalu mengejekku tidak punya pasangan? Sekarang aku punya—kenapa marah? Cemburu?"
"Aku tidak marah! kau yang marah!" bentak Candy yang jelas marah. Dia cemburu, tapi tak bisa mengutarakannya. Ini terlalu cepat, lagipula segala ejekannya pada Kei hanya sebatas karena menggoda belaka. Dadanya semakin sakit karena pandangan Kei seperti menganggapnya hanya w************n.
Kei masih marah dengan perbuatan Candy dengan dosennya. "Lanjutkan saja sama dosen itu—pulang sana ke apartemenmu atau ke rumah pria tua bangka itu. silakan seneng-seneng, aku juga bisa."
"Dia bukan tua bangka!"
"Ya, jangan marah, Sayang," sindir Kei semakin tersulut emosi, "dia sudah tua, kau jalan dengan pria tua. pantas saja kau selalu digoda, karena memang murahan."
Perdebatan mereka terhenti sesaat karena Bianca keluar kamar dengan hanya memakai handuk piyama. Dia bertanya dengan suara manja, "Kei, kita nanti kencan nanti'kan?"
"Iya, Bi."
"Pagi, Candy!" sambut Bianca sambil mendekatkan tubuhnya kepada Kei. Dekat sekali sampai melingkarkan tangan ke tangannya seolah-olah sedang pamer kemesraan.
"Siapa?" Candy merasa risih karena wanita itu sok kenal terhadapnya. Dia yakin tidak pernah melihatnya bersama Kei sekalipun.
"Tunangannya."
Candy melirik Kei. "Kei, sebenarnya sejak kapan kau tunangan?"
"Sana pergi karena aku sudah tidak butuh kau lagi," ucap Kei terdengar kasar, "main terus sama dosen—Tidak usah kenal aku lagi."
"Kan, gara-gara itu, cemburu ya?"
"Tidak, aku hanya tidak sudi tidur dengan wanita yang di bagi-bagi. Jijik."
"Jijik? Jadi aku tidak boleh jijik denganmu yang tidur dengan wanita p*****r itu, hah?" bentak Candy menuding wajah Bianca. Dia murka karena dibandingkan dengan wanita yang jauh lebih genit darinya.
Bianca tersinggung, dia langsung mendorong tubuh Candy dengan kasar seraya membalas bentakannya, "Enak saja ucapanmu, kau itu yang p*****r! aku tunangan Kei."
"Tunangan apa? Kei sama aku terus!"
"Ya, iyalah sama kau, kau itu kan gulingnya. Gara-gara dirimu, Kei ini memilih ke kota besar ini, tidak mau pulang terus memutuskan rencana pertunangan kita."
"Hah ..." Candy baru tahu itu.
"Intinya ya, kau itu seperti perebut calon suami orang."
"Jangan asal bicara!"
"Memang iya, sadar diri, kau w************n suka main pria sana-sini, akhirnya Kei sadar 'kan kau itu seperti apa? Jadi mending jauh-jauh sana, aku tidak mau calon suamiku ketularan penyakit."
"Kau!" Candy tahu kalau selama ini suka menggoda bnayak laki-laki, tapi bukan berarti dia tidur dengan mereka semuanya.
Dia hanya ingin membuat mempermainkan mereka. Semakin banyak lelaki hidung belang, maka semakin banyak yang dia tolak. Dia hanya suka menggoda yang polos dan tak tertarik padanya. Di matanya semua pria itu sama saja, ujung-ujungnya memintanya tidur berdua—tapi memang itulah yang dia harapkan, membuka kedok busuk mereka. Setiap berhasil membuat laki-laki polos menunjukkan jati dirinya, ada rasa kepuasan tersendiri.
Akan tetapi kei berbeda, dia yakin itu—dan sekarang wanita yang ada di sampingnya sangat ingin dia gampar. Dia mendekati wanita itu, berniat untuk menampar mulutnya, namun tangannya disambar oleh Kei.
"Jangan coba-coba menyentuh tunanganku," ucap Kei menghempaskan tangan itu.
Bianca menahan tawa dan bangga atas perlakuan Kei. "Kei Sayang."
"Kei?" Candy tak percaya seorang Kei yang biasanya sangat usil dan suka bercanda bersikap kasar padanya. Dia membelai pergelangan tangannya yang baru saja diremas. "Ini apa-apaan, sih?"
"Aku jijik denganmu."
"Terus yang boleh jijik hanya laki-laki? Kei, aku dulu sudah bilang kalau benci—"
Kei memandang rendah Candy saat memotong ucapannya, "Kau itu ya, sudah numpang, tidak tau diri. kau itu sudah seperti pembuangan— wanita tidak punya harga diri sama sekali! Keluar masuk hotel."
"Kapan—" ucapan Candy terhenti karena sadar dua orang di depannya sudah memberikan pandangan hina padanya dari tadi. Dia sangat ingin mencakar wajah mereka, tapi rasa sakit hatinya membuatnya langsung bergegas pergi.
"Iya. wanita tidak tahu diri ini pergi," lanjutnya kemudian. Nada suaranya sedikit bergetar karena dia sudah ingin menangis.
Bianca malah tertawa sambil mengelus d**a Kei. Ia puas sekali akhirnya penghalang hubungan mereka akhirnya pergi. Dahulu memang Candy-lah yang membuat Kei malas untuk pulang ke rumahnya dan memilih bekerja sendiri di kota besar. Namun, akhirnya dia bisa mendapatkan Kei kembali, dan menunggu waktu bagi mereka untuk melanjutkan hubungan kembali.
"Kei, tidak kusangka ternyata kau tidak terlalu suka dengannya." ucapnya.
Sementara Kei masih terdiam meskipun Candy sudah keluar beberapa menit dari pintu apartemennya. Dadanya menjadi sesak begitu sadar kalau ucapannya terlalu kasar. Ia kemudian menurunkan tangan Bianca, lalu pergi keluar pula.
Akan tetapi sayangnya, Candy sudah keburu menghilang. Gadis ini sudah berjalan keluar wilayah apartemen dengan mata berair. Penghinaan singkat Kei tadi benar-benar melukai hatinya. Padahal biasanya dia terbiasa dihina, tapi kali ini mulut Kei sangat berpengaruh bagi hatinya.
Ia sampai terus berjalan dengan kepala menunduk menuju ke halte bus tepat di samping area apartemen Kei. Ia menunggu taksi untuk pulang ke apartemennya..
"Aku pembuangan ... dia bilang, padahal dia tahu, aku tidak bisa komitmen juga karena benci dengan pria b******k. Sekarang dia sendiri yang seperti gini," ucapnya lirih sambil menahan air matanya. Dia muak pada diri sendiri yang tak bisa mengendalikan hatinya. Sekarang dia mulai sadar, ada kemungkinan sebenarnya dia jatuh cintanya pada sosok Kei. Mereka bersama-sama, tidur bersama, bercanda bersama, dan saling mengetahui keburukan masing-masing, sudah pasti benih-benih cinta itu tumbuh sendirinya.
Selain kecewa dengan ucapan Kei, dia sangat membenci sosok Bianca. Dia tidak suka wanita genit itu berada di apartemen Kei. Walaupun terdengar seperti kecemburuan, gadis ini masih berusaha menyangkal bahwa itu hanyalah rasa tidak suka biasa.
Bagaimana pun Candy masih membenci yang namanya cinta.
Tidak mungkin, tidak mungkin! untuk apa aku sedih hanya karena diusir dari apartemennya!, Ia membatin.
•••