Di tempat lain, Kei menjadi bosan dan kesal. Dia tidak bisa menghilangkan pemikiran tentang Candy bersama dosennya. Awalnya dia hanya terkesan benci karena teman tidurnya malah tidur dengan pria lain, tapi dia sedikit terganggu seolah tidak rela berbagi.
Perasaannya semakin benci saat Candy tidak menjawab pesannya ataupun menanggapi sambungan teleponnya kembali. Dia menggerutu terus, "Enak banget dia seneng-seneng di luar, aku disini? Sialan banget."
Akhirnya dia mengalihkan sambungan teleponnya ke nomor seorang wanita yang sangat dia kenal. Kontak itu bernama Bianca.
"Kau bisa datang malam ini?" tanya Kei dengan tutur bahasa yang sopan. Dia jelas mengenal betul siapa wanita yang dia hubungi.
Suara dibalik telepon menjawab, "akhirnya Kei nelpon. Iya pasti Kei! tunggu ya! Bianca kesana!"
Waktu menunggu sosok Bianca dimanfaatkan oleh Kei dengan menonton televisi. Sekalipun dia berniat membayangkan Bianca, otaknya terus memproses wajah Candy. Dia menganggap dengan mengajak wanita lain bersamanya, maka dia bisa menghalau sejenak sosok Candy. Dia masih belum memahami perasaannya. Selama setahunan belakangan, dia memang hanya menjadi teman tidur Candy, tapi hatinya terasa gembira hanya dengan bersamanya—dan merasa sangat benci ketika dia mengaku bersama pria lain.
Akan tetapi apa yang bisa dia lakukan, sedangkan statusnya sendiri di hadapan Candy hanyalah seorang teman. Otak jeniusnya yang membuat gadis itu mau dengannya. Dia sudah mengerjakan tugas kampus Candy tak terhitung jumlahnya. Sebagai pekerja kantoran, hal-hal yang berhubungan dengan pendataan dan administrasi tidak terlalu sulit dia lakukan.
Setelah satu jam lamanya, akhirnya Bianca hadir di apartemennya.
Meskipun wanita itu sudah hadir di apartemennya dengan dandanan luar biasa cantik jelita, pakaian seksi ketat sana-sini, Kei malah membayangkan sosok Candy lagi. Ia sampai jengkel, dan menolak bahwa ini mungkin cinta. Dia yakin tidak mungkin jatuh cinta—tidak dengan Candy. Namun, dia sendiri juga bingung sebenarnya apa yang dia pikirkan? Mengapa tidak dengan Candy? Candy cantik, baik, hanya saja terlalu meremehkan laki-laki—ya, itupun dikarenakan pernah disakiti para mantan kekasihnya.
Demi melampiaskan kegundahannya, Kei mengajak Bianca untuk mengobrolkan masalah mereka serta bermesraan. Dengan dibantu oleh alkohol, Kei sedikit melupakan Candy. Ya, hanya sedikit. Hatinya tidak bisa dibohongi. Dia tidak suka Candy bersama pria lain, terlebih tidur dengannya—lalu bagaimana dengan hubungan mereka?
"Terus kita ini bagaimana?" tanya Bianca saat berusaha mendapat jawaban kepastian dari Kei. "Kau tidak lupa 'kan tentang dulu itu?"
Kei berhenti mencium leher Bianca sejenak saat menjawab. "Aku mau saja menuruti perintah nenek, nenek juga menyukaimu."
"Oh iya? kau setuju pertunangan kita?"
"Iya." Kei langsung merebahkan tubuh Bianca di sofa sambil berbisik mesra, "Kita udah kenal lama juga'kan. Maaf kalau aku agak sibuk bulan ini, maklum, banyak pekerjaan."
"Lagian kau itu yang melarikan diri dari rumah malah ke kota besar, mendingan mengurus usaha keluarga Kei, kita nanti bisa berkeluarga dengan bahagia." Bianca mulai mendesah saat Kei melepaskan atasan yang dia pakai. Ia tersenyum memandangi wajah calon suaminya yang kemerahan karena efek alkohol itu.
Kei mengangguk. "Terserah. aku pusing."
"Ini bukan karena mabuk'kan ya?" Bianca menggodanya. "Kau serius 'kan mau pulang terus kita tunangan? nenekmu sudah mau ngasih hadiah nikah kita, ya—kita bisa kesana nanti buat lihat-lihat, deket ama usaha wisata keluargamu juga, keren 'kan? ini yang nyia-nyiain usaha keluarga, Kei, mending jadi bos dan—"
Kei mengecup bibir Bianca sesaat untuk menghentikannya bicara, lalu mengatakan, "jangan banyak bicara, Sayang. Di ranjang, itu cuma senang-senang bukan bicara."
"Karena mabuk ini pasti."
Kei tergelak. "Sadar kok, Bi, aku sadar ini." Ia mulai meraba kedua p******a wanita itu, lalu meregangkan kedua kaki jenjangnya dengan sedikit tergesa-gesa.
Ia lalu mencium kening Bianca sambil berbisik, "sudah sejak kapan ya tidak tidur bareng, Bi?"
"Sejak kau serius hanya ingin bersama Candy aja."
"Ah, jangan menyebut Candy."
Bianca tertawa mendengarnya. Dia melingkarkan tangan ke leher Kei sambil berkata manis, "Ya sudah, sini biar Bianca bantu melupakan si gulali."
"Bisa saja, oh iya—kau sudah sama siapa saja hah?"
"Aku cuma berkencan sekali, kau saja."
"Kalau ada temen tidur, buat apa aku ber denganmu?" Kei menyeringai, dia tidak sadar sedang mengatakan itu. Intinya dia benar-benar ingin jujur bahwa sebenarnya yang dia sukai sekarang adalah Candy, dan Bianca hanyalah pelampiasan kekesalan.
"Masuk saja, Sayang, nanti juga manggil-manggil nama Bianca lagi. Bakalan lupa sama Candy. Dasar Kei nakal, nelpon kalau ada maunya."
Kei membalas godaan itu dengan semakin menciumi tubuhnya. Dia tidak peduli dengan sindiran halus yang terus dilontarkan Bianca untuknya. Dia sadar kalau memang dalam pikirannya sekarang masih ada Candy.
Meskipun dia menghabiskan malam bersama Bianca di sofa, di ranjang, dimana-mana, tapi tetap saja wajah Candy terlintas di pikirannya. Setidaknya karena sedikit pusing, dia bisa terlelap untuk sejenak.
***
Esoknya, Candy pulang pagi-pagi buta. Gadis ini mengira akan disambut oleh Kei yang memakai celemek masak, tetapi nyatanya malah kondisi apartemen yang berantakan.
Ia sampai heran melihat bungkus camilan dimana-mana, televisi dalam kondisi menyala dan alat kontrasepsi berserakan. Pikirannya juga dipenuhi kejadian c***l yang dilakukan oleh Kei. Namun, dia terkejut jika Kei melakukannya di apartemen ini.
"Kei, Kei? Tumben ini apartemen berantakan sekali?" panggilnya sembari mencari Kei ke dapur dan kamar mandi, "Pergi kali, ya?"
Akan tetapi suara desahan kian terdengar saat dia mendekati kamar utama.
Candy sangat paham kalau itu desahan seseorang yang merasakan kenikmatan. Tanpa banyak bicara dan dilanda perasaan ingin tahu hebat, dia langsung membuka pintu kamar itu dan melihatnya langsung.
Kei dan Bianca masih berhubungan badan di atas ranjang.
"Oh?" Candy terlihat bingung harus merespon apa melihat tubuh telanjang Kei sedang dipeluk oleh wanita lain. Namun yang pasti, dadanya terasa sesak dan sakit, ada perasaan aneh yang mengganjal melihat teman tidurnya itu berpelukan dengan wanita lain.
Kei menoleh sesaat dan bertanya dengan suara berat, "Candy? Untuk apa pulang ..."
"Oh, maaf, lanjutkan," potong Candy lantas menutup pintu karena tidak tahan melihat raut wajah Kei. Dia langsung membersihkan sofa depan dan duduk dengan muka sebal.
Rasa jengkel itu semakin menjadi saat suara-suara desahan Kei malah semakin dikeraskan seolah-olah untuk membuatnya gerah. Pikirannya semakin semrawut, hatinya terasa dihujam ribuan paku. Dia tidak mau menyadari dan terus menyangkal bahwa dirinya cemburu—cemburu dengan aksi mereka. Selama ini, Kei yang dia tahu takkan pernah membawa wanita di apartemen ini, terlebih tidur di atas ranjang yang sudah seperti milik mereka berdua.
"Dasar! Awas ya nanti." gerutunya.
***