05. Candy [Revised]

1073 Words
Setiap hari, rutinitas Candy adalah kuliah, nongkrong, dan tidur bersama Kei. Saat hari Minggu, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan menonton kartun ditemani soda dan banyak camilan. Dia juga tidak berniat mandi sama sekali. Jadi satu-satunya orang yang tahu sikap buruknya ini hanyalah Kei. Ia yakin akan hal tersebut. "Rambutmu kayak leher singa, Candy, mandi sana, sudah jam sembilan siang ini, masih saja menonton kartun," sindir Kei memakai jam tangannya, lalu mondar-mandir mencari beberapa buku untuk dimasukkan dalam ransel. Terakhir dia memakai kaca matanya sehingga terlihatlah sosok pria tampan dengan aura terpelajar. "Habis ini ada Spongebob," ucap Candy setengah malas. Dia bahkan masih memakai kemeja kedodoran warna putih yang seharusnya dipakai Kei tadi malam. Kei menghampirinya. "Terserah kau saja, aku mau keluar sama teman. Jangan pergi kalau tidak pamit. aku bisa repot mencarimu nanti." Candy benci saat Kei berusaha mengekangnya. "Pergi saja sana, jangan banyak bicara." "Heh, pamit." "Ingat ya, Kei, kau bukan ayahku, Sekali lagi banyak aturan, aku pulang ke apartemenku sendiri." "Aduh, jangan marah begitu, mumumu." Kei malah menggodanya sambil menciumi seluruh wajah gadis itu dengan penuh nafsu. "Sebentar saja, nanti dilanjut ya, mandi sana, Sayang." Saat laki-laki itu sudah hendak membuka pintu, Candy baru ingat, dia bertanya, "Kei! Rangkuman tugasku yang Minggu kemarin bagaimana?" "Ada di laptopku di kamar, tinggal cetak aja." Candy langsung sumringah. "Terima kasih, Sayang!" "Ah." Kei keluar dengan muka sewot. *** Candy paling benci hari Senin. Hari dimana mata kuliahnya menumpuk. Dia sangat heran mengapa pihak kampus menerapkan jadwal tidak seimbang, padat di satu hari, lalu longgar di hari selanjutnya. Seharusnya disama ratakan sehingga dia bisa pulang dengan waktu yang konsisten. Akan tetapi kalau biasanya di kampus terasa gambar, berkat adanya Anthony, dia sedikit bisa menghibur diri. Apalagi dosen itu sudah mulai dekat dengannya. Dia akhirnya berhasil menaklukkannya. Mata kuliah itu pun berakhir bahagia. Dia menunggu jam agar bisa pulang bersama Anthony, tapi dari pagi dia sudah diganggu terus oleh Darren. Mau ke ke perpustakaan, kemana-mana, terus menerus diikuti. Bahkan saat dia mengajak temannya, Mila, untuk sekedar makan di kantin. "Itu Darren kayaknya perlu ditampar, Mila," ucapnya saat bertemu pandang dengan Darren yang duduk tak jauh dari mejanya. "Ya sudahlah, namanya juga laki-laki. Wajar saja, memang dandananmu selalu seksi." "Kan aku wanita, ini wajar saja, dia saja yang otak m***m dan mungkin dari desa." "Ya, Darren memang begitu orangnya, jangan dipikirkan." "Memang sialan, sialan dia, menggodaku terus, aku tidak ada rasa sama laki-laki sepertinya." Mila malah asyik menebarkan pesonanya sendiri pada beberapa mahasiswa lain. Siapapun juga tergoda pada dirinya. Dia dan Candy memiliki bentuk tubuh yang tidak jauh berbeda. Beberapa orang menganggap dialah yang paling cantik di kampus ini. Dia melirik layar ponselnya. "Eh, sudah dijemput kekasihku, duluan ya, Candy baby." Ia bergegas pergi. "Nanti aku kabari kalau ada info mendadak." "Baru juga duduk," kesal Candy ikut berdiri. "Main pergi aja." Saat dia baru keluar dari area kafetaria, tangannya sudah dipegang Darren, "Candy." Candy spontan menarik tangannya. "Darren, jangan terus menggangguku terus." "Aku antar bagaimana? Aku antar pulang, ya?" "Tidak." Candy kembali berjalan menjauh. "Nanti main sama-sama." "Kau mau melecehkan ku, ya?" "Badanmu memang minta dilecehkan." "Pergi sana!" Candy mendorongnya agar menjauh, "atau aku lapor ke dosen!" "Tidak masalah. Silakan." Darren malah semakin mendekatinya, bahkan sampai berani melingkarkan tangan ke pinggang Candy. Dia memang senang jika menggoda gadis ini. Nafsunya senantiasa melambung tinggi setiap kali dekat dengannya. Rasa penasarannya tidak akan terpuaskan sebelum mengajaknya ke atas ranjang. Candy hendak memukulnya, tapi ternyata ada mahasiswa lain yang berlari ke arah mereka sambil memukul wajah Darren sampai dia nyaris terjatuh. "Ah!" kejut gadis ini sambil mundur untuk menghindari kedua mahasiswa itu. Lebih mengejutkannya lagi, mahasiswa yang main tonjok tadi, mulai memperkenalkan diri pada Candy dengan sopan, "hei, ketemu lagi, Ratu Seksi, aku Arlo, mahasiswa pindahan, salam kenal, maafkan temanku ya!" Ia lantas menarik kerah baju Darren, "Jangan menggoda wanita saja! Ayo makan siang!" "Kau 'kan ..." Candy mengenal laki-laki itu. Orang yang sama saat keluyuran di dalam ruang dosen kemarin. Orang yang menyindirnya sedang main desah dengan pak Anthony. Arlo menyeret Darren kembali masuk ke kantin. Sedangkan Darren mengumpat marah kepadanya dengan hidung yang ternyata sudah berdarah. Candy masih terdiam melihat mereka, terutama pada sosok Arlo yang enggan menatapnya terlalu lama. Berbeda dengan kemarin, dia merasa dadanya berdebar-debar saat memandangnya hari ini. Ada perasaan aneh yang tumbuh di dalam hatinya, tapi dia ragu kalau itu adalah cinta. Dia menggelengakan kepala cepat-cepat untuk sadar dari pemikiran itu. Mana mungkin dia jatuh cinta—lagi? "Candy!" Panggil Anthony di kejauhan. "Oh.. iya, Sir," sahut Candy pun lari ke arah dosennya itu. °°° Dosennya mengajak Candy untuk menginap di rumah. Pria itu tampaknya sudah tergila-gila dengan pesona sang mahasiswi. Dia menyadari kalau mungkin benih-benih cinta sudah tumbuh dalam hatinya. Candy sendiri tidak mempermasalahkannya karena sang dosen sangat perhatian. Dia pun menelpon Kei saat masih berada di dalam kamar mandi. "Kei, Aku tidak pulang malam ini." Ia memandangi dirinya di cermin wastafel dengan sesekali menunjukkan sisi imutnya. Bangga sekali dengan tubuh yang selalu dia rawat dan merupakan aset untuk menjebak para lelaki itu. Di balik sambungan telepon, Kei menjawab, "Kemana?" Ia seperti emak-emak yang tidak rela anaknya pulang malam. "Pulang!" Candy malah menahan tawa, "Aku lagi bulan madu," sesekali melirik keluar ruangan dimana dosennya yang dalam balutan piyama sedang duduk di sofa depan ranjang. Kei mendadak tahu apa yang terjadi, dan nada suaranya menjadi kesal. "Awas ya kalau macam-macam, aku kemarin 'kan udah bilang, jangan—" "Cemburu ya, Kei?" potong Candy menahan tawa, "hayo?" "Mana mungkin." "Ya sudah, sampai besok, jangan lupa tugas kuliah, mumumu," ucap Candy segera mematikan sambungan telfonnya. Lalu keluar kamar mandi setelah merapikan piyama handuk yang melekat di tubuhnya. "Anthony!" Panggilnya dengan gembira. Anthony menoleh, "Sudah selesai mandinya, Candy?" "Sudah," sahut Candy duduk dengan di sambut mesra oleh dosennya itu, "kita nonton apa malam ini?" "Ini Horror loh, kau tahan nonton hantu'kan?" Goda Anthony tersenyum saat menunjuk layar televisinya. "Banyak hantunya ini." Candy pura-pura takut. "Yang penting ada Anthony." "Makasih tadi sudah buat makan malam, aku tidak menyangka kau bisa masak juga. Hebat loh kau ini." "Eh, jangan meremehkan Candy. Dari mulai masuk kuliah, Candy hidup mandiri, bisa memasak, bisa merapikan rumah, bisa memuaskan calon suami, semua pekerjaan wanita—Candy jagonya." "Orangtuamu tinggal dimana?" "Luar kota." "Oh, kapan-kapan kita kunjungi, ya?" "Hah?" heran Candy seraya mengerutkan dahi, "buat apa?" Anthony malah menjawabnya dengan ciuman hangat di bibir gadis itu. Ciumannya semakin mengganas diiringi dengan jemarinya yang mulai menari di setiap titik lemah Candy. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD