04. Candy [Revised]

1307 Words
Kei menunggu Candy di depan gerbang kampusnya. Dia buru-buru menjemput dengan mengorbankan waktu bersama kolega kerjanya hanya demi kemari. Akan tetapi malah yang dijemput tidak kunjung keluar sampai sejam lebih. Di chat, di telfon, semuanya tidak ada balasan. Walaupun pikirannya sudah pasti buruk, namun Kei masih bertahan di dalam mobilnya sambil memakan burger. "Palingan juga gitu sama dosennya," gerutunya sampai-sampai meremas kertas burgernya. Kemudian membuang sisa roti keluar kaca mobil. Ia merasa bodoh amat dengan pandangan tidak suka seorang satpam yang melihat kejadian itu. Berulang kali ia melihat jam tangannya hingga tidak tahan. Ia pun keluar mobil, membanting pintunya, kemudian masuk ke dalam area kampus bertujuan menyeret permen miliknya pergi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang tampak duduk di bawah pohon rindang, sebagian lagi keluar masuk gedung-gedung, sebagian lagi ada acara seminar di aula yang pengeras suaranya terdengar sampai telinga Kei. Kei tidak melihat Candy dimanapun, dia sedikit ragu saat akan memasuki gedung fakultasnya. Namun, untungnya sebelum kesana, suara Candy akhirnya terdengar. Antara lega, kesal, dan juga curiga memenuhi hatinya saat ini. Gadis ini berjalan menuruni anak tangga bersama seorang laki-laki asing. Mereka berdua tampaknya tengah berdebat serius, dimana ia disindir, "Wanita Jalang.“ Candy marah. "siapa kau?” Pemuda berwajah tampan itu melototinya sambil menuding jam tangannya. “Kau pikir menunggu kalian bercinta di dalam itu mudah? Aku harus nunggu satu jam! Bisa telat kerja ini.” Candy menertawainya. "Pasti juga mau.." "Haduh." Pemuda itu terdengar jijik. Dia langsung melarikan diri dari hadapan Candy sambil menggerutu terus. "Wanita gila, mending pergi Sono. Tidak heran, Darren mengejarmu terus, wanita murahan.“ "Temannya Darren? Pantesan, sama-sama gila.” Kei yang mendengarnya nyaris saja menghajar wajah laki-laki itu. Dia marah terhadap penghinaan yang dilontarkan pada Candy. Baginya, hanya dia yang bisa mengejeknya, atau menggodanya. Entah setan apa yang bersemayam di otaknya saat ini, tapi dia benar-benar ingin menguasai Candy untuk dirinya sendiri. Candy masih fokus pada lelaki itu yang telah jauh dan membalas lantang, "Lihat saja nanti, jangan sok menolak pesonaku, kau pasti jatuh cinta padaku. Kau pasti akan seperti Darren, mengejarmu terus menerus. Dasar sombong.“ "Candy?" Kei keberatan dengan ucapan itu. Candy mengubah raut wajahnya menjadi manja kembali. Lalu menghampiri pria sekamarnya itu dengan bahagia sambil bertanya, "Sudah datang, Kei?" "Kau ini apa-apaan? Aku nunggu satu jam, sudah seperti sopir taksi. Tapi, sopir taksi saja tidak sudi menunggu satu jam.” "Iya kan begini, aku cerita ya ..." Candy terhenti, lalu berjinjit untuk membisikkan sesuatu di telinga lelaki itu. Kei langsung bermuka masam. Dia menyambar lengan Candy serta mengajaknya segera pergi. Dengan suara lirih, dia memperingatkan, "Kau tidak perlu sama dosen itu.“ "Kei cemburu? Kei cinta ya? Tidak rela?" "Tidak begitu." "Ah masa sih?" "Memangnya selama ini kau kita aku ini cinta atau nafsu?” "Kau bilang cinta kalau lagi mabuk.." "Nah tuh paham, kita ini'kan ..." "Teman membutuhkan." "Oiya, itu tadi siapa?" "Ya laki-laki." "Siapa?" "Mahasiswa." "Can.." Candy tersenyum karena berhasil membuat Kei penasaran. Dia berkata dengan suara manja, "Calon suamiku, dia sok-sok'an tidak mau melihatku, padahal kalau sudah tahu rasanya pasti ketagihan.“ Gurat wajah Kei mendadak tegang. Marah, tapi tak ingin dia tunjukkan untuk sekarang. Mendengar kalimat 'calon suami' dari mulut Candy sukses menaikkan amarah tersembunyinya. "calon suami? Kekasih? Kau mau menjadikan dia kekasih?" "Tidak, aku hanya ingin menggoda dia saja." Candy membelai perut Kei di balik kemeja tanpa malu meskipun beberapa orang kampus melihatnya. Dia melanjutkan, "kayak Kei dulu'kan polos itu, jadi tertantang gitu." "Entah kenapa aku agak tidak suka mendengar itu," ucap Kei menggeleng tidak suka, "ya sudah, kita pulang saja sekarang." "Kei tidak cemburu'kan?" "Bodoh amat, yang penting kau tetep tidur di kasurku." "Kei nomor satu, dia itu nomor dua." "Dosenmu bagaimana hah?" "Nomor tiga." "Sumpah, menjengkelkan sekali kau ini." Candy tertawa melihat Kei yang sulit menyembunyikan ketidaksukaannya. Dia akhirnya menenangkannya, "Tenang, teman tidurku cuma kau saja, Kei.” "Besok Minggu tidak ada kegiatan kan? "Mau kemana, Kei? Mengajakku kencan, ya?" "Tiga hari aku libur, mau aku ajak liburan, mau ikut tidak?" "Tidak ah, aku harus bantu pak dosen dan menggoda laki-laki tadi." "Begitu ya?" Kei merasa bertambah sebal karena penolakan disertai penjelasan semacam itu. Dia langsung berjalan mendahului Candy. "Kei ngambek," goda Candy disertai tawa saat membuntuti dari belakang, "nanti aku pijat...." Kei meliriknya tajam, "Awas saja kalau tidur duluan.“ Candy menjulurkan lidahnya. *** Kei dan Candy seperti pasangan pengantin baru setiap di apartemen. Dari mulai makan berdua, menonton film berdua, mengemil berdua, hingga kini di ranjang berdua. Meskipun mereka selalu bilang tidak ada rasa, melainkan keduanya sadar kalau sama-sama nyaman dan memahami. "Kei, kerjakan tugas kuliahku ya, Minggu depan deadline," rayu Candy sambil menjelajahi kulit d**a telanjang Kei. "Bukan masalah," bisik Kei mulai menciumi wajah Candy. Serangan bibirnya juga perlahan turun ke kulit leher, dadanya yang telanjang dibalik selimut. Candy meremas rambut Kei ketika merasakan ciuman pada dadanya. "Kei, Kei~" "Kau itu sesekali ke perpustakaan, kerjakan sendiri, jangan apapun aku yang mengerjakan," sindir Kei menoleh sesaat pada Candy. Dia lalu fokus lagi ke d**a gadis itu yang telah basah akibat jilatannya. "Bodoh amat, kalau kau bisa, ngapain aku yang mengerjakan?" sahut Candy kemudian menggigit bibir bawahnya untuk membuat Kei semakin tergoda. Dia sengaja menunjukkan wajah penuh nafsu untuk terus menggoda laki-laki ini. "Menjengkelkan sekali," kata Kei diringi tawa pelan. Kedua tangannya perlahan meregangkan paha Candy, "tapi berhubung kau cantik, aku maafkan. Apapun untuk Candy tersayang.” "Kei barusan gombal, ya? Kau bisa menggombal ternyata?" Candy menahan tawa melihat mimik wajah Kei yang memang tidak sengaja berkata manis padanya. Padahal setiap hari menyindirnya, tapi sekarang malah memujinya tidak langsung. "Wajahmu menjengkelkan, sekarang balik badan," perintah Kei sambil memaksakan agar tubuh telanjang Candy untuk tengkurap, lalu menggerakkan bagian bawahnya ke belahan gadis itu beberapa kali sampai siap. "Masuk saja, Sayang," pinta Candy semakin nungging karena tidak tahan, "ayo." Kei menancapkan kejantanannya kembali ke dalam lubang basah Candy. Kemudian memaju-mundurkan dengan tempo yang lumayan cepat ketimbang biasanya. Bahkan sampai membuat ranjang bergetar. Candy meremas sprei, menggigit bantal, mencengkram apapun yang bisa dia raih. Dia terus mendesah sambil menggoda Kei. Dan, Kei tergoda dengan suara kenikmatan yang keluar dari bibir mungil itu. Ia terus berusaha mengatur napasnya sendiri. Cukup lama dia memainkan pinggangnya sendiri. Telinganya seolah tidak mendengarkan desahan, racauan, jeritan yang dikeluarkan oleh Candy. Ia terus menerus berusaha mencapai kenikmatannya sendiri. Berkali-kali Candy mendesah di dalam benam bantal. Kei memejamkan matanya sambil mempercepat irama bercintanya. Dia terus menciumi tengkuk Candy seraya berbisik, "Ah, my Sweet Candy," sebelum akhirnya mengeluarkan semuanya. Setelah itu, dia berbaring di samping Candy. "Ah, malam jadi seru kalau ada dirimu," godanya saat memandangi teman tidurnya itu berbalik. "Beda tidak sama yang lain? Sama mantan mungmon?" tanya Candy dengan napas lenguh. Lalu mendekatkan diri pada Kei, membelai d**a bidangnya lalu sesekali memelintir p****g datarnya. "Kau punya mantan kekasih kan? Kita tidak pernah membahasnya selama ini.“ "Mantan? Untuk apa bahas mantan?" "Punya mantan'kan pasti?" "Punya, tapi sulit diajak tidur bareng." "Katanya dulu sempat tunangan ya?" "Sekarang yang kepo siapa ini?" "Ya'kan tanya, jawab terserah, tidak ya sudah." "Memang mau nikah. Kau lupa ya? Aku ini kan sudah usia matang." "Tua 'kan maksudnya?" "Matang, Sayang." Candy menahan tawa sembari memperhatikan wajah Kei yang sebenarnya cukup tampan untuk ukuran seorang kutu buku kantoran. "Menurutku kau ini masih kayak mahasiswa kok." "Kayaknya usiaku hampir sama ama dosenmu, suka yang mana?" goda Kei meremas p******a kanan Candy dengan gemas. "Aku atau dia?" "Dosen itu'kan cuma syarat, Kei, kau yang utama." Kei sedikit serius. "Can, kau jangan main sama dosen lagi ya, tolong banget, aku sudah menolongmu, tidak usah bantuan dosen. Tidak ada gunanya, aku bantu kau lulus tanpa perlu bantuan plus-plus. Sudahlah, tidak usah mempedulikan dosen itu.” "Cemburu ya?" goda Candy masih tidak ingin membahas hal semacam itu. "Aku tidak suka berbagi." Candy malah menyamping, kemudian memejamkan mata karena bosan mendengar ocehan aneh Kei. "Jangan di bahas kalau gitu." "Apanya yang salah dari omonganku.“ Tidak ada balasan. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD