Bab 10: Pria Aneh

1254 Words
Kedai tak terlalu ramai seperti dulu, karena gosip yang terlampau cepat menyebar membuat para pedagang dan pelancong dari luar kerajaan lebih memilih menjauh mencari tempat menginap lain yang lebih aman. Namun tidak sedikit pula yang masih mengunjungi tempat ini. "Pelayan tolong pesankan aku beberapa makanan andalan milik kalian!" Pelayan mendatangi sahutan pelanggan, "Ada lima makanan kami yang menjadi andalan, apa tuan mau memesan kelimanya? Apa perlu aku beritahu terlebih dahulu beberapa jenis menunya?" "Tidak perlu! Antarkan saja ke lima makanan andalan kalian biar aku yang menilai, saat ini suasanaku sedang baik! Cepat pergi dan turuti permintaanku," ucap pelanggan dengan seruan lantang dengan senyum merekah di wajahnya yang berbanding terbalik dengan kondisi lingkungan disekitarnya. Makanan pun berdatangan satu per satu di bawa dengan wadah besar, rasa lapar pelanggan tersebut terlihat semakin tinggi. Terlihat jelas melalui pakaian yang dikenakannya bahwa ia berasal dari luar kerajaan, terlihat lusuh namun karena dipakai terus-menerus hingga warnanya memudar karena sinar matahari. Matanya berbinar-binar saat melihat makanan, ia pun menyantap dengan lahap sampai tidak menghiraukan lingkungan disekitarnya yang saat ini sedang memperhatikannya bak seorang pria tengah kerasukan. Seorang penjaga datang melewati mejanya, awalnya ia tidak memperdulikan hal itu. Namun, sesuatu yang membuat penasaran memantiknya untuk mengetahui lebih banyak. "Aku menerima perintah dari pemimpin Dong zhu, tolong berikan aku daftar siapa saja yang bertamu di sini yang berprofesi sebagai Tabib, utamakan dari luar kerajaan yang jauh." titah Kay kepada wanita resepsionis. Wajah wanita tersebut terlihat ragu. "Ini informasi pribadi tidak boleh, di berikan siapapun tanpa seizin tuan Xue-Jang." "Perintah Dong zhu secara tidak langsung termasuk perintah tuan Xue-Jang." balas Kay cepat. pelanggan yang tengah memakan hidangannya sesekali mencuri-curi pandang, kepada seorang wanita yang tengah mengobrol dengan pria berseragam prajurit lengkap serta salah satu tangannya yang sedari tadi memegangi gagang pedang yang disarungkan pada bagian pinggang kirinya. Piring keramik pelan-pelan meninggi seiringan dengan makanan yang habis di mejanya, "Akh! Makanannya enak sekali!" serunya mengelus-elus perut lalu merenggangkan tubuhnya. Kay sedikit mengobrol dengan sang resepsionis di depannya, "Penyakit demam aneh itu makin menyebar tak pandang bulu, jika tidak ditemukan obatnya kita semua akan mati." "Apa ada jaminan, tabib yang berasal dari luar kerajaan dapat menyembuhkan jenis penyakit yang kita hadapi ini?" tanya wanita disebelahnya. "Aku tidak tahu ... ah, disini ternyata" seru Kay segera pergi meninggalkan ruang resepsionis dan langsung menuju lorong kamar dan menggedor-gedor salah satu pintu yang diketahui ada seorang tabib dari luar kerajaan. *** Dari dalam kamar dua orang pria dan wanita tengah b******u, memuaskan hasratnya. Lalu suara pintu sedang di gedor cukup keras membuatnya kehilangan momen kenikmatan yang hampir tercapai. "Sial! Siapa orang yang berani mengganggu malamku yang sempurna ini." umpatnya bergegas mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Kemudian, ia menengok ke arah wanita di atas kasur jerami hangat yang segera menutupi badannya,"Cih!" Pria itu segera melangkah ke arah pintu keluar lalu membuka kunci. *** 'Sialan apa benar ini ruangannya?' batinnya menggerutu masih tetap menggedor pintu dan pada akhirnya pintu pun terbuka. "Apa yang kau lakukan dari tadi? Apa aku pernah membuat janji denganmu?!" ucap tabib dengan nada amarah memuncak. Kay menundukkan lehernya, "Maafkan aku tuan, kami ingin anda melakukan sesuatu dengan kemampuanmu." "Cih! Apa kamu tidak tahu jam kerjaku sudah habis?!" ucapnya dengan suara keras. "Aku benar-benar minta maaf mengganggu waktu bersantai tuan." wajah Kay tetap tertunduk memberi hormat pada pria yang berada di hadapannya. "Pergilah! Jika kamu sudah mengerti maksudku!" serunya dengan lantang langsung menutup pintu tanpa menunggu lawan bicara membalas ucapannya. Kay terkejut ketika pintu ditutup dengan keras, lalu suara tawa terdengar samar-samar dari balik pintu dihadapannya. "Sialan bahkan aku tidak diberi kesempatan untuk memberikan alasanku." gumamnya sembari memegangi gagang pedang dengan erat. "Apa kau membutuhkan pengobatan?" Kay sedikit terkejut setelah mendengar ucapan pria lusuh dibelakangnya. "Ah ... seperti itulah," balasnya ragu-ragu sambil melihat penampilan luar pria yang kini berhadapan dengannya. "Ceritakan sedikit masalahmu mungkin aku bisa membantumu." ujarnya sambil memegangi wadah bambu ditangan kirinya. Kay tak mau membalas ucapan orang yang mengajaknya bicara. Karena ia takut membuang waktunya pada orang yang hanya ingin sekedar tahu saja, meski sudah tahu maksudnya dan lebih memilih meninggalkannya untuk mencari tempat baru lagi. "Hei, kenapa kau mengacuhkanku begitu saja!" serunya melihat ke arah perginya prajurit menuju pintu kamar lainnya. Kay masih saja diam tidak membalas ucapan pria lusuh yang masih mengikutinya dari belakang, "Hei apa kau mendengar ucapanku? ... aku tahu kau tidaklah tuli." ucap pria dengan pakaian lusuh. Selama pria lusuh itu mengikuti dirinya melihat beberapa kali penolakan keras dari para penghuni penginapan. Hingga dirinya merasa bosan setelah mengikutinya sampai pintu ke sepuluh kalinya. "Aku tahu kau sepertinya sedang terburu sedari tadi, melihat cara berjalanmu sedari tadi. Apa kau sudah menyerah dan membuat keputusan untuk berbicara kepadaku?" ucap pria lusuh mengucapkan kalimat serius untuk pertama kalinya. Kay pun berhenti ketika hendak mengetuk pintu ke sebelas, sembari menghela napas pendek, pandangannya pun ter-arahkan kepada pria lusuh disebelahnya. "Akhirnya kau menengok juga ke arahku apa kau sudah menyerah?" balasnya tersenyum kearah prajurit dihadapannya. "Baiklah, kami saat ini sedang membutuhkan seorang tabib dari luar kerajaan. Penyakit yang saat ini kami alami belum ada penawar yang cocok." Matanya berbinar seketika seolah melihat mangsa baru seperti seorang hewan yang kembali lapar setelah menyantap hidangan besar. "Tunjukkan, tunjukan sekarang juga dimana tempat ruang perawatan tersebut," ucapnya penuh bersemangat, "Akhirnya tempat yang aku cari sudah berhasil ditemukan." ungkapnya kembali makin kegirangan. "Apa anda seorang Tabib?" Kay sangat meragukan penampilan luar seorang pria lusuh dihadapannya. Pria lusuh tersebut merogoh baju yang terlipat di tubuhnya, tangannya berhasil merogoh kayu dan terdapat lambang khusus yang hanya dimiliki seorang tabib. Kay terkejut, tanpa pembicaraan lebih lama lagi ia pun langsung dibawa menuju ruangan khusus. *** Dari kejauhan dirinya melihat seorang pria berseragam prajurit dengan pria lusuh dan keduanya sama-sama membawa obor sebagai penerangan. "Jadi dimana tempatnya?" tanya pria lusuh itu dengan mata penuh haus akan pengetahuan. "Apa kau melihat bangunan bekas kandang hewan yang tengah terbuka itu?" balas Kay sambil menunjukan tempat tepat di depan matanya samar-samar terlihat dua orang sedang menunggu. Pria lusuh tersebut segera mempercepat langkahnya menuju tempat yang di tunjuk Kay, "Apa ini tempat para orang sakit berkumpul?" ucapnya melontarkan pertanyaan yang cukup aneh kepada dua orang pria yang tidak dikenalnya. Dua orang yang berada dijangkauan matanya terlihat kebingungan, salah satunya menampakkan wajah kesal. "Siapa yang membawa pria konyol ini kemari?" cetus Dong zhu dengan pertanyaan menohok sambil pandangannya mengarahkan kepada seseorang yang berada dibelakang pria aneh di depannya. Merasa dirinya disalahkan, Kay pun hanya menampakkan wajah tersenyum yang sedikit terlihat karena sebagian wajahnya tertutupi oleh bayangan dari cahaya obor. Setelah mereka berkumpul didepan pintu, "Siapa orang ini?" tanya Dong zhu, menatap dengan tatapan sinis. "Tenang saja tuan, dia seorang tabib dari luar kerajaan. Aku sudah memastikannya sendiri, setelah ia memberikan tanda pengenal khusus yang hanya di miliki seorang tabib." balas Kay membenarkan kecurigaan pemimpinnya. Orang yang dimaksud pun menunjukan tanda pengenal khususnya. Dong zhu terdiam setelah melihat sendiri tanda pengenal milik orang aneh yang telah dibawa bawahannya. "Apa aku boleh masuk sekarang?" tanya pria lusuh yang kembali berbicara serius kepada orang yang berada di hadapannya. Dong zhu tidak membalas ucapannya, "Baiklah aku akan masuk,"ucap pria lusuh tersebut. Ada sekitar lima puluh orang yang saat ini sedang mengalami sakit serius hingga gejala ringan. Mereka yang masih sehat pun, di campurkan dengan orang yang sedang mengalami sakit. Pria lusuh tersebut langsung mendatangi orang yang mengalami sakit parah. "Sungguh menarik, menarik. Aku belum pernah melihat hal ini." gumamnya meracau yang hanya dimengerti dirinya. Pria tersebut langsung mendekat kearah kedua prajurit serta seorang pria asing yang belum ia ketahui profesinya lalu mengenalkan diri, "Aku Xin Liu." ungkapnya langsung membungkukkan kepala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD