"Ibu!" demikian ucapan seorang gadis yang terkurung di dalam bangunan, mengagetkan orang-orang yang hendak membakar ibunya yang sedang sekarat. Ia juga membuat gaduh dari dalam berusaha membuka pintu yang terkunci rapat.
Mereka yanng terkejut langsung meghentikan aktivitasnya sesaat setelah teriakan berlangsung begitu cepat. Lalu suara teriakan itu berlanjut dengan teriakan gadis diiringin suara anak laki-laki.
"Cepat kau cek arah suara itu." Salah satu dari mereka langsung mengecek. Begitu pintu itu terbuka lebar, mereka pun terkejut setelah di dorong oleh kedua orang anak yang menghampiri kobaran api, mengarah ke arah ibunya yang sedang sekarat.
"Ibuu!" teriakannya memang begitu lantang pada malam itu. Tapi tidak segampang teriakannya, baru saja berjarak sepuluh meter. Kedua bersaudara itu langsung di hadang oleh dua penjaga yang berada di dekatnya.
Mereka menghadang, dan sisanya melanjutkan kegiatan yang sebelumnya tertunda yaitu membakar ibu dari kedua kakak beradik saat ini sedang sekarat. Meski hal ini bisa di sebut hal yang tidak manusiawi, tapi cara ini juga bisa di bilang untuk menyelamatkan manusia-manusia lainnya agar tidak tertular hanya ini cara yang bisa mereka lakukan, karena belum menemukan obat penawarnya yang manjur untuk menyembuhkan penyakit cacar.
Kedua orang anak yang menangis histeris melihat ibunya di bakar hidup-hidup. Membuatnya seluruh tubuhnya lemas seketika. Keduanya merasa tidak bisa apa-apa selain meratapi hal yang sudah terjadi kepada ibunya.
Mereka berdua masih tetap menyaksikan ibunya yang telah terbakar setelah berjam-jam. Tapi dengan keadaan sedikit berbeda, yaitu kedua penjaga kini tidak lagi menahan. Mereka hanya di biarkan begitu saja, matanya benar-benar kosong karena telah kehilangan hal dengan cara yang tidak seharusnya.
"Apa kau yakin akan meninggalkan mereka berdua begitu saja?" tanya seorang penjaga melihat kedua orang anak masih sibuk memperhatikan kayu yang seiring waktu menjadi abu diiringi bau hangus daging yang ikut terbakar di dalamnya.
"Biarkan saja, kita tidak perlu melakukan apapun untuk mereka berdua. Mereka memang sudah begitu."
"Kalau begitu sudah biarkan saja begitu. Aku memang tidak terlalu memperpanjang urusan ini, karena aku sendiri sudah cape melakukan semua ini." balasnya kemudian tatapan tajam yang sudah di luar dugaan dari kedua bocah itu.
"Apa! Apa kau menginginkan sesuatu? Sampai menatapku begitu tajam?" balasnya seorang penjaga begitu langsung menyadari tatapan tajam dari kedua orang anak.
Xue mei tidak menjawab ucapannya, dan hanya terus menatap tajam. Lalu setelah itu, ia pun menerima tendangan kuat yang membuatnya tersungkur.
"Kakak!" begitu tahu kakaknya di tendang keras oleh kedua penjaga, Feng Ying langsung mendekatinya.
"Cih! Dasar b***k kotor!" ucapnya dengan lantang.
suara tapak kuda dan roda kayu pun terdengar nyaring menghampiri.
Penjaga itu langsung menyapa si kusir. "Kenapa lama sekali? Apa yangkamu lakukan sampai selama ini?"
"Ahh, maafkan aku, aku mengantarnya semua mayat ini ke keluarganya langsung, kecuali sisanya. Aku kubur mereka di tempat yang sama, karena beberapa dari mereka memang tidak mempunyai kerabat atau teman dekat di luar kita." balas si pengendara kereta kuda kepada salah satu rekannya.
"Aku tidak bisa berkata apa-apa jika mengetahui hal ini. Oh iya, ada hal penting lainnya, kita akan kembali lagi ke kota Tao."
"Tunggu-tunggu, jangan bilang setelah aku datang kalian akan kembali kesana."
"Nah, sepertinya yang kuda, kita memang akan ke sana malam ini."
Sisa-sisa bau amis darah masih tercium kuat di kereta yang di bawa orang itu. Bau amisnya begitu pekat.
"Hei, sebaiknya kau cuci dahulu kereta itu. Bau amisnya sangat mengganggu." ungkap lawan bicaranya yang sedari tadi mengajak berbicara.
"Ehh?! kenapa engga nanti saja? Aku lelah seharian harus berkeliling membawa mayat."
"Sudahlah, paling tidak kau meminta bantuan orang lain untuk membersihkan ini."
"Kalau begitu aku meminta bantuannmu, untuk membersihkan kereta ini."
"Haa ... aku sudah mengira kau akan menjawab begitu. Kalau begitu, aku akan mengambil ember dan lap."
***
"Cepat masukan semua b***k kedalam kereta dan jangan sampai tersisa, kita masih memiliki banyak Pekerajaan yang belum selesai"
Malam yang mereka lalui sungguh panjang kesibukan yang di alami para penjaga benar-benar menguras tenaga, dimulai dari membantu tabib untuk membakar b***k-b***k yang mati maupun yang sekarat dan juga masih banyak lagi.
"Apa semua sudah selesai? Jika sudah cepat bawa barang dagangan tuan kita pergi dari tempat ini secepatnya!" ucap Kay lantang di tengah malam yang terus bergulir.
Semua b***k sudah di masukan ke dalam kereta. Mereka langsung berangkat, dan hanya menyisakan banyak b***k sakit di tempat itu. saudagar Xue Jang terlebih dahulu sampi ke desa Tao untuk menemui langsung rekan yang juga berprofesi sama dengannya.
Tiga hari perjalanan jika bolak balik, tapi saat ini hanya memakan waktu paling tidak satu hari penuh untuk sampai ke desa Tao.
***
Xue mei masih mengingat jelas, ibunya yang terbakar. Ia bahkan sempat melihat tangan ibu tercintanya dan sempat melambai di antara api yang terbakar. Bahkan rintihan meminta tolong b***k-b***k yang ikut terbakar bersama dengan ibunya.
"Kak." tatap Feng Ying yang sedari tadi melihat kakaknya mematung dengan tatapan yang begitu kosong. Namun sahutan adiknya tidak kunjung di respon oleh Xue mei, lalu karena tak kunjung di jawab sahutannya secara reflek Feng Ying langsung mencubit lengannya.
"Aw!"
"Habisanya dari tadi, kakak engga jawab." Feng Ying tampak kesal kali ini.
"Maafkan kakak yaa ..." balas Xue mei dengan tatapan sayu.
"Tidak apa, aku tau kakak sedih tapi yang paling sedih nanti ibu. Feng engga suka kalo ibu sedih, ini juga berlaku sama kakak, kakak ga boleh sedih lagi ya ..." ungkap Feng Ying lirih.
Xue mei tidak menyangka adiknya bisa berpikir sejauh itu, ia merasa kalah dengan adiknya yang sudah berpikiran dewasa melebihi dirinya. "Iya, maafkan kakak lagi ya. Kakak ga bakal nangis lagi, ini yang terakhir, secara tiba-tiba Xue mei memeluk adiknya diringin kereta kuda yang yang terus bergoyang naik turun karena jalan yang tak rata.
Mereka benar-bener melalui malam yang panjang, entah akhir seperti apa yang akan di hadapinya saat ini. "Kak, aku tidak bisa tidur. kereta kuda ini terlalu bergoyang-goyang membuatku sulit tidur."
"Paksakan dirimu, perjalanan masih panjang kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah sampai disana." papar Xue mei kepada adiknya sambil melihat jalanan yang tampak gelap dan hanya di terangi lampu obor tak terlalu terang.
Enam kereta kuda berjalan beriringan, mereka menuju ke arah yang sama. Lampu penerangan hanya cukup untuk menerangi jalan saja, tidak bisa untuk menerangi yang lain. Semalaman pula mereka tidak berhenti kecuali di pagi harinya mereka mengistirahatkan diri terutama kuda yang sudah semalaman bekerja keras hanya untuk memenuhi keinginan egois manusia.