"Kejar mereka yang mencuri barang dagangan tuan kita!" teriak Dong zhu keras, setelah membunuh lawan dengan akhir yang buruk.
Beberapa prajurit Dong zhu segera mengejar bandit yang mengendarai kereta kuda bersikan Para b***k. Mereka melepas tali kuda yang menghubungkan langsung ke kereta dan mulai mengejar secepat mungkin. Suasana masih tampak ngeri, beberapa prajurit masih berurusan dengan para bandit meski pimpinannya sudah di kalahkan Dong zhu dengan tinjunya. Dong zhu lantas langsung membantu bawahannya yang masih mengurus para bandit.
"Awas!" Dong zhu langsung menyerang lawannya yang sedang sibuk mengurus bawahan Dong zhu. Tebasan Dong zhu sangat dalam mengenai punggung hingga lawannya yang tadinya tersadar tiba-tiba tersungkur saja. Meski Dong zhu mengalami luka yang sanagt parah tapi dia dengan sigap melakukan penyerangan membabi buta hanya untuk membantu para bawahannya yang sedang dalam bahaya. Sampai pada akhirnya satu persatu bandit mati di tangannya sendiri.
"Apa semua baik-baik saja? ..." tanya lirih oleh Dong zhu kepada semua anggota prajuritnya. Dong zhu langsung jatuh begitu saja, namun tangan kirinya menopang tubuh di bantu pedang yang dia pegang menggunakan tangan kanannya. "Ahh ... sial di saat ini aku sangat mengantuk ... apa aku boleh tidur sebentar." Dong zhu langsung menjatuhkan dirinya ke tanah yang becek penuh darah rekan serta musuh yang gugur dan juga bercampur darahnya, matanya langsung terpejam dengan senyum tipis
Mereka tidak menyangka akan mengelami hal ini. Hal yang seharusnya tidak terjadi karena mereka mengambil jalan yang sangat aman untuk di lewati.
Perlahan suara-suara riyuh terdengar, "Hei, sepertinya pemimpin sudah bangun!" kejut salah seorang bawahannya yang memergoki tangan Dong zhu bergerak.
Sebagian prajurit langsung mengerubungi prajurit yang berada di bawahnya.
"Syukurlah, aku kira dia akan mati."
"Mana-mana?!"
"Dia benar-benar bangun kali ini, aku kira kau cuma mengigau."
"tentu saja tidak."
"Tolong ambilkan minum untuk pemimpin!" serunya kepada prajurit lain, setelah menerima minuman yang di minta. "Cepat minumlah sedikit tuan, agar kau cepat pulih."
Dong zhu sedikit membuka mulutnya, lalu sedikiti demi sedikit meneguk air yang di berikan oleh salah satu prajuritnya. "Sepertinya sudah cukup," pria itu langsung menaruh gelasnya kembali. "Aku melupakan sesuatu, kita sudah sampai di desa Tao. Itu saja yang bisa aku berita tahu saat ini. Sekarang tidurlah kembali, kalau pun lapar di sebelahmu ada sup yang sudah di siapkan bagian dapur."
"Tidak aku akan bangun dan memakan makanan ini." meski sempat menyeringai kesakitan tapi dia memaksakan diri, dan secara perlahan tangannya menyuapi diri sendiri meski bergetar.
***
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian hanya tersisa sedikit?" tanya Kay dengan wajah penuh khawatir karena jumlah rekannya yang berkurang banyak dari sebelumnya. "Dimana Pemimpin Dong zhu?" sambungnya sedari tadi menunggu kehadiran teman sekaligus atasannya.
Kereta yang datang juga hanya berjumlah lima saja, sesudah itu salah satu dari mereka turun, "Kami baru saja mengalami musibah, puluhan bandit menyerang kami dan juga banyak anggota kami terbunuh oleh mereka."
"Lalu bagaimana dengan keadaan pemimpin Dong zhu? Apa dia baik-baik saja?" Kay siap menghadapi kemungkinan terburuk jika sesuatu terjadi kepadanya.
"Pemimpin Dong zhu selamat, meski kritis. Aku tidak tahu keadaaanya saat ini karena memang saat kami pergi pemimpin sedang tidak sadarkan diri."
"Barang dagangan tuan Xue Jang bagaimana? Apa mereka semua baik-baik saja?"
"Semua baik-baik saja."
"Tapi kenapa hanya tersisa lima kereta saja?"
"Satu kereta untuk membawa jenazah anggota kita." balasnya.
"Jadi begitu, kapan mereka akan sampai kesini?"
"Sepertinya mereka akan sampai sebentar lagi." jawabnya.
"Baiklah, angkut lagi sisanya aku tahu di luar sana berbahaya, tapi lebih berbahaya lagi jika barang dagangan tuan kita berada di sini lebih lama." papar Kay kepada rekan-rekannya.
Mereka sepertinya sudah mengerti, rencana Kay, oleh karena itu mereka tidak banyak berbicara dan langsung membawa b***k-b***k yang berada di dalam ruangan tertutup.
"Apa sudah semua?"
"Kami sudah mengangkut sisanya, mungkin kereta terakhir akan datang nanti malam." jawab rekannya, "Apa kita harus berangkat sekarang atau menunggu kereta yang mengangkut mayat kembali kesini?" sambungnya.
"Tunggu nanti malam, kita akan berangkat pagi harinya. Sebelum itu, kalian istirahatlah terlebih dahulu."
***
Menangis bisa membuat kita merasa lebih baik, itu setidaknya yang Xue mei lakukan. Dia menangis di saat sang adiknya Feng Ying sedang tidur terlelap di bawah pangkuannya. Tangisannya memang tidak terdengar, dan hanya tersisa sesal karena tidak bisa melakukan apapun di saat adiknya menginginkan keluar dari sini. Xue mei bahkan tidak tahu bagaimana rencananya dapat keluar dari sini.
"Kak? Kakak tidak apa kan?" tanya Feng Ying memergoki kakaknya yang sedang sedih tanpa sebab.
"Kakak tidak apa, hanya merasa. Kita sudah lama tidak seperti ini, Adikku yang tertidur di pangkuan. Kalau diingat-ingat membuatku menagis." Xue mei tidak sepenuhnya berbohong, hanya saja dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Dia tahu jika keluar dari sini akan sangat sulit, Xue mei menyadari hal itu karena ada gadis seusaianya lahir di tempat ini sebagai b***k.
"Aku juga rindu tidur di pagkuanmu kak, apa lagi dengan ibu." ucap Feng Ying masih tertidur di pangkuan kakaknya. Ruangan yang di tempatinya dengan Xue mei menjadi sedikit lega karena sebagaian penghuninya sudah di angkut di kereta kuda bersama yang lain.
"Kak, apa kita akan baik-baik saja?" Lagi-lagi Feng Ying mengatakan hal yang sulit untuk di jawab oleh kakaknya.
"Engga kok, kita akan baik-baik saja. Percaya saja akan ucapan kakakmu ini." balasnya tersenyum membuat adiknya merasa nyaman.
"Tiba-tiba aku kembali mengantuk." ungkap Feng Ying sembari menguap lebar.
"Kakak juga begitu, kau tidur dulu. Kakak akan tetap terjaga untuk memastikan sesuatu." ucap Xue mei lalu sedikit bergeser untuk bersender di dinding kayu yang dingin.
"Suaranya benar-benar makin sunyi kali ini, aku pun tidak menyangka akan merasakan hal sedamai ini setelah sekian lama tidak merasakan kembali." batin Xue mei sambil menatap langit-langit atap yang sedikit gelap karena sedikitnya cahaya.
***
"Ayo cepat ikat tangan dan mata mereka yang masih tersadar. Aku tidak ingin jeritan mereka membuatku menjadi gila!" Suara dari kejauhan yang terdengar dari luar ruangan.
Xue yang tadinya terlelap sambil menyenderkan tubuhnya ke dinding kayu, tiba-tiba terbangun setelah mendengar suara ramai di luar sana. "Apa yang terjadi? Apa aku baru saja tertidur?" tanya Xue mei sambil mengelap pipinya lalu melihat ke arah Feng Ying saat masih tertidur lelap.
Kepala Feng Ying pelan-pelan di angkat lalu kepalanya di beri kayu balok yang ada di bawah sebagai bantalnya, "Lanjutkan tidurmu Feng Ying, kakak akan melihat ke keluar sebentar." demikan ucapnya langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi hanya untuk menjangkau jendela kecil yang memiliki celah.
Cahayanya begitu terang, mereka menyalakan api begtu besar. Itu bahkan terlalu besar meskipun hanya untuk memasak, Seketika saat itu, Xue mei memergoki ada sebuah kaki keluar dari pembakaran yang belum sempurna terbakar. Xue mei saat itu sangat ingin menjerit, namun mulutnya ia tutupi terlebih dahulu.
Air mata kembali meleleh, dia kembali dalam posisi menyender menahan rasa ingin berteriak. "Apa yang baru saja aku lihat tadi? Jadi mereka benar-benar membakar mereka yang sakit?" batin Xue mei penuh dengan rasa takut yang amat sangat luar biasa. Kemudian, ia melihat adiknya yang tertidur lelap. "Untungnya kamu tidak melihat ini."
"Ada berapa lagi yang harus kami bakar?"
"sedikit lagi, termasuk yang sekarat."
"Sebelumnya pun, kau berkata sedikit lagi. Tapi kenapa tidak kunjung rampung?
"Ah, sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang."
Mereka secara bertahap membawa mayat dan juga orang-orang yang sekarat untuk segera di bakar, hal itu cukup banyak memakan waktu.
"Hei, tolong bantu aku mengangkut wanita ini." ia pun di bantu untuk mengangkut wanita paruh baya yang sekarat.
"Tidak! Tolong jangan ibuku!" suara dobrakan kerasa dari arah dalam bangunan terdengar sangat jelas rengekan itu begitu memekik telinga mereka.