Bab 14: Semua terjadi di waktu yang sama.

1339 Words
Ruangan makin sempit di isi terus menerus oleh b***k-b***k, udara makin menipis karena bagian atap yang pendek berbeda dengan rumah kurungan yang biasa di jadikan tempat tinggal oleh para b***k yang di buat tinggi agar udara banyak yang masuk serta tidak terlalu membuat banyak ventilasi karena rumah kurungan itu di buat begitu sederhana layaknya kandang. "T-Tolong napasku sesak ..." ramai-ramai para b***k mengatakan kalimat itu beberapa kali dengan nada lirih, namun ucapan itu tidak terlalu di tanggapi serius. Mereka mencampurkan semua jenis b***k tanpa membedakan jenis kelamin, akibatnya banyak wanita yang lemas karena terus terhimpit oleh badan-badan besar para pria. "Kita harus mengeluarkan kembali sebagian b***k. Agar tidak terlalu membebani b***k-b***k yang berharga milik tuan kita." papar Kay yang di tunjuk langsung mengurus semua evakuasi para b***k ke tempat aman. "Apa ada tempat kosong lain yang dapat menampung mereka yang terisa?" sambungnya demikian. Kemudian datang Xue Jang yang tak lain adalah tuan dan juga pemilik seluruh b***k, "Apa ada masalah?" Kay segera memberi hormat, "Maafkan kami, b***k yang tersisa terpaksa harus kembali menuggu karena semua kereta yang kita miliki sudah di berangkatkan ke desa Tao." "Kalau itu aku sudah mengetahuinya, jadi sekarang masalah apa lagi yang kita miliki?" tanya langsung oleh Xue Jang sembari memperhatikan semua b***k yang dimiliki di keluarkan kembali dari ruangan istirahat prajurit. "Apa kita kekurangan ruang untuk barang daganganku?" demikian ucapnya setelah melihat situasi saat ini. "Begitulah tuan, kita kekurangan ruangan untuk masa karantina mereka." balas Kay sambil tetap menundukkan kepalanya. "Kalau begitu gunakan semua tempat yang menurutmu besar, pastikan mereka tidak mati kelaparan karena akan sangat merugikanku." Xue Jang langsung mempersilahkan semua tempat miliknya untuk di jadikan tempat karantina, Resiko kerugiannya semakin besar, oleh karena itu Xue Jang melakukan tindakan cepat agar bisnisnya dapat tetap berjalan. "Baik tuan, akan saya lakukan apapun demi bisnis yang tuan selamat dan juga agar kami tetap bisa melayani tuan." papar Kay. *** Mereka mulai mengisi tempat-tempat kosong untuk di jadikan tempat berlindung bagi para b***k. Rasanya sedikit aneh ketika si raja tega berbuat hal itu kepada para b***k miliknya sendiri. "Kakak!" peluk Feng Ying dari belakang setelah memergoki kakaknya berada di satu tempat yang sama. "Feng Ying!" tersadar akan kehadiran adiknya yang sudah lama tidak dia temukan selama beberapa bulan terakhir ini. Mereka berdua meluapkan rasa tangis dan rindunya satu sama lain. "Apa ibu bersama kakak?" "Kakak tidak tahu Ibu ada dimana sekarang, yang penting kita tahu saat ini berada di sekitar kita." jawab Xue mei sambil mengelap wajahnya dari tangisan dengan tangan. "Aku harap ibu baik-baik saja, aku tidak ingin terus-terusan disini. Aku ingin kabur dari sini!" tatap Feng Ying kepada kakak perempuannya. Tekad Feng Ying secara tidak langsung tersampaikan kepada kakaknya. "Kita akan keluar dari sini bagaimanapun caranya, jadi kamu jangan pernah menangis lagi. Tangisan kita hari ini adalah yang terakhir, apa kamu mengerti ucapanku?" Feng Ying hanya mengangguk yakin akan ucapan kakak tertuanya. "Sampai kapan penyakit ini berakhir?" "Kakak juga tidak tahu ..." Xue mei melihat sekeliling, semua b***k yang belum pernah tertular berkumpulkan jadi satu, rasa khawatir, was-was jelas sangat terasa oleh mereka berdua. Bahkan ada beberapa orang yang mematung terdiam, seperti batu dengan tatapan kosong. Bukannya menjadi ramai karena ruangan yang penuh dengan para b***k, mereka di sini lebih mirip seperti ternak yang siap di jual kapan saja karena tidak bisa melawan balik. Harapan mereka benar-benar putus, bukan hanya wanita, pria pun begitu. *** "Sialan!" Xin Liu membanting nampan yang di bawanya sedari tadi, ia kesal karena tidak bisa menyelamatkan b***k yang seharusnya dapat dia selamatkan. Tabib kerajaan tampat terkejut dengan sikap frontal di lakukan oleh seseorang yang tadinya sangat percaya diri. "Tenanglah Xin, kau pasti sudah tau resiko kita jika bekerja yang berhubungan langsung dengan menyelamatkan korban jiwa." tabib kerajaan saat ini sedang menenangkan pikiran kalut Xin Liu sambil memberikan teh andalannya yang bisa menenangkan pikiran. "Duduklah, kau sudah kelelahan. Aku tahu hal itu karena, hanya kita berdua saja yang dapat menyelamatkan mereka semua." tabib memberikan cangkir lalu menuangkan teh itu Xin Liu. Mereka duduk sambil menyeruput teh yang di seduh, menghela napas sebentar. Memperhatikan ruangan ini telah penuh dengan b***k yang sedang sakit. "Aku tidak begitu mengerti dengan kejadian hari ini, semua terjadi semakin cepat saja. Aku khawatir tidak bisa menyembuhkan mereka semua dengan seluruh tenagaku." baru kali ini, tabib kerajaan mendengar ucapan seorang yang angkuh kini menjadi sangat bimbang dan tidak percaya diri. "Aku sangat mengerti dengan ke khawatiran mu saat ini, semua orang akan merasakan hal ini, jika terlalu membanggakan kemampuan diri sendiri, dan inilah yang akan terjadi. Ketidak percaya dirimu itu, penyebab utama yang akan menghancurkan dirimu sendiri." ucap lembut dari seorang tabib kepada kawan baru yang baru saja dia kenal lima hari yang lalu. "Lihat saja mereka, yang saat ini sedang sakit. Beberapa dari mereka mungkin berharap sembuh dengan tekad kuatnya, beberapa lagi sudah pasrah. Mungkin rasa pasrah mereka adalah jika pun sembuh mereka tetap akan menjadi b***k dan terus mengalami penyiksaan. Semua keputusan ada di tanganmu, termasuk seluruh nyawa mereka." Xin Liu bangkit, "Baiklah, aku tidak tahu akan mengarah kemana takdir ini membawaku, yang jelas aku harus melakukan kewajibanku ini sampai selesai." Rasa semangat bangki dalam diri Xin Liu yang tadinya sangatlah lesu. "Aku suka dengan semangatmu, tapi ingat menjaga tubuhmu sendiri adalah aset penting. Semua bisa kamu lakukan termasuk menyembuhkan semua orang sakit ini, jadi istirahatlah terlebih dahulu." perintah sang tabib kerajaan, "Aku yang akan menjaga mereka malam ini, kamu hanya perlu menunggu giliran saja." Xin Liu langsung menuruti saja ucapan, tabib kerajaan tanpa berkomentar banyak. *** Kelelahan, haus,beberapa rekan yang mati di depan matanya. Inilah yang di alam Dong zhu, setelah hampir kehabisan tenaga melawan si bandit perisai tangguh. "Benar-benar kecewa, aku tidak mengharapkan perlawanan lemah seperti dirimu. Ayolah tunjukann taring liarmu?!" ucap perisai tangguh memancing emosi. Dong zhu berlumuran darah, tangannya tidak sanggup memegang pedang lagi. Berbeda dengan lawannya yang tangguh. Dong zhu kembali bangkit akan tetap, dengan tangan kosong tanpa memegang senjata di tangannya. "Majulah, aku sudah siap dengan akhir yang indah." Dong zhu tampak tersenyum puas setelah menemukan lawan yang sangat tangguh seorang bandit dengan kekuatan setara prajurit yang di tempa khusus untuk bertarung. "Oh, jadi kau sudah siap mati? Yang benar saja. Apa kau berharap melepas kedua tamengku ini? Jangan bermimpi!" hujaman keras dari arah bawah menukik keatas, kakinya ikut bergerak lincah seiring serangan-serangan yang dilancarkan. Fokus Dong zhu benar-benar gila! Ia dalam mode manusia gila, karena berani melawan pengguna tameng hanya dengan tangannya. Bila menyerang dengan dua pedangnya, Dong zhu sampai berlumuran seperti itu. Apa lagi jika ia hanya mengandalkan kedua tinjunya saja, sudah pasti akan lebih fatal lagi, hal gila untuk orang yang siap mati. Beberapa kali serangan, berhasil di hindari Dong zhu dengan cekatan. Seolah dia baru saja membangkitkan kekuatan seriusnya, tubuh Dong zhu yang seharusnya sulit di gerakan, tapi bisa dengan mudahnya dia gerakan. Lawannya sempat terkejut, atas reflek cepat sang lawan yang tiada habis. "Bagus, seperti itu yang aku harapkan! ... Lakukan yang terbaik!" lawannya terus menerus berbicara sambil tetap mengatur napas agar tidak cepat kelelahan. Tangkisan telak berhasil di lancarkan Dong zhu, dia melakukan hal gila dengan menangkap salah satu tameng lawan dengan kedua tangannya, kemudian berusaha merebutnya. Ternyata bagian merebutlah yang membuat Dong zhu kewalahan. tameng yang di gunakan lawannya ternyata telah menyatu dengan kedua lengannya, entah bagaimana caranya. "Apa kau terkejut? Sudah aku duga hal itu akan terjadi." Lawan menggunakan salah satu kaki kirinya dan melakukan tendangan memutar ke belakang menjauhkan diri dari Dong zhu. Dong zhu menangkap Lalu secara cepat tanganya mengambil belati yang berada ditangan kanannya. Sebuah kesalahan fatal baru saja terjadi pada lawan, dia begitu lengah karena sudah meremehkan lawan. Belati kecil itu menancap tepat di sendi, akibatnya lututnya tidak bisa di gerakan karena terkunci. Tidak hanya berhenti begitu saja, Dong zhu langsung memutar belati itu ke arah berlawanan, dan menariknya keatas. Hingga daginya tersayat dengan sempurna. hingga mencapai paha. Lawan terjatuh, setelah mendapat serangan telak pada kaki kirinya. "Pedang!" Seorang bawahannya langsung melemparkan pedang "Maafkan aku, tapi kau membuatku jengkel." belum sempat meminta ampun tubuh lawan telah menjadi kaku setelah mendapat serangan telak pada perutnya yang di robek.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD