Bab 13: Ahli pedang yang kehilangan keahliannya.

1154 Words
Langkah kuda terhenti, bersamaan dengan yang lain disana mereka mulai membuat peristirahatan sementara. "Cepat selesaikan tenda kita dan jangan lupa tutupi jeruji besi ini agar tidak terlalu mencolok." perintah Dong zhu kepada para bawahannya mereka, cepat-cepat melakukan tugas mereka dengan membagi tugas. Warna matahari semakin oranye, kayu bakar menjadi lapuk karena terbakar api yang kian panas menggrogoti kayu secara perlahan hingga menjadi arang. Para bawahan Dong zhu ramai-ramai bersantai, sambil tetap menjaga barang dagangannya karenan memang meraka berhenti tepat di tengah lapangan terbuka yang tak lain memiliki banyak resiko di serang oleh para bandit-bandit. Para bangian kru memasak yang sedang melakukan tugasnya dengan baik untuk para penjaga dan juga para b***k. Mereka sibuk mengatur suhu api, serta mencampurkan bahan makanan yang sudah mereka siapkan. Kemudian mereka langsung segera membagikan makanan ini kepada mereka yaitu para b***k. "Tuan kita sungguh hebat, meski dia menganggap mereka itu adalah barang dagangan tapi mereka tetap memberi makan mereka selayaknya manusia, meskipun tidak semua b***k mendapatkan secara rata makanan yang di bagi." ucap prajurit bayaran berbincang-bincang dengan sesama rekannya. "Tentu saja, dia akan melakukan hal itu. Semakin baik tubuh b***k saat di jual semakin tinggi harganya. Apa kalian tidak memikirkannya sampai ke situ, hah?" balas salah seorang prajurit yang juga menguping pembicaraan mereka berdua. "Aku sebenarnya tidak terlalu peduli cara tuan kita merawat barang dagangannya yang paling penting adalah dia tetap membayarku dengan harga sepadan." sambungnya dengan wajah mabuk tangannya memegang bambu sebagai wadahnya. "Hei?! Apa yang kau lakukan? Kita sedang tugas, sudah jelas jika sedang bertugas tidak boleh mabuk?!" tegur sesama rekan lainnya yang memergoki mereka sedang meminum fermentasi itu secara terus menerus. Secara tidak sadar mereka mulai melakukan pertikaian yang pada akhirnya membuat ramai di sekitar mereka. Awalnya Dong zhu memag tidak ingin melerai mereka karena ia sendiri sudah terbiasa akan hal itu. Akan tetapi hal itu malah membuatnya gatal untuk melakukan sesuatu pada rekannya. Ayunan pukulan yang mengarah ke wajah mereka berdua. Pusat dari semua pertikaian ini terjadi, "Apa kalian sudah puas dengan ini? Jika tidak, silakan bertarung melawanku kalau kalian menang. Silakan kalian melakukan apapun sesuka kalian, tapi lihatlah dimana kita saat ini." si pembuat onar kembali melihat sekitarnya yang penuh mengerubungi dirinya. Ia pun terdiam sejenak, "Baiklah, aku mengakui kalau diriku salah." "Apa harus pemimpin Dong zhu yang datang dulu baru kau tutup mulut?" pertikaian kembali memanas setelah, seorang bawahannya Dong zhu lainnya menyulut api kecil. Tapi itu segera di tahan, oleh Dong zhu sendiri. "Sudah jangan buat aku menampar kalian untuk ke sekian kalinya." Susana tegang, sedikit menurun dan mulai kembali seperti biasa. Para bawahan Dong zhu, menyibukkan diri masing-masing seperti mengasah pedangnya atau pun memainkan permainan kecil bersama yang lainnya, atau memilih untuk tidur lebih awal karena tugas berjaga di tengah malam. *** Di sisi lain selama perjalanan menuju desa Tao, b***k-b***k yang tidak bisa tidur nyenyak karena khawatir dengan nasib mereka sendiri yang akan di pindahkan ke desa Tao. "Ibu ... aku kangen ibu ..." racauan lirih seorang gadis yang setelah di paksa untuk di angkut ke desa luar. Jeruji besi yang kecil serta berisikan wanita dan gadis-gadis menjadi sempit, bahkan untuk meluruskan kaki atau berdiripun kesulitan beberapa terpaksa harus berdiri karena mereka tubuh mereka lebih besar dari pada yang lain. Jeruji besi yang di tutupi penuh dengan kain tebal agar tidak terlalu mencolok saat tengah Beristirahat. Tentu saja akibatnya, para b***k tidak dapat melihat di sekitarnya. Mereka hanya bisa meraba dari teranganya api yang terus meredup kehilangan kekuatan nyalanya karena api yang sudah habis. *** Dong zhu tertidur dalam tangannya menyilang akan tetapi kedua tangan miliknya dalam posisi siap tempur dengan memegangi pedang di kanan dan kirinya sambil menyender di pohon. Berbeda dengan lainnya yang memang hanya tidur, seperti biasa bedanya tempat tidur mereka seadanya karena berada di alam luar saja. Suara angin serasa berbisik, udara di luar pun cukup dingin bila di hirup. Semua terasa menenangkan pikiran, cahaya bulan memang tidak terlalu terang pada malam itu karena tertutupi awan. Suara dedaunan saling bergesek, namun suara itu semakin intens. "Cepat cek arah suara tadi ..." pinta bawahan Dong zhu yang berjaga saat itu. Salah satu kawannya mengecek langsung keadaaan sekitar. Setelah di cek ternyata tidak ada apapun yang mencurigakan, kecuali seekor kadal besar tengah memangsang buruannya. "Tid ..." Suara itu terhenti, secara tiba-tiba dia pun jatuh, bagian belakang tubuhnya menancap sebuah pisau. Malangnya hal itu tidak di ketahui, rekan yang juga sedang berjaga. "Hei apa kau sudah mengeceknya?" rekannya yang tak kunjung menjawab membuat rasa penasaran. Dia pun mendekati arah rekannya sambil menarik pedang dari sarung, secara perlahan melangkah memperhatikan sekitarnya, beberapa rekan terlihat sedang tidur beristirahat. "Cepat jawab aku ....," karena situasi yang mulai tidak mengenakan, setelah melihat sekelebat hitam berlari cepat. "Bangun! Ada bahaya!" teriaknya begitu kencang hingga beberapa rekan terbangun terutama Dong zhu yang langsung menarik kedua pedang. Penjaga yang baru saja memberi peringatan langsung terkena anak panah yang menancap di kepala, wajah terkejut di akhir kesadarannya lalu tangannya seolah tengah menggapai sesuatu. Kemudian ia kembali di berikan anak panah, bersamaan dengan keluarnya para bandit. Suara pedang saling beradu, begitu riyuh serta kombinasi antara teriakan saling serang begitu kentara di antara keduanya. Semua ekspresi tergambar jelas, kepanikan para penjaga yang menyaksikan para anggotanya mati di tangan bandit. Mereka yang marah ingin segera membalas balik perlakuan bandit setelah membunuh rekannya. Semua kejadian itu, sebenarnya berlangsung cepat. Namun kejadian seolah telah berlangsung lama. Dong zhu mengarahkan kedua pedang menyayat dan memotong para bandit dengan keahlian yang melebihi para bawahannya. Meski pun telah di kepung dengan puluhan bandit yang telah mengelilinginya. Pemimpin bandit menyadari hal itu setelah hampir sebagian bawahannya mati di tangan Dong zhu, yang super kuat. "Sialan kau Prajurit bayaran!!" Dia menyerang dengan menggunakan kedua tameng yang seluruh bagian tameng tersebut terdapat tonjolan baja runcing. Dong zhu terdorong cukup jauh setelah di tabrak oleh pemimpin bandit, luka yang di terimanya pun tidak bercanda. Akibat baja runcing itu, darah yang keluar dari tubuhnya cukup banyak. Untungnya luka yang di terima tidak mengenai area vital, Dong zhu pun segera melakukan serangan balik dengan kedua pedangnya. Serangan Dong zhu di tangkis habis-habisan, seolah tanpa celah sedikitpun. Namun gerakan lincah bandit pengguna tameng sangat mematikan, beberapa kali Dong zhu hampir menyapa malaikat maut karea serangan lawan. "Cih! Percuma aku mengeluarkan seluruh kekuatanku." ucap bandit pengguna tameng, terus menyerang tanpa ada luka sedikit pun. "Siapapun! Bawa lari b***k-b***k itu!" teriaknya dengan lantang. Sekian lama tidak mandi, Dong zhu di paksakan mandi darah yang juga akan menjadi mandi terakhir miliknya. Menyadari pemimpin Dong zhu sedang mengalami kesulitan seorang bawahan melemparkan pisau ke arah lawan pemimpinnya. Bandit pengguna perisai, langsung menyadari begitu ada serangan dari arah lain. "Brengs*k!" Menyadari terdapat celah kecil untuk menyerang balik, ia pun langsung melakukannya. Serangan kembali di tangkis, "Oi-oi! Apa yang baru saja kau lakukan?" tingkat kesadarannya terhadap lingkungan begitu tinggi, Ia pun segera melawan balik. Suara roda kereta terdengar melaju kencang, Dong zhu yang masih sibuk, menangani si tameng membuatnya tidak bisa melakuan apa-apa selain berharap ada yang mencegah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD