“Reval, Ayah minta maaf.” Satu kalimat yang membuat Reval semakin marah. Dia marah dengan dirinya sendiri yang terus-menerus merasakan kejahatan ayahnya. "Kenapa ...?" tanya Reval dengan suara yang mulai serak. "Kenapa Ayah minta maaf ...?" Rangga menggenggam tangan anaknya dan kemudian mendekap Reval dengan erat. Hangat, nyaman. Reval tidak mau melepaskannya untuk beberapa saat. Namun, egonya menolak. Dia tidak mengerti apa yang dia lakukan, Reval mendorong ayahnya dengan sisa tenaga yang dia punya. "Untuk apa? Untuk mempercepat kematianku?" tanya Reval. "Cukup, jangan sebut kematian lagi!" pinta Rangga dengan tulus. "Dari awal Ayah yang menggiring Reval! Perjanjian itu juga akhirnya adalah kematian Reval! Reval nggak bodoh untuk menyadari kalau jantung Reval diambil, Reval akan mati

