Tidak ada yang tahu. Aku ulangi, tidak ada yang tahu. Baik aku, Ayah, atau Revan. Setelah semua yang mereka bertiga lalui, hanya Tuhan yang mengetahui bagaimana akhir dari perjuangan Reval, seorang pemuda yang menginginkan kebahagiaannya walau sedikit. Mungkin pemuda itu memang harus berjuang kembali untuk mendapatkan kebahagiaan yang dia inginkan, sehingga dia harus bangun di atas pembaringan rumah sakit yang identik dengan bau antiseptik, dinding berwarna putih, dan sebelah tangan yang dipasang infusan. Katakan kalau itu kejam. Saat Reval sudah tidak mengharapkan apa-apa dari dunia yang selalu menyiksanya. Membuat pemuda itu memutuskan untuk menerima takdir kalau dia memang harus pergi, harus mati dalam keadaan yang dia inginkan, memberikan jantungnya untuk saudaranya sendiri. Alih-a

