Bab Satu

1338 Words

Mendung di luar, membawa angin dingin bersamanya.

Evano Kaliandra, hanya bisa menatap langit dari balik jendela kantornya sambil mendesah lelah.

Waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat dua puluh menit. Dan, ia masih terjebak di kantor lantaran lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya.

"Ini kopinya, Mas." Seorang office boy datang, dan meletakkan kopi pesanan Evan di meja.

"Terima kasih, Di," ucapnya berterima kasih, pada Hendi.

Bukan kebiasaan Evan, meminta dibuatkan kopi pada Hendi, sang office boy yang sudah bekerja di sana selama dua tahun itu. Biasanya, Evan akan membuat sendiri kopinya di pantry yang letaknya tak jauh dari mejanya. Hanya saja, entah kenapa sepertinya hari ini ia begitu malas untuk sekedar beranjak dari tempat duduknya.

Mungkin, semua ini ada hubungannya, dengan calon karyawan baru yang akan datang besok ke divisinya. Satu nama, yang mampu mengusik ketenangan hidupnya.

"Mas Evan. Ini, data keuangan hari ini mau dicek kapan, ya?" Andin, yang sejak siang tadi sudah menyerahkan data keuangan pada Evan. Merasa heran, karna sampai sore begini atasannya itu belum juga mengecek data yang ia serahkan.

"Ah. Maaf, Din. Saya cek, sekarang." Andin mengangguk, dan kembali ke kursinya.

Meski, jabatannya sebagai kepala divisi. Nyatanya, tak membuat Evan besar kepala. Ia, lebih suka dipanggil 'mas' atau namanya saja. Dibanding, dipanggil 'pak' atau semacamnya. Itu, lebih nyaman untuknya.

Sadar, jika sikapnya hampir seharian ini mempengaruhi pekerjaan rekannya. Evan pun, akhirnya mulai mengumpulkan kembali fokusnya yang sejak tadi hilang entah ke mana.

Satu persatu, data keuangan ia cek dengan seksama. Dan, tepat pukul enam, semua data yang Evan cek telah selesai. Beberapa data, ia kembalikan pada rekannya, sebelum ia mengijinkan mereka untuk pulang. Ia pun, memutuskan untuk ikut pulang, demi beristirahat setelah hari yang melelahkan.

Di dalam lift, Evan bertemu dengan Kaila, karyawan dari divisi HRD. Iseng. Ia pun, menanyakan perihal satu nama yang sejak tadi menganggunya.

"Mbak Kai. Mau tanya, boleh?" Kaila, yang sejak tadi sibuk mengetik pesan pada sang suami, menoleh setelah mendengar suara Evan.

"Tanya apa, deh?" jawabnya.

Sedikit ragu. Bahkan, beberapa kali Evan menggerakkan badannya naik turun dengan kaki yang berjinjit. Hal itu, tak luput dari penglihatan Kaila, yang sontak merasa heran.

"Yaelah, Van. Udah sih, tanyain aja." Evan tersenyum kikuk, seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Ehm. Besok, di divisi saya ada anak baru, kan?"

Kaila mengangguk. "Iya. Kenapa emangnya?"

"Namanya, beneran Ciara?"

Lagi, Kaila mengangguk membenarkan.

"Dia, punya tahi lalat di bagian bawah matanya, ga?"

Alis Kaila mengernyit. Ia, tak tahu sampai sedetail itu karyawan baru yang akan masuk esok hari.

"Mbak ga tau ya, Van. Karna, Mbak cuma ketemu beberapa kali aja sama dia pas seleksi kemarin. Jadi, Mbak ga inget pastinya."

Bahu Evan merosot. Ia, tak bisa memastikan apakah mereka wanita yang sama, atau bukan.

Denting suara dari lift, terdengar. Menandakan, mereka telah tiba di lantai tujuan mereka.

Dari jauh, Kaila sudah melihat sang suami yang menunggunya. Ia pun, pamit pada Evan dan bergegas mendekati sang suami.

Dengan seksama, Evan memperhatikan kontak antara Kaila dan suaminya. Bagaimana Kaila, yang begitu takzim pada sang suami. Juga, cara sang suami memperlakukan Kaila. Semua, tak luput dari pandangan Evan. Manis. Sungguh, membuat ia iri melihatnya.

"Mungkin, mereka juga sama seperti itu," gumamnya pada diri sendiri.

Menghela napas pelan. Evan pun, mulai melangkahkan kakinya menuju mobilnya, yang terparkir tak jauh dari pintu lift. Ia, harus bersiap untuk kemungkinan esok hari yang akan datang.

***

Sesampainya di rumah, Evan langsung membuka sebuah kotak, yang berisi kenangan berharganya.

Terlihat, banyak lembaran foto yang menunjukkan gambar antara dirinya dengan Ciara, sang mantan kekasih, dalam berbagai pose dan di berbagai tempat. Keduanya, terlihat begitu bahagia bersama.

Ciara Hanifah.

Satu nama, yang menjadi pusat dunia Evan sejak kepergian sang ibunda saat ia duduk di bangku SMA.

Ia dan Ciara, atau yang lebih sering ia panggil Ara, sudah menjalin hubungan sejak sebulan setelah MOS selesai. Keduanya, terlibat cinta lokasi setelah dipasangkan untuk acara unjuk bakat saat api unggun di hari terakhir MOS. Mereka, menjadi pasangan di drama komedi yang dibuat oleh rekan satu timnya.

Mulai dari situ, mereka menjadi semakin dekat. Hingga akhirnya, Evan menyatakan perasaannya pada Ciara satu bulan kemudian. Ciara yang juga menyukai Evan pun, tanpa berpikir panjang langsung menerima pernyataan cinta Evan.

Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun. Hubungan keduanya, tetap awet. Bahkan, meski mereka kuliah di jurusan yang berbeda, hubungan keduanya tetap baik-baik saja.

Hingga, saat itu pun, datang.

Ciara, mendatangi Evan. Tepat, di hari jadi mereka yang ke delapan tahun. Ciara, mengakhiri hubungan mereka. Tanpa memberi alasan. Tanpa memberi kesempatan untuk Evan berbicara sekedar satu patah kata. Ciara, meninggalkan Evan begitu saja.

Sejak saat itu, Evan tak pernah mendengar lagi kabar tentang Ciara.

Bahkan, keluarga gadis itu juga pergi entah ke mana.

Evan mengambil satu lembar foto berisikan potret dirinya dan Ciara, saat mereka merayakan hari kelulusan SMA bersama. Dengan latar pemandangan candi Borobudur. Keduanya, tersenyum bersama.

"Aku berharap, bukan kamu besok yang datang ke divisiku, Ra," bisik Evan pelan.

***

Sulit tidur, karna mengingat kenangannya bersama sang mantan. Sukses, membuat Evan bangun kesiangan hari ini. Ditambah, jalanan yang macet, membuatnya harus rela sampai di kantor dua puluh lima menit lebih lambat dari jam masuk kantor.

"Pagi, Mas Evan," sapa Karyo, satpam kantor.

"Pagi juga, Pak," balas Evan dengan senyum.

Tak ingin berbasa-basi lebih lama, Evan pun, langsung pamit pada Karyo menuju ruangannya.

"Nah. Itu, mas Evan."

Baru saja, ia sampai di depan ruangannya. Sebuah suara, sudah masuk ke indra pendengarannya. Yang, tak lama kemudian, orang yang bersuara tadi sudah berdiri di depannya bersama dengan seseorang.

"Mas Evan, kenalin. Ini, mbak Ciara, yang akan bekerja di divisi kita mulai hari ini."

Tubuh Evan membeku. Darahnya, seolah mengalir dengan sangat cepat di tubuhnya. Detak jantungnya, bahkan mungkin bisa terdengar oleh dua orang di hadapannya.

Wajah itu. Tahi lalat itu. Bibir mungil itu. Semuanya, masih sama seperti tujuh tahun yang lalu. Yang berbeda hanya, pakaiannya saja.

Wanita di depannya, menggunakan tunik merah jambu dipadu rok rimpel berwarna biru dongker yang senada dengan jilbab lebarnya.

"Mas Evan." Andin menggoyangkan telapak tangannya, di depan wajah Evan, yang terpaku menatap Ciara.

"Ah ... iya. Gimana, Din?" Seolah, pikiran Evan mendadak kosong.

"Yee ... Mas Evan. Kaya baru liat wanita cantik, aja. Sampe bengong, begitu," goda Andin, yang tak mengetahui bagaimana perasaan Evan sekarang.

Andin mengalihkan tatapannya pada Ciara. "Ini, mas Evan. Beliau, kepala divisi di sini," lanjut Andin, seraya memperkenalkan Evan pada Ciara.

"Salam kenal, Pak. Saya, Ciara." Ciara menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya sambil menggerakkan kepalanya sedikit menunduk.

Evan, mengikuti gerakan Ciara. "Saya, Ano." Evan mengerjapkan matanya. Lalu, menggelengkan kepalanya cepat. "Ehm, maaf. Maksudnya, saya Evan. Panggil nama, aja. Ga perlu pake 'pak' atau semacamnya. Umur kita sama, kan?"

Ciara mengangguk. "Saya, panggil 'mas' aja kalau gitu, ya. Kayanya, ga sopan kalau manggil atasan pake nama aja."

Kini, giliran Evan yang mengangguk. "Terserah, sih"

Setelah sesi perkenalan singkat itu, mereka bertiga kembali ke meja kerja mereka masing-masing.

Dari tempat duduknya, Evan bisa melihat Ciara, yang saat ini tengah diajari oleh Andin. Entah kenapa, mata Evan seolah sulit untuk berpaling dari Ciara. Padahal, ia tau dengan jelas bahwa pekerjaannya begitu banyak.

Evan mengusap wajahnya, kasar. Lalu, menarik napasnya berat.

"Sadar, Van. Dia, bukan seseorang yang pantas kamu harapkan lagi, Van," gumam Evan, yang terus berusaha menyadarkan dirinya.

Sungguh. Bertemu lagi, dengan Ciara setelah tujuh tahun lamanya. Nyatanya, membuat Evan tersadar. Bahwa, selama ini ternyata ia masih belum bisa move on dari sosok di sebrangnya itu. Meski berkali, Evan mencoba. Tetap saja, hatinya masih belum bisa mengeluarkan wanita itu dari sana.

"Mas Ev. Kita, mau makan siang. Mas, mau ikut, ga?"

Terlalu banyak melamun, membuat Evan tak sadar jika waktu istirahat telah tiba.

"Oh, iya. Duluan aja, Din. Saya, mau ke musholah dulu."

Andin mengangguk. Ia pun, berlalu menyusul rekan kerjanya yang lain untuk makan siang bersama.

Dapat Evan lihat, sepertinya Ciara mulai akrab dengan Andin, juga Lili. Mungkin, karna mereka sama-sama wanita. Jadi, lebih mudah bagi Ciara akrab dengan mereka.

"Apa kabar kamu, Ra?" tanyanya, pada punggung Ciara yang berjalan semakin jauh. "Aku harap, kamu ga pernah tau betapa tersiksanya aku, setelah kamu pergi dari hidupku. Wo De Airen," lanjutnya masih bergumam pelan.

***


Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd