BUKAN pertama kalinya aku duduk dihadapkan dengan Tante Sarah, ibu Rinai, yang datang kemari atas undanganku. Kini, kami duduk satu meja, menikmati hidangan makan malam di Skylite sambil mengamati pemandangan kota yang tampak kelap-kelip di bawah sana. Aku katakan, suasananya sungguh aneh dan canggung, tidak sama seperti kali terakhir aku bersama keluarga aneh ini. Pertemuan ini bermula dari kejadian malam lalu. Hari tersial sepanjang eksistensiku di sini. Akan kubawa kau memutari waktu menuju kemarin malam. Waktu itu aku baru menyelesaikan meeting bersama kolega sesuai jadwal yang disepakati—dan sempat aku tunda lantaran tak mau meninggalkan Larasita dalam kondisi apa pun. Dua penjaga yang kutugaskan di depan kamar Larasita malam itu duduk di kursi tunggu dengan suara dengkuran pulas, s

