Alice pun menyambungkan selimut dan seprei menjadi sebuah tali panjang. Ia akan kabur menggunakan dua bahan itu karena kamarnya yang terletak di lantai atas rumah kayu milik orang tua angkatnya.
Sebelumnya Alice cepat-cepat berkemas dan membawa semua uang tabungannya. Tas ranselnya kini penuh barang-barang miliknya juga uang tabungan yang tak seberapa itu.
Dengan hati-hati Alice turun dan berusaha sepelan mungkin saat kakinya menginjak tanah. Ia memastikan tak ada mata David di sekitarnya. Setelah ia yakin tak ada pria kurang ajar itu ia pun cepat-cepat pergi dari rumah.
Pada mulanya hati Alice bergetar hebat karena di dalam rumah itu, selama hampir 15 tahun ia tumbuh di sana. Menjadi bagian dari keluarga Mildred yang sederhana. Walau hubungannya dengan David tampak tak baik tapi semakin ia tumbuh ia pun berpikir hal itu mungkin terjadi karena David cemburu padanya. Karena pada akhirnya sang ayah bisa memiliki anak perempuan.
Tak ingin larut dalam kenangan Alice pun cepat-cepat melangkah pergi sejauh mungkin. Hingga akhirnya ia sampai ke jalan besar. Ia berjalan menuju halte bus dan menunggu di sana.
Beberapa menit kemudian bus pun akhirnya tiba dan Alice naik ke bus itu bersama beberapa orang yang juga menunggu di halte tadi. Karena uang tabungannya yang pas-pasan Alice berencana untuk menginap di rumah salah satu temannya lalu ia akan kembali setelah Dorothy dan Mildred pulang. Ia akan ceritakan semua yang terjadi padanya malam ini pada Dorothy dan Mildred.
Hingga akhirnya ia sampai di rumah Leslie yang bisa dibilang gadis itu adalah satu-satunya teman yang Alice punya di kampus. Cukup lama Alice menunggu di depan gerbang dan membunyikan bel hingga akhirnya Leslie pun muncul di teras.
Cepat-cepat gadis itu membukakan gerbang untuk Alice dengan muka bertanya, “ada apa kau malam-malam begini datang ke rumahku?” ia melirik tas ransel di balik punggung Alice, “dan tasmu penuh?” tambahnya.
Alice tersenyum kaku kemudian bertanya, “boleh aku tidur di sini untuk dua hari ke depan?”
Tanpa ba-bi-bu Leslie membawa Alice masuk ke dalam rumahnya. Kebetulan orang tuanya juga sedang tidak ada di rumah. Mereka sibuk mencari uang bahkan mungkin sudah lupa Leslie ada dunia ini dan hidup.
“Apa? Kau dilecehkan kakakmu sendiri?” Leslie benar-benar tak percaya apa yang ia dengar dari Alice. Ia sungguh tak menyangka hal seperti itu bukan saja ada di drama-drama dalam film.
“Sebenarnya dia bukan kakak kandungku, aku di adopsi dari panti asuhan saat usiaku masih 3 tahun,” ungkap Alice, “dia bilang aku selama ini selalu menyusahkan dan bahkan ayahku akan menjual satu-satunya mobil yang kami punya demi pendidikanku,” lanjutnya.
Leslie mendengkus, “itu pasti hanya tipuan supaya kau merasa bersalah dan kau mau melayani dia,” cibirnya.
“Tapi, bagaimana jika itu benar, belakangan ini aku berpikir ayah dan ibuku sedang mangalami krisis hanya saja mereka selalu bersikap semuanya baik-baik saja di depan aku dan David?” tanya Alice, “bagaimana kalau ternyata aku benar-benar beban dalam keluarga?”
Leslie menepuk bahu Alice dan menatapnya serius, “sudahlah jangan pikirkan hal itu, aku yakin itu hanya cara kakakmu memanipulasimu, setelah dia mendapatkanmu dia pasti akan mengulanginya dengan alasan yang sama, dia tahu jika kau merasa berhutang pada keluargamu dan kau akan berusaha untuk melunasinya,” tuturnya.
Alice menghela napas dan menganggukkan kepala, “ya, kuharap kau benar,” katanya.
“Keluargamu pasti sayang padamu, jangan pikirkan apa pun,” kata Leslie.
***
Alice mematikan ponselnya selama ia menginap di rumah Leslie. Ia tidak ingin kedua orang tuanya mencarinya. Lagi pula mereka selalu tahu ke mana lagi Alice pergi kalau bukan kepada Leslie. Mereka juga tidak datang ke rumah Leslie jadi Alice pikir Mildred dan Dorothy tahu Alice ada bersama Leslie.
Tetapi, matanya terbelalak ketika ia sampai kembali di depan rumahnya. Semuanya tertutup rapat bahkan beberapa bunga kesayangan Dorothy di teras juga tak ada. Rumah itu tampak sangat sepi dan di depan pintu tertera “DIJUAL.”
Alice hanya bisa celingak-celinguk mencari-cari keberadaan keluarganya. Di mana mereka? Ke mana mereka pergi? Apakah yang David katakan itu benar? Alice hanyalah beban keluarga dan sekarang keluarga yang disayanginya itu menderita karenanya?
Dengan langkah tertatih Alice pun berbalik, sangat terkejut dengan apa yang ia lihat baru saja. Ia juga bingung, ia harus ke mana sekarang. Ia lalu mengeluarkan ponsel yang masih ia matikan di dalam sakunya.
Alice pun menghubungi kedua orang tuanya. Tetapi, sayang sekali nomornya tidak bisa dihubungi. Di dalam kebingungan Alice terus berjalan kemudian tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkahnya. “Pergi saja, Alice, kau memang seharusnya tidak ada di antara kami.”
Wajah Alice tiba-tiba memucat. Ia sangat mengenali suara itu. Dengan rasa cemas ia pun membalikkan badan. Dan benar, itulah kakaknya.
“David?” Alice secara refleks mundur selangkah.
David dengan tatapannya yang penuh kebencian mendekat pada Alice, “kau lihat di sana kan? Rumahku dijual, orang tuaku tidak punya apa-apa sekarang dan itu semua karena kau!”
“Di mana mereka, mana ayah dan ibu?” tanya Alice.
“Untuk apa kau ingin bertemu mereka, mereka juga tidak ingin bertemu denganmu, kami sangat benci padamu, Alice, seharusnya kau tidak pernah ada dalam hidup kami,” ujar David penuh kebencian.
“Tidak mungkin, aku tahu ayah dan ibu sayang padaku,” sanggah Alice.
“Jangan berkhayal terus, Alice, sadarlah, terima kenyataan bahwa sesungguhnya kau adalah pembawa sial!” sergah David.
Hati Alice seakan mencelos mendengar kata-kata David. Jantungnya seperti ditembak rudal perang. Ia pun terpaku bersama air mata di tempatnya berdiri.
“Mulai sekarang jangan pernah muncul lagi di hadapan kami,” pungkas David kemudian meninggalkan Alice.
Alice yang sempat terpaku pun kini mulai berjalan gontai meninggalkan rumah yang selama 15 tahun ini menjadi tempatnya tumbuh dan tertawa. Sesekali ia menoleh ke belakang menatapi rumah penuh kenangan itu.
Tak tahu harus ke mana, Alice kini hanya duduk di halte membiarkan beberapa bus melewatinya. Ia duduk dengan muka kosong di sana seorang diri. Hingga sebuah bus berhenti dan Alice tanpa sadar menaikinya tanpa tahu akan ke mana bus itu membawanya.
Ia duduk di kursi paling belakang dan dekat dengan jendela. Gedung-gedung di kota berjalan mundur meninggalkannya. Perlahan orang-orang di dalam bus juga berkurang. Alice tertidur di dalam bus itu.
Hingga senja telah tiba dan Alice dibangunkan oleh seorang kondektur, “nona, ini pemberhentian terakhir kami,” ujar kondektur itu.
Alice pun dengan terpaksa turun dari bus bersama kesadarannya yang belum sepenuhnya terkumpul. Saat ia memijakkan kakinya ke jalan barulah ia sadar ia berada di tempat asing. Entah di mana dia berada kini. Ia pun hanya bisa celingak-celinguk sementara bus tadi meninggalkannya.
Gedung-gedung besar yang tadi ia lihat sudah tidak ada. Hanya ada sebuah terminal cukup luas dengan beberapa orang di beberapa sudut. Ada yang sedang menunggu bus ada pula yang mengamen. Ada juga beberapa pemuda yang Alice harus lewati dan tampaknya mereka bukan orang baik.
Benar saja, tiba-tiba mereka menghadang Alice dan menggodanya, “hai, nona, kau mau ke mana, sepertinya bukan berasal dari sini, mau kuantar ke tempat tujuan?”