Tinggal Bersama?

1026 Words
Alice secara refleks melangkah mundur menghindari pria-pria jahil di depannya. Jumlah mereka ada empat orang dan tak ada satu pun di antara mereka yang tampak baik. Mereka terus menggoda bahkan mulai berusaha menyentuh Alice. “Ayolah, manis, jangan takut,” ujar salah seorang dari mereka dengan tangannya yang kurang ajar memainkan rambut Alice. Alice pun menepis tangan nakal itu. Tetapi, mereka malah semakin berani dan berusaha menyentuh bagian yang lain. Alice pun dengan berani mendorong mereka hingga salah satunya jatuh ke tanah. “Sialan! Beraninya kau!” umpat pria itu sambil berusaha berdiri. Alice cepat-cepat ambil langkah dan berlari sebelum ke-empat pria itu mengejarnya. Ia berusaha berlari secepat mungkin. Ia melewati gang-gang sempit dan menjatuhkan beberapa barang yang ia lalui seperti tumpukan kardus bahkan sepeda seseorang yang terparkir di gang itu untuk mempersulit pria-pria badung yang mengejarnya. Tetapi, saat Alice sedang sibuk berlari dari mencari cara menyelamatkan diri tiba-tiba sepasang tangan menarik tubuhnya sehingga ia masuk ke dalam sebuah celah sempit di antara gang sempit yang ia lewati tadi. Celah itu adalah bagian belakang dua rumah yang berbeda dan sedikit tertutup oleh beberapa benda yang sepertinya sudah tidak terpakai lagi. Dengan takut Alice berteriak, “tidak, lepaskan aku!” “Stt... diam, bodoh, aku sedang menyelamatkanmu!” seru orang itu yang adalah seorang pria dengan jaket jeans yang kumuh dan celana robek-robek. Melihat dari penampilannya Alice merasa tak yakin ia sedang di selamatkan terlebih orang di hadapannya adalah seorang pria yang mungkin adalah salah satu dari komplotan pria badung yang mengejarnya. “Lepaskan aku! Aku tidak percaya padamu!” teriak Alice lagi. Kemudian dengan terpaksa pria tadi membekap mulut Alice yang tidak bisa diam dan ia bahkan semakin mengeratkannya ketika para pria badung tadi melewati mereka. Mereka tampak berhenti sambil mengatur napas. “Ke mana gadis itu, larinya cepat sekali?” tanya salah seorang dari mereka. Mendengar para pria badung tadi ada di sekitarnya, Alice yang semula berteriak dan meronta pun secara otomatis diam agar pria-pria badung itu tidak mengetahui keberadaannya. Hingga akhirnya tak lama kemudian mereka pun pergi karena putus asa mencari. Setalah yakin para pria jelek tadi sudah cukup jauh, Alice kemudian menggigit tangan pria yang membekapnya. “Aaaaa!!!!!” teriak pria itu kesakitan. Alice pun menjauh dengan sikap waspada. Dilihatnya pria itu mengibas-ngibaskan telapak tangannya karena kesakitan. Alice sedikit kasihan karena walau bagaimana pun pria itu sudah membantunya. “Ini sakit, dasar bodoh, kau bukannya berterima kasih malah menggigit tanganku!” omel pria itu. “Maafkan aku,” kata Alice lirih. Pria itu kemudian melangkah menjauhi Alice dengan kesal, “sialan, untuk saja tanganku tidak putus,” gerutunya. Tampaknya pria itu memang benar-benar menolong Alice. Ia berjalan terus meninggalkan Alice yang termangu di tempatnya. Dilihatnya pria itu tak menoleh dan sesekali masih mengibas-ngibaskan tangannya. Tak tahu mau ke mana dan dia ada di mana, Alice pun dengan ragu mengikuti langkah pria itu diam-diam. Entah ke mana dia akan pergi, Alice tetap membuntutinya. Hingga akhirnya pria itu pun menyadari bahwa Alice mengikutinya. Ia pun berhenti dan menoleh ke belakang. Alice pun secara otomatis juga menghentikan langkahnya dengan takut. “Hei, kau mengikutiku?” tanya pria itu. Alice bergeming dan hanya menggeleng pelan. Pria itu menaikkan sebelah alisnya kemudian melangkah mendekati Alice, “kau tidak percaya padaku tapi kau mengikutiku, aneh sekali,” kata pria itu, “sebenarnya kau mau ke mana? Kenapa kau bisa sampai di sini?” tanyanya lagi. Alice diam sejenak karena takut. Dengan kepala tertunduk ia lalu menjawab, “sebenarnya, aku tersesat,” jawabnya. Pria itu tampak terkejut, “apa? Kau sudah besar dan kau bisa tersesat? Apa kau wanita bodoh?” Alice tetap menundukkan kepala dan bergeming. “Ke mana kau akan pergi, kalau kau tidak tahu daerah ini aku akan mengantarmu,” tawar pria itu, “jangan khawatir, aku bukan seperti orang-orang tadi,” lanjutnya. Alice melirik pria itu sebentar kemudian dengan masih menundukkan kepala ia kembali menggeleng pelan. Pria itu pun kembali merasa terkejut, “kau benar-benar tersesat? Apa sebelumnya kau tidak pernah bepergian jauh atau kau sebelumnya tinggal di hutan?” pria itu sedikit meledek Alice. “Bisa kau bantu aku mencari tempat tinggal atau sebuah pekerjaan? Apa pun itu aku akan kerjakan,” pinta Alice. Pria itu diam sejenak seraya memandangi Alice, “kau tersesat atau kau kabur dari rumah?” tanyanya. Alice kembali tertunduk, “sebenarnya aku pergi dari rumah tapi saat dalam perjalanan aku tertidur dalam bus dan malah tersesat sampai ke sini,” ungkapnya. Pria itu tertawa geli, “itu benar-benar konyol,” ejeknya, “anak sebesar dirimu tersesat karena tertidur dalam bus, hahaha.” Alice pun hanya diam dengan bibir monyongnya karena merasa tersinggung dengan ejekan pria yang bahkan tak dikenalnya. Pria itu pun seketika diam ketika menyadari Alice merasa tersinggung. “Baiklah, aku akan bantu kau mencari tempat tinggal, tapi tempat ini tidak bagus,” kata pria itu kemudian memandangi Alice, “sepertinya kau anak orang kaya, pakaianmu bagus, kau yakin akan tinggal di tempat yang jelek?” tanyanya. “Tidak papa, aku akan tinggal di sana untuk sementara waktu sampai aku menemukan pekerjaan dan menerima gaji, setelah itu aku akan mencari tempat tinggal sendiri,” jawab Alice cepat. “Baiklah,” jawab pria itu sambil mengedikkan bahu. Mereka kemudian berjalan menuju ke tempat yang dimaksud pria itu. Karena merasa tidak sopan pada akhirnya Alice bertanya, “siapa namamu? Maaf, aku meminta bantuan tanpa mengenalmu lebih dulu.” “Memangnya harus mengenal untuk meminta bantuan, ya, apa orang yang kecelakaan juga mengenal sopir ambulance yang membawanya ke rumah sakit?” jawab pria itu kemudian memberitahukan namanya, “Jeff, namaku Jeff, kau siapa?” “Alice,” jawab Alice sambil mengulurkan tangannya. Jeff melirik uluran tangan itu dengan pandangan aneh. Tampaknya ia tak terbiasa melakukan formalitas seperti itu. Tetapi, ia tetap meraih tangan Alice dan bersalaman dengannya. Tanpa terasa akhirnya mereka sampai di sebuah rumah susun dengan bangunannya yang sudah jelek bahkan mungkin pantas untuk segera dugusur untuk dibangun kembali. Mereka naik sampai ke lantai 3 dan berhenti di sebuah pintu. “Ini tempat tinggal siapa?” tanya Alice. Jeff menoleh dan menjawab dengan santai, “sebenarnya ini tempat tinggalku.” Alice pun mendelik karena terkejut, “kita akan tinggal bersama?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD