"APA YANG KALIAN BERDUA SIALAN...!!" teriak Ara dengan suara kerasnya.
Walaupun ia tak punya rasa cinta terhadap Deo, sebagai seorang istri harga dirinya merasa di injak injak sekarang.
DEG!
Jantung Deo dan Vita seakan lepas dari tempatnya. Dengan cepat Deo langsung melepaskan tautannya di bawah sana.
Sedangkan Vita langsung menutupi dirinya dengan selimut.
"Ara, sayang hey ini enggak seperti yang kamu kira. Ini salah paham sayang, dia... dia yang goda aku. Maafin aku sayang, aku khilaf. Semua ini Vita yang salah sayang. Aku... aku gak bersalah." ucap Deo sambil berusaha memakai celananya.
Ara menatap milik Deo yang bergelantungan itu, "Apa itu? kenapa hitam dan kecil? ya ampun. Ara lo yang cantik bahenol membahana ini dapet suami modelan perkutut mini ini. Ya ampun gak banget Ara... " ucap Ara di dalam hatinya.
Sedangkan Vita ia langsung acting menangis. "Ara hikss hikss maafin aku Ra. Ini enggak seperti yang kamu kira. Deo yang jebak aku Ra. Aku di nodai sama Deo. Maafin aku Ra, aku gak papa kalau Deo enggak mau tanggung jawab sama aku. Aku tau dia suami kamu. Maafin aku Ra hikss hikss." ucapnya sambil menangis sesenggukan.
Tentu saja Ara langsung tersenyum miring, "Apa, di jebak? benarkan itu Deo? kalian ini memang sama sama murahan ya." ucap Ara menunjuk wajah Deo dan Vita secara bergantian.
"Ara dengerin aku dulu sayang, aku benaran khilaf. Vita bilang yang sebenarnya, jangan buat hubungan rumah tanggaku dan Ara hancur. Kamu ini sahabat istriku tapi kamu berani berkhianat dengannya." ucap Deo si playing victim itu.
"DIAM...! AKU GAK PEDULI ALASAN KALIAN BERDUA. MULAI MALAM INI KITA CERAI DEO, SURAT CERAI KITA AKAN KU KIRIM BESOK, DASAR b******k MURAHAN!!" teriak Ara dengan suara kerasnya.
"DAN KAU VITA, AKU ARA DAVINCI GAK AKAN PERNAH MAAFIN LO SIALAN. MURAHAN SAMA PLAYING VICTIM EMANG COCOK UNTUK BERSATU!" lanjutnya dengan nada tingginya juga.
"Enggak sayang aku gak mau cerai sama kamu. Maafin aku sayang, Vita yang t***l sayang dia yang goda aku." kilah Deo sambil ingi mengambil celana jelasnya.
Ara yang lebih dekat dengan pakaian mereka berdua pun dengan cepat mengambil jadi satu.
Sambil tersenyum miring Ara langsung membuangnya lewat jendela.
"ARA JANGANNNN.....!!" teriak Deo dan Vito dengan kompaknya.
Deo langsung mencengkeram erat lengan Ara setelah semua pakaiannya di buang oleh istrinya itu.
"Lepas b******k! laki laki murahan kaya lo gak pantes buat gue. Jijik banget gue sekarang lihat wajah lo sialan. Lo berdua akan menerima karmanya nanti. Lihat aja suara saat nanti, hidup kalian berdua akan hancu!" ucap Ara.
"Gak peduli, lo yang sok kecantikan dasar miskin. Gue juga gak ngurus kehilangan temen kaya lo. Udah miskin nyusahin lagi." sahut Vita yang sekarang sudah kelihatan sifat aslinya.
Ara tersenyum miring, dengan gerakan gesitnya. Ia langsung menendang kepala Deo dan kepala Vita.
BUGH!
BUGH!
"AARRRGHHHH..... SAKIT..... AARGHHHH....!!" teriak Deo dan Vita secara bersamaan.
Bahkan hidung mereka langsung mengeluarkan darah segar.
"Masih untung kalian enggak gue bunuh. Gue gak mau ngotorin tangan suci gue. Setelah ini terima karma kalian berdua, dasar manusia menjijikkan." ucap Ara dan langsung keluar dari sana.
BRAK!
Ara langsung menutup pintunya dengan keras, tak di sangka air matanya menetes.
"Sial, kenapa harus nangis sih. Ingat lo gak cinta sama cowok b******k itu Ra. Jangan nangis." ucapnya pada dirinya sendiri.
Ia langsung berlari keluar dari hotel itu.
Dari kejauhan seorang lelaki tampan memperhatikan Ara dari tadi. "you are so beautiful little girl" ucapnya sambil tersenyum miring.
Bahkan sahabatnya pun sampai heran, belum pernah ia melihat bos sekaligus sahabatnya itu menatap seorang perempuan dengan segitunya.
Ia pun langsung ikut menata perempuan itu juga. "Wow besar banget gila, aihh cantiknya ciptaan mu tuhan." celetuknya.
Tentu saja bosnya itu langsung melayangkan tatap tajam padanya. "Jaga matamu, atau ku congkel sekalian hah!"
"Hehe pishh bos, cuma lihat aja cantik sexy banget sayang kali kalau enggak di lihat." sahutnya.
Ya dia adalah Xavier King Danendra CEO sekaligus Ketua Mafia yang terkenal dengan sifat dingin dan kejamnya.
Dan yang bersamanya kini adalah Rehan Ardhito anak dari pasangan Bram Ardhito dan Indah Ardito. Orang terkaya no 4 se Asia.
Xavier masih punya satu sahabat lagi, namun dia berada di markas tak ikut dengannya saat ini.
Namanya Fero Alwildan anak dari pasangan Faris Alwildan dan Kia Awildan. Orang terkaya no 5 se Asia.
"She'a Mine, jaga matamu sialan. Aku tak suka perempuan yang sudah ku incar, kau jadikan bahan tontonan." ucap Xavier dan langsung pergi meninggalkan Rehan.
Rehan pun hanya bisa melongo, "APA? YA TUHAN TERIMAKASIH TERNYATA BOSKU MASIH NORMAL ENGGAK BELOK...!!" teriak Rehan dengan nada kerasnya.
Ia sudah bareng dengan Xavier dari ia SMP dulu, baru kali ini ia melihat Xavier tertarik dengan perempuan.
Jikan ada perempuan yang berani mendakati Xavier maka langsung akan di penggal kepalanya saat itu juga.
Rehan pun senyum senyum seperti orang gila, ia dengan cepat langsung berlari mengejar bosnya yang sudah sedikit jauh itu.
"TUNGGU BOSS...!" teriaknya dengan keras sambil berlari.
Di dalam mobil Xavier langsung tersenyum miring, entahlah kali ini ia benar benar merasakan yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Siapapun kamu, akan ku cari kamu gadis kecil. Kau sudah membuatku gila malam ini. She's mine kamu milikku selamanya baby." ucap Xavier sambil tersenyum miring.
Dadanya berdetak dengan kencang, sungguh ini memang benar adanya.
"Gila, muka lo kenapa Xav?" tanya Rehan sambil terkekeh pelan.
"Bacot. Diam." sahut Xavier dengan raut wajah saltingnya.
"Sial, baru kali ini gue ngerasa gila karna perempuan. Arrghh malu... " ucap Xavier di dalam hatinya.
"Lo beneran salting Xav, daebak emang gila tuh cewek bisa bikin lo kaya orang gila gini Xav." ujar Rehan sambil menatap sahabatnya tak percaya.
Dengan cepat Xavier langsung mengubah raut wajahnya jadi dingin kembali.
Namun di dalam hatinya, ia merasa gila karna perempuan yang baru saja di lihatnya.
"Ke markas sekarang, jangan banyak bicara!" ujar Xavier dengan nada tegasnya.
Rehan pun dengan cepat langsung menjalankan mobilnya. "Ia bahkan tak bisa menahan tawanya saat sahabatnya itu tertarik dengan perempuan saat pertama kalinya. Sial teman gue jadi puber lagi." ucapnya dengan suara lirihnya.
"Diam atau gue robek mulut lo Han." ucap Xavier dengan nada dinginnya, ia sangat malu pada sahabatnya itu.
"Pantesan dari dulu selalu nolak cewek, carinya yang spek bidadari sih. Sekali jatuh cinta dapet spek semlehoy." celetuk Rehan.
Tentu saja Xavier langsung melempar pulpen di sakunya tepat pada kepala Rehan.
"Aaaaaarrghhhhh sakit bos....!!" teriak Rehan sambil mengusap kepalanya yang berdenyut.
"Brisik, diam dan lanjutkan perjalanan!!" titah Xavier sekali lagi, ia sedang tak ingin bercanda saat ini.
Namun di hati kecilnya ia manahan rasa untuk tidak berteriak saking saltingnya dia saat ini.
"Aku janji setelah ini, aku akan cari kamu baby. Aku pastikan di pertemuan kita yang ke dua. Kamu akan jadi milikku selamanya baby. Apa yang sudah jadi milikku tak akan pernah bisa lepas dari ku dengan mudah." ucapnya didalam hari sambil tersenyum miring.