SALAH PELUK

1938 Words
“Uang lagi? Uang gajiku lebih dari separo lo aku kasih kamu, sekarang aku lagi gak pegang uang, uangku tinggal empat ribu. Aku sudah di pecat bahkan di usir dari kontrakan” ucap panjang gadis itu, sepertinya sedang menelepon seseorang di seberang sana. Tangannya membetulkan tas ransel yang membebani punggung. “Apa? putus? Masak kita putus cuma gara-gara aku dipecat. Ah terserahlah..” Raya mematikan sepihak telefon dari mantan kekasihnya. “Gini amat ya hidup, diputusin gara-gara gak punya uang, di pecat, di usir, perut lapar gak ada makanan. Lengkap” keluhnya namun langkahnya tetap berjalan tanpa arah di tendangnya apa pun yang menghalangi kaki. Raya mengerutkan kening ketika melihat gerombolan anak berdiri di depan gerbang makam, ia berlari menghampiri. “heh bocah, ngapain di situ gak baik anak kecil main di kuburan” Raya menegur beberapa anak yang sedang berdiri menghadap makam. “kita lagi tunggu kak Adi kak minta coklat, itu orangnya” jawab anak laki-laki yang tak mengindahkan perkataan Raya. “Kalian harus hati-hati, jangan mau di kasih sembarangan orang, apalagi minta. Kalau dia mau jahatin kalian bagaimana?” Pesan Raya kepada anak-anak itu, ia tak ingin ada predator yang memanfaatkan kepolosannya. “Kak Adi orangnya baik kok kak, itu rumahnya. Kak Adi kasih coklat supaya coklatnya nanti bisa terbang di atas sana di rumah kak Shella” cakap anak perempuan bergigi ompong sambil menunjuk ke atas langit. Yang di tunggu kini telah tiba terlihat lelaki muda menghampiri mereka tampak memberikan setiap anak satu coklat, Raya sadar diri ia harus antri, dia lebih memilih berdiam diri di bawah pohon kamboja. Setelah sekian menit ia menunggu giliran, kini ia memberanikan diri untuk meminta jatah sesudah anak-anak itu terlihat pergi. Raya menaruh tasnya di bawah lantas berdiri mendekati lelaki yang di keluhkan kebaikannya oleh bocah-bocah itu. Dia berharap kali ini perutnya tak lagi lapar setelah bertemu dengannya. “Adi” panggilnya ragu. “Shela? Shella aku merindukanmu. Jangan pergi lagi! Jangan tinggalkan Adi” di ciumnya ke dua pipi hingga dahi, di peluknya tubuh itu seakan tak mau melepas kembali. Raya yang kaget menerima perlakuan Adi hanya bisa terbengong dan mengedipkan mata berkali-kali mencerna apa yang sedang terjadi. Ditarik rambut pria itu dari belakang dan memberikan bogeman tepat di mata kanan dengan hitungan detik Adi terkunci tubuh Shella. Kini posisinya Adi tengkurap dengan tangan di kunci ke belakang, sedangkan kaki Raya menekan lehernya. “Eh mbak lepasin! kasiannya Adi” Warga coba menolong Adi. “Orang ini kurang ajar mentang-mentang saja jomblo main peluk saja. Untung tampan kalau tidak h*bis ini leher, aku minta coklatnya bukan berarti aku bisa diginiin SAKIIT.., bestie” ucapnya sambil menunjuk dadanya, ia tersinggung atas kelakuan Adi. “Astaghfirullah hal adzim neng Shella” kata orang Palembang tersebut yang telah lama tinggal di Jakarta. “Sepertinya dia bukan Shella deh cek, gak mungkin dia hidup lagi. Kita lo jadi saksinya.” “Maaf” tutur Adi setelah terlepas dari cengkeraman Raya. “Eh tunggu Adi, eh nama kamu benar Adi kan? Hey, Gak bisa gitu ya, minta maaf langsung kabur. Setidaknya kasih aku makan sebagai tanda maaf kamu” cegahnya sementara tangan menahan perut yang terus bunyi karena dari kemarin tidak ada makanan yang bisa ia makan. Dikejarnya Adi sebab tidak ada tanda ia menyetujui persyaratan yang dia berikan. “Lupa, tas” Raya menepuk jidatnya, ia lupa membawa tas yang ia tinggalkan di bawah pohon. Orang-orang sama menjauh ketika Raya lewat, ia tak menggubris di dalam pikirannya saat ini yang penting perut bisa kenyang. “Berhenti! Duduk situ jangan masuk! Saya ambilkan makanan” peringatan tegas Adi untuk Raya, membuat Raya mengerem mendadak agar tak menabrak tubuh Adi yang berhenti secara tiba-tiba di pintu. “Eih Adi, aduh kebelit nih. Numpang kamar mandi, sekalian mandi. Gerah” bukannya menurut, Raya menyelonong masuk meski Adi belum mengizinkan. “Arhan sini! Ajak temanmu main ke rumah kakak, kakak punya makanan banyak” Adi sudah menyiapkan nasi dengan beberapa lauk di kursi panjang teras rumah, ia selalu masak sebelum subuh karena setelah dari makam Shella kegiatannya amat padat, mulai dari kuliah, kerja, belum lagi membantu Beni mengelola perusahaan papanya. Sejak kepergian Shella, perusahaan pak Burhan terbengkalai karena pak Burhan lebih sering mengurung diri di rumah, semangat hidupnya turun drastis sebab kepergian sang buah hati. Beni yang tak tega melihat kondisi papanya akhirnya luluh juga untuk ikut terjun menangani perusahaan tekstil keluarganya. Beni kesulitan mengendalikan perusahaan karena ini merupakan pertama kali baginya bergabung, lantas ia meminta bantuan Adi, meski Adi lulusan SMP tapi IQ-nya sangat membantu dalam perkembangan perusahaan. Sebagai bekal, Beni menolong Adi mengenyam pendidikannya lagi. “Lah ngapain ngundang bocah-bocah kemari” protes Raya tidak terima makanannya sudah di kerubuti anak kecil tetangga Adi. “Dari pada saya ngundang warga” ketus Adi. “Ih gila muka kita sama, ini yang namanya Shella? Siapa ini wanita cantik di samping Shella ibunya kah? Cantik sekali wajahnya mirip aku. Seandainya lah kita kembar pasti aku beruntung punya keluarga lengkap seperti Shella. Ini ibu kamu Di? Kok dari tadi aku gak lihat ibumu? Kamu jualan rujak? Bolehlah aku bantu lumayan buat beli bedak biar gak licin ni jidat.” “Dari tadi diam mulu, ibu mana?” tanyanya lagi. “Sudah meninggal, waktu tuju harinya Shella.” “Innalillahi wainnailaihi rojiun eh maaf, kalau boleh tahu beliau sakitkah?” Raya salah tingkah, ia tidak tahu kalau ibu Halimah meninggal tidak lama setelah Shella. Adi sangat terpukul atas kepergian ibunya. Hampir dua bulan ia terpuruk satu demi satu orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya. Ia mulai bangkit ketika Beni membantu untuk mengikuti ujian kelulusan di sekolahnya dulu dengan syarat perusahaannya akan mengembangkan kualitas sekolah tersebut dengan menjadi donatur tetap. Kepala sekolah pun tidak keberatan karena selama tiga tahun ini Adi tidak pernah dikeluarkan dari sekolah karena ia sangat menyayangkan siswa berprestasi yang telah mengharumkan nama sekolah izin keluar di saat akan diadakannya Ujian Nasional, selain tak mampu membayar ujian ia di tuntut kerja oleh keadaan. Tangan bu Halimah patah akibat jatuh dari motor tukang ojek yang ia tumpangi. Sebelum bu Halimah meninggal, beliau memberi wasiat putranya untuk memakamkan dirinya di samping makam suaminya di pulau seberang. Iya ibu Halimah dan suaminya perantau, Adi tetap menetap di sini karena sejak di dalam kandungan hingga di besarkan ia di sini, keluarganya pun banyak yang merantau kesini. Susah untuknya beradaptasi kembali di tanah kelahiran orang tua. “Ibu hanya mengeluh pusing kepala dan susah tidur sejak kepergian Shella” terang Adi getir. “Kamu cari kerja? Kalau kamu mau aku kasih kamu pekerjaan. Aku bayar lima juta” tawar Adi. “Tenang saja, aku tidak sekotor itu tapi ada syaratnya?” ungkap Adi ketika melihat gelagat Raya seakan berpikir buruk tentangnya. “Apa?” tanyanya antara antusias dan ragu, Raya merasakan seolah ada setitik cahaya terang buat memperpanjang hidupnya beberapa hari ke depan. “Aku ingin tahu latar belakangmu sebagai jaminan, kamu tidak akan menipuku apalagi merugikanku” itulah syarat yang diajukan Adi karena tidak mau nanti ia menyesal memperkerjakan Raya yang wajahnya sangat mirip dengan Shella bedanya hanya di rambut panjangnya dan juga sifatnya. Untuk yang lain mirip tanpa celah. Gara-gara rambut panjang Raya tertutup jaket yang ia pakai serta memakai rok pendek selutut seperti pakaian Shella waktu hidup, membuat Adi mengira Raya, istrinya. Raya masih memakai seragam kerjanya lantaran baru pulang dari tempat ia bekerja di sebuah dealer mobil tak jauh dari rumah Adi, dia dipecat karena menghajar pengujung yang mencoba melecehkannya. Raya tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan yang sama setelah ia pulang kerja dengan orang yang berbeda meski niatnya tak sama. “Dan satu lagi, sini KTP!” “Buat apa? Buat daftar di KUA ya?” Adi tak menghiraukan pertanyaan Raya, setelah mendapatkan KTP Raya lantas Kartu Tanda Penduduk itu dimasukkan ke dalam dompetnya. “tempat tinggal juga dapatkan ya?, aku tak ada uang buat bayar kontrakan” permintaan raya kepada Adi. “Ini satu juta buat uang muka, sisanya nanti kalau pekerjaannya sudah selesai” Adi menyerahkan beberapa uang merah yang telah diambilnya dari dompet kepada Raya. “Arhan tolong antarkan kakak ini ke rumah mama Arya! Ini buat Arhan dan teman-teman beli es” Adi meminta tolong kepada anak tetangganya untuk mengantarkan ke kontrakan baru Raya setelah ia menelepon salah satu tetangganya yang tak jauh dari rumahnya. **** “Hahaa matamu kenapa? Sepertinya wajahmu hobi lebam, perasaan papa sudah tobat deh hahaaa” ledek Beni setelah tiba di meja makan di mana keluarganya kini telah kumpul. Pak Burhan yang sejak tadi membaca berita terbaru di iPhone langsung meletakkan iPhonenya dan menatap anaknya mengintimidasi. “Tenang pah, kali ini Beni sama kakek percaya ini bukan ulah papa hahaa.” “Ben!” tegur bu Naya. “Duduk!” pak Burhan menghembuskan nafasnya pelan kemudian menyuruh Beni duduk. “Papa minta tolong salah satu di antara kalian pergi ke Surabaya” “Adi gak bisa, bang Ben saja” Adi menolak permintaan mertuanya, untuk menggantikannya mengunjungi cabang perusahaan yang baru saja dibuka di Surabaya. “Enak saja ini giliran kamu” Beni tak terima karena kunjungan kemarin sudah ia yang pergi. “Udahlah Ben kamu ngalah” bujuk mamanya. “Kenapa sih bukan Papa saja? pecah kepala Beni, memikirkan perusahaan terus” “Papa sudah tua, sekarang giliran kalian yang urus” pak Burhan puas dengan hasil kerja keras mereka, di bawah tangan Adi dan Beni perusahaannya kini melaju lebih pesat dan dapat membuka cabang baru di kota pahlawan. “Baiklah, tak tega aku melihat wajahmu Hahaa.” Akhirnya Beni mengalah karena tak mungkin juga membiarkan Adi pergi ke Surabaya dengan muka lebam. Pak Burhan serta bu Naya tersenyum geli melihat wajah Adi seperti itu. “Mata kamu kenapa nak? Kok membiru seperti itu.” “Adi salah peluk orang ma, Adi kira dia Shella” ucapnya malu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tawa mereka pecah bagaimana bisa ia memeluk perempuan lain, Shella yang ia cinta baru berani pegang setelah ia sah, meski hanya sekejap. Luka biru di mata bisa menjelaskan bagaimana reaksi korban dari kecerobohan Adi. “Lihatlah mereka Shell, senyum itu kini kembali pulang.” Adi terharu keluarga istrinya telah menemukan senyumnya kembali. “Nak seandainnya kamu di sini..” ucap pelan bu Naya, tak sadar satu air mata kembali menetes. Bu Naya tampak tersenyum melihat keluarganya bisa bercanda bersama, watak Beni keras seperti ayahnya semakin ditentang semakin dia melawan namun ia akan luluh dengan sendirinya bila tak ada lagi yang memaksa. Sangat sulit menyatu di antara keduanya. Pak Burhan kini tak sekeras dahulu, membiarkan Beni memilih jalan hidupnya namun masih dalam pengawasan justru itu yang merubah Beni menjadi seperti sekarang, tanpa di minta ia seakan menuruti keinginan papanya dahulu untuk membantu mengurus perusahaan, meski semata mata ia hanya tidak tega melihat kondisi papanya saat ini. Bu Naya dan Adi hanya menjadi pendengar setia, pak Burhan serta Beni lah yang lebih berperan meramaikan suasana dengan membahas seputar perusahaan yang mereka geluti, kadang pula terlihat perdebatan di antara keduanya dan bu Naya yang jadi penengahnya. Marahnya pun tak perlu membutuhkan waktu lama karena mereka membutuhkan satu sama lain. Beni yang merasa ogah-ogahan dan sering mengeluh capek namun penasaran sedangkan pak Burhan semangat tapi badan tak kuat. “Enak juga ternyata soto mama, pantas Shella suka” ucap Beni, tiba-tiba ia teringat almarhum Shella. Tidak cuma Beni kedua orang tuanya pun langsung hilang keceriaan mendengar nama yang di sebut anaknya, Adi tampak menunduk dalam meresapi setiap rasa yang menghampiri hatinya. Semuanya hening, tawa yang di nanti-nanti kini telah lenyap kembali. Mata Beni berembun “Shella” badannya bergetar mengingat adiknya yang telah tiada. Beni berusaha melanjutkan makannya hingga tandas namun satu sendok, dua sendok, tiga sendok ia menyerah, tak kuat menahan kerinduannya yang terlalu dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD