DIA

1304 Words
Terlihat lelaki paruh baya hendak keluar dari mobil sambil di papah seorang wanita muda berpakaian serba putih-putih khas seragam dari rumah sakit. Adi yang melihat itu lantas melepas jaz yang ia pakai dan meletakkannya di kursi paling pojok lalu menghampirinya untuk membantu suster menurunkan kakek. “kasihan cucu kakek, pengantin baru mukanya lebam semua” pak Wira, kakek Shella tidak terkejut dengan apa yang menimpa cucu barunya itu, dia sudah tahu siapa dalang di balik muka lebam Adi karena bukan ini kali pertama Adi di buat memar dengan orang yang sama. “Est sakit kek” Adi merintih ketika luka lebamnya di pegang si kakek. “Oalah kakek kira kamu sudah tidak bisa merasakan sakit hahaa” olok kakek. “Sakit ini tidak sesakit yang di dalam pasti kakek lebih paham” “Hahaaahaaaa... “ ketawa pak Wira terjeda teringat seseorang “Ani” ucapnya lirih, matanya kembali berkaca-kaca, pak Wira terkenang mendiang istrinya yang telah lama meninggal karena melahirkan anak semata wayangnya yang kini telah menjadi seorang ayah dari dua anaknya Shella dan juga Beni. Pemandangan yang sedap dipandang mata di mana kerabat maupun tetangga bu Halimah saling membantu, bergotong royong mempersiapkan pemakaman Shella, bahkan paman Adi sendiri ikut menggali kubur bersama beberapa sanak saudara lainnya. Mereka semangat bergantian mencangkul tanah tempat peristirahatan terakhir keluarga barunya. Kakek teriris hatinya melihat kondisi pak Burhan yang memprihatinkan, di tepuk pundak anaknya untuk memberinya kekuatan sebelum melangkah menuju Jenazah cucu di baringkan. Di sana sudah ada bu Naya yang terduduk lemas dalam pelukan sang mama di dekat jenazah dan juga para pelayat yang sedang membacakan ayat suci Al-Qur’an khusus untuk Shella. “Shell..,” Badan Adi terpaku ketika matanya menangkap tubuh istrinya terbujur kaku. Tiba-tiba tubuh Adi melemas hendak jatuh namun dengan bisikan kakeknya, Adi kembali kuat menopang tubuhnya dan juga tubuh kakek Shella. “Kamu cucuku, kamu pasti bisa melewati ini. Ikhlaskan istrimu!” Setelah melihat jenazah Shella, ia mintak diantar ke kamar Shella karena sejak dari tadi tidak melihat Beni. Ia tahu betul watak Beni yang begitu menyayangi adiknya pasti sekarang Beni berada di kamar Shella untuk mengobati rasa sakitnya kehilangan. Setelah di dalam kamar kakek duduk di dekat Beni yang sedang membaca buku harian Shella, awalnya Beni acuh namun tak lama dia memeluk tubuh rentan kakeknya. Adi membiarkan Beni menumpahkan kesedihannya kepada sang kakek. Pintu ia tutup dan membiarkan perawat kakeknya menunggu di kursi dekat pintu kamar yang telah di sediakan kerabat bu Naya. Adi tidak ingin tertinggal apa pun yang bersangkutan dengan Shella, tak henti-hentinya dia berdoa, membelai dan juga mengecup Shella. Tibalah saatnya ia merasakan detik-detik terakhir dapat memandang wajah ayu nan lembut istrinya. Kain kafan pun hampir menelan tubuh Shella, sebelum wajah cantiknya tertelan pula, dikecupnya dahi Shella untuk terakhir kalinya. Kali ini air matanya tak mampu lagi ia bendung, satu tetes air mata berhasil jatuh di hadapan jenazah Shella, dengan cepat ia usap air mata itu karena ia tak ingin istrinya melihat kesedihannya. “Tidurlah yang nyenyak Shella istriku, jadilah bidadari surga untuk Adi. Maafkan Adi belum mampu menjadi suami yang baik untuk Shella belum bisa membahagiakan Shella. Adi sayang Shella” di belainya pipi Shella yang halus, senyum tulus kasih sayang mendarat di bibir Adi. Dengan berat tangan Adi bergetar menutup wajah Shella dengan kain kafan di saksikan mertua serta kakak iparnya dengan tatapan sendu. Proses pemakaman berjalan dengan penuh kesedihan, pengantin laki-laki bahkan belum sempat mengganti pakaiannya. Kini semua pelayat telah pulang ,tinggal Adi dan juga Beni yang masih setia menemani Shella dalam kesendiriannya yang sunyi di bawah tumpukan tanah. “Bang ayo pulang ini hari sudah mulai gelap sebentar lagi hujan akan turun” “Mana bisa abang tinggalkan Shella sendirian di sini Di. Shella takut gelap, pasti di bawah sana dia ketakutan” “Astaghfirullah hal adzim, istigfar bang! Yang adik abang butuhkah sekarang keikhlasan kelapangan hati abang dan juga doa abang” “Tetap Di, berat rasanya meninggalkannya sendiri di bawah batu nisan ini." Sejenak Adi terdiam membiarkan Beni menumpahkan kasih sayangnya yang begitu dalam terhadap adiknya. Adi memaklumi apa yang di rasakan abang iparnya saat ini, ketika Shella masih bernafas bagaimana ia menjaga serta memanjakan adik satu-satunya itu yang kini hanya menjadi sebuah kenangan yang terpendam. “Tes” tetesan air hujan turun dari langit menyapa tangan Adi yang membelai peristirahatan Shella, Azan magrib pun sudah tak terdengar lagi. “Bang” Beni terdengar menghembuskan nafas besarnya pelan-pelan sebelum mengusap nisan Shella lalu meninggalkan adiknya tertidur sendiri dalam gelapnya malam, di susul dengan langkat berat Adi. *** Satu tahun kini telah berlalu, selesai menunaikan Shalat subuh di masjid, Adi memutuskan untuk mengunjungi istrinya tercinta dengan membawa bunga tabur untuk menyekar, setangkai mawar dan juga coklat yang sudah di siapkan di ruang tamu sebelum ia berangkat ke masjid. Tempatnya tak terlalu jauh dari rumah Adi, jarak dua rumah memudahkan ia mengunjungi istrinya setiap hari. Tampak dari kejauhan ada sosok pria yang sedang berdiri di dekat pusaran makam Shella. Semakin dekat semakin jelas pula siapa lelaki tersebut. “Dari tadi bang?” sapa Adi pada lelaki itu. “Tumben kesiangan, baru bangun?” “Jam abang yang mati” jawab santai Adi. Beni yang baru saja menyadari kalau jamnya telah macet ia lantas memperbaikinya. “Papa mama bagaimana kabarnya?” Tanya Adi mengenai mertuanya yang sudah sepekan tak ia kunjungi. Tangan kanannya menyekar sebagian bunga tabur yang ia bawa di makam istrinya, untuk sisanya ditaburkan ke kuburan sekitar yang tidak jauh dari kuburan Shella. “Masih biasa, kamu sama papa suruh mampir rumah” pesan Papanya kini telah tersampaikan. Adi hanya menanggapi dengan senyuman kecil. Sesaat mereka larut dalam pikirannya masing-masing, akhirnya Beni memutuskan untuk pergi ke kantor papanya dan membiarkan Adi sendiri. Adi menatap punggung kakak iparnya. Ada rasa kasihan di hatinya, mengingat hubungan Beni dan Maya yang tidak bisa di perbaiki. Setelah Beni memutuskan pertunangan karena ingin lebih fokus menjaga Shella, keluarga maya menerima pinangan sahabat karib Beni. Setelah kepergian kakak iparnya dia mendoakan yang terbaik untuk Shella dan tak lupa menghadiahkan surat Yasin untuk kekasih hatinya yang kini jauh di alam sana. Di balik gerbang makam telah menanti beberapa anak untuk bertemu dengan Adi. Adi menghampiri mereka berjongkok menyamakan ketinggian badan. “Kok kalian Cuma bertiga, mana yang lain?” Adi memberikan tiga batang coklat kepada ke tiga anak-anak kecil itu. “Cyntia lagi sakit gigi, Arhan belum bangun kak Adi. Kak jangan bawa coklat terus kita di marahi mama kalau makan coklat terus nanti bisa sakit gigi kayak Cyntia. Besok bawa robot saja kak!” ujar anak laki-laki itu dengan semangat. “Kak Shella kan perempuan tidak main robot." “Robotnya kan bisa buat adik bayi yang ada di perut kak Shella” Sanggah anak kecil itu tak mau kalah. “Seandainya..,” ucap lirih Adi mendengar ucapan anak kecil itu yang membuat hatinya terasa nyeri. “Besok kakak bawakan nasi uduk, biar kenyang.” “Rujak saja kak, mamak pasti suka aku bawakan rujak buatan kakak. Kata mamak rujaknya kakak T.O.P” usul gadis kecil dengan senyumnya yang lebar memperlihatkan giginya yang ompong. “Iya kak aku juga suka, aku kan suka makan sayur biar cepat besar kayak kak Adi, kita pulang yuk! makasih coklatnya. d**a kak Adi.” Adi tak menyadari kalau sejak dari tadi ada seorang gadis yang mengawasi gerak geriknya. “Adi” sapa gadis itu. Mendengar suara itu, suara yang selalu ia rindukan, suara yang selalu mengusik tidurnya, suara yang membuat jantung berdebar hebat. Adi memalingkan badannya ke arah suara itu, senyum itu, pemilik senyum manis itu yang membuatnya menanti entah sampai kapan waktu akan mempersatukannya kembali untuk selamanya. Kini gadis yang dirindukannya sudah berada di depan matanya, bahkan sangat dekat. Tak ada lagi penghalang di antara mereka. “Shela? Shella aku merindukanmu. Jangan pergi lagi! Jangan tinggalkan Adi” di ciumnya ke dua pipi hingga dahi, di peluknya tubuh itu seakan tak mau melepas kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD