KEMARAHAN BENI

1554 Words
“Tidak nak tidak nak jangan tinggalin papa, SHELLAAAA..,!” pak Burhan terduduk lemas menerima kenyataan yang harus ia terima. Tatapannya langsung kosong menatap sang buah hati yang tak lagi ada tanda-tanda adanya pergerakan meski hanya gerakan yang ada di dadanya. “Gak mungkin, gak mungkin, gak mungkin Syella anakku gak mungkin. Pa? Gak mungkin kan pa? anak kita gak mungkin ninggalin kita kan pa? Gak, ini gak benar. Syella baik-baik saja Syella pasti sembuh. Gaaak..,” Suara bu Naya melemah sebelum ia kehilangan kesadarannya. Bu Halimah ibunya Adi yang sejak dari tadi menguatkan bu Naya di sampingnya dengan gerak refleks menangkap tubuh bu Naya yang kehilangan keseimbangan. Adi lantas menggantikan posisi bu Naya menggendong Shella. “Ustaz sebaiknya istri saya segara di bawa pulang” ucapnya sembari mengangkat jenazah istrinya. “Tunggu nak Adi, sebaiknya kamu segera memberikan mahar yang kini sudah menjadi hak istri nak Adi” Adi menarik nafasnya dalam-dalam dan menutup matanya untuk menetralkan rasa yang berkecamuk di dalam hatinya. “Syella Anastasya istriku aku berikan mahar yang sudah aku ucapkan di depan ustaz dan juga di depan ayah sebagai walimu sebagai syarat aku menikahimu” “khusyuson illa rukhi Shella Anastasya Al-Fatihah..,” ucap Adi, ia kemudian lantas membaca surah Al-Fatihah dengan penuh penghayatan. “Adi!” tiba-tiba Beni datang dari arah depan. Mobil Beni terhalang oleh mobil pengunjung Restoran lain, namun si pemilik mobil tak kunjung ketemu. Beni akhirnya menunggu kedatangan taxi yang ia pesan. “Maksud kamu apa berdoa seperti itu! Mama? Papa?” “Ada apa ini, Mama papa kenapa? Kenapa semua diam? Hah? terserah, Adi cepat bawa Shella ke mobil, kita harus bawa cepat Shella ke rumah sakit. S***l orang itu parkir seenaknya sendiri. Awas sampai ketemu, kita naik taxi saja!” omel Beni kesal mendapatkan kesialan di saat yang genting. “bang, Shella..” sela Adi. “Shella?” Bani mengerutkan keningnya kemudian ia menghampiri keduanya. “SHELLA! Kenapa? Kenapa wajah Shella banyak darah seperti ini. Siapa yang melakukannya, aku tanya siapa yang melakukan?” bentak Beni yang kehilangan kendali tidak terima wajah putih adiknya kini berubah jadi merah darah. Di bantingnya semua barang di dekatnya karena emosi pertanyaannya tidak ada yang jawab. “Kamu, kamu Adi. Aku suruh kamu jaga Shella kenapa bisa seperti ini hah? Kalau tidak ingat peran kamu di hati Shella sudah aku ha***si kamu. Cepat bawa Shella ke mobil”. “Bang.. Shella sudah pergi” Beni yang akan melangkah keluar terhenti seketika kemudian berbalik arah melayangkan pukulan ke wajah Adi. “Bugh” Adi yang menerima serangan dadakan kedua kalinya sempat oleng namun ia berusaha menjaga keseimbangannya karena kini di pelukannya ada istrinya yang ia sayangi. Pukulannya kini mengenai pelipisnya sebelah kiri. Pukulan Beni cukup kuat mengingat badan Beni yang tinggi kekar keturunan dari sang ayah sedangkan tinggi Adi hanya 166 badan pun bisa dibilang kecil. “Lepas!” hardik Beni seraya merebut paksa Shella lantas di baringkan Shella di meja. “Dek bangun! Jangan bercanda seperti ini abang gak suka. Bangun dek, bilang sama abang siapa yang membuat adek seperti ini. Ayolah dek bangun!” Beni tidak terima adiknya dibilang telah meninggal, ia berusaha membangunkan Shella. “adek mau abang melanjutkan pertunangan abang sama kak maya? ia abang turuti atau kamu ingin papa mama restui kalian sekarang? Nanti biar abang yang bujuk papa kalau perlu abang akan tinggalkan dunia musik apa pun yang papa mau akan abang turuti asal papa merestui kalian. Atau kamu minta yang lain, ayo dek bilang. Ini kenapa darahnya terus keluar, Di tolong pegangkan infusnya! kita harus cepat bawa Shella ke..” “Bang cukup! Ikhlaskan Shella pergi, kasihan Shella adik abang” Satu tetes air mata berhasil lolos dari mata Beni. “Shella,.. bangun Shell jangan hukum abang seperti ini. Bangun dek bukan abang yang jahat, dia, dia yang menghalangi mobil abang, dia yang jahat. Abang sudah berusaha sebisa abang cari kendaraan, tolong jangan hukum abang seperti ini dek.. ayo dek bangun! jangan tinggalkan abang, abang mohon!” Beni memeluk tubuh adiknya dengan sangat erat berharap ada nafas baru yang menghiasi tubuh Shella seperti sebelum-sebelumnya. “Ayo bang kita bawa Shella pulang, abang yang kuat demi Shella” bujuk Adi. “Sebaiknya abang pulang sama mama papa, biar Shella pulang bersama Adi” Beni menatap lekat Adi, Adi memberikan senyuman serta anggukkan kecil seakan minta kepercayaan kakak istrinya. Beni bangkit dengan lesu setelah selesai melihat Shella di bopong suaminya keluar , Beni yang melihat mamanya masih tak sadarkan diri lantas di gendongnya wanita yang telah melahirkannya dan adiknya menuju mobil. “Pak Burhan, izinkan saya membantu menyupir mobil bapak” Pak Burhan menatap ustaz dengan mata berkaca kaca, tidak dapat menutupi kesedihannya sebelum memberikan kuncinya lalu berjalan lemah mengikuti anaknya yang lebih dulu berjalan. “Terima kasih ustaz” ucapnya bergetar menahan tangis. Pamannya Adi berlari mendahulu Adi dan juga kakak iparnya untuk membukakan pintu mobil taxi yang terlihat si depan Restoran. Sopir taxi kaget melihat kondisi yang menimpa keluarga penyewa taxinya, dia langsung masuk ke dalam mobil siap-siap untuk mengendarai taxinya. “Paman ini kunci rumah tolong paman ambilkan uang di peti coklat di bawah kasur ibu” pesan Adi kepada sang paman ketika sudah berada di dalam mobil. “Sekalian dek Har ambilkan uang mbak di lemari, terbungkus kain biru” ucap bu Halimah yang berdiri di depan pintu belakang mobil yang masih terbuka. “Ibu?” “kenapa nak, uang ibu kalau bukan untukmu dan Shella terus untuk siapa lagi” Adi langsung menundukkan wajahnya di hadapan wanita yang telah mengandungnya sembilan bulan. “Mengendarai mobilnya pelan-pelan saja pak, saya tidak ingin istri saya kesakitan” ucapnya lesu memandangi wajah istrinya yang tertidur pulas untuk selamanya di pangkuannya kini. “kenapa? Setelah kita di izin kan sedekat ini, kita harus berpisah. Entah sampai kapan ku harus menunggu untuk bersamamu lagi sedekat ini Shell” Adi menengadah ke atas menyandarkan tubuhnya meresapi detik setiap detik saat terakhir bersama istrinya. “Sabar nak, kamu yang kuat. Tahan air matamu jangan sampai mengenai istrimu” pesan bu Halimah yang sedari tadi mencoba menguatkan diri untuk tidak menangis. “Tisunya mas” ucap sopir taxi menyerah tisu basah ke arah Adi. “Makasih” Dibersihkannya darah kering yang mengotori wajah cantik istrinya dengan sangat hati-hati. Tak di izinkannya darah itu melewati kulit putih Shella. Adi tersenyum membelai pipi Shella, menikmati kecantikan wajah istrinya. “Tunggu aku Shell, Adi menyayangi Shella sangat menyayangi”. Mobil Pak Burhan datang terlebih dahulu diiringi beberapa motor milik tamu undangan yang hadir di pernikahan Shella dan Adi yang tak lain teman, kerabat serta tetangga bu Halimah dan juga Adi. Mereka semua memutuskan ikut mengantar Shella ke rumah terakhirnya. Semua mata terheran heran karena banyak rombongan motor yang mengikuti mobil pak Burhan. Pemandangan ini pun sampai di telinga pak Rt. Pak Rt menyambut kehadiran pak Burhan dan rombongan untuk menanyakan apa yang sedang terjadi kenapa wajah mereka bersedih. Ustaz Rusdi mencoba menerangkan musibah apa yang menimpa keluarga pak Burhan. “Den apa yang terjadi dengan nyonya” terlihat mang Karyo bingung serta khawatir melihat bu Naya yang tak tak sadarkan diri. “Shella mang..” ucap Beni terputus tidak kuat hati mengatakan bahwa adiknya telah meninggal. “Non Shella kenapa den?” tanya mang Karyo menyelidik. “Mang tolong siapkan semua proses pemakaman, saya ke kamar dulu. Kalau butuh apa-apa bilang Adi suaminya Shella sebentar lagi mereka datang” “pemakaman? Suami? Suami non Shella?” untuk sesaat mang Karyo menelaah arti setiap kata yang diucap tuannya. “Astaghfirullah hal adzim non Shella..” terpancar kesedihan di raut wajahnya. “innalillahi wainnailaihi rojiun non Shella..,” Bik Surti sangat Syok tanpa sengaja mendengar obrolan Beni dan suaminya. Diremas kuat dadanya untuk menahan rasa sakit yang sangat menusuk di hati, Bik Surti yang dulu harus kehilangan calon bayi serta rahimnya akibat kecelakaan di beri kesempatan membantu bu Naya merawat putrinya Shella bayi putih cantik yang baru saja ia lahirkan namun kini harus kehilangan ke dua kalinya buah hati meski bukan ia yang mengandung. Sakit sungguh sakit itu yang di rasakan bi Surti. “Bik tolong siapkan kamar mama!” “Baik den, Ya Allah non Shella. astaghfirullah hal adzim astaghfirullah hal adzimastaghfirullah hal adzim” air matanya tak henti-hentinya mengalir deras. Namun ia tetap menapakkan kaki di setiap anak tangga untuk menuju kamar utama. “Ben..” panggil bu Naya lemah yang mulai sadarkan diri. “Iya mah” “Huuft..” bu Naya meringis menahan rasa pusing kepalanya akibat terlalu lama menangis. “Mama kenapa, pusing kepalanya? Mau Beni panggilkan dokter Hans?” tawar Putranya. “Tidak usah nak”. Di dalam kamar terlihat pak Burhan duduk termenung di bibir kasur, Beni meletakkan pelan-pelan mamanya ke kasur yang sudah ada tumpukan bantal sebagai penopang punggung bu Naya. Bik Surti hanya bisa berzikir pelan melihat musibah yang sedang menimpai keluarga tuannya. “Mama istirahat ya, Beni mau ke kamar. Bi tolong jaga mama papa, saya mau ke kamar” Tak berselang lama kepergian Beni, mang Karyo mengetuk pintu kamar mengabarkan jenazah putri tuannya kini telah tiba. “Permisi tuan, jenazah non Shella sudah datang” mang Karyo masih terlihat Syok tidak percaya bahwa Shella telah tiada meski ia sudah melihat sendiri jenazahnya. Yang ia lihat di matanya gadis itu sedang tertidur pulas di atas gendongan seorang pengantin laki-laki dengan hem putih dan jaz hitam yang penuh darah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD