Pagi itu, Matthew duduk di ruang kerjanya, memandang kosong ke arah jendela besar yang memperlihatkan hamparan kota di bawahnya.
Pikiran Matthew terus berkecamuk, kembali ke malam itu, malam panas yang tak terduga, penuh gairah. Namun, meninggalkan luka mendalam di hatinya.
Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Aletta akan menghilang begitu saja setelahnya.
Harapan Matthew sederhana, ia berpikir malam itu akan menjadi awal dari hubungan baik mereka, awal untuk memperbaiki hubungan yang telah lama rusak. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Aletta kembali pergi tanpa jejak, membuat Matthew terjebak dalam pusaran rasa bersalah yang semakin hari semakin menghancurkan dirinya.
"Bagaimana jika ia menganggapku memanfaatkan keadaannya? Bagaimana jika ia berpikir aku adalah monster?" gumam Matthew pada dirinya sendiri.
Bayangan Aletta yang terlihat mabuk dan di kelilingi para pria terus menghantui pikiran Matthew kala itu.
Matthew akhirnya memutuskan untuk mencari tahu kebenaran setelah Aletta meninggalkan dirinya setelah malam yang penuh kerumitan itu.
Dengan amarah yang membakar, Matthew meninju meja di depannya, suaranya serak dengan tekadnya yang kuat. "Tidak! Aku harus tahu kebenarannya," desisnya, rasa bersalah dan penyesalan menggerogoti dadanya.
Ia tahu, jauh di dalam dirinya, bahwa situasi Aletta tidak mungkin berada dalam keadaan seperti itu tanpa campur tangan pihak ketiga.
Beberapa hari kemudian, lewat penyelidikan yang dipenuhi kegelisahan dan harapan yang nyaris pupus, Matthew akhirnya menemukan sebuah fakta yang mencengangkan, sebuah kebenaran yang mengguncang keyakinannya hingga ke dasar.
Minuman Aletta malam itu memang sengaja dicampur oleh pria tua yang tak dikenal di bar. Pria itu memanfaatkan situasi untuk alasan yang tak bisa di maaf kan. Amarah Matthew memuncak.
Dengan pengaruh dan kekuatannya, Matthew menemukan pria tua itu dan memberinya pelajaran yang membuatnya tak akan pernah berani melakukan hal serupa lagi.
"b******k berani menyentuh milikku, itu sama saja kau harus berhadapan denganku!" desis Matthew dengan tak henti-henti memberondong pukulan padanya.
Ia tidak bisa membayangkan jika Aletta berakhir dengan ke-lima pria itu.
Namun, meskipun keadilan yang ditegakkan Matthew terhadap pria tua itu sedikit mengurangi beban di pundaknya, itu tidak mampu menghapus rasa bersalah yang menggerogoti hatinya. Ia masih merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada istrinya.
Bayangan tentang bagaimana perasaan Aletta setelah kejadian itu terus menghantuinya. Apa yang ada di pikirannya? Apa yang membuatnya memutuskan untuk menghilang kembali selama tiga bulan setelah ia susah payah dapat menemukan keberadaan Aletta setelah lima tahun lamanya.
"Argh ...!" geram Matthew ketika semuanya memenuhi pikirannya.
***
Aletta akhirnya menyadari bahwa ia tidak bisa terus bersembunyi. Sudah tiga bulan sejak kejadian malam panas itu, dan selama waktu itu, ia hanya fokus pada dirinya sendiri, mencoba melarikan diri dari rasa trauma dan kebingungan yang membelit hatinya ketika putaran memori mengenai malam itu terjadi karena dirinya.
Ia mengingat jelas bagaimana dirinya mencoba memaksa kan dirinya ke bar dan mabuk. Namun, kebodohannya justru membuatnya terjebak dengan Matthew.
Tidak, pikirnya. Semua itu bukan kesalahan Matthew. Ia sendiri yang memaksa Matthew untuk menekan hasratnya, membiarkan perasaan itu tumbuh tanpa kendali.
Entahlah, setiap kali kenangan itu datang kembali, kepalanya terasa sesak, seolah dunia ingin meledak.
Sejenak Aletta meraih cangkir teh miliknya yang telah dingin tersebut kemudian menyesapnya hingga separuh gelas.
Aletta kembali mengingat pesan dari putranya sebelum ia mengantar ke sekolah, bila ia ingin Aletta menjemputnya di hari pertama setelah libur panjang.
Aletta pun segera bergegas untuk menjemput putranya.
***
Dengan pakaian rapi melekat di tubuhnya, Aletta menggunakannya saat menjemput putranya. Dan ternyata ketika ia sampai, waktu sudah menunjukkan jam belajar di sekolahnya telah selesai.
Aletta menghampiri pagar bersama para orang tua lain yang juga menjemput anak-anak mereka.
Tepat sekali, bel sekolah pun berbunyi.
Anak-anak sebaya dengan Arthur mulai bergerombolan keluar dari sekolah menuju pagar yang langsung dibuka oleh penjaga sekolah.
Satu per satu mereka menghampiri orang tua masing-masing dengan berbagai ekspresi.
Arthur juga tampak keluar menghampiri Aletta. Namun, dengan wajah yang berbeda dari biasanya. Tak ada senyuman yang biasanya menghiasi wajahnya. Ia tampak lesu dan menunduk.
Aletta yang merasa khawatir segera menghampirinya, lalu jongkok agar sejajar dengan putranya.
"Arthur, Sayang..."
Arthur mendongak perlahan, melihat ibunya sudah berada di hadapannya.
Pria kecil itu hanya mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Arthur, kenapa Sayang?" tanya Aletta lembut sambil mengusap wajah putranya.
Arthur hanya menggeleng pelan tanpa menjawab, lalu menggenggam tangan ibunya.
Aletta mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut dan memutuskan untuk membawanya masuk ke mobil.
"Katakan pada Mommy, hari ini Arthur kenapa?" tanya Aletta setelah memasangkan seatbelt untuk putranya.
Arthur menggeleng lagi. "Tidak, Mommy, Arthur baik-baik saja," cicitnya mencoba meyakinkan ibunya.
"It's okay, Baby, katakan pada Mommy ...."
Arthur kembali menggeleng, lalu menyandar kan punggungnya ke sandaran mobil.
Aletta memutuskan untuk tidak memaksa. Ia tahu, putranya akan menceritakan semuanya jika sudah siap.
***
Seperti biasa, makan malam hanya di hadiri oleh Aletta dan Arthur. Mereka duduk dengan makanan yang telah Aletta siapkan khusus untuk putranya.
Namun malam ini berbeda. Arthur tidak banyak bicara seperti biasanya, hanya fokus pada makanan di piringnya.
"Suka dengan masakan Mommy?" tanya Aletta di sela-sela makan malam mereka.
Arthur mengangkat pandangan dan mengangguk pelan.
Aletta tersenyum lega. Ia selalu memastikan makanan untuk putranya dibuat sendiri agar lebih sehat dan higienis.
Di tengah keheningan, akhirnya Arthur membuka suara
"Mommy..."
Aletta menoleh dan menatap mata biru putranya. "Iya, sayang?"
"Mommy, apa Arthur sama seperti teman-teman yang lain?"
Aletta mengerutkan dahi. Pertanyaan itu terdengar ambigu.
"Teman-teman Arthur bercerita mereka ingin memberi hadiah untuk Daddy mereka, karena besok adalah Father's Day," katanya pelan.
"Mereka bertanya kenapa Arthur tidak membeli hadiah untuk Daddy. Arthur bilang akan membelikan hadiah boneka untuk Mommy."
Arthur terdiam sejenak. "Mereka tertawa, Mommy. Mereka bilang Mommy dan Daddy itu berbeda."
Arthur melanjutkan, "Arthur bilang Mommy dan Daddy adalah sama, tapi mereka menertawakan Arthur. Mereka bilang itu artinya Arthur tidak punya Daddy."
Aletta tertegun mendengar penuturan putranya. Perasaan sedih mengalir di hatinya.
Jadi, ini alasan putranya diam sepanjang hari?
Aletta memang sempat berpikir untuk membohongi Arthur tentang ayahnya, tapi bagaimana mungkin setelah mendengar kesedihan anaknya?
Aletta meletakkan sendok ke piring dan berpindah duduk di samping Arthur. Ia memeluk putranya, mengusap punggung kecilnya dengan lembut.
"Tidak ada yang berbeda, Sayang. Arthur sama seperti mereka."
"Lalu, di mana Daddy Arthur?"
Aletta mengusap air matanya yang mulai jatuh. "Daddy sedang pergi jauh, Nak."
"Pergi jauh ke mana, Mommy?"
"Pergi jauh karena ada urusan penting sehingga tidak bisa bersama kita," jawabnya pelan.
Arthur menatap ibunya lekat-lekat. "Tidak. Mommy berbohong."
Aletta tertegun. Ia lupa, putranya telah diajarkan untuk jujur sejak dini.
"Arthur tidak punya Daddy seperti teman-teman yang lain, kan?"
Arthur meletakkan sendoknya dengan bunyi dentingan kecil, lalu turun dari kursinya. Ia berjalan ke kamarnya tanpa berkata apa-apa lagi.
Aletta tahu, putranya marah.
"Aku harus melakukan apa?" gumamnya, air matanya mengalir lagi.
Ia bingung. Ia tidak menyangka harus menghadapi hal seperti ini.
Setelah beberapa saat, Aletta menghampiri kamar Arthur. Ia mengetuk pintu dan berkata lembut, "Sayang, Mommy tahu ini sulit, tapi Mommy selalu ada untuk Arthur. Kau tidak sendiri."
"Tenangkan diri Arthur, kalau Arthur sudah merasa tenang buka pintu dan temui Mommy ya, sayang."
Aletta memberikan waktu untuk putranya menenangkan diri, karena memang ia biasa melakukan itu kepada putranya.
Sedangkan Arthur setelah berada di kamarnya ia melangkah dan duduk di ujung ranjangnya, memeluk lututnya erat. Matanya yang sembab kembali menatap kosong ke arah mainan-mainan yang berjejer rapi di rak. Namun, tak satu pun dari mereka mampu menghibur hatinya yang gundah.
"Arthur salah," gumamnya pelan, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri.
Ia mengingat bagaimana ia berbicara pada ibunya tadi di meja makan. Hatinya merasa bersalah, tapi perasaan bingung dan kecewa masih bergemuruh di dalam dirinya. Ia sangat menyayangi ibu nya, tapi mengapa semua terasa berbeda saat teman-temannya membicarakan ayah mereka?
"Mereka bilang aku tidak punya Daddy," pikirnya, matanya mulai berkaca-kaca lagi.
"Tapi itu tidak benar, kan? Mommy mengatakan aku sama seperti mereka."
Arthur memejamkan mata, mencoba mengusir rasa sedihnya. Ia merasa lelah, bukan hanya karena tangis, tapi juga karena perasaan yang bercampur aduk di dalam dirinya.
"Kenapa Daddy tidak di sini?" pikirnya.
"Apa Daddy tidak ingin bersama aku dan Mommy?"
Bayangan teman-temannya di sekolah kembali muncul di pikirannya. Tawa mereka, komentar mereka, semua terulang seperti rekaman yang terus diputar.
"Aku ingin tahu tentang Daddy... tapi aku juga tidak mau membuat Mommy sedih lagi," bisiknya.
Arthur tahu bahwa ibu nya selalu berusaha untuknya. Ia melihat bagaimana ibu nya yang selalu menyiapkan semuanya, dari makanan, pakaian, hingga waktu untuk bermain dengannya. Itu membuat hatinya sedikit hangat, tapi tetap ada ruang kosong yang tak bisa ia pahami.
"Aku mencintai Mommy," katanya, hampir berbisik.
Arthur merapatkan pelukannya pada lututnya, mencoba menenangkan diri.
"Mommy bilang aku sama seperti mereka. Tapi kalau begitu, kenapa Daddy tidak pernah ada di sini?" pikirnya lagi.
Namun, di tengah rasa sedihnya, ia mengingat sesuatu yaitu, wajah ibu nya yang selalu tersenyum untuknya. Arthur merasa hangat lagi.
"Mommy tidak pernah meninggalkanku," bisiknya, suara kecilnya mulai menemukan kekuatan.
"Mungkin aku harus percaya Mommy. Mommy selalu ada untukku."
Arthur menyeka air matanya dengan lengan bajunya. Meski hatinya masih penuh tanda tanya, ia mulai merasa bahwa ia perlu memeluk ibu nya lagi.
"Aku ingin Mommy tahu kalau aku tidak marah," gumamnya.
"Aku hanya ingin tahu, itu saja."
Ia pun bangkit pelan-pelan, melangkah ke pintu kamarnya. Rasa bersalah pada ibunya dan kasih sayangnya yang besar mulai mengalahkan rasa sedihnya. Ia ingin meminta maaf, ingin merasa aman dalam pelukan ibunya lagi.
Dengan hati yang masih sedikit berat, Arthur membuka pintu, berharap ibunya masih menunggunya.
Selama hampir sepuluh menit berlalu akhirnya putranya itu membuka kan pintu kamarnya dengan perlahan. Arthur berdiri di sana, matanya sembab. Ia melangkah kecil ke arah ibunya, lalu memeluknya erat.
"Maafkan Arthur, Mommy," cicitnya.
Aletta membalas pelukan itu, mengusap kepala putranya. "Mommy Sayang Arthur ...."
Arthur mengangguk kecil di pelukan ibunya. Meski hatinya masih penuh pertanyaan, pelukan hangat ibunya memberikan sedikit ketenangan.