Aletta melangkah perlahan menuju anak buah tangga rumahnya, matanya sesekali melirik tumpukan dokumen yang kini ia peluk erat bersama laptop di tangannya. Ia baru saja selesai menyusun presentasi untuk rapat hari ini.
Semalam, Jasmine, asistennya yang cekatan, telah mengatur jadwal rapat penting untuk Aletta ketika dirinya mengatakan akan kembali ke perusahaan. Asistennya itu memang dapat di andalkan, tetapi tanggung jawab kali ini terasa lebih besar dari biasanya. Aletta harus menarik minat para klien baru untuk mencari investor baru dan menggantikan sebagian dana yang di berikan Matthew pada perusahaannya.
Intinya Aletta sudah bertekad tidak akan melanjutkan apa pun yang berkaitan dengannya.
Namun entah mengapa, pagi ini tiba-tiba Aletta merasakan sesuatu yang aneh menguasai dirinya.
Kepalanya terasa sangat berat, seperti ada beban tak terlihat yang terus menekan, mengisi setiap ruang dalam pikirannya dengan ketegangan yang membebani. Mual-mual yang ia rasakan sejak pagi semakin parah, menyelimuti tubuhnya dengan rasa tidak nyaman yang semakin menguasai.
Setiap langkah yang ia ambil menuju tangga terasa seperti perjuangan kecil yang menguras seluruh tenaganya, seolah dunia di sekelilingnya berputar lebih lambat, memaksanya untuk terus bergerak meskipun tubuhnya begitu lelah.
Namun seperti biasa, ia menepis rasa tidak nyaman itu, memaksakan dirinya untuk fokus pada pekerjaan yang telah ia rencanakan.
Ia tidak pernah membayangkan jika harus meninggalkan tanggung jawabnya lagi, apa lagi menunda meeting yang sudah ia susun dengan hati-hati.
Namun, saat ia semakin melangkah menuju tangga dan semakin ke bawah, rasa pusing yang menyerang begitu hebat hingga ia terpaksa meraih pegangan tangga untuk menstabilkan diri.
Jemarinya mencengkeram erat besi dingin itu, sementara ia memijit pelipisnya dengan gerakan pelan. Ia berharap rasa sakit itu akan menghilang, tapi kenyataannya justru sebaliknya.
Dan di tengah usahanya untuk tetap berdiri tegak, pikirannya mulai melayang. Kejadian tiga bulan lalu lebih tepatnya pada malam panas itu perlahan-lahan kembali muncul.
Semua terasa begitu nyata, seolah ia sedang menyaksikan potongan film yang di putar ulang. Setiap detil percakapan, setiap sentuhan, semua kembali menghantuinya.
Aletta menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir bayangan itu, tetapi rasa khawatir mulai menyusup di benaknya. Tubuhnya memberikan tanda-tanda yang tidak bisa ia abaikan.
Ia memejamkan matanya, menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Namun, tiba-tiba sebuah kenyataan menghantamnya dengan keras, siklus menstruasinya terlambat, dan ia baru menyadarinya.
Pikirannya langsung dipenuhi dengan berbagai spekulasi menakutkan, setiap kemungkinan yang muncul semakin membuatnya cemas dan bingung.
"Apa yang kau pikirkan Lett ...," gumam Aletta pelan mencoba menepis pikiran yang tidak seharusnya melintas dalam otaknya.
Namun, tanda-tanda itu terlalu jelas untuk di abaikan.
Aletta bergegas menuju kamar mandi, langkahnya tergesa dan gemetar. Ia membuka laci kecil di sudut wastafel, tempat di mana ia menyimpan berbagai perlengkapan darurat, termasuk testpack yang kini terasa lebih menyeramkan daripada alat biasa.
Tangannya gemetar saat ia mengambilnya, pandangannya tertuju pada alat kecil itu yang terasa begitu berat. Beberapa detik berlalu, dan ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri.
Lakukan saja sekarang, Aletta. Jangan menunda lagi, ucap batinnya.
Dengan tangan yang masih bergetar, ia memutuskan untuk memeriksanya saat itu juga. Prosesnya hanya membutuhkan beberapa menit, tetapi waktu itu terasa seperti penantian panjang yang menyiksa untuknya.
Aletta berdiri di depan wastafel, memejamkan mata untuk sejenak, berharap semua ini hanya lah kekhawatirannya yang berlebihan.
Namun ketika ia akhirnya menatap alat itu, dunia seolah berhenti berputar.
Dua garis merah muncul dengan begitu jelas, menciptakan jawaban yang sempat ia ragukan.
Perasaan syok menyergapnya, diikuti dengan gelombang emosi yang bertabrakan. Takut, bingung, dan sesuatu yang lebih halus, lebih dalam, yang sulit ia pahami. Ia terdiam, dadanya bergemuruh. Napasnya terasa berat, sementara matanya tetap terpaku pada alat kecil itu.
Aku hamil ..., gumamnya dalam hati, seolah mengatakan itu dengan lantang akan membuatnya lebih nyata.
Aletta meletakkan testpack itu di atas meja wastafel, kemudian menatap bayangannya di cermin.
Wajah yang ia lihat begitu berbeda terlihat pucat, tegang, dan penuh dengan pertanyaan.
Pikirannya langsung melayang kepada Matthew, pria yang telah ia coba hapus dari kehidupannya tersebut.
Kenangan malam itu, saat segalanya terasa begitu intens dan penuh gairah, kini menjadi pangkal dari semua kekacauan ini. Jika memang ini benar-benar terjadi, itu artinya ia harus kembali berurusan dengannya.
Langkahnya terasa berat ketika ia keluar dari kamar mandi. Tubuhnya seperti kehilangan kekuatan, sementara pikirannya dipenuhi oleh sejuta pertanyaan tanpa jawaban.
Ia berjalan ke ruang tamu dengan tatapan kosong, lalu menjatuhkan dirinya di sofa. Dengan kedua tangan memeluk tubuhnya sendiri, ia mencoba menenangkan diri.
Namun, pikiran itu terus menghantamnya, apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah ia siap menghadapi ini ? Dan bagaimana jika Matthew mengetahui hal ini?
"Tenangkan dirimu Lett," katanya kepada dirinya sendiri, meskipun ia tahu itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.
Pekerjaan yang tadi memenuhi pikirannya kini terasa begitu jauh.
Semua rencana yang sudah ia susun semalaman mengenai meeting mendadak tergantikan oleh satu pertanyaan besar, apa yang harus ia lakukan?
Aletta mencoba mengatur napasnya, membuat dirinya benar-benar tenang.
Namun tetap saja Aletta tetap tidak bisa. Ia mencoba meyakini bila dua garis yang ada pada testpack itu salah namun ia tetap tidak bisa melakukannya.
***
Perasaan yang bercampur aduk, antara takut dan cemas mengiringi setiap langkahnya menuju tempat yang akan memberi kepastiannya.
Saat ini Aletta sudah berada di ruang pemeriksaan, dokter menyapanya dengan senyum ramah. "Selamat pagi, Ibu Aletta. Silakan berbaring."
"Saya izin untuk memeriksanya ya."
Aletta mengikuti instruksi dokter dengan canggung. Layar monitor di sebelahnya mulai menampilkan gambar yang membuat jantungnya berdegup kencang. Suara detak jantung kecil terdengar jelas di ruangan yang sunyi ini.
"Janin Anda saat ini sudah berusia tiga bulan," ujar dokter sambil menunjuk layar.
"Semua terlihat baik. Anda harus menjaga kondisinya dengan baik."
Mata Aletta berkaca-kaca. Ia merasakan perasaan yang bercampur tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Bayi ini adalah bagian dari masa lalunya yang terus berusaha ia tinggalkan.
Matthew, pria yang ia coba lupakan, kini menjadi bayangan yang tak bisa dihapuskan begitu saja. Tapi ketika melihat gambar janin itu, ia merasa ada tanggung jawab besar yang harus ia jaga. Ia tidak bisa lagi melakukan hal jahat kepada janinnya ini, seperti dulu ia yang berniat menghilangkan Arthur saat dirinya mengetahui pertama kali mengandungnya.
"Terima kasih, Dokter," ujar Aletta dengan suara bergetar sebelum meninggalkan ruangan.
Di lorong rumah sakit, ia menggenggam hasil pemeriksaan itu dengan erat, seolah mencoba mencari kekuatan dari secarik kertas tersebut.
Aletta tahu, sekeras apa pun ia menepisnya, kenyataan itu tetap hadir dengan gemuruh sunyinya, di tubuhnya kini bersemayam lagi kehidupan yang membawa jejak Matthew. Pria yang telah lama menjadi bagian dari masa lalu, namun bayangannya tetap membekas seperti luka yang enggan sepenuhnya sembuh.
Namun, untuk menyalahkan pria itu, Aletta tahu itu bukan lah jalan yang bisa ia pilih. Semua ini adalah akibat dari keputusannya sendiri, memilih untuk tenggelam dalam alkohol yang pada akhirnya membawanya ke dalam situasi yang tidak pernah ia harapkan.
Aletta melalui kembali lorong-lorong yang tadi sempat ia lewati. Namun, kali ini lorongnya begitu sunyi hanya terdengar dengung pendingin ruangan dan suara langkah kakinya saja dan beberapa petugas medis yang sesekali memecahkan keheningan.
Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok yang tak asing di ujung lorong.
Javier. Pria yang selama tiga bulan terakhir menghilang dari hidupnya karena ia yang memang tidak menampakkan dirinya ke umum. Pria itu kini berdiri di sana, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan dan tanpa kata apa pun.
Pertemuan terakhir mereka terjadi di acara peresmian perusahaan Aletta, ketika ia dengan sengaja menjaga jarak. Tapi kini, tanpa rencana, takdir kembali mempertemukan mereka.
"Aletta.."