Tawaran Yang Tak Terduga

1194 Words
"Aletta..." ucapnya, langkahnya cepat mendekat, seolah-olah setiap detik yang berlalu terlalu berharga untuk disia-siakan. "Akhirnya aku menemukanmu. Kau menghilang begitu saja tanpa kabar. Kau ke mana saja Aletta?" Aletta terdiam, seolah waktu berhenti sejenak di antara mereka. Matanya menatap Javier, yang kini benar-benar ada di hadapannya. Namun, seolah ia berada dalam jarak yang jauh. Ia mencoba tersenyum, namun senyum itu terasa kaku, seperti sesuatu yang terpaksa dipaksakan, tidak mampu menembus ketegangan yang mengisi ruang di antara mereka. "Aku sibuk, Javier," jawabnya singkat dengan mengalihkan tatapannya secepat mungkin. "Sibuk?" tanya Javier dengan mengerutkan keningnya. "Tiga bulan, Aletta. Kau menghilang begitu saja. Aku mencoba menghubungimu, mencarimu. Apa aku bukan lagi sahabatmu?" ucap Javier menekankan sahabat pada Aletta, walaupun ia merasa tidak nyaman jika hubungan mereka hanya sebatas itu saja. Aletta tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata yang selama ini ia pikirkan mendadak terasa lumpuh di tenggorokannya. Tapi rahasia yang selama ini ia simpan terasa terlalu besar, terlalu berat untuk diungkapkan sekarang. Dengan tangan gemetar, ia mencoba mengalihkan pandangannya dari mata Javier, yang penuh pertanyaan dan harapan. Namun, angin dingin yang berembus dari pintu otomatis rumah sakit membuat kertas-kertas di tangannya terlepas begitu saja. Hasil pemeriksaan itu jatuh ke lantai, bergabung dengan potret USG yang tadi ia coba sembunyikan. Dalam sekejap, Javier membungkuk untuk mengambilnya, lebih cepat dari Aletta yang masih tertegun. "Ini apa, Aletta?" tanya Javier dengan suara yang rendah, hampir berbisik, seolah takut mendengar jawaban yang akan keluar. Matanya terpaku pada potret USG yang kini tergenggam di tangannya. Ekspresinya berubah, bercampur antara bingung dan terkejut. "Aletta, kau... hamil?" Aletta menelan salivanya, tubuhnya membeku. Sedangkan Javier ia masih mencerna semuanya. "Lett ...," ucap Javier pelan saat Aletta tidak menjawab pertanyaannya. "Kau menghilang selama tiga bulan, lalu aku menemukanmu di sini dengan hasil pemeriksaan kehamilan. Siapa Ayah dari anak ini?" tanya Javier saat Aletta lebih memilih untuk membungkam sedari tadi. Aletta terdiam lama, air mata mulai menggenang di matanya. Ia tahu bahwa ini adalah momen yang tidak bisa ia hindari lagi. Dengan suara gemetar, ia berkata, "Pria itu ...." Javier mengerutkan kening, ekspresinya berubah menjadi tak percaya. Pria itu? jangan bilang jika pria yang dimaksud Aletta adalah mantan suaminya? "Kau bilang hubungan kalian sudah selesai?" ucap Javier mencoba mempertanyakan keraguannya dengan pertanyaan ambigu. "Aku tahu," seru Aletta, suaranya meninggi karena emosi yang meluap. "Aku juga tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi. Aku mabuk, Javier. Aku kabur malam itu, dan kami bertemu secara tak sengaja. Aku tidak tahu bagaimana menghadapinya!" Javier menarik napas dalam, tidak salah lagi bila pria itu memang mantan suaminya. Matthew mencoba memahami situasi yang begitu rumit ini. "Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa kau memilih menghilang daripada menceritakan semuanya padaku?" ucap Javier sedikit kecewa pada Aletta. "Aku benar-benar tidak tahu jika kejadian itu justru membuatku mengandung anaknya lagi," cicit Aletta pelan. "Aku, aku pergi hanya ingin menghilangkan segala kejadian itu Javier ...." "Dan hari ini aku baru mengetahui jika aku sedang hamil." Javier terdiam. Matanya melembut melihat Aletta yang kini tampak begitu rapuh. Ia tahu ia marah karena tidak diberitahu, tapi ia tidak bisa meninggalkan Aletta menghadapi ini sendirian. Setelah beberapa saat, ia mendekat dan menggenggam tangan Aletta. "Apa yang harus aku lakukan?" Aleta benar-benar buntu tidak tahu harus melakukan apa. Andai waktu bisa di ulang kembali, Aletta tidak akan dengan bodoh memilih menghilangkan beban pikirannya dengan pergi ke bar itu. Javier menarik napas panjang, menatap intens kedua manik mata wanita yang ia cintai ini. "Menikah lah denganku." Kata-kata itu membuat Aletta seketika langsung terpaku dan menatap Javier. "Menikah denganku dan aku yang akan bertanggung jawab." Aletta menggeleng pelan, air mata semakin deras mengalir di pipinya. "Javier, aku tidak bisa. Kau sahabatku. Aku tidak ingin merusak hubungan ini hanya karena aku berada dalam masalah. Aku tidak ingin mengorbankan kebebasanmu hanya untuk membantuku." "Kau butuh seseorang untuk melindungimu," lanjut Javier. "Aku tahu kau pasti takut Ayahmu tahu, kau takut menghadapi ini sendirian. Aku akan menikahimu dan mengakui anak ini sebagai milikku. Dengan begitu, kau tidak perlu menjalani ini sendirian." Aletta masih menatap Javier dengan gelengan kepalanya. Javier menggenggam tangan Aletta, kemudian menggenggamnya lebih erat. "Dengar, aku serius Aletta. Aku sudah memikirkan ini sejak lama, bahkan sebelum semua ini terjadi." Ia menarik napas, lalu menatap Aletta dengan tatapan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Aku mencintaimu, Aletta." Aletta terkejut, tubuhnya membeku mendengar pengakuan itu. Javier memiliki perasaan padanya? Sejak kapan? Aletta benar-benar syok mendengarnya. "Selama ini aku menunggu kesempatan untuk mengatakan perasaanku. Tapi aku takut merusak persahabatan kita. Aku tahu ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya, tapi aku tidak peduli. Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak hanya melakukan ini untuk melindungimu. Aku melakukannya karena aku ingin berada di sisimu, Lett." Aletta masih terpaku. "Sejak kapan?" Javier terdiam sesaat. "Entah, sejak pertama aku melihatmu, atau melihatmu ketika merawat Arthur... Aku tidak tahu Lett, tapi aku yakin bila aku benar-benar mencintaimu." "Berikan aku kesempatan," lanjut Javier. "Bukan hanya untuk membantumu, tapi untuk menunjukkan bahwa aku bisa menjadi seseorang yang kau percayai, yang mencintaimu dan anak ini sepenuh hati." Aletta menggeleng lagi, lebih kuat kali ini. "Aku tidak bisa, Javier. Aku menghargai perasaanmu, aku menghargai segalanya, tapi ini bukan hal yang bisa kuputuskan begitu saja. Aku tidak ingin kau menanggung semua ini hanya karena aku membuat kesalahan." Javier terdiam sejenak. Ia menatap Aletta dengan tatapan yang lembut namun penuh tekad. "Aku tidak memintamu untuk menjawab sekarang," katanya. "Aku tahu ini sulit untukmu. Pikirkan saja, Aletta. Pikirkan tawaranku. Aku tidak akan memaksamu, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku serius dengan semua yang aku katakan." Aletta menatap Javier dengan perasaan campur aduk, bersalah, terharu, dan takut. Javier mengangguk pelan, senyumnya tipis namun tulus. "Ambil waktu sebanyak yang kau butuh kan. Tapi ingat, aku ada di sini untukmu, apa pun yang terjadi." Aletta menatapnya lama sebelum akhirnya berbalik, meninggalkannya berdiri di sana sendirian. Namun jauh di dalam hatinya, kata-kata Javier terus terngiang di dalam pikirannya. *** Aletta duduk di ruang tamu rumah ayahnya, mencoba mengatur napasnya yang terasa berat sejak memasuki rumah ini. Ia datang untuk menjemput Arthur, putranya, yang ia titipkan sementara sebelum pergi ke rumah sakit tadi pagi. Namun, apa yang ia bayangkan sebagai kunjungan singkat, kini berubah menjadi percakapan yang membuat pikirannya kacau. "Javier itu pria yang baik," suara ayahnya, Henry Flavio, terdengar tegas namun sarat dengan perhatian. Ayahnya itu tiba-tiba muncul seorang diri kemudian menghampirinya. "Ia tidak hanya peduli padamu, tapi juga pada Arthur. Apa lagi yang kau tunggu, Nak? Hidup ini terlalu singkat untuk terus-menerus memikirkan masa lalu." "Kenapa tiba-tiba membahas Javier, Dad?" tanya Aletta. "Tidak, hanya saja, putramu membahas sosok Ayah pada Daddy." Hati Aletta tersentak kaget. Ia pikir putranya itu telah melupakannya. "Daddy tidak mungkin membahas mengenai pria itu pada Arthur, kau tahu itu kan ...." Aletta menatap ayahnya, ia bahkan membatalkan niatnya untuk meletakkan tas miliknya ke atas meja. Ia takut jika hasil pemeriksaan kehamilannya akan di ketahui oleh ayahnya. Memang yang di katakan oleh ayahnya benar. Javier merupakan pria yang baik. Namun, Aletta masih belum bisa memikirkan untuk membicarakan masalah pernikahan. Tiba-tiba, suara langkah kaki kecil terdengar mendekat. Arthur muncul di ambang pintu, membawa mainan. Percakapan yang membahas mengenai Javier pun dapat Aletta hentikan, karena ia tidak ingin membahas masalah ini di depan Arthur yang masih sangat kecil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD