Keberadaan Aletta Ditemukan

1153 Words
Pagi ini langit tampak cerah dengan sinar matahari yang hangat menyinari kota. Namun, bagi Matthew, hari ini terasa berbeda. Meski cuaca terlihat damai, tubuhnya terasa lemas dan mual. Sejak bangun pagi, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Kepalanya berputar, perutnya terasa tidak nyaman, dan rasa pusing menyelimutinya. Ia mencoba menahan mual yang datang secara tiba-tiba, tetapi rasa itu semakin parah. Sebuah perasaan tidak menyenangkan menyelimuti dirinya, seperti ada sesuatu yang salah tapi ia tidak tahu apa. Matthew berjalan perlahan menuju meja makan, mencoba untuk menenangkan diri. Namun, meskipun pagi baru saja dimulai, tubuhnya seakan memberi sinyal bahwa ada yang mengganggu. Ia mencoba untuk menenangkan pikirannya, tetapi semakin lama, rasa mual itu semakin menguasai tubuhnya. Namun, meskipun tubuhnya mulai merasakan gejala-gejala yang tidak mengenakkan, ia tidak mengizinkan dirinya terpecah fokus. Pikiran utama yang ada dalam benaknya adalah mencari tahu di mana Aletta berada beserta anaknya. Matthew benar-benar takut jika Aletta tidak akan kembali padanya lagi hanya karena sebuah malam yang tidak seharusnya ia turuti keinginan Aletta. Matthew segera mengambil ponselnya dan menghubungi Robert, bodyguard pribadinya yang selalu setia mendampinginya. Matthew tahu bahwa jika ada seseorang yang bisa membantunya menemukan Aletta, itu adalah Robert. Dengan suara yang sedikit serak, Matthew memberi perintah dengan tegas. "Robert, bagaimana dengan pencarian istriku? Apa kau sudah menemukan keberadaannya?" "Tentu Tuan, pencarian masih tetap berlangsung dan saya akan mengupayakan pencarian Nyonya berhasil," ucap Robert yang tidak ingin mengecewakan tuannya. Matthew memejamkan matanya. Selalu dan selalu ia kesulitan mendapatkan informasi mengenai keberadaan Aletta. "Apa pun, kau harus menemukan apa pun yang berkaitan dengannya dan juga putraku, apa kau tidak bisa mencari sedikit saja informasi tentangnya?" Robert terdiam sesaat, bukannya tidak bisa, melainkan data anak tersebut sangat rahasia, seolah ada yang melindunginya dari media apa pun. Matthew mencurigai Henry Flavio. Namun, ia tidak ingin kembali berpikiran buruk tentangnya. "Akan saya usahakan Tuan." Matthew buru-buru mematikan telepon yang belum selesai itu saat perutnya kembali merasakan mual Sebenarnya apa yang terjadi pada tubuhnya, kemarin ia baik-baik saja dan kenapa tiba-tiba mendadak ia merasakan gejala ini. Ia yakin tubuhnya dalam keadaan yang sangat sehat. *** Di tengah kekelaman malam yang dibingkai oleh kerlip lampu kota, Matthew duduk di ruangannya yang diterangi oleh cahaya temaram. Bayangan tubuhnya jatuh di dinding, seperti bayang-bayang seorang maestro yang sedang menyusun simfoni rahasia. Di atas meja kerjanya, laporan-laporan tersebar seperti serpihan teka-teki yang harus ia satukan, sebuah lukisan yang akan mengungkap kebenaran di balik tragedi kasino milik klan Issac. Dunia bisnis gelap bukan sekadar ruang lingkup baginya, itu adalah labirin yang telah ia hafal, setiap belokan dan jebakannya terpatri di dalam ingatannya. Tapi malam ini, kabut ketidakpastian menyelimuti pikirannya. Kasino yang terbakar habis bukan lah sekadar peristiwa, itu adalah pesan yang terukir dengan api dan abu, sebuah tantangan dari musuh lama klan Issac yaitu klan Verzio. Matthew mendengarkan detak jam di dinding, setiap detiknya seperti palu yang mengetuk dalam pikirannya. Ia tahu, ini bukan tentang sekadar balas dendam. Tidak ada ruang untuk emosi di dunia ini, hanya logika dingin yang membimbing langkahnya. "Kasino itu hanya peringatan," gumamnya, suaranya nyaris tenggelam dalam hening malam. Dengan teliti, ia mempelajari laporan yang penuh dengan detail kecil. Nama-nama, transaksi, peta wilayah, semuanya terhubung dalam jaringan yang rumit. Klan Verzio, entitas yang telah lama dikenal sebagai bayangan di dunia bawah tanah, adalah teka-teki yang membutuhkan pendekatan berbeda. Bagi Matthew, ini bukan sekadar tentang menghancurkan musuh, melainkan memahami mereka, menyusup ke dalam pola pikir mereka, dan menciptakan celah yang tak mereka sadari. *** Pintu ruang kerjanya terbuka perlahan. Alaric, salah satu bodyguard nya, melangkah masuk. Wajahnya serius, seperti seseorang yang membawa kabar yang terlalu penting untuk ditunda. "Saya punya sesuatu Sir," kata Alaric sambil meletakkan sebuah amplop di meja Matthew. Matthew mengangkat alisnya. seolah mempertanyakan perkataan yang Alaric maksud. "Aku menemukan seseorang dari dalam klan Verzio, Eleanor Verzio. Ia kecewa dengan cara Paman nya menjalankan klan dan mungkin bersedia berbicara. Tapi kau harus berhati-hati. Ia bukan orang yang mudah dipercaya." Matthew tersenyum tipis. "Tidak ada yang mudah dipercaya di dunia ini, Alaric. Tapi setiap celah adalah peluang. Atur pertemuan di tempat yang aman. Aku akan menangani sisanya." Beberapa hari kemudian, di sebuah restoran tersembunyi di pinggiran kota, Matthew duduk di sudut ruangan. Cahaya redup dari lampu gantung menciptakan bayangan aneh di wajahnya, seperti pelukis yang sedang menciptakan karya seni yang penuh misteri. Eleanor Verzio datang tepat waktu. Gaun hitam sederhana yang ia kenakan kontras dengan aura dingin dan tajam yang ia bawa. Matanya memandang Matthew dengan hati-hati sebelum duduk di kursi di depannya. "Kau pasti Matthew," katanya tanpa basa-basi. "Kau Eleanor," balas Matthew dengan nada santai, sambil memberikan senyum kecil, tapi lebih ke smirk tipis. "Terima kasih sudah datang. Aku tahu ini bukan keputusan mudah bagimu." "Aku di sini untuk mendengar," jawab Eleanor, suaranya tajam. "Tapi jangan berharap aku akan percaya begitu saja." Matthew mengangguk, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku tidak akan memintamu untuk percaya. Aku hanya menawarkan pilihan. Kau tahu perang ini tidak akan membawa apa pun kecuali kehancuran, untuk klanmu dan juga keluargamu." Eleanor tersenyum sinis. "Dan kau pikir aku akan membantu musuh keluargaku?" "Bukan musuh," kata Matthew dengan tenang. "Sekutu. Aku bisa membantumu mengakhiri kekacauan ini dan memberikanmu posisi yang lebih kuat di klanmu. Kau tidak perlu setuju sekarang. Tapi kau tahu tawaranku lebih baik daripada jalan yang mereka pilih." Eleanor menatapnya lama, tatapan matanya seperti mencoba menembus kedalaman pikiran Matthew. Setelah hening sejenak, ia berkata pelan, "Aku akan memikirkannya. Jika aku setuju, kau harus menjamin bahwa ini tidak akan membahayakan keluargaku." Matthew mengangguk dengan tegas. Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan pertemuan-pertemuan rahasia dan negosiasi yang penuh ketegangan. Eleanor akhirnya setuju untuk bekerja sama, memberikan informasi penting tentang operasi klan Verzio. Dalam salah satu dokumen yang ia serahkan, Matthew menemukan bukti bahwa klan Verzio berencana membentuk aliansi baru dengan kelompok yang lebih besar. Langkah ini akan mengubah tatanan kekuasaan. Matthew menyusun rencana dengan cepat. Ia menggunakan informasi dari Eleanor untuk memengaruhi pemimpin klan Verzio. Dalam pertemuan terakhir di sebuah gudang tua, ia mengajukan ultimatum yang cerdas namun tegas. "Jika kau terus maju dengan rencanamu, itu akan menjadi akhir dari klan Verzio," kata Matthew kepada pemimpin mereka. "Tapi jika kau bekerja sama denganku, kita bisa menciptakan sesuatu yang lebih besar, kekuatan yang tak tergoyahkan." Setelah diskusi panjang, akhirnya pemimpin klan Verzio menandatangani kesepakatan. Perjanjian itu mengakhiri konflik sekaligus membuka jalan untuk aliansi baru yang menguntungkan kedua belah pihak. Saat Matthew kembali ke kantornya malam itu, ia membuka amplop hitam yang diberikan oleh klan Issac sebagai imbalan atas keberhasilannya. Tumpukan uang di dalamnya adalah simbol dari keberhasilannya.Namun, baginya kemenangan sejati adalah reputasi dan pengaruh yang semakin kuat. Ia berdiri di depan jendela, memandang kota yang gemerlap di bawah. Dunia ini penuh dengan jebakan, pikirnya. Tapi selama ia terus bergerak dengan kecerdasan dan strategi, tidak ada yang tidak bisa ia taklukkan. Di saat dirinya merasa bangga karena tugasnya telah selesai, Matthew mendapatkan sebuah telepon dari Robert, yang berhari-hari ini ia nantikan kabar mengenai Aletta. "Tuan, kami berhasil menemukan keberadaan Istri anda dan Putra anda."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD