Langkah berat terdengar mendekat. Robert, bodyguard setia Matthew, memasuki ruangan dengan wajah penuh pertanyaan selepas urusannya dengan kliennya berakhir.
“Ya, Robert, ada kabar?” tanya Matthew, suaranya terdengar datar saat melihat kehadiran Robert yang sangat tiba-tiba.
Robert berhenti tepat di hadapan Matthew, mengangguk. Namun, sebelum menjawab, Robert menunggu, memastikan ia memiliki perhatian penuh dari tuannya.
Matthew mengambil sebatang rokok, menyelipkan nya di antara bibirnya. Tangannya yang gemetar menyalakan pemantik. Ia menarik napas panjang, membiarkan asap memenuhi paru-parunya sebelum menghembuskannnya perlahan.
"Saya menemukan keberadaan Nyonya," ucap Robert akhirnya.
Kata-kata itu seperti ledakan kecil di ruangan. Rokok yang baru saja Matthew nyalakan hampir terjatuh dari tangannya. Ia memandang Robert dengan mata yang penuh harap.
“Kau menemukannya? Di mana istriku?” suaranya sedikit bergetar, campuran antara rasa tak percaya dan harapan yang membara.
Robert melanjutkan laporannya dengan tenang. “Setelah beberapa hari pencarian, kami menemukan petunjuk penting. Salah seorang anak buah saya mendapatkan informasi bahwa Nyonya sempat mengunjungi sebuah rumah sakit. Petugas di sana mengenali Nyonya dan memastikan bahwa ia menggunakan nama yang sama, bukan nama masa kecilnya.”
Matthew mengerutkan alis, ia mencoba mencerna perkataan Robert. “Rumah sakit? Untuk apa ia ke rumah sakit?”
Robert menarik napas panjang sebelum menjawab. “Untuk pemeriksaan kandungan, Tuan.”
Kalimat itu meluncur seperti petir yang menyambar di tengah hujan. Matthew terdiam. Kata-kata Robert bergema di kepalanya.
“Aletta... memeriksa kandungan?” bisiknya, seolah tak percaya.
Robert mengangguk. “Ya, Tuan. Berdasarkan informasi yang kami peroleh, Nyonya tengah mengandung. Kemungkinan besar usia kandungan sudah masuk trimester pertama.”
Matthew menatap Robert, rokok yang ia pegang pun langsung terjatuh ke lantai. Ia tak mempedulikan itu. Pikirannya hanya terpaku pada satu hal, Aletta hamil.
Selama beberapa detik, Matthew hanya berdiri diam, membiarkan informasi itu meresap dalam pikirannya. Sebuah rasa bahagia meluap di hatinya. Namun, bersamaan dengan itu, ada perasaan sedih dan bersalah yang tak bisa ia abaikan.
Ia mengetahui kehamilan Aletta melalui orang lain.
“Aletta hamil …,” gumamnya lagi, kali ini lebih pelan, seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
Robert memberinya waktu sejenak untuk mencerna berita itu sebelum melanjutkan.
“Kami juga menemukan alamat tempat tinggal Nyonya. Lokasinya tidak jauh dari wilayah klan Flavio. Keamanan di sana sangat ketat, jadi sulit bagi kami untuk mendapatkan informasi ini lebih cepat.”
Matthew memejamkan matanya sejenak, menghela napas panjang. “Jadi ia selama ini begitu dekat… tapi aku tidak bisa menemukannya. Henry benar-benar melindunginya dengan ketat.”
Robert mengangguk pelan. “Tidak hanya itu, Tuan. Kami juga menemukan informasi mengenai putra Anda. Ia bersekolah di sebuah sekolah yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal Nyonya. Kami berhasil mendapatkan konfirmasi dari beberapa orang di sekitar sekolah. Anak Anda memang terdaftar di sana.”
Matthew merasa dadanya sesak oleh emosi yang bercampur aduk. Dalam satu hari, ia mendapatkan dua kabar besar, kehamilan Aletta dan lokasi putranya. Ini seperti keajaiban.
“Kau yakin dengan semua ini?” tanya Matthew akhirnya, meski ia tahu Robert tidak pernah memberikan laporan tanpa bukti kuat.
“Ya, Tuan. Saya juga sudah memastikan ke rumah sakit tersebut. Semua data mendukung laporan ini,” jawab Robert dengan tegas.
Matthew kembali duduk. Tangannya mengusap wajahnya yang terlihat lelah. “Aku harus melihatnya sendiri,” gumamnya.
***
Keesokan harinya, Matthew tiba di rumah sakit yang disebutkan oleh Robert.
Langkahnya mantap, meskipun ada sedikit keraguan di hatinya. Keraguan itu bukan karena ketidakpastian, melainkan rasa takut, takut jika kenyataan yang akan ia temui tidak sesuai dengan harapannya.
Begitu memasuki gedung rumah sakit, udara dingin dari pendingin ruangan menyambutnya. Bau khas antiseptik yang tajam memenuhi hidungnya.
Matthew menghampiri resepsionis dengan hati yang sedikit berdebar.
“Permisi,” katanya sambil menunjukkan catatan kecil berisi informasi yang diberikan Robert.
“Saya mencari informasi tentang seorang pasien yang mungkin pernah berkunjung ke sini, Aletta... Aletta Marrivale.”
Petugas di meja resepsionis memandangnya dengan mata penuh tanya, Matthew Gualtiero mencari seseorang di rumah sakit dimana ia bekerja?
Petugas itu langsung kembali pada dunia nyata. “Tunggu sebentar, Sir. Saya akan cek dulu,” katanya sambil mengetikkan sesuatu pada komputer di depannya.
Matthew menunggu dengan gugup. Tangannya gemetar sedikit, dan ia menyadarinya, hingga suara resepsionis memecahkan lamunannya.
“Betul, Sir. Ibu Aletta Marrivale memang pernah datang untuk pemeriksaan kandungan. Beliau melakukan kunjungan sekitar seminggu yang lalu,” ujar petugas tersebut dengan nada ramah, walaupun sebenarnya jantungnya berpacu dengan cepat ketika harus menghadapi seorang ketua mafia yang sangat ditakuti ini.
Matthew menatap petugas itu dengan mata melebar. “Jadi, benar? Kondisi kandungannya… bagaimana?” tanyanya dengan nada yang penuh harap, meskipun ia sadar mungkin ini bukan informasi yang bisa di berikan dengan mudah.
Petugas itu tersenyum tipis. “Berdasarkan catatan yang ada, pemeriksaan tersebut menunjukkan kondisi kandungan yang sehat dan normal. Namun, lebih dari itu, kami tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut," ucap petugas itu dengan napas yang tertahan takut jika Matthew akan melakukan sesuatu padanya.
Ucapan itu cukup bagi Matthew. Jantungnya berdetak lebih kencang, bukan karena rasa cemas, melainkan kelegaan yang perlahan mengisi dirinya.
“Terima kasih,” ucapnya tulus sebelum meninggalkan meja resepsionis.
Petugas tersebut langsung menghela napasnya setelah kepergian Matthew, ternyata pria itu tidak seburuk dengan yang di katakan banyak orang.
Namun, tunggu... apakah mungkin wanita yang kini sedang dicari oleh Matthew adalah sosok istrinya, wanita yang dulu selalu muncul dalam kabar berita ketika Matthew tengah sibuk mencari istrinya?
Entahlah, bahkan Matthew sendiri tak pernah memberikan penjelasan yang jelas mengenai sosok istrinya pada media. Hanya sebaris kabar yang tersebar, tak lebih dari sekadar gosip yang tersebar, meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Langkah Matthew keluar dari rumah sakit terasa lebih ringan, meskipun pikirannya tetap penuh dengan pertanyaan dan emosi yang bercampur aduk. Di tangannya, ia memegang salinan laporan medis yang berhasil ia dapatkan dengan bantuan Robert sebelumnya.
Dokumen itu menjadi bukti nyata bahwa Aletta benar-benar mengandung anaknya. Bukan lagi sekadar asumsi.
Matthew berhenti sejenak di pelataran rumah sakit, menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. Ia membuka laporan medis itu dan memandangi setiap detail yang tertera.
Di sana, tercantum usia kandungan Aletta yang telah mencapai bulan ketiga. Ia membayangkan bayi kecil yang sedang tumbuh di dalam rahim Aletta, bayi yang akan menjadi bagian dari hidupnya, bagian dari masa depannya dan mungkin bisa memperbaiki antara hubungannya dengan Aletta.
“Anak kita ...,” bisiknya, seolah ingin mengukuhkan fakta itu pada dirinya sendiri.
Sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya, meskipun matanya masih sedikit berkaca-kaca.
Jika dulu ia tidak dapat melihat tumbuh kembang anak pertamanya secara langsung, kali ini Matthew tidak akan menyia-nyiakan hal ini lagi.
Namun, di balik kebahagiaannya, ada rasa bersalah yang tak bisa ia abaikan. Ia tidak ada di sisi Aletta selama ini. Ia bahkan tidak tahu apa yang dirasakan Aletta saat mengetahui dirinya hamil.
Apakah Aletta bahagia? Atau justru merasa terbebani?
Matthew mengepalkan tangannya di atas dokumen itu, matanya menatap lurus ke jalanan yang ia lewati. Ia tahu, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya.
Namun, ia juga sadar bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Aletta mungkin butuh waktu untuk menerima kehadirannya kembali.
Kepercayaan yang pernah ia miliki, yang dulu sehangat sinar mentari di pagi hari, kini telah pudar seperti bayangan senja yang perlahan menghilang.
Kepercayaan Aletta pada Matthew, kepercayaan akan cintanya yang dulu terasa begitu tulus. Namun, kini terguncang oleh kesalahan Matthew yang ingin menyingkirkan Aletta dari dunia bersama dengan putra pertamanya dan juga kepercayaan pada ayahnya Emmanuel Gualtiero, yang retak akibat kebohongan yang terungkap, tidak mungkin dibangun kembali dalam semalam.
Tapi ia tahu, seperti laut yang tenang setelah badai, semuanya bisa pulih. Ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dengan ketulusan dan kesabaran, ia akan menjadi angin yang menyingkirkan mendung, membawa kembali kehangatan yang pernah hilang.
Ia tidak akan menyerah membawa Aletta kembali ke dalam dekapannya.
***
Malam yang begitu tenang dengan di hiasi ribuan bintang di langit.
Di ruang kerjanya, saat ini Matthew berada, memandangi alamat yang diberikan Robert.
Rumah Aletta tidak jauh dari tempat klan Flavio. Ia bisa saja langsung pergi dan mengetuk pintu rumah itu.
Namun, ia tahu ini bukan hanya tentang dirinya. Ia harus memikirkan perasaan Aletta, putra mereka, dan bayi yang sedang dikandungnya.
“Robert,” panggil Matthew akhirnya.
“Ya, Tuan?” ucap Robert segera masuk ke dalam ruangan, berdiri tegak di hadapan Matthew.
“Besok, aku ingin kau menemaniku. Kita akan pergi menemui Aletta,” kata Matthew dengan nada yang tegas.
Robert mengangguk. “Baik, Tuan. Apakah ada persiapan khusus yang perlu dilakukan?”
Matthew menggeleng. “Tidak. Aku hanya ingin bertemu dengannya, berbicara dengannya. Aku ingin ia tahu bahwa aku siap memperbaiki segalanya.”
Robert mengerti, lalu undur diri untuk memberi Matthew waktu berpikir.
Matthew menatap keluar jendela, memandangi langit malam yang dihiasi bintang-bintang tersebut.
Di dalam hatinya, ia berdoa agar pertemuannya kembali dengan Aletta bisa menjadi awal yang baru bagi keluarga mereka.