Kebenaran Terungkap

1309 Words
Matthew sudah lama berniat menemui Aletta setelah menyelesaikan urusan pekerjaannya yang menumpuk. Malam panas tiga bulan lalu masih menghantui pikirannya. Kejadian tersebut menciptakan rasa bersalah yang terus menggerogoti dirinya, dan ia ingin mengetahui alasan mengapa Aletta pergi begitu saja. Lebih dari itu, Matthew merasa perlu mendapatkan kejelasan mengenai kehamilan yang terjadi saat itu, mengapa Aletta tidak langsung memberitahunya dan memilih untuk bungkam dan tetap melanjutkan tujuan utamanya yaitu, bersembunyi darinya. Namun, rencana tersebut tertunda karena kabar mendesak yang datang dari salah satu bodyguard yang ia tugaskan untuk memantau keadaan anaknya, Arthur. Matthew sudah memerintahkan para bodyguard-nya untuk menjaga Arthur meski ia sibuk dengan pekerjaannya. Namun, kabar yang diterima Matthew kali ini benar-benar mengejutkannya. Terjadi keributan di sekolah Arthur, dan anak itu terlibat dalam keributan tersebut. Matthew yang mendengar hal tersebut merasa sangat marah dan khawatir. Ia tahu bahwa apa pun yang terjadi di sekolah harus segera diselesaikan. Tidak peduli apa pun urusannya, prioritas utamanya sekarang adalah menghadapi masalah yang terjadi di sekolah itu. Setibanya di sekolah, suasana langsung berubah. Para guru, staff, bahkan beberapa orang tua yang ada di sekitar sekolah, tampak terkejut dan cemas melihat kedatangan pria yang dikenal sebagai ketua mafia yang sangat ditakuti itu. Mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan menghadapi Matthew yang datang ke sekolah anak usia dini ini. Matthew berjalan dengan langkah mantap, diiringi oleh dua bodyguard setianya yang tetap menjaga jarak di belakang. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung melangkah menuju ruang kepala sekolah, meninggalkan rasa takut dan kebingungan di kalangan staf dan guru yang berada di sekitarnya. *** Suasana ruang kepala sekolah berubah kaku begitu Matthew memasuki ruangan. Kepala sekolah, yang tadinya duduk dengan santai, langsung berdiri tergesa-gesa begitu melihat Matthew masuk. Arthur, yang duduk di sudut ruangan, dengan wajah yang terdapat lebam dan juga tangan yang terluka, pria kecil itu menunduk dan tidak menyadari bila seorang pria dewasa baru saja memasuki ruangan. Suasana menjadi semakin canggung ketika Matthew melangkah ke dalam. "S-selamat siang, Tuan Matthew... Ada yang bisa kami bantu?" ucap wanita paruh baya itu dengan sangat gugup. "Saya mendengar ada keributan di sekolah ini. Jelaskan apa yang terjadi," ucap Matthew dengan suara tegas tetapi terkesan dingin. Wanita paruh baya itu rupanya memiliki kedudukan sebagai seorang kepala sekolah disini. Wanita paruh baya itu menelan salivanya bahkan ia tidak berani bertanya apa hubungannya ia dengan kasus ini. "Benar, ada insiden perkelahian antara Arthur dan salah satu temannya. Mereka terlibat dalam konflik selama jam istirahat." "Apa penyebabnya?" tanya Matthew masih berusaha tenang tetapi matanya semakin menajam. Kepala sekolah itu melirik sejenak ke arah Arthur yang masih menunduk di sudut ruangan, lalu kembali menatap Matthew. "Menurut laporan, perkataan teman Arthur, ia menyinggung tentang keluarga Arthur yang justru menjadi pemicu keributan. Ada kata-kata kasar yang membuat Arthur sangat marah dan akhirnya terlibat dalam perkelahian." "Apa yang di katakan?" tanya Matthew dengan suara tegas. "Alex... menghina Arthur. Ia mengatakan bila Arthur anak yang tidak diinginkan dan juga mengatakan bahwa ia tidak memiliki ayah," kata kepala sekolah itu sesuai dengan fakta dan pengakuan serta saksi. Matthew bisa merasakan darahnya mendidih, dan meski berusaha untuk tetap tenang, amarahnya terlihat jelas di wajahnya. Ia menatap kepala sekolah dengan tajam. "Apa yang Arthur lakukan setelah itu?" tanya Matthew dengan suara rendah dan penuh penekanannya Kepala sekolah terdiam sejenak, lalu melirik kembali ke Arthur yang kini mulai menatapnya. "Arthur membalas kata-kata itu, dan akhirnya terjadi perkelahian dengan temannya yang akhirnya memulai pertengkaran dengan mendorong Arthur." "Kami akan memberikan konseling kepadanya, tetapi menurut aturan sekolah, Alex akan dikenai skorsing selama tiga hari." Tergambar jelas raut wajah Matthew sangat marah. Penghinaan pada putranya sangat menyakiti hatinya sekalipun anak tersebut masih kecil. Bukankah itu terlihat dari cara orang tua anak tersebut mendidik anaknya yang tidak bisa mengontrol kata-katanya. Alex, teman sekelas Arthur yang kini sudah bersama dengan orang tuanya hanya menunduk ketakutan saat melihat seorang paman yang terlihat menakutkan. Bukan hanya Alex saja tapi orangtuanya pun sama takutnya dengan anaknya saat melihat Matthew. Kepala sekolah merasakan atmosfer ketegangan. "Maafkan kami Mr. Gualtiero, kami benar-benar sangat menyesali atas perbuatan yang anak saya lakukan," ucap ibu dari Alex. Matthew mencoba untuk meredam amarahnya kemudian ia mendekati meja kepala sekolah. "Apa hukuman yang akan diberikan kepadanya?" bisik Matthew menanyakan pertanyaan yang sebelumnya sudah di jawab oleh sang kepala sekolah, tapi kali ini dengan suara mengintimidasi, seolah jawaban yang tadi kepala sekolah berikan tidak cukup memuaskan untuknya. Kepala sekolah itu nampak beberapa kali menelan salivanya "Kami akan memberikan konseling kepada Alex. Namun, seperti yang saya katakan, Arthur kemungkinan akan di-skors sama seperti--" Kepala sekolah itu mengatupkan bibirnya saat melihat Mathew mengeratkan rahangnya. Matthew menegakkan tubuhnya kemudian menoleh ke arah Arthur yang masih duduk di sudut, menunduk dengan wajah cemas. Saat itulah untuk pertama kalinya, Matthew memandang anak itu dengan lebih dekat. "Arthur, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Matthew yang ingin mendengarkan pengakuan langsung dari putranya dengan suara lembut tetapi tatapannya tetap memperlihatkan ketegasan Arthur mendongak perlahan. Ia menatap pria itu dengan bingung dan rasa takut. Wajah Matthew yang tegas dan penuh wibawa membuatnya tidak bisa berpura-pura tidak melihatnya. Namun, Arthur tidak tahu siapa pria ini. Kenapa ia bisa ada di sini saat ini. "Alex bilang, aku anak yang tidak diinginkan... Mereka menghina Mommy... Aku tidak bisa diam," jawab Arthur dengan suara pelan dan gemetar. Matthew mendengar itu, dan meski rasa marahnya masih membara, ia mencoba untuk tetap mengendalikan emosinya. Ia menatap Arthur dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan. "Apa yang Arthur lakukan setelah itu?" tanya Matthew lagi. "Aku membalasnya saat ia mencoba mendorongku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi." ucap Arthur dan kembali menundukkan kepalanya lagi Matthew menghela napas panjang. Ia berpikir sejenak, lalu menatap pada kepala sekolah. "Pastikan konseling dan hukuman itu dilakukan dengan benar. Jika tidak, saya akan mengambil tindakan sendiri." "Dan juga, putraku tidak bersalah, jangan menghukum atau mencoba menyentuhnya!" bisik Matthew kepada kepala sekolah penuh peringatan. Keringat dingin seketika terjatuh dari peluh sang kepala sekolah saat Matthew menyebutkan jika Arthur adalah putranya. "T-tentu, Tuan Matthew. Kami akan memastikan semuanya berjalan dengan baik." kata kepala sekolah itu ketakutan. "Sekarang, beri kami waktu sebentar," pinta Matthew mengisyaratkan agar semua yang berada di ruangan ini meninggalkan mereka berdua. Kepala sekolah terdiam sejenak, kemudian mengangguk dan keluar dari ruangan bersamaan dengan Alex dan orangtuanya, meninggalkan Matthew dan Arthur sendirian. Di dalam ruangan yang kini hanya berisikan mereka berdua, suasana menjadi sangat canggung. Arthur tetap menunduk, tidak berani menatap pria yang baru pertama kali ia temui, meski ia merasa ada sesuatu yang sangat kuat pada diri pria ini. Matthew berdiri beberapa langkah dari meja, memandang Arthur dengan hati yang berat. Ia masih bisa melihat kemarahan yang putranya itu rasakan ketika hal buruk ini menimpa padanya. Matthew melangkah lebih dekat, membawa tangannya ke atas puncak kepala putranya, memperhatikan setiap detail wajahnya dan juga luka yang terdapat pada tangannya. Desiran darah yang ada di tubuhnya mengalir dengan cepat saat ia menyentuh putranya. "Apa ini terasa sakit?" tanyanya, nadanya seperti bisikan angin yang berusaha menenangkan badai Arthur mendongak, Ia merasa bingung, tetapi ada rasa penasaran yang mendalam tentang pria ini. Pertanyaan itu terus berputar dan terpendam dalam benaknya. Siapa ia? Mengapa ia peduli padanya? Arthur menatap pria dewasa di depannya saat ini "Paman siapa? Kenapa Paman bisa ada di sini?" tanyanya untuk memecahkan rasa penasarannya. Matthew membisu, tatapannya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia sadar, ini bukanlah waktu yang tepat untuk membuka identitas siapa dirinya sebenarnya. Namun, ada sesuatu yang mendalam, hampir tak terjelaskan, yang mengikatnya dengan anak itu, sebuah perasaan yang tak mampu ia uraikan dengan kata-kata. Matthew memilih untuk tidak menjawab perkataan Arthur. Arthur juga tetap diam. Ia tak tahu harus berkata apa atau bagaimana merespons. Namun, di tengah kebingungannya, ada sesuatu yang perlahan merayap ke dalam relung hatinya. Sebuah perasaan yang asing tetapi terasa hangat. Ia tak tahu siapa pria ini sebenarnya, tetapi kehadirannya membawa ketenangan, seperti arus lembut yang mengisi ruang kosong dalam jiwanya. Perasaan aman itu hadir begitu saja, meski maknanya masih kabur dalam pikirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD