DUA

1171 Words
Lucia berjalan menyusuri koridor kampus dengan langkah yang ia usahakan setenang mungkin. Padahal dalam dirinya, ada gemuruh tak terkendali. Sejak kejadian di kafe kemarin, suasana hatinya tak kunjung reda. Senyum palsu Alyssa, tatapan licik Danita, dan cara Edwin memandangnya—semua itu terus menghantui. Pagi ini, suasana kampus terasa berbeda. Tidak ada yang terang-terangan menunjuk atau menertawakan dirinya, tetapi ada sesuatu di udara: bisikan. Suara lirih yang muncul begitu ia lewat. “Katanya dia aneh banget, loh.” “Lo yakin? Masa sih kayak gitu…” “Aku denger dia suka main ke tempat dukun.” Lucia mengatupkan rahang. Tangannya menggenggam erat tali tas hingga buku di dalamnya nyaris tergencet. Andai saja ia biarkan amarah itu memuncak, sudah pasti semua orang akan tahu betapa berbahayanya dirinya. Abigail benar. Ia tidak boleh lengah. Di sisi lain koridor, Edwin berdiri sambil menunggu kelas dimulai. Matanya langsung tertuju pada Lucia. Seketika, bisik-bisik itu mereda, berganti dengan lirikan iri. Edwin melangkah cepat menghampirinya. “Lucy, aku tunggu kamu.” Lucia menoleh singkat, lalu kembali menunduk. “Kenapa?” “Aku cuma… aku pengin kita ngobrol. Lima menit aja.” Suara Edwin penuh ketulusan, tapi juga sedikit ragu, seolah ia sadar dirinya sedang dilihat banyak orang. Lucia menarik napas panjang. Bagian dalam dirinya ingin menjauhi Edwin—lebih aman kalau pria itu tidak tahu apa-apa. Tapi bagian lain, bagian yang manusiawinya, haus akan kenyamanan. Dan Edwin satu-satunya orang yang bisa memberinya itu. Mereka akhirnya duduk di bangku taman belakang kampus, tempat yang agak sepi. Daun-daun kering beterbangan diterpa angin siang. “Aku tahu kamu masih marah sama aku,” Edwin memulai. “Tentang kemarin. Tentang Alyssa.” Lucia diam. Ia menatap kosong ke arah kolam kecil di ujung taman. “Tapi kamu harus tahu, aku nggak ada perasaan apa pun sama Alyssa,” lanjut Edwin. “Dia cuma teman. Dia yang maksa. Aku bahkan nggak pernah kasih harapan apa-apa.” Lucia akhirnya menoleh. Ada kejujuran di mata Edwin, tapi di baliknya juga ada kekhawatiran. Kekhawatiran itu bukan karena takut kehilangan, melainkan karena ia merasa ada yang tidak beres dengan Lucia. “Kamu nggak mengerti,” jawab Lucia pelan. “Ada hal-hal yang nggak bisa aku jelaskan.” “Coba jelasin,” desak Edwin. “Aku bener-bener pengin tahu, Lucy. Kamu selalu jaga jarak, selalu sembunyi. Aku cuma minta sedikit kejujuran.” Lucia menahan napas. Kalimat itu seperti tamparan. Kalau saja Edwin tahu kebenaran, apakah dia masih akan menatapnya dengan mata penuh rasa ingin melindungi? Atau justru akan mundur, seperti manusia lain yang tahu rahasia mereka? “Aku cuma butuh waktu,” jawab Lucia akhirnya, suaranya nyaris bergetar. “Jangan paksa aku sekarang.” Edwin menunduk. “Oke. Aku kasih kamu waktu. Tapi tolong, jangan jauhi aku.” Lucia tak sanggup membalas. Ia hanya bangkit, beranjak meninggalkan Edwin sendirian di bangku taman. *** Di kelas, suasana tak jauh berbeda. Bella melambaikan tangan dengan ramah, tapi Lucia pura-pura tak melihat. Abigail duduk di sebelahnya, memasang wajah tenang seperti biasa. Namun sesekali, tangan Abigail menyentuh punggung tangannya, memberi isyarat bahwa ia tak sendiri. Lucia membuka buku catatannya, mencoba fokus. Tapi telinganya justru semakin tajam. “Eh, katanya dia punya mantra pengikat cowok.” “Halah, palingan skincare-nya aja aneh.” “Tapi gue pernah lihat matanya merah, loh. Serius!” Lucia mengatupkan gigi. Suhu tubuhnya menurun drastis, tanda amarah mulai mendominasi. Pandangannya mengabur sesaat, seolah darah dalam dirinya bergejolak. Ia ingin berdiri, ingin membungkam semua mulut itu. Namun tiba-tiba, Abigail menepuk bahunya pelan. Sentuhan sederhana itu cukup membuatnya tersadar. “Skip kelas berikutnya. Kita pulang sekarang,” bisik Abigail. Lucia hanya bisa mengangguk. Saat mereka keluar kelas, Bella kembali menghampiri. Wajahnya terlihat sangat cemas. “Lucy, kamu nggak apa-apa? Aku bisa temenin kalau kamu mau.” Lucia berhenti sebentar. Dia menatap Bella dalam-dalam. Gadis itu jelas tulus, tapi kedekatan lebih jauh hanya akan membahayakannya. “Aku cuma capek. Jangan khawatir, Bel.” Bella tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk juga. “Oke. Kalau ada apa-apa, bilang aku ya.” Lucia dan Abigail berjalan cepat menuju parkiran. Angin sore menyapu wajah mereka. Di dalam mobil, Abigail yang menyetir, sementara Lucia menyandarkan kepala di kaca jendela. Lalu Abigail membuka suara. “Kamu harus kontrol dirimu lebih baik, Lucy. Tadi kamu hampir lepas.” “Aku tahu.” Lucia menutup mata. “Tapi mereka semua… memperlakukanku seperti monster.” “Kita memang monster di mata mereka.” Lucia membuka mata, menoleh cepat. “Aku nggak mau jadi monster.” Abigail tersenyum tipis, tanpa menoleh. “Kalau gitu, jangan biarkan amarahmu menguasai.” Lucia terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi menohok. Ucapan Abigail barusan seratus persen benar, dan Lucia mengamininya. Dia telah berusaha ratusan tahun untuk beradaptasi dengan lingkungan manusia, dari satu tempat ke tempat lain. Kali ini, ia tak ingin segala usahanya sia-sia. *** Malamnya, di kamar, Lucia duduk memeluk lutut di dekat jendela. Lampu kota Jakarta berkelap-kelip, seperti ribuan mata yang menatapnya penuh curiga. Ia teringat masa lalu—tahun demi tahun ia berpindah kota, berpindah identitas, selalu berakhir sama. Begitu manusia mencium keanehan, ia harus lari. Kali ini, ia juga yakin, tidak lama lagi, dirinya dan Abigail harus segera menghilang dari sini. “Berapa lama lagi aku bisa bertahan di sini?” bisiknya lirih. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Abigail masuk dengan membawa secangkir teh chamomile. “Minum ini. Biar kamu lebih tenang.” Lucia menerimanya tanpa bicara. Kehangatan cangkir di tangannya terasa asing, tapi cukup menenangkan. “Kalau kamu terus begini, mereka akan benar-benar percaya gosip itu,” ujar Abigail. “Kita nggak bisa terus jadi pusat perhatian.” Lucia menatap keluar jendela lagi. “Aku cuma pengin hidup normal. Seperti Bella. Seperti Alyssa—bahkan dengan segala kebusukannya, dia tetap bisa jadi manusia biasa.” Abigail menghela napas. “Kamu tahu itu mustahil. Kita bukan mereka. Kita akan selalu berbeda.” Lucia menutup matanya. Air mata yang jarang sekali muncul menggenang di sudut mata. “Aku capek, Abby.” Abigail mendekat, memeluknya dari samping. “Aku tahu. Tapi kamu nggak sendiri.” Lucia menunduk, menatap bayangan dirinya di cangkir teh. Untuk sesaat, ia membayangkan wajahnya pucat dengan mata merah menyala. Wajah asli yang selalu ia sembunyikan. “Kalau Edwin tahu… dia akan pergi, kan?” tanya Lucia pelan. Abigail tidak langsung menjawab. Tapi keheningan itu sudah cukup jadi jawaban. Keheningan yang Abigail tunjukkan, berbanding terbalik dengan suasana kampus yang makin ramai keesokan harinya. Bisikan makin kencang. Alyssa berdiri bersama Danita di depan tangga utama, sengaja menunggu Lucia lewat. “Oh, pantesan cowok-cowok nempel terus. Ada ‘jimatnya’, ya,” ujar Alyssa keras-keras. Danita tertawa sinis. “Ngeri juga kalau sampe nyantet cowok.” Mahasiswa lain ikut terkekeh, berpura-pura tak mendengar tapi jelas menikmati drama itu. Lucia berhenti sejenak, menatap Alyssa dengan sorot dingin. Untuk sepersekian detik, matanya berkilat merah. Alyssa terdiam, jantungnya berdegup kencang. Mata yang berkilat merah itu ternyata sangat menyeramkan. Tapi begitu Lucia mengalihkan pandangan dan berjalan pergi, gadis itu tersenyum tipis—senyum puas karena merasa berhasil. “Lihat aja, Lucy,” bisik Alyssa pada dirinya sendiri. “Aku akan bikin semua orang tahu siapa kamu sebenarnya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD