TIGA

1131 Words
Suasana kampus mulai mereda dari hiruk-pikuk gosip, meski bisikan itu tidak benar-benar menghilang. Namun bagi Lucia, hari-hari tetap terasa berat. Setiap kali ia berjalan di koridor, ada mata yang menatap lebih lama dari seharusnya, ada mulut yang bergerak pelan saat ia lewat. Ia belajar mengabaikan, tapi hatinya tetap terusik. Yang membuatnya bertahan hanyalah satu hal: kehadiran Edwin. Laki-laki itu telah merasuk ke dalam hati dan pikirannya—melebihi batas seharusnya yang biasa dia izinkan. Lucia telah hidup lebih lama daripada seluruh manusia yang ada saat ini. Dia telah bertemu banyak orang, banyak cinta, banyak kesenangan, dan banyak hal lainnya. Hidup ini repetisi, terutama jatuh cinta. Namun, entah kenapa, Edwin telah membuatnya melupakan konsep repetisi yang telah dia lalu dalam jatuh cinta pada lawan jenis. Hal itu juga yang membuatnya bertahan sedikit lebih lama. Pada periode sebelumnya, Lucia akan ‘kabur’ begitu kecurigaan terhadap identitasnya muncul—meski baru desas-desus tak berdasar. Kini, bahkan setelah dirinya beberapa kali hampir kehilangan kendali, dia ingin bertahan. Sedikit lebih lama. *** Sore itu, langit Jakarta berwarna jingga pucat. Lucia duduk sendirian di perpustakaan, mencoba membaca buku sastra Inggris abad ke-19—sesuatu yang sudah pernah ia baca puluhan kali, tapi tetap jadi pelarian favorit. “Lucy.” Suara itu membuatnya menoleh cepat. Edwin berdiri di ujung rak, dengan senyum ragu yang tak menghilangkan ketampanannya. Lesung pipi yang menjadi daya tariknya, tak lupa ikut menyapa. Di tangannya, laki-laki itu tidak membawa apa pun selain sebuah buku tipis. “Boleh duduk?” Lucia mengangguk singkat. Edwin menarik kursi dan duduk di seberangnya. Hening beberapa detik, lalu ia bicara pelan. “Aku tahu kamu masih jaga jarak. Tapi aku serius waktu bilang aku nggak punya perasaan sama Alyssa.” Lucia menutup bukunya. “Aku percaya.” Mata Edwin berbinar, lega. “Beneran?” Lucia mengangguk lagi. “Tapi aku… masih belum bisa cerita banyak tentang diriku. Jadi jangan berharap aku akan terbuka sepenuhnya.” Edwin mencondongkan tubuh, menatapnya penuh ketulusan. “Aku nggak butuh tahu semuanya sekarang. Aku cuma pengin ada di dekatmu. Itu aja udah cukup.” Kalimat itu membuat d**a Lucia terasa hangat, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Juga, tatapan penuh binar laki-laki di hadapannya, membuatnya ikut tersenyum tanpa disadari. “Gitu, dong, senyum. Kamu cantik banget, tahu.” Lucia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia salah tingkah, dan itu membuat Edwin tertawa gemas. Hari-hari berikutnya, kedekatan mereka semakin nyata. Mereka tidak lagi berusaha menyembunyikan hubungan. Edwin menjemput Lucia sepulang kuliah, membawakan kopi kesukaannya, bahkan menunggu di depan kelas. Banyak yang iri, banyak pula yang berbisik sinis, tapi Lucia mulai berani membiarkan dirinya bahagia. Bella, yang selalu berusaha menjadi teman terbaik bagi Lucia, ikut senang melihat perubahan sang sahabat. “Akhirnya kamu bisa senyum lagi,” katanya suatu sore di kantin. Lucia hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis. Abigail, yang duduk di sebelahnya, menatap dengan tatapan penuh arti. “Kamu tahu konsekuensinya, kan?” bisik Abigail saat Bella sibuk memesan makanan. Lucia menoleh. “Aku tahu. Tapi aku nggak bisa lagi pura-pura nggak peduli.” Abigail mendesah. “Aku cuma takut kamu kecewa lagi. Manusia… mereka nggak bisa mengerti siapa kita.” Lucia menggenggam gelas plastiknya erat-erat. “Aku nggak peduli. Kalau pun dia pergi suatu hari nanti, aku ingin setidaknya pernah merasakan dicintai.” Bella sebenarnya penasaran dengan apabyang mereka bicarakan. Namun, dia sadar bahwa kedekatan Abigail dan Lucia tidak akan bisa digantikan meski dirinya berusaha sekuat tenaga. Meski begitu, dia tidak akan mengintervensi. Toh, mereka masih berteman—berhubungan baik. Dirinya masih dilibatkan sebagai bagian dari persahabatan mereka. Dia… tidak akan meminta lebih. Tapi tentu saja, tidak semua orang berpikiran sama dengan yang dipikirkan oleh Bella. Alyssa semakin tidak bisa menyembunyikan amarahnya. Sejak Edwin terang-terangan dekat dengan Lucia, Alyssa kian berubah. Senyum ramahnya hanya topeng tipis, sedangkan di baliknya ada api yang menyala-nyala. “Lo sadar nggak sih? Edwin itu cuma kasihan sama lo,” ujar Alyssa suatu kali di depan kelas, ketika hanya ada mereka bertiga—Lucia, Abigail, dan dirinya. Lucia tidak menanggapi, tapi Abigail mendongak dengan sorot dingin. “Kasihan? Dia jelas memilih Lucia. Dan itu bikin lo sakit hati.” Alyssa tersenyum sinis. “Kita lihat aja. Orang kayak Edwin nggak akan bertahan sama cewek aneh kayak Lucia.” Perkataan Alyssa itu membuat Lucia hampir meledak, tapi Abigail lebih dulu menarik tangannya, mengajaknya pergi. “Kamu nggak boleh terpancing,” bisik Abigail di koridor. Lucia menggertakkan gigi. “Dia keterlaluan.” Abigail menatapnya serius. “Biarkan saja. Waktu yang akan membuktikan.” *** Lucia duduk di balkon rumah bersama Abigail. Angin malam mengibaskan rambut mereka. Dari kejauhan, suara motor dan klakson bercampur dengan aroma hujan yang tertinggal di jalan. “Abby…” Lucia membuka suara. “Kamu pernah berharap jadi manusia lagi?” Abigail menoleh, terdiam sejenak. “Dulu, iya. Sekarang tidak.” “Kenapa?” “Karena aku tahu aku nggak akan pernah bisa. Aku belajar menerima siapa diriku.” Lucia menatap langit. “Aku belum bisa. Aku masih ingin tahu rasanya hidup tanpa harus takut rahasia terbongkar. Hidup… normal.” Abigail meraih tangannya. “Kalau kamu terus mencari normalitas, kamu akan kecewa. Dunia kita memang nggak akan pernah sama dengan mereka. Kamu harus siap.” Lucia menutup mata, tapi wajah Edwin muncul di benaknya. Senyumnya, tatapannya, suaranya. Ia tahu Abigail benar, tapi hatinya menolak untuk menerima kondisinya saat ini. Beberapa hari kemudian, Edwin menunggu Lucia di depan gedung fakultas. Hujan baru saja reda, aspal masih basah dan udara lembap. “Lucy, ayo ikut aku.” “Ke mana?” “Ada tempat yang pengin aku tunjukin.” Lucia ragu, tapi akhirnya ikut juga. Mereka naik mobil Edwin, melewati jalanan Jakarta malam yang padat, hingga tiba di sebuah bukit kecil di pinggiran kota. Dari sana, lampu kota terlihat berkelap-kelip seperti bintang jatuh. “Indah, kan?” kata Edwin sambil tersenyum. Lucia mengangguk pelan. Hatinya bergetar. “Aku bawa kamu ke sini karena aku pengin kamu tahu satu hal,” lanjut Edwin. “Aku nggak peduli apa kata orang. Aku nggak peduli gosip. Yang aku tahu… aku suka kamu.” Lucia tercekat. Ia menatap mata Edwin, mencari kebohongan, tapi yang ia lihat hanya ketulusan. “Edwin…” “Aku nggak butuh jawaban sekarang,” potong Edwin cepat. “Aku cuma pengin kamu tahu perasaanku.” Lucia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya berdiri, menatap lampu kota yang berkilau, sambil berdoa dalam hati agar kebahagiaan ini bisa bertahan lebih lama. Namun, di tempat lain, Alyssa duduk di kamarnya bersama Danita. Wajahnya pucat karena marah, matanya dipenuhi api kebencian. “Dia pikir bisa menang dariku?” Alyssa menggertakkan gigi. “Aku nggak akan biarin.” Danita tersenyum licik. “Tenang aja. Kita punya cara. Biar dia yang jatuh, bukan kamu.” Alyssa menatap cermin, membenarkan rambutnya. “Lucia… aku akan bikin semua orang tahu siapa kamu sebenarnya,” katanya berapi-api.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD