EMPAT

1058 Words
Hari itu matahari bersinar terik, udara di kampus terasa berat. Sejak kedekatan Lucia dan Edwin makin jelas, suasana di sekitar mereka berubah drastis. Teman-teman satu jurusan pura-pura ramah tapi sebenarnya penuh rasa ingin tahu, sementara gosip tak pernah berhenti berputar. Lucia mencoba mengabaikan semuanya. Ia berjalan bersama Bella menuju kelas ketika melihat Edwin berdiri di ujung koridor. Senyum cowok itu langsung menghapus separuh beban di d**a yang seharian ini menggelayuti. “Lucy!” panggil Edwin, melambaikan tangan. Bella menyikutnya sambil tersenyum menggoda. “Aku duluan ya. Kalian pasti mau ngobrol.” Lucia menelan senyum dengan wajahnya yang sedikit memerah. Lalu, Lucia mengangguk dan melambaikan tangan beriringan dengan kepergian Bella. Gadis itu melangkah, mendekati Edwin. “Kamu nunggu aku?” “Iya, dong. Masa nunggu abang angkot,” kelakar Edwin. “Aku mau kita pulang bareng nanti. Aku tunggu di parkiran.” Lucia mengangguk. “Oke.” Mereka kemudian berpisah menuju kelas masing-masing. Sama-sama tak sabar menanti waktu pulang, agar segera menghabiskan waktu bersama. Mengukir kenangan yang entah sampai kapan bisa Lucia dapatkan. *** Saat Edwin berjalan ke parkiran sendirian, Alyssa menghadangnya di tengah jalan. Gadis itu berdiri anggun, rambut panjangnya berkibar ditiup angin, senyum penuh percaya diri pun terukir di bibir yang berpulas lipstik merah. “Edwin, aku pengin ngomong sebentar.” Edwin sedikit enggan, tapi mengangguk juga. Bagaiman pun, ada yang harus dia tegaskan—lagi—kepada perempuan ini. “Ada apa, Alyssa?” Alyssa melangkah mendekat dengan tatapan teduh, sangat berbeda dengan suaranya yang penuh tekad. “Kamu tahu kan, aku suka sama kamu? Dari dulu, Edwin. Aku tahu kamu peduli gosip soal Lucia. Kamu juga meragikan dia. Kedekatan kalian sekarang, aku yakin karena kamu cuma kasihan sama dia.” Edwin terdiam, menatap Alyssa dengan alis berkerut. “Kasihan?” “Iya. Kamu terlalu baik. Kamu merasa harus jagain dia karena semua orang ngomongin dia. Tapi kenyataannya… kamu dan aku yang lebih cocok. Kita sama-sama populer, kita ngerti dunia satu sama lain. Kalau kamu sama aku, nggak akan ada masalah.” Alyssa menatapnya penuh harap. “Pilih aku, Edwin.” Edwin menghela napas panjang, lalu menatap Alyssa dalam-dalam. “Alyssa, gue pacarnya Lucia. Dan Lucia adalah sahabat lo. Seharusnya, lo paham kalau gue nggak bisa—bukan, maksud gue, nggak mau sama lo.” Alyssa terperangah. “Edwin? Kamu jahat banget, sumpah.” “Gue cinta sama Lucia. Bukan karena kasihan, api karena gue memang suka dia apa adanya.” Senyum Alyssa pun memudar sepenuhnya, berganti dengan tatapan tajam. “Kamu serius?” Edwin mengangguk mantap. “Iya. Gue hargai perasaan lo, tapi hati gue udah memilih sejak awal. Cuma Lucia.” Alyssa mundur selangkah, wajahnya memucat karena marah dan malu sekaligus. “Kamu akan nyesel, Edwin. Percaya sama aku.” Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik pergi dengan langkah cepat. Meninggalkan Edwin yang hanya bisa mengembuskan napas dengan kasar. Sejujurnya, dia tidak menyalahkan Alyssa, karena itu haknya untuk menyukai siapa pun. Saat ini, yang terpenting adalah dia telah melakukan bagiannya—menolak dengan tegas dan memberi batasan jelas. Lucia yang datang beberapa menit kemudian tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Ia hanya melihat Edwin tersenyum padanya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kamu siap pulang?” tanya Edwin. Lucia mengangguk, meski hatinya merasakan ada sesuatu yang aneh dari cara Edwin tersenyum. Ada hawa panas di udara, seolah ada seseorang yang sedang menahan amarah besar. *** Malam itu, di rumah, Lucia menceritakan hari-harinya pada Abigail. Saat mendengar Alyssa sempat bicara dengan Edwin, mata Abigail menyipit. “Kamu nggak curiga?” “Curiga apa?” tanya Lucia. “Alyssa jelas suka sama Edwin. Kalau dia udah terang-terangan, kamu harus hati-hati. Alyssa bukan tipe yang bisa nerima penolakan dengan tenang.” Lucia terdiam. Ia tahu Abigail benar. Tapi bagian dalam dirinya berbisik bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan selama Edwin memilihnya. Beberapa hari kemudian, Alyssa benar-benar menunjukkan taringnya. Di depan kelas, saat semua orang sudah berkumpul, ia dengan sengaja berkata keras-keras. “Eh, kalian sadar nggak sih? Edwin akhir-akhir ini kayak dipaksa sama seseorang. Kayak ada yang ngerantai dia.” Beberapa mahasiswa menoleh, sebagian tertawa, sebagian pura-pura tidak mendengar. Tapi semua jelas mengerti siapa yang dimaksud. Lucia yang duduk di bangku belakang merasakan amarah, matanya mulai berubah warna. “Aku sumpah, kalau bukan karena aku tahu dia cowok baik, aku udah yakin dia kena pengaruh buruk,” tambah Alyssa, tatapannya lurus ke arah Lucia. Lucia berdiri. Suasana kelas hening seketika. Atmosfer di ruangan ini terasa sangat panas. Penuh ketegangan. Semua orang di dalamnya merasakan bulu kuduk mereka merinding. Abigail langsung menarik tangan Lucia kuat-kuat. “Jangan,” pintanya. Lucia menoleh. Saat itulah Abigail sadar bahwa keadaan sudah cukup berbahaya—matanya merah menyala. Abigail menatapnya dalam, lalu berkata tajam, “Kalau kamu lepas sekarang, habis kita.” Lucia Brown menutup mata, berusaha menenangkan diri agar tak lepas kendali. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengebuskannya dengan tenang. Setelah beberapa waktu, ia akhirnya duduk kembali. Sekali lagi, gadis itu mengembuskan napas lega. Sementara itu, Alyssa tersenyum sinis. Dia merasa puas karena berhasil memancing memancing amarah Lucia. Sebenarnya, dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Lucia kehilangan kendali. Namun, perubahan pada mata Lucia setiap kali gadis itu marah, cukup membuatnya penasaran. “Kenapa, Lucy? Kok tiba-tiba diam?” tanyanya dengan nada mengejek. Lucia hanya menatap balik dengan dingin. “Karena aku nggak perlu bukti apa-apa untuk nunjukin siapa sebenarnya yang berbahaya di sini.” Kelas kembali gaduh, tapi kali ini semua orang bisa merasakan ketegangan di udara. Di luar kelas, Abigail berbicara serius pada Lucia. “Kamu nggak boleh terpancing lagi. Alyssa memang sengaja cari masalah. Kalau kamu kehilangan kontrol, bukan cuma kamu yang hancur. Aku juga. Kita semua.” Lucia menunduk, air matanya hampir jatuh. “Aku benci dia, Abby. Aku benci cara dia ngomong seakan-akan aku nggak pantas dapat kebahagiaan.” Abigail memeluknya singkat. “Kamu harus lebih kuat dari itu. Ingat, musuh kita bukan cuma Alyssa. Ada yang lebih besar menunggu di luar sana.” Lucia mengangguk, meski hatinya masih membara. Ia tahu Abigail benar. Tapi rasa sakit karena selalu jadi sasaran tetap membekas. Dan di sisi lain, Alyssa berdiri di balkon gedung kampus, menatap Lucia dari kejauhan dengan tatapan penuh dendam. “Kalau cara halus nggak berhasil… aku akan pakai cara lain,” gumamnya. Api kecil di hati Alyssa sudah menyala. Dan badai yang lebih besar akan segera datang pada kehidupan Lucia—juga Abigail.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD