Ayyara menghempaskan tubuh rampingnya di kasur. Menatap langit-langit kamar yang putih bersih, slide kehidupannya seakan berputar di sana.
Awal pernikahannya dengan Bimo adalah masa paling membahagiakan dalam hidup. Seorang pria Indonesia yang dikenalnya saat mereka sama-sama berwisata ke Paris, yang mengejarnya hingga ke Turki untuk meluluhkan hatinya, langsung melamar pada keluarganya saat Ayyara menyatakan kesediaan diperistri olehnya.
Ayyara memeluk guling, teringat saat kelahiran Arkan. Kebahagiaannya menjadi begitu sempurna meski Bimo jarang pulang. Ia tahu suaminya sibuk, melebarkan sayap perusahaan yang dibangunnya bersama Baskoro.
Semakin lama, Ayyara makin merasa sendiri. Bimo makin sibuk, Ayyara yang tak memiliki sanak keluarga di Indonesia hanya bisa mendekap Arkan saat ia menangis merindukan sang suami. Mal, salon, tempat wisata, tak ada yang bisa menghibur rasa sepinya.
Suatu hari, Baskoro datang ke rumah saat ia sesenggukan di sofa, membiarkan televisi seolah menontonnya.
“What is it, Ayya?” Baskoro memang tak memanggilnya dengan panggilan kakak atau apa pun.
Ayyara menggeleng pelan, sungkan pada adik iparnya tersebut.
“No, no. Kamu tidak baik-baik saja. Mas Bimo menyakitimu?” Baskoro duduk di sampingnya, mengusap punggung tangannya lembut. Ayyara merasa nyaman, namun tangisnya makin menjadi saat hatinya menuntut perlakuan seperti itu dari suaminya.
Baskoro bangkit, mengambil segelas air jeruk dari kulkas. “Minumlah, cerita sama saya. Kamu akan merasa lebih baik.”
Ayyara merasa tak sopan jika tak menerima kebaikan Baskoro. Ia meminum air tersebut dan mulai merasa lebih baik. Diusapnya air mata yang masih menetes satu persatu.
“I miss Bimo, Bas. Sesibuk itulah dia sampai lupa bahwa saya sendiri di sini?” Baskoro menatap kakak iparnya.
“Dia tahu saya tak punya siapa pun, saya juga tak punya teman. Makan bersama saja kita tidak pernah lagi. Oke, I know dia cari uang buat saya, buat masa depan kita, melebarkan sayap perusahaan dia demi saya and Arkan, but dia lupa bahwa saya manusia.” Ayyara berapi-api meluapkan amarahnya. Baskoro terdiam. Memerhatikan gerakan bibir Ayyara yang tipis, hidung mancungnya tampak merah karena terlalu lama menangis, pipi Ayyara yang sedikit berbintik menambah daya tarik wanita tersebut. Ia baru menyadari bahwa Kakak iparnya secantik itu.
“Bas!” Baskoro terperanjat saat Ayyara menepuk tangannya agak keras.
“Ya?”
“Kamu masih sempat menemani istrimu jalan-jalan?”
“Of course, itu penting.”
“Bisakah kau menasihati Bimo tentang ini?”
“Oke, oke. Tentu.” Baskoro tersenyum, “jangan khawatir. Mas Bim memang workaholic sejak dulu. Jika kamu berkenan, mari jalan-jalan ke taman sebentar?”
Mata Ayyara bercahaya, “Jangan taman yang di depan rumah, saya mau ke taman kota,” seru Ayyara selayaknya anak kecil yang diajak berwisata. Baskoro sekali lagi terpaku menatap kecantikan Ayyara yang makin bersinar karena bahagia. Dia pikir kakaknya terlalu bodoh dengan menyia-nyiakan Ayyara.
Mereka pergi ke taman kota berdua saja. Arkan anteng bersama dua pengasuhnya. Ayyara mengenakan celana Levis ketat dan kaos oversize berwarna pink pucat. Rambut ikalnya dibiarkan tergerai indah dan bergerak ke sana kemari bersamaan dengan lincahnya gerakan sang pemilik. Baskoro yang berniat mengambil berkas di rumah Bimo tentu masih mengenakan jas dan sepatu hitam. Berkas yang kakaknya butuhkan ia kirim lewat supir.
Ayyara melangkah cepat mendekati penjual cilok. Memerhatikan beberapa orang yang membeli dan bertanya apa yang mereka makan. Penjual cilok menatap Baskoro, ia bingung menjelaskan apa yang dia jual. Baskoro tertawa, ia meminta penjual membungkus cilok dan mengajak Ayyara duduk.
“This Is cilok,” ujarnya sambil menahan tawa.
“Ci ...?”
“Cilok, kependekan dari aci di colok.”
“Aci Is?”
“Tapioca flour And dicolok Is stabbed.”
Ayyara tertawa. Baskoro terpana melihat tawa itu, tawa yang indah, yang nyaris sempurna.
Sejak saat itu mereka dekat. Ayyara merasa Baskoro lebih bisa mengerti dirinya dibanding Bimo. Namun Ayyara mengakui bahwa dirinya juga masih mencintai pria berjambang itu. Ayyara tak ingin Bimo pergi darinya, tapi juga tak bisa menjauh dari Baskoro yang selalu memerhatikan dan memanjakannya.
Berkali-kali Bimo meminta dirinya agar tak terlalu dekat dengan Baskoro dengan alasan tak pantas, berkali-kali pula Ayyara meyakinkannya bahwa hubungan mereka tak lebih dari sesama ipar. Tentu Bimo percaya, karena Ayya tetap memerhatikan dan melayaninya dengan baik. Bahkan lebih baik dari sebelum ia akrab dengan Baskoro. Itu karena hati Ayyara yang senantiasa bahagia.
Sayangnya, siang itu Bimo pulang di saat yang tak tepat, saat ia dan Baskoro terjerat nafsu setan untuk yang ke sekian kalinya, sejak bertahun-tahun. Saat itu Bimo pulang mendadak karena merasakan tubuhnya tak sehat. Bimo yang jarang sekali sakit ternyata telah memiliki penyakit jantung yang semakin diperparah dengan pemandangan yang membuatnya syok. Kepercayaan Bimo telah disia-siakan oleh adik dan istrinya.
Ayyara meraba dadanya yang terasa sesak. Rasa bersalah terus menggerogoti hatinya sejak saat itu. Bimo tak pernah mengkhianatinya sama sekali. Ayyara pernah mengecek ponsel suaminya, mengikuti ke mana Bimo pergi. Nihil, Bimo benar-benar setia. Pekerjaan benar-benar menghabiskan hari-harinya.
**
“Dari mana kita mulai penyelidikannya?” Rania merapikan kerudung instannya. Ia telah mandi jauh sebelum Arkan bangun. Rania memang tak bisa tidur nyenyak, pikiran bahwa Arkan akan menyentuhnya terus menghantui. Diolesnya lipstik pink muda agar penampilannya tak terlalu pucat.
“Dari mama, tentu saja.” Arkan sibuk memilih baju yang akan ia kenakan. Ia masih bertelanjang d**a di depan lemari.
“Sesulit itu memilih bajumu sendiri?” Rania gemas melihat Arkan yang malah berdiri mematung.
“Mama yang selalu memilih, saya tinggal pake.”
Rania bangkit, “Geser, Beruang kutub!” ujarnya saat Arkan tak memberinya ruang. Wangi tubuh Arkan mengganggu penciuman Rania.
“Can't you call me Aa?”
“What?” Rania nyaris tergelak mendengar ucapan Arkan.
“Saya pikir panggilan itu lucu dan saya suka.” Arkan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Aa Arkan, aih ... Aneh! Mas Arkan saya pikir lebih pantes.”
“No, jangan Mas Arkan. Saya bukan kalung.”
“Heh?”
Rania terkikik membayangkan dirinya memanggil suaminya seperti itu. Meski Arkan memang jauh lebih tua darinya, tapi Rania merasa Arkan tak pantas dipanggil Aa. Muka bule dipanggil Aa. Sungguh aneh.
“Ya sudah. Terserah kamu saja.” Arkan mendengus, ia menarik sebuah kaos oblong berwarna hitam. Karena Arkan asal saja menariknya, tumpukan kaos itu ikut tertarik juga hingga berhamburan tepat di wajah Rania.
“Arkan!” Rania menjerit kesal.
“Aa!”
Rania mendelik, berjongkok hendak membereskan baju-baju yang berhamburan tersebut. Namun Arkan menarik tangannya.
“Siapa yang nyuruh kamu beresin itu.”
“Kamu ko kebiasaan ya, narik tangan gak pake ngomong dulu. Sakit!” Rania mengelus pergelangan tangannya yang memerah. “Mau aku obati?”
“Mau lah, pake apa?”
Arkan mendekat, mengambil tangan Rania dan mendekatkannya ke arah bibir, Rania berjengit, mengira Arkan akan menciumnya. Ternyata Arkan cuma meniup dan mengusapnya pelan.
“Baikan?” Rania menggigit bibir, malu dengan pikirannya sendiri. Ia mengangguk perlahan, beringsut menjauhi suaminya. Takut terpesona.
“Kita harus terlihat mesra di hadapan keluarga. Makanya kita harus berlatih di kamar ini. Kamu jangan khawatir, kalau kasus ini selesai, kamu bebas menentukan pilihan.” Arkan menyisir rambutnya dengan jari. “Meski dulu, saya pernah bercita-cita menikah sekali seumur hidup, tapi jika kamu tak bersedia melanjutkan pernikahan ini, saya tak masalah.”
“Saya masih belum paham kenapa keluarga kamu percaya kamu gila. Saya saja sepintas langsung tahu kalau kamu sehat.”
“Mereka juga tak percaya, hanya terpaksa percaya karena saya memang meminta dokter mengatakan bahwa mental saya terganggu. Depresi atau terserah apa namanya. Lalu, si penjahat, entah siapa, memanfaatkan kepura-puraan saya dengan mengurung saya di RSJ dengan penjagaan super ketat melebihi penjara. Cuma mama, paman Bas, dan seorang pria yang tak saya kenali yang boleh berkunjung. Lalu, jika saya disiksa oleh pria asing ini, perawat pura-pura tak tahu. Apa itu tidak aneh?”
Rania mengangguk-angguk. “Obat apa yang biasa mereka kasih?”
“Di RSJ?”
“Iya,”
“Fluoxetine dan Tramadol.”
“Kamu minum itu?”
“Ya engga lah! Saya memang tak tahu itu obat apa. Tapi saya tak seceroboh itu hingga mau minum apa saja yang mereka kasih. Kenapa memangnya?”
“Fluoxetine memang obat anti depresi, bisa disebut obat penenang. Dalam dosis yang pas, itu bagus buat pasien yang kena ocd. Tapi kalau dikombinasikan sama tramadol dan diminum terus menerus, bisa memicu timbulnya sindrom serotonin.”
“Artinya?”
“Kamu bisa gila beneran, atau mati, Aa Arkan!”
Rania berlalu meninggalkan Arkan yang tampak masih memikirkan sesuatu.
Membuka pintu kamar, Rania melihat sekeliling. Ia melihat kamar lain di seberang kamarnya. Jadi ternyata, ada dua tangga yang menuju lantai dua. Ke arah kiri, berarti ke kamar Arkan dan ke kanan sepertinya kamar Haykal. Karena kemarin Haykal berjalan ke sana.
Baru selangkah Rania menuruni tangga saat Arkan menggandeng tangannya, “kita jenguk papa,” ujar Arkan. Rania mengangguk, merasa agak ketakutan dengan keadaan rumah yang sangat sepi. Entah ke mana para pembantu pergi.
Arkan mengetuk pintu kamar tempat Bimo dirawat. Seorang suster berseragam putih membukanya, mempersilahkan mereka masuk. “Bapak sudah saya bersihkan,” sahutnya. Rania duduk di samping ranjang mertuanya, sementara Arkan tetap berdiri.
“Ada kemungkinan papa bangun lagi, Sus?” Rania bertanya pada suster yang tengah memasukkan seprei kotor ke keranjang cuci.
“Saya kurang tahu, tapi kata dokter kemungkinan itu selalu ada.”
Rania mengangguk. Memang dokter selalu berkata seperti itu, bahkan saat pasien hampir meninggal.
“Rupanya kalian di sini. Ini ada paman Baskoro mau ketemu pengantin baru,” sahut Ayyara yang masuk diiringi Baskoro.
“Oh, Hallo, Paman.” Rania tampak kikuk menyalami, Baskoro mengangguk lalu mendekati Arkan.
“Apa kabar, Kan?”
“Paman sama siapa ke sini?” Arkan menatap pintu, seolah berharap ada orang lain yang datang.
“Sendiri. Kenapa?”
“Kangen bibi.”
“Sudah minum obat?”
“Sudah, Paman. Tadi saya yang ngasih sesuai petunjuk dokter.” Rania menyela. Otaknya berpikir cepat, ia harus membeli obat yang sama yang biasa diminum Arkan di RSJ, siapa tahu ada salah seorang dari keluarga ini yang datang memeriksa. Baskoro mengangguk-angguk. “jangan sampai terlewat, saya tak ingin ada kejadian yang tak diinginkan jika pasien dibiarkan berkeliaran seperti ini,” ujarnya, membuat Rania agak geram mendengarnya.
“Jangan tersinggung, Nona. Kau menikahi seseorang yang tidak sehat, meski hidupmu akan terjamin karena hal ini.” Sepertinya Baskoro melihat ekspresi Rania.
“Saya ...”
“Tidak usah mengatakan bahwa kau mencintai dia. Klise. Rawat saja dia sampai sembuh, dan lihat saja, dia pasti akan membuangmu.”
Rania menunduk. Tak menyangka Baskoro akan berkata seperti itu. Maka kemungkinan akan banyak orang yang berpikir seperti itu juga. Bisa jadi Haykal dan mama Ayya juga. Harga dirinya terluka parah, bahkan ia semakin sakit saat menyadari mama Ayyara diam saja, seolah membenarkan apa yang diucapkan Baskoro.
Arkan mendekati istrinya, “ayo jalan-jalan.”
“Ga papa, A. Paman jauh-jauh datang ke sini mengunjungi kita. Masa kita tinggalkan.”
“Tidak, dia datang bukan buat kita.” Arkan menatap mata mamanya yang terus berusaha mengalihkan perhatian.
“So, kalian mau bulan madu ke mana?” Baskoro menyentuh tangan Bimo yang terlihat sedikit bergerak namun kemudian diam lagi. Kemungkinan Bimo mendengar semuanya.
“Mas Bim, iya benar, anakmu sudah menikah. Tapi maaf, tidak seperti yang kamu inginkan,” bisik Baskoro di dekat telinga Bimo.
“Saya minta paman keluar.” Suara Arkan terdengar agak menakutkan. Baskoro tertawa kecil, melangkah keluar setelah menepuk pundak Arkan.
Rania merangkul Ayyara yang bersimpuh di dekat ranjang Bimo. Tangisnya terdengar memilukan.